Sabtu, 24 Mei 2008

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Rabat, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Penampilan santri berprestasi yang tengah mengikuti program kelas internasional di Universitas Ibnu Thofail kota Kenitra, membuka konferensi cabang ke-2 PCINU Maroko dengan menyanyikan himne Pelajar NU dan sholawatan di auditorim Institut Dar El-Hadith Al-Hasaniyah, Rabat, Maroko. Usai itu mereka menyaksikan pemutaran film dokumenter perihal sejarah berdirinya PCINU Maroko.

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Anggota Majelis Ilmi Kota Kenitra Maroko, Ahmad ‘Aid Bahdah, berkesempatan membuka secara resmi forum bergengsi ini, Ahad (10/8).

Tampak hadir dalam pembukaan konferensi ini antara lain Dubes RI untuk Kerajaan Maroko H Tosari Widjaja, utusan direktur Institut Dar El-hadith Al-Hasaniyah, staf KBRI Rabat, Mustasyar PCINU Maroko H Husnul Amal, Prabowo Wiratmoko Jati, warga NU di Maroko, anggota Persatuan Pelajar Indonesia Maroko beserta, dan sejumlah tamu undangan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua panitia konferensi ini Fairuz Ainun berharap agar PCINU ke depan dapat menciptakan sistem organisasi yang baik dan ke luar meningkatkan hubungan keagamaan dengan ulama Maroko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara H Tosari Widjaja mengimbau anggota PCINU Maroko untuk menangkap isyarat kelahiran PCINU bukan hanya sebagai wadah untuk kongko atau berdiskusi semata tanpa makna apapun.

“Kelahiran PCINU Maroko berpijak dari sebuah amanah dari PBNU agar PCINU dapat menjadi duta-duta Islam Aswaja Indonesia untuk berbagai negara khususnya di Maroko,” kata H Tosari.

Forum konferensi ini akhirnya memberikan amanah kepada Alvian Zahasvan sebagai Rais Syuriyah dan Kusnadi El-Ghezwa sebagai Ketua PCINU Maroko untuk masa bakti 2014-2016.

Kusnadi dalam menyatakan visinya ke depan, menginginkan PCINU Maroko yang familiar, bermartabat dan bermuatan intelektual. Ia pun mengajak kepada semua pengurus dan anggota PCINU Maroko untuk bekerja sama sehingga program Go Internasional NU dapat terwujud. (Red. Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Quote, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 15 April 2008

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ignasius Sandyawan Sumardi (Romo Sandy) mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Uskup (dari NU) yang pertama membelanya. Pernyataan itu sangat beralasan bagi Romo Sandy sebab Gus Dur (selain juga Romo Mangunwijaya dan Danuwinata) adalah tokoh yang menjadi pembela Romo Sandy dalam gerakan Suaka Kemanusiaan Kasus 27 Juli 1996.

Romo Sandy mengisahkan pengalaman tersebut dalam Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gus Durian, Jumat (2/9) malam di Griya Gus Dur, Jl. Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat. FJP malam itu bertema ‘Gus Dur dan Rakyat Kecil’, didatangi puluhan hadirin, yang mayoritas kaum muda.

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy

Menurut Romo Sandy, sejak perjumpaan pertamanya yang terjadi saat Gus Dur masih sebagai intelektual muda NU yang vokal dan cerdas, telah menggunggah inspirasi baginya. Ia menilai pemikiran Gus Dur sangat orisinil dan otentik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal lainnya yang juga sangat mengesankan dari Gus Dur adalah setiap Romo Sandy, datang Gus Dur selalu sudah bersentuhan dengan perkara sehingga Gus Dur menjadi ‘tukang kompor’.

“Kalau sudah ingin melakukan (niat baik), ya sudah. Lakukan dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Artinya Gus Dur itu sangat total. Dalam hal apa pun selalu begitu,” terang Romo Sandy.

Kesan ketotalan dari Gus Dur itu mengingatkan Romo Sandy kepada salah satu pesan guru silatnya saat mengambil pendidikan di Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyodan Magelang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Kowe nek dadi pendekar, dadio pendekar beneran (kalau? kamu ingin menjadi pendekar, jadilah pendekar sejati atau sungguhan),” kata Romo Sandy mengutip pesan gurunya.

Pesan tersebut, berpadu dengan sosok Gus Dur, menjadikan Romo Sandy semakin bersemangat dan mantap dalam perjuangan membela kemanusiaan. Romo Sandy lalu menyebut beberapa gerakan yang ia lakukan dan menyebabkannya sering berinteraksi dengan Gus Dur.

Dalam perjumpaan-perjumpaan tersebut, Gus Dur, menurut Romo Sandy membaur dengan rakyat kecil, tanpa kesan pencitraan atau dibuat-buat. Hal yang sangat berbeda dengan para politikus lainnya.

Terhadap dunia politik, Gus Dur menjadikan politik sebagai sesuatu yang substansial, artinya politik sebagai sesuatu yang bersentuhan dengan persoalan-persoalan kehidupan masyarakat sehari-hari. Gus Dur sama sekali jauh dari politik artifisial atau politik dagang sapi, di mana politik hanya menjadi ajang tawar menawar kekuasaan.

“Yang paling ujung di dalam politik adalah kemanusiaan. Oleh karena itu Gus Dur sangat demokratis, tidak pernah menolak berdialog dengan siapa pun,” kenang Romo Sandy.

Romo Sandy meneruskan, Gus Dur juga menjadi semacam pantulan dari setiap orang yang datang, termasuk Romo Sandy. Saat bertemu dengannya, ia tidak akan menceramahi. Hal itu memberi pelajaran bahwa pendidikan yang diberikan Gus Dur seperti model pendidikan dalam filsafat Yunani, di mana ada persentuhan yang kuat.

Adalah tugas kita dalam mengembangkan pendidikan seseorang, seperti bidan yang membantu melahirkan ilmu yang sudah ada dalam jiwa atau roh orang tersebut. Dan itulah yang dilakukan Gus Dur karena substansi pendidikan adalah fasilitator pembebasan manusia.

Romo Sandy meyayangkan, saat ini sangat sulit menemukan—kalau bukan tidak ada—sosok seperti Gus Dur. Menurut Romo Sandy, anak-anak muda sekarang tidak orisinil. Dalam mencari pendidikan atau pengetahuan, bahkan membentuk dirinya, mereka mendasarkannnya pada apa yang disajikan oleh internet, mendengar dan menonton audio visual yang tersedia di ineternet. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 08 April 2008

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Blitar, Jawa Timur, Senin (31/7), bersilaturahim ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Rombongan terdiri dari perwakilan seluruh Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) di kabupaten setempat.

Pada tahun ini PCNU Kabupaten Blitar kembali meraih Juara Umum NU Award yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Kunjungan tersebut sebagai pemenuhan nazar atas capaian ini.

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017



(Baca: Juara Umum NU Award 2017, NU Blitar Ajak MWC Ke PBNU)


Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rombongan yang berangkat dari Blitar menggunakan bus sejak kemarin ini diterima Ketua PBNU H Aizzuddin Abdurrahman dan Robikin Emhas, serta Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi dan Ishfah Abidal Aziz. Turut hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Anggia Ermarini.

“Terus terang kami bangga atas prestasi PCNU Blitar dalam Nu award di Jawa Timur,” kata Robikin di hadapan rombongan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



(Baca: PCNU Blitar Berhasil Pertahankan Juara Umum NU Award 2017)


Ia juga mengingatkan sejumlah tantangan NU di bidang kesehatan, pendidikan, keagamaan, dan teknologi siber. Robikin mendorong cabang-cabang NU di seluruh Indonesia untuk berperan aktif dalam meningkatkan khidmah ke masyarakat.

Selain itu mereka juga menerima wawasan soal persiapan perhelatan Munas-Konbes NU yang bakal digelar di Nusa Tenggara Barat pada November mendatang. Ishfah dalam kesempatan itu menyampaikan salah satu materi yang akan dibahas di forum tertinggi kedua setelah Muktamar NU itu adalah soal Peraturan Organisasi (PO) yang mengatur urusan permohonan Surat Keputusan (SK). (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 31 Maret 2008

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) mengadakan Seminar Psikologi bertema Rahasia Pikiran Bawah Sadar; Sadari, Kenali dan Kembangkan Potensi Pikiran Bawah Sadar Anda, Jumat (1/12) di Kampus Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat.

Dalam seminar tersebut diungkapkan pada dasarnya pikiran manusia terbagi menjadi dua, yakni pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar

"Pikiran sadar adalah alam sadar manusia yang masih mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sadar terbentuk ketika manusia dalam keadaan fokus dan mempunyai rasa empati yang besar terhadap lingkungannya," kata Muhammad Rizki Afandi, pembicara seminar tersebut.

Namun, keberadaan kesadaran tersebut akan menjadi pikiran bawah sadar jika pikiran manusia sedang blank.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah





Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fandi menjelaskan, mekanisme pikiran dan tindakan manusia terbentuk pertama kali oleh pengalaman empiris dan pengalaman induktif yang cakupannya terdiri dari 88% sub-consius dan 12% conscious.

"Pikiran manusia dibagi lagi menjadi dua, yakni otak kiri dan otak kanan. Dan untuk menghasilkan sebuah tindakan maka harus memenuhi tiga mekanisme, believe system, self image, dan self talking. Yang paling berpotensi untuk menunjukkan pikiran bawah sadar adalah self talking," urai Fandi.

Dengan demikian. lanjut Fandi, seluruh ucapan (self talking) maupun lintasan pemikiran yag tidak disadari, berpotensi untuk menjadi nilai permanen bagi sub-conscious.





Di akhir acara, panitia seminar memberikan secarik kertas pada seluruh peserta untuk memberikan feedback pada panitia untuk perbaikan kualitas kegiatan di masa yang akan datang.





Di antara peserta berharap akan diadakannya lagi seminar serupa karena sifatnya yang sangat penting dipelajari. Ada juga yang masih kurang puas karena kuota peserta yang disediakan tidak terlalu banyak.



. Ketua HMJ Psikologi Unusia, Humairo Ummu Syarifah mengatakan, seminar tersebut pertama digelar sejak terbentuknya HMJ Psikologi beberapa waktu lalu.

"Seminar diikuti mahasiswa yang berasal dari beberapa kampus, seperti Universitas Mercu Buana, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Unisma," kata Elok panggilan akrabnya. (Dwi Putri/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Pesantren, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 19 Maret 2008

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Agama, Lukman Saifuddin, mengatakan, bagaimanapun perbedaan paham bekas anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dengan mayoritas, mereka tetaplah saudara dalam kemanusiaan sehingga tidak dibenarkan melakukan anarkisme kepada mereka.

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar

"Sebesar, sekeras, setajam apapun perbedaan di antara kita, termasuk perbedaaan paham keagamaan, agar jangan lalu tersulut melakukan tindakan kekerasan apalagi sampai membakar rumah tinggal sesama saudara kita. Anggota-anggota Gafatar ini juga saudara kita," kata dia, di kantornya, Jakarta, Jumat.

Sebelumnya, terjadi aksi massa yang mengusir bekas anggota Gafatar di Kalimantan Barat. Aksi ini terbilang anarkis karena pengusiran itu disertai intimidasi, pembakaran tempat tinggal dan pengerahan massa besar-besaran.

Agar aksi serupa tidak meluas ke sejumlah daerah, dia berharap masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia untuk dapat menahan diri tidak melakukan tindakan kekerasan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Meski beda paham keagamaan, sebaiknya cara menyikapi mereka adalah merangkul mereka, membina mereka, dialog dengan mereka sehingga menuju kesamaan cara pandang. Tidak justru melakukan perusakan. Agama apapun tidak mentolerir kekerasan seperti itu dan itu bukan cara kita menyelesaikan masalah," katanya.

Kementerian Agama, kata Saifuddin, hingga saat ini masih menunggu fatwa Majelis Ulama Indonesia soal fatwa Gafatar. MUI sendiri rencananya akan mengeluarkan fatwa Gafatar pada awal Februari.

"MUI masih mendalami, mencermati soal paham keagamannya. Kementerian Agama atau pemerintah akan mengikuti fatwa MUI terkait paham Gafatar," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Ubudiyah, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Februari 2008

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Oleh Nadirsyah Hosen

Allahu Akbar sekarang menjadi guyonan. Takbir sering diplesetkan jadi take beer. Ucapan Takbir sering dianggap sebagai ciri Islam garis keras, yang sedikit-sedikit teriak Takbir disela orasinya. Bahkan di masyarakat Barat istilah Takbir dikenal akibat para teroris meneriakkannya sebelum menjalankan aksi terornya.

Tiba-tiba kita hidup di jaman dimana ucapan Takbir menjadi begitu disalahmemgerti dan dikelirutafsirkan, baik oleh umat Islam maupun oleh non-Muslim. Dan harus diakui pihak Muslim berkontribusi besar atas kesalahpahaman ini. Takbir menjadi sesuatu yang menakutkan atau malah menjadi bahan plesetan. Mari kita kembalikan makna Takbir yang sesungguhnya.

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Takbir itu adalah membesarkan Allah. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Maha Besar dari apa? dari alam semesta ini, dari segalanya, termasuk dari berbagai problem yang kita hadapi, dari segala ucapan yang menghina, dari segala pembangkangan makhluk.

Saat kita memulai shalat dan mengucapkan Allahu Akbar, maka itulah garis pemutus anrara kita dan dunia. Kita miraj ke hadapan Allah lewat ucapan takbir. Kita tinggalkan semua urusan dunia, tak kita pikirkan urusan hutang piutang, beban berat kerjaan, bahkan jomblo pun tak lagi hirau nasib ngenesnya saat Allahu Akbar diucapkan memulai shalat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kita besarkan Allah, kita kecilkan diri kita. Siapa yang bertakbir maka dia tidak akan punya sifat kibir alias takabur. Dia paham sesungguhnya bahwa dirinya tidak berarti apa-apa di depan kemahabesaran Allah. Keangkuhan diri musnah seketika bersama Takbir.

Yang terjadi sekarang sebaliknya, ucapan Takbir dipakai untuk membesarkan diri kita, dan mengecilkan pihak lain. Takbir maknanya bergeser seolah menjadi "lihatlah betapa kami mayoritas, kami berkuasa penuh, dan kami bisa bertindak apapun atas kalian".

?

Takbir sekarang lebih ditujukan kepada mereka yang kita anggap sebagai musuh Allah ketimbang kita tujukan untuk muhasabah diri kita sendiri. Alih-alih membesarkan Allah, saat ini ucapan Takbir justru dipakai untuk menakbirkan diri kita sendiri. Naudzubillah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tiba-tiba ucapan Takbir menjadi menakutkan. Dipakai untuk melibas yang berbeda, digunakan untuk membenarkan tindakan apapun termasuk membully atau memfitnah pihak lain. Takbir seolah mewakili kemurkaan Allah, padahal Allah gak ada urusannya dengan kemarahan dan ketersinggungan kalian. Kata Gus Mus, "disangkanya kalau kalian marah, terus Allah yang al-Rahman dan al-Rahim itu juga pasti marah?"

Allah Maha Besar itu tidak menakutkan. Allah Maha Besar itu mengayomi semuanya di dalam kemahabesaranNya. Allah Maha Besar itu memberi hak hidup dan rejeki bahkan kepada mereka yang menentangNya. Allah Maha Besar itu tidak terhina sedikitpun jikalau semua penduduk dunia melecehkanNya. Tidak berkurang kadar keagunganNya sedikitpun kalau tak satupun mau menyembahNya.

Maka sesiapa yang mengucap Takbir, sejatinya dia akan merunduk dan merendahkan diriNya di depan kemahabesaran Allah. Yang mengucapkan Takbir dia akan merangkul semua makhluk ciptaan Allah. Yang ber-takbir akan mengakui bukan kita yang menentukan nasib sesama tapi hanya Allah!

Mari kita kembalikan makna Takbir ke makna yang hakiki, agar ucapan Takbir tidak dianggap simbol kekerasan umat dan menjadi guyonan belaka. Ucapan Takbir harus diletakkan secara proporsional agar kita dan semuanya sama-sama mengerti makna yang sebenarnya.***

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 19 Januari 2008

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pemerintah akan melaksanakan sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1434 Hijriyah pada 7 Agustus 2013 sesaat setelah diadakan rukyatul hilal di berbagai dareah. 

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Pada saat itu posisi hilal sudah memungkinkan untuk dirukyat (imakur rukyat), dan berdasarkan pengalaman  maka hilal dimungkinkan bisa disaksikan.

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam laman Kementerian Agama di Jakarta, Rabu, berharap hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan secara bersama oleh semua umat Muslim di Tanah Air.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sidang itsbat akan dilaksanakan 7 Agustus, semua ormas Islam kita undang," kata Wamenag kepada wartawan pada acara buka puasa bersama di kediamannya, Jalan Ampera I No. 10, Jakarta Selatan, Selasa sore.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir Duta Besar Arab Saudi Mustafa bin Ibrahim Al Mubarak, para pejabat eselon I, II, dan III Kementerian Agama, serta beberapa direktur BUMN.

Wamenag mengatakan, jika didasarkan pada perhitungan hisab, pada hari pelaksanaan rukyatul hilal atau hari Rabu senja tanggal 7 Agustus 2013, posisi hilal berada di atas dua derajat.

Sesuai pengalaman tahun-tahun yang lalu, apabila hilal di atas dua derajat, maka hilal atau bulan baru dimungkinkan akan bisa disaksikan atau imkanur rukyat.

"Kecuali jika pada hari itu seluruh lokasi pemantauan hilal di Tanah Air terhalang mendung," ujarnya.

Namun Wamenag berharap, hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat muslim Indonesia. “Kita berharap lebaran bareng, sehingga lebih menguatkan ukhuwah Islamiyah," ujarnya.

Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil menambahkan, pada sidang itsbat penentuan awal syawal nanti terlebih dahulu dilaksanakan sebuah seminar membahas tentang masalah hisab-rukyat.

"Jika sebelumnya kegiatan sidang dilaksanakan sore hari, itsbat nanti akan dimulai dari siang hari, sekitar pukul 13.30 dengan sebuah seminar membahas permasalahan hisab rukyat, termasuk juga mengenai penetapan yang dilakukan oleh kelompok An Nazir dan Naqshabandi," kata Djamil.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah