Minggu, 17 Agustus 2014

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair

Pamekasan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 500 warga menyaksikan pelantikan pengurus baru ranting NU Larangan Tokol di pesantren Az-Zubair, Langgar Rajeh, Sumberanyar, Pamekasan. Pelantikan yang bersamaan dengan peringatan maulid ini juga dihadiri anggota badan otonom NU seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU.

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair

Pengurus baru ini dilantik oleh Wakil Ketua PCNU Pamekasan KH Moh Ramli pada Rabu, (28/1). Kiai Ramli dalam sambutannya mengimbau pengurus baru NU untuk bersinergi dengan banom, lembaga, dan lajnah NU.

“Dengan demikian pelantikan tidak hanya seremonial, tetapi sebagai awal untuk lebih menyejahterakan masyarakat utamanya Nahdliyin dan tetap dalam koordinasi para Ulama NU,” tegas Kiai Ramli.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penyampai taushiyah maulid ialah pengasuh pesantren As-Salafiyah As-Safi’iyah As-Suja’iyah Pati Jember KH Misbach Kholili. Pengurus PCNU Jember ini mengingatkan bahwa tantangan NU ke depan semakin kompleks dari segala sisi lebih-lebih gempuran kaum Wahabi yang selalu menganggap salah segala amaliah warga NU.

“Untuk itu warga NU harus membentengi diri dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para ulama NU,” kata Kiai Misbach.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir pula pengurus PCNU Pamekasan beserta Banom, Pengurus MWCNU Tlanakan, aparat kecamatan Tlanakan, Kapolsek, dan Danramil Tlanakan. (Moh Wahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Sunnah, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Agustus 2014

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Secara kelembagaan Nahdlatul Ulama memang lahir pada tahun 1926. Akan tetapi secara kultur sesungguhnya ia ada sejak zaman Wali Songo. Para wali berpaham  Ahlussunah wal Jamaah dan tetap mengakomodasi budaya-budaya lokal.

Meski para ulama Wali Songo terdiri dari para sufi, namun dalam kegiatan ibadah kesehariannya menggunakan metode fiqih sehingga dakwahnya mudah diterima di tengah masyarakat.

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo

Hal tersebut dikatakan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Abu Hafsin Umar saat memberikan pengarahan kepada jajaran pengurus baru Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat di Gedung Aswaja Pekalongan Ahad (2/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan, amaliyah (perilaku keberagamaan) Wali Songo terus berkembang hingga pada puncaknya, para ulama yang dimotori Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari mendeklarasikan nama “Nahdlatul Ulama” sebagai organisasi pada 31 Januari 1926.

"NU secara kultur sesungguhnya telah ada sejak zaman Wali Songo, sehingga Islam yang berkembang saat ini di Indonesia, ya Islam ala Nahdlatul Ulama," ujar Kang Abu, panggilan akrabnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dirinya mengajak kepada segenap jajaran pengurus MWC NU yang baru saja dilantik untuk tidak ragu mengembangkan Islam yang rahmatan lil alamin, karena Islam yang demikian merupakan Islam ala Nahdlatul Ulama yang harus kita pupuk dan sirami agar tetap tumbuh dan berkembang dengan baik.

Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Pekalongan H Ahmad Rofiq meminta kepada pengurus baru untuk segera merealisasikan program-programnya dan bersinergi dengan PCNU, khususnya dalam penanganan aset aset NU.

Dikatakan, NU ingin menyelamatkan aset-aset miliknya yang berjumlah cukup banyak dan saat ini masih dikuasai secara perorangan. “Kita tidak ingin terulang kembali aset yang diwakafkan oleh orang NU untuk NU kemudian yang menguasai dan menikmati lembaga/organisasi lain,” ujarnya.

Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, akan tetapi harus dimulai dengan segera, sehingga upaya penyelamatan asset-aset NU di Kota Pekalongan yang saat ini masih dikuasai dan diatasnamakan persorangan bisa kembali ke NU.

Rofiq berpesan, para pengurus harus mengingat betul sumpah dan janji yang baru saja diucapkan. Karena apa yang telah diucapkan merupakan janji untuk berkhidmah di NU selama lima tahun. Menurut dia, pengurus yang tidak menjalankan roda organisasi berarti telah melanggar sumpah atau janji.

Acara yang dirangkai dalam format pelantikan dan raker bersama dihadiri oleh PWNU Jawa Tengah, jajaran PCNU Kota Pekalongan, Ranting NU se-MWC NU Pekalongan Selatan dan Barat, serta tamu undangan dari badan otonom kedua  MWCNU itu. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Agustus 2014

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Puluhan pelajar NU yang tergabung dalam Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Rabu (9/3) sore memperingati Hari Lahir (Harlah) IPNU-IPPNU ke-62 dan 61, di balai pertemuan Desa Purworejo Kecamatan Kaliori.

Ketua PAC IPNU Kaliori, Muhammad Lilik Wijanarko mengungkapkan, acara ini sebagai upaya hormat terhadap hari lahir Ke-62 IPNU dan Ke-61 IPPNU. "Selain acara Harlah, kami juga mengemas acara tersebut dengan Rapat Kerja Anak Cabang (Rakerancab) PAC IPNU-IPPNU Kaliori," terangnya.

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Para perwakilan setiap Ranting yang turut hadir dalam acara tersebut berupaya untuk menyampaikan gagasan terhadap program kerja yang akan dijalankan dalam masa khidmah 2015-2016.

Agenda terdekat, lanjut Lilik, melaksanakan "Pekan Madaris" yang akan kami laksanakan di Desa Dresi Kecamatan Kaliori pada 9-10 April depan. "Kami berharap dengan banyaknya kegiatan yang akan kami lakukan tetap membuat para kader solid dan semangat dalam berjuang," harapnya.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Wakil I PC GP Ansor Rembang Ahmad Najih, Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani , Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam, Ketua PC IPPNU Rembang Afaf Muniroh Atid, dan beberapa pengurus harian PC IPNU-IPPNU Rembang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani dalam sambutannya mengatakan, bagi pelajar NU harus bisa memilih siaran televisi yang tepat. Bukan hanya menikmati siarannya saja, tetapi harus bisa mengambil hikmah dari apa yang disiarkan. 

"Kita sebagai warga nahdliyin bukan malah menonton MTA tv, tetapi menonton siaran Ahlussunnah wal Jamaah seperti TV9 dan Aswaja TV," pesannya.

Rangkaian acara tersebut diakhiri dengan meniup lilin dan pemotongan tumpeng oleh Ketua PAC Kaliori dan diberikan kepada Ketua PC IPNU-IPPNU Rembang. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dengan para peserta. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, AlaNu, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 31 Juli 2014

Pengusaha Nahdliyin Bahas Jaringan Toko Ritel

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Program toko ritel modern ini menjadi pilihan yang diputuskan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) sebagai program penting untuk membangun jaringan.?

Toko ritel modern dari segi finansial benefit itu tidak menarik, tapi dalam konteks membangun jaringan ini sangat penting

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua umum Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik saat mengantar acara Focus Discussion Group (FGD) yang diselenggarakan oleh HPN di lantai 5, Gedung PBNU, Jakara Pusat, Kamis (3/2).

Pengusaha Nahdliyin Bahas Jaringan Toko Ritel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengusaha Nahdliyin Bahas Jaringan Toko Ritel (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengusaha Nahdliyin Bahas Jaringan Toko Ritel

Melalui jaringan toko ritel modern ini, katanya, sehingga pengusaha antar daerah bisa terhubungan antara yang satu dengan yang lainnya.

“Jadi yang sedang kita bangun di toko ritel ini sebenarnya adalah kita berupaya membangun jaringan, simpul-simpul,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia melanjutkan, nanti setelah jaringan terbentuk maka akan ditumpangi dengan beragam bisnis, seperti tiketing, simpan pinjam, micro finance, dan lain-lain.

Acara yang bertemakan “Penguatan Koperasi dan UMKM dalam Bisnis Ritel di Pedesaan” ini menghadirkan pembicara dari Deputi Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI Prakoso Budi Susetyo, dan Wakil Ketua Umum DPN Apindo Tutum Ruhanta. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 22 Juli 2014

Akhir Pekan, 25.000 Nahdliyin Hadiri Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal akhir pekan ini, Ahad (14/6) siang, menandai dibukanya Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU 2015. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkirakan sebanyak 25.000 warga NU akan memenuhi masjid terbesar di Asia Tenggara ini.

Akhir Pekan, 25.000 Nahdliyin Hadiri Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan, 25.000 Nahdliyin Hadiri Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan, 25.000 Nahdliyin Hadiri Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal

Demikian laporan Ketua Panitia OC Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz perihal persiapan Munas NU pada rapat harian Tanfiziyah PBNU, di Jakarta, Rabu (10/6) sore.

“Rais Aam PBNU KH Ahmad Musthofa Bisri akan menyampaikan taushiyahnya pada kesempatan ini. kemudian disusul dengan pidato amanat Presiden RI Jokowi,” kata Ketua PBNU yang lazim disapa Mas Imam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadirin istighotsah terdiri atas warga NU di Jakarta dan kabupaten di sekitarnya. Mereka akan datang dari Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok. Selain itu, lembaga, lajnah, dan aktivis banom NU seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, juga akan turun.

Istighotsah ini berlangsung sejak pukul 12.00 hingga 16.00. Pada kesempatan ini, PBNU sekaligus membuka acara Munas Alim Ulama NU 2015 di Jakarta. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 27 Juni 2014

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Warga Amerika Serikat menempatkan posisi Gus Dur sekelas dengan pemimpin gerakan perubahan di AS Martin Luther King. Mereka mengapresiasi pemikiran dan gerakan Gus Dur dalam memperjuangkan nasib kelompok minoritas.

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King

Demikian disampaikan Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake dalam lawatan kerjanya di pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (11/12) pagi.

“Di Amerika Serikat, Sosok Gus Dur disamakan dengan Martin Luther King,” kata Blake.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara King sendiri, Blake menyatakan, aktivis HAM dan pemimpin gerakan hak sipil Afrika-Amerika. Sedangkan ajaran dan kepemimpinan Gus Dur memiliki peran penting dalam membentuk demokrasi yang beragam, toleran dan aktif seperti yang terlihat saat ini di Indonesia.

“Saya sangat senang dengan gagasan Gus Dur. Demokrasi, HAM, pluralisme dan anti-kekerasan tetap bertahan dan diaplikasikan oleh generasi muda Indonesia,” Blake menambahkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masyarakat AS sudah semakin memahami Islam sehingga tidak merasa takut berlebih dengan kehadiran Islam di Amerika. “Bahkan agama Islam sekarang di AS berkembang pesat. Di beberapa negara bagian, Islam merupakan agama kedua terbanyak yang dianut masyarakat,” kata Blake dalam bahasa Inggris.

Pengasuh pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid menyatakan dirinya akan melakukan pertemuan lanjutan dengan Blake untuk memaparkan pemikirna Gus Dur secara detil. Ia juga sempat menawarkan pendidikan pemikiran Gus Dur bagi siswa dan mahasiswa AS untuk tinggal beberapa bulan di pesantren Tebuireng. (Abror/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Tokoh, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 12 Juni 2014

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dewan juri Kompetisi Film Pendek Dokumenter Muktamar ke-33 NU menetapkan 15 nominasi film sebagai nominasi juara. Keputusan tersebut ditetapkan setelah pertemuan dewan juri di gedung PBNU sehari sebelum Lebaran atau Kamis (16/7) lalu.

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU

Berikut adalah ringkasan isi ke-15 film tersebut:

Inoeng Silat berdurasi 13 menit 23 detik (2014) dengan sutradara Miftha Yuslukhalbi & Nadia Susera. Film ini bercerita tentang perempuan belajar beladiri yang dianggap tabu di Aceh masa kini. Padahal jaman dahulu perempuan Aceh mahir beladiri untuk menjaga diri dari segala marabahaya. Dalam Kenangan berdurasi 5 menit 12 detik (2014) sutradara Canggih Setyawan. Film ini bererita tentang Heri Susetyo, seorang Tionghoa yang memutuskan masuk Islam dan mendirikan sebuah masjid. Bagaimana dia memandang seorang Gus Dur? Al Ghorib: Sebuah Kisah tentang Kemungkinan yang Asing berdurasi 29 menit 10 detik (2015) dengan sutradara Vedy Santoso. Film ini mengisahkan Dr. Katrin Bandel, mualaf asal Jerman yang memilih dan menjalani kehidupan nyantri di Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Suluk Batik-Kitab berdurasi 16 menit 24 detik (2015) dengan sutradara Abdul Syukur & Dwi Rahmanto. Film ini mengisahkan perjalanan diri membangun seni lingkungan bermediakan batik sebagai acuan dan pacuan pemahaman kedepan. Batik sebagai bagian seni rupa tradisional tak lepas dari pijakan kesatuan antrara nilai jasmani dan rohani. Selokan Mataram berdurasi 30 menit (2015) dengan sutradara Setiyo Junaedi. Selokan Mataram merupakan kanal yang membelah Yogyakarta. Dibangun dengan darah dan air mata. Sebuah langkah penting untuk jalur pengairan utama kehidupan pertanian masyarakat Yogyakarta. Tata Cara Tante Cora berdurasi 12 menit 48 detik (2013) sutradara Muh. Alif Rasman. Film ini tentang tante Cora. Ini tentang betapa kayanya Allah yang menjadikan manusia beraneka ragam, bagaimana mengedepankan kebebasan dalam memilih jalan hidup, dan berlapang dada dalam menghargai perbedaan. Kisah Nglurah: Potret Toleransi Umat Islam & Hindu Jawa. Film berdurasi 6 menit 30 detik diproduksi tahun 2015 oleh sutradara Nugroho Adi Saputro. Seperti kebanyakan desa di pulau Jawa, desa Nglurah mayoritas berpenduduk muslim. Bagaimana bentuk interaksi antara warga desa Nglurah dengan pemeluk agama Hindu yang beribadah di candi Menggung yang terletak di wilayah desa tersebut? Film Teungku Rangkang berdurasi 16 menit 30 detik (2014) dengan sutradara Muhammad Akbar Rafsanjani & Muhajir. Film ini bercerita tentang metode Iqra dalam membaca & belajar Al Quran semakin menggeser metode Qaidah Baghdadiyah (Aleh-Ba) di penjuru Aceh. Teungku Hanifuddin dari Gampong Blang Asan, Sigli, berusaha terus melestarikan qaidah tersebut agar tak punah ditelan waktu. Indah Itu Pesantren berdurasi 7 menit (2015) dengan sutradara Prajanata Bagiananda Mulia. Masa depan seorang anak pada akhirnya bergantung pada cara ia dididik dalam memperoleh ilmu. Benarkah menuntut ilmu di pesantren itu membosankan dan mengerikan? Bagaimana pula dengan masa depan lulusan pesantren? Di Bumi Tuhan, film berdurasi 22 menit 41 detik (2015) besutan sutradara Taufan Latief Alimudin Akbar. Film ini tentang kerukunan, pemuda, hubungan antarmanusia yang hidup bersama di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama, bersama-sama di bumi Tuhan. Pustaka di Lembah Gunung Slamet berdurasi 15 menit (2015) buah karya sutradara Zandy Ivanda. Film ini merekam Ridwan Sufuri yang prihatin dengan minimnya pengetahuan warga sekitar rumahnya. Ia berinisiatif membuat perpustakaan keliling. Sejauh mana usahanya itu menggapai manfaat? Film Dalae berdurasi 20 menit (2014) oleh sutradara Arziqi Mahlil & Munzir. Film ini menceritakan pemuda di desa berusaha melestarikan Dalail. Sebaliknya dengan pemuda kota. Apa penyebab pemuda kita tidak begitu peduli kepada budaya Dalail? Mableun, film berdurasi 20 menit karya sutradara Faisal Ilyas & Samsul pada 2013. Film ini mengangkat peran seorang nenek yang membantu masyarakat dalam proses persalinan ditengah ketidakhadiran bidan Puskesmas di Pulo Aceh, Aceh Besar. Pelangi di Tepian Samudera buah karya sutradara Mukhlas Syah Walad & Fuad Ridzqidari, film berdurasi 20 menit diproduksi tahun 2014. Film ini mengungkap perjuangan seorang Mukim di tengah pergulatan ekonomi. Ia meyakini Kenduri Laut menjadi simbol pemersatu masyarakat dalam sebuah kearifan lokal. Bulan Sabit di Kampung Naga, film berdurasi 19 menit 52 detik ini diproduksi tahun 2015 karya sutradara M. Iskandar Tri Gunawan. Film ini mengungkap Islam membawa misi ‘rahmatan lil ‘alamin’, bukan ‘rahmatan lil muslimin’, apalagi ‘rahmatan lil nahdliyin’. Semangat menjadi rahmat bagi semesta alam ini bisa mewujud di lingkungan Pondok Pesantren Kauman yang terletak di Pecinan kota Lasem-Rembang. Interaksi multikultur yang berlangsung lama ini telah membangun kesadaran akan pentingnya dialog antarpihak.? Kompetisi yang dibuka 20 Juni hingga 10 Juli 2015 ini diikuti 69 film. Menurut salah seorang anggota tim kreatif Muktamar ke-33 NU, Hamzah Sahal, bahwa jumlah peserta melebihi target. “Kami menargetkan 30 judul film yang masuk. Tapi ternyata ada 69 judul film. Sebetulnya, kata Hamzah, ada 73 judul film, tapi yang 4 judul masuk setelah batas akhir penerimaan. Jadi, batal dengan sendirinya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ke-69 judul film tersebut melibatkan tidak kurang 75 sutradara muda yang berasal dari 13 provinsi. Jawa Tengah, Tawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Daerah Istimewa Jogjakarta paling banyak mengirimkan karya.

Dewan juri yang terdiri dari Nurman Hakim, Bebi Hasibuan, Bowo Leksono, Aman Sugandi, Dimas Jayasrana akan menentukan pemenang pertama, kedua, dan ketiga, dengan hadiah total 45 juta. Pemenang akan diumumkan di Pondok Pesantren Attauhidiyyah pada 1 Agustus 2015. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

(Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah