Sabtu, 13 Juni 2015

Giliran Ribuan Anggota Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI

Blitar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan anggota Gerakan Pemuda Ansor dan organisasi semi otonomnya, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Kabupaten Blitar, Jumat (3/4) sore mengadakan apel kesetiaan pada bangsa dan negara.

Apel dalam rangka menyambut hari lahir ke-81 GP Ansor ini akan dilaksanakan di lapangan Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. “Apel akan dilaksanakan setelah shalat Jum’at. Sekitar 1000 lebih pasukan akan ikut ambil bagian dalam acara ini,” ujar Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Blitar Ir H Lutfi Azis kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah pagi ini.

Giliran Ribuan Anggota Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Giliran Ribuan Anggota Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Giliran Ribuan Anggota Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI

Apel akan diikuti pasukan Banser dari berbagai Satuan Koordinator Rayon? (Satkoryon) di Kababupaten Blitar yang terdiri dari 22 kecamatan atau satuan rayon. “Semua satkoryon memastikan bisa ikut dalam apel kesetian ini,” ungkap Lutfi Azis yang kini juga menjabat sebagai ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain anggota Banser, beberapa ulama dan tokoh akan hadir dalam apel tersebut, termasuk Bupati Blitar H Herry Noegroho bersama anggota Forpinda (Forum Pimpinan Daerah) Kabupaten Blitar. “Sore kita akan apel kesetiaan, malam harinya kita gelar pentas seni yang dilanjutkan gelar Bazar Ekonomi,” tambah Kepala Satkorcab Banser Kabupaten Blitar, Imron Rosyadi.

Imron menambahkan, selain dalam rangka memperingati hari lahir GP Ansor dan Banser tahun ini, kegiatan ini juga sekaligus sebagai ajang konsolidasi anggota menjelang diadakannya Muktamar Ke-33 NU di Kabupaten Jombang, 1-5 Agustus mendatang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Ini saatnya ‘manasi mesin’ istilahnya. Apalagi Banser juga menjadi sasaran ancaman ISIS setalah TNI dan Polri. Maka sudah waktunya kita manasi mesin,”? katanya. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

?

Foto: Ilustrasi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Syariah, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 Mei 2015

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja

Phnom Penh, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Ini mungkin satu-satunya hal konyol yang pernah dilakukan oleh "foreigner". Ceritanya begini, beberapa hari lalu, saya berangkat ke Kamboja setalah dipastikan mendapatkan kesempatan ikut Youth Exchange untuk magang mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di negara itu selama 6 pekan. Dari awal saya sudah menyiapkan oleh-oleh buat pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap project saya selama di negara tersebut.

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja (Sumber Gambar : Nu Online)

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja

Dua hari menjelang pemberangkatan, saya memutuskan membawa dodol beberapa bungkus yang berukuran seperempat kilogram dengan aneka warna dan rasa. Lazimnya dodol, buah tangan yang rasanya manis tersebut hanya terbungkus plastik bening dan ditempel merk oleh-oleh khas Bandung. Padahal sebelumnya saya berniat membawa "jenang” khas Kudus, sayangnya saya tidak sempat pulang kampung terlebih dahulu.

Sebelum berangkat ke bandara Soekarno Hatta, saya menata perlengkapan ke koper di kosan teman dan merasa, "Kok bungkus dodolnya nampak kurang menarik ya...". Saat itu juga saya melihat seisi kamar tidak ada sama sekali wadah/kardus kecil yang pas untuk wadahnya supaya terlihat tambah manis.

Naluri koplak saya tiba-tiba muncul. Naluri santri yang suka memanfaatkan segala sesuatu ketika sedang kepepet. Saya mengamati ternyata ada wadah bungkus peci (baru) merk Atlas yang baru saja dibeli sebelum membeli dodol. Akhirnya peci tersebut saya keluarkan, lalu dodol dua bungkus tanpa ragu saya masukkan ke dalam kardus tersebut. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya mencoba berpikir sejenak. "Kayaknya orang Kamboja enggak akan tahu kalau kardus ini bekas wadah peci, bukan wadah aslinya dodol,” pikirku sambil ketawa kecil dalam hati. Dengan bacaan Bismillah, saat itu pokoknya saya yakin berniat baik hendak memberikan oleh-oleh dodol itu kepada orang Kamboja.

Saat-saat yang mendebarkan akhirnya tiba. Sekitar dua hari setelah sampai di Phnom Penh, ibu kota Kamboja, pagi-pagi hari saya menemui sang owner sekolah di kantornya. Dengan wajah sedikit malu, saya bilang, "Sorry, Miss, this is a special gift from my country, it like a candy. Its taste is sweet".

Dengan wajah gembira, perempuan berparas Chinese itu antusias menerima oleh-oleh dari saya.

Bayangkan saja, di wadah tersebut masih tercantum nomor ukuran dan tinggi peci. Untungnya tidak ada gambar pecinya. Meskipun ada tulisan “songkok”, tapi saya yakin dia tidak akan mengetahui bahwa itu adalah wadah peci alias songkok hitam yang biasa dipakai Muslim Indonesia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya sebenarnya tidak berniat jahil, justru saya ingin menambah ‘manis’ oleh-oleh tersebut supaya yang menerima tambah senang dalam menikmati manisnya dodol. Meskipun memang nampak agak lucu juga, menertawai diri sendiri, masak dodol kok bungkusnya dari wadah peci.

Bilamana nanti dia menanyakan tentang asal-usul wadah tersebut, insyaallah saya akan menjawabnya dengan jujur. Namun saya tetap yakin, oleh-oleh tersebut sudah habis dilahap atau wadahnya sudah dibuang entah kemana. Pokoknya kalau Anda keluar negeri, jangan lupa bawa oleh-oleh khas negeri kita untuk kolega atau rekan dekat kita. Insyaallah berkah seperti dodol rasa peci alias songkok. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, PonPes, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Mei 2015

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Siapapun umat Islam yang suka memproduksi dan menyebar berita bohong atau hoax menunjukkan dirinya gagal mengawal Firman Allah. Pernyataan itu ditegaskan aktivis Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto di Bandar Lampung, Rabu (4/1).

"Kenapa demikian? Karena Al-Qur’an sebagai pegangan dengan tegas telah menjelaskan bagaimana umat Islam untuk menghindari fitnah hingga selektif menerima informasi," paparnya.

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah

Beberapa penegasan berkaitan dengan hal tersebut, ujar dia menambahkan, ditegaskan dalam QS. Al-Anfal: 25. Waattaquu fitnatan laa tushiibannal-ladziina zhalamuu minkum khaash-shatan waalamuu annallaha syadiidul iqaab.?

Artinya: Dan takutlah kalian terhadap fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gatot menambahkan, penegasan lain ada pada QS. Al-Hujurat: 6. Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabai-yanuu an tushiibuu qauman bijahaalatin fatushbihuu ala maa faaltum naadimiin.?

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik, membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah, kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ada kata periksalah dengan teliti. Maksudnya tentu dengan cermat, seksama, tidak tergesa-gesa. Kalau begitu menerima informasi, baca sekilas langsung dibroadcast atau disebar mungkinkah bisa teliti? Menyebarkan yang haq lebih baik ketimbang menyebar hoax," kata dia lagi.

Selain itu, kata dia lagi, ditegaskan pula dalam QS. An Nuur: 15. Idz talaqqaunahu bialsinatikum wataquuluuna biafwaahikum maa laisa lakum bihi ilmun watahsabuunahu hai-yinan wahuwa indallahi azhiimun.?

Artinya: Ingatlah ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.

Dalam Hadist Riwayat Muslim, kata Gatot menambahkan, Rasulullah SAW juga telah bersabda: "Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya), akan dilempar ke neraka jahanam sejauh antara timur dan barat."

"Saya tidak bermaksud menggurui, namun mengingatkan. Jika firman diabaikan, sabda Nabi, Mushaddiq yang menyatakan kebenaran diingkari, patutkah berteriak lantang paling Islam? Maka jika benar mencintai Al Quran, firman meski dikawal lebih dari fatwa," pungkasnya. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 20 April 2015

Kunjungi Tebuireng, Dubes AS Tabur Bunga di Makam Mbah Hasyim

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Duta Besar Amerika, Joseph R Donovan ke Jombang, melakukan kunjungan ke Pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (2/3). Dalam kunjungannnya Dubes sempat melakukan tabur bunga di makam KH Muhammad Hasyim Asyari dan keluarga.

Dalam kunjungannya ke pesanren pimpinan KH Sholahuddin Wahid itu, Dubes Donovan didampingi Konjen. AS di Surabaya, Heather C Variava sempat membicarakan pertukaran pelajar dengan adik presiden RI ke 4 KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur ini.

Kunjungi Tebuireng, Dubes AS Tabur Bunga di Makam Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Tebuireng, Dubes AS Tabur Bunga di Makam Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Tebuireng, Dubes AS Tabur Bunga di Makam Mbah Hasyim

"Kita tadi sempat membahas tentang ? pertukaran pelajar, saya kemudian diajak bertemu dengan santri-santri Tebuireng," terang Donovan usai melakukan pertemuan tertutup.

Donovan sangat terkesan dengan keramahtamahan pesantren dan budaya Jawa Timur. Pihaknya mengaku sangat terhormat dengan sambutan pengasuh pesantren dan para santri. "Saya sangat tertarik untuk mempelajari peran Islam di Indonesia ini," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terkait pesantren sendiri, Dubes Donovan mengaku pihaknya belum banyak paham, karena dirinya baru 3 bulan di Indonesia. Masih banyakk yang harus mendapat jawaban atas ketidak tahuan dirinya. "Banyak pertanyaan yang butuh jawaban harus saya cari disini, kalau ada saran dari temen-temen media bisa kasih saran," pintanya.

Usai mengunjungi pesantren Tebuireng, Donovan juga mengunjungi Klenteng Hook San Kiong Gudo Jombang. Kedatangan dubes disambut Barongsai dan Wayang Po Te Hi. Kemudian Dubes melakukan dialog dengan berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa serta tokoh tokoh tiong hua.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Klenteng Tertua di Gudo Jombang, Toni Harsono mengatakan kunjungan Dubes ke Klenteng Gudo merupakan kunjungan balasan. ? Karena sebelumnya pihaknya dengan Waang Pothe Hei pernah berkunjung ke keduataan Besar AS di Jakarta.?

"Beliau ingin mengenal lebih dekat budaya warga keturuanan di Jombang sini. Dan bertemu tokoh-tokoh Tiong Hua di sini," ujar Toni. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 14 April 2015

Universitas Teknologi Rajamanggala Thailand Kunjungi SMANU 1 Gresik

Gresik, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. SMA NU 1 Gresik menerima kunjungan rombongan jajaran kampus Universitas Teknologi Rajamanggala, Krungthep Thailand, Selasa (18/3). Kedua pihak menandatangani kesepahaman kerja sama pendidikan dan pengenalan budaya dalam menyambut Asean 2015.

Pendidikan dimaksud meliputi bidang humaniora, ekonomi, teknik, bahasa, sastra dan pariwisata.

Universitas Teknologi Rajamanggala Thailand Kunjungi SMANU 1 Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Teknologi Rajamanggala Thailand Kunjungi SMANU 1 Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Teknologi Rajamanggala Thailand Kunjungi SMANU 1 Gresik

“Memang, sudah saatnya kita mesti merealisasikan semboyan Asean tahun 2015 dengan cara  menyambut semboyan itu dengan membuka pintu gerbang pendidikan ke dunia Internasional,” kata Kepala SMA NU 1 Gresik H Moh Nasihuddin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sudah saatnya pula, lanjut Nasihuddin, kita mendorong siswa-siswa kita untuk menimba ilmu pengetahuan ke dunia yang lebih luas dan global, karena dengan menimba ilmu ke luar negeri, maka pola pikir siswa  akan berubah, berwawasan international, berpandangan jauh ke depan dan lebih baik. 

Pertemuan ini merupakan kunjungan balik setelah SMA NU 1 Gresik mengunjungi kampus mereka 2014 lalu. Rombongan tamu disambut dengan pementasan seni siswa-siswi SMA NU 1 Gresik seperti Tari Kolosal, Tari Remo, Panjat Tebing, Musik Kolintang, dan Paduan Suara dalam bentuk kolaborasi orkestra.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kerja sama ini adalah kerja sama yang kami harap akan terus berkembang. Bahkan menjadi kerja sama yang saling mencerdaskan,” sambung Nasihuddin kepada pimpinan lawatan yang juga Wakil Rektor Universitas Teknologi Thailand Hathaikorn dan Prattana Srisuk. (Faris Assegaf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 27 Maret 2015

Antara Minat Baca, Minat Komentar, dan Minat Share

Oleh Aswab Mahasin

Akhir-akhir ini saya sering ditambahkan menjadi anggota grup Whatsapp (WA), tidak satu atau dua grup. Kelihatannya grup Whatsapp telah menjadi media bagi sekumpulan orang yang memiliki niat agar dimudahkan komunikasinya, dan grup WA terbukti efektif, seperti; rapat dalam urusan kerja bisa dilakukan di mana saja, kepentingan komunikasi bisa dengan mudah disampaikan secara masal, begitupun dengan undangan pernikahan, sunatan sampai tahlilan, hanya sekali klik seluruh anggota grup sudah mengetahui. Grup WA bisa juga dijadikan sebagai media promosi sebuah produk dagangan, yang pasti banyak manfaatnya.

Antara Minat Baca, Minat Komentar, dan Minat Share (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Minat Baca, Minat Komentar, dan Minat Share (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Minat Baca, Minat Komentar, dan Minat Share

Namun, kemudahan itu dan keefektifan tersebut banyak dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu pula, seperti: menyebarkan berita-berita hoaks, membagikan tulisan-tulisan yang melenceng dari data, sampai pada ujaran kebencian, dan (mungkin) agenda politik.

Disayangkan, seringkali anggota grup menelan mentah-mentah informasi yang diterima, dan meyakini tulisan yang dishare oleh seorang anggota grup adalah benar. Saya ambil contoh, belum lama, dan mungkin sudah lama berita ini tersebar (tapi mulai booming kembali di grup WA), mengenai tulisan dari mantan pemeluk agama Hindu (katanya) menyatakan, ritual 7 hari, 40 hari, 100 hari orang meninggal, dan seterusnya adalah warisan dari tradisi Hindu, dan tercatat/termaktub dalam kitab agama Hindu, setelah saya lihat, kebetulan saya punya Samaveda Samhita, dari penerbit Paramita Surabaya, sangat jelas bertentangan dan berbeda dari tafsir ayat-ayatnya, jauh melenceng.

Hal tersebut hanya sekulumit contoh saja, bahkan kadang berita ‘basi’-pun masih sering di-share. Belum lama, saya mendapatkan share, al-Qur’an yang diterbitkan oleh Penerbit Suara Agung, dikatakan dengan sengaja menghilangkan surat Al-Maidah ayat 51-57, dan itu disebarkan dengan bahasa yang profokatif.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, setelah saya coba telusuri kebenarannya, saya mendapatkan klarifikasi dari website resmi penerbit tersebut, dan itu mutlak kesalahan yang tidak disengaja, ayat tersebut tidak hilang namun ada kesalahatan cetak, seharusnya tercetak pada halaman 117, tapi tercetak pada halaman 113. Dan pada tahun 2015 sudah ditarik dari peredaran, untungnya baru 400 eksmplar yang terdistribusi, sisanya 5.000 eksmplar lebih dimusnahkan. 

Sesungguhnya, informasi-informasi tersebut baik untuk disampaikan, sebagai kontrol masyarakat. Tetapi, terkadang bahasa yang digunakan pengunggah awal tidak ramah lingkungan, akhirnya hanya menyisahkan kebencian bagi penerima berita. Didukung lagi tidak berimbangnya antara ‘minat baca, minat komentar, dan minat share’.

Harus kita akui, pemagang gadget/smartphone, dan pengguna Medsos memiliki ‘minat share dan minat komentar’ yang tinggi, tapi tidak berimbang dengan ‘minat bacanya’. Sebaiknya, kita jangan terlalu mudah membagikan informasi-informasi—secara data meragukan (apalagi memuat ujaran yang tidak laik konsumsi), alangkah indahnya—jika kita mencoba menelusuri sumber beritanya dan kebenarannya terlebih dahulu. 

Kita semua juga tahu, bagaimana minat komentar pengguna Medsos, ambil contoh tak usah jauh-jauh, postingan-postingan di Facebook Pondok Pesantren Attauhidiyyah, seperti tulisan-tulisan saya yang dipublikasikan di Pondok Pesantren Attauhidiyyah, setiap saya melihat komentar di FB Pondok Pesantren Attauhidiyyah, banyak komentar bertolak belakang dengan esensi ide tulisannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kenapa itu bisa terjadi? Karena mereka hanya melihat seklumit deksripsi dan judulnya saja, tanpa membaca konten isi tulisan, lagi-lagi minat baca kita “jongkok”. Kita lebih asyik mengomentari, membagikan tanpa mengetahui “isi”-nya. Kalau demikian, bagaimana kita mau menyaring mana yang benar dan keliru, jika kita hanya melihat kulitnya saja?

Fenomena ini bagi saya sedikit meresahkan. Secara tidak langsung, telah lahir otoritas baru diluar kontorl para ahli. Aktifitas bershare-ria susah untuk dibendung, memang tidak ada yang salah, tapi menjadi salah ketika tulisan/berita itu salah, dan parahnya dianggap benar oleh kebanyakan orang sehingga menjadi dalil (seakan-akan) paling shoheh. 

Pola ini yang harus kita rubah, sebagai manusia kita harus menyadari, Allah SWT telah menghadiahkan bingkisan luar biasa berupa ‘akal’, sebab itu manusia menjadi ahsan taqwim (makhluk paling mulia). Manusia harus cermat memilah-memilih, mana konten yang laik di-share dan mana yang tidak, kemudian mana komentar yang sesuai dengan isi konten tulisan, tidak malah bertengkar atau mengubar ujaran paling benar antara satu dan lainnya. Kita harus lebih cerdas lagi.

Karena begini, setiap informasi tidak bisa dijadikan sebagai standar otoritas fatwa, apalagi standar kebenaran (begitupun dengan tulisan ini), apalagi tulisan-tulisan yang tersebar di grup WA dan Medsos. Otoritas yang mempunyai makna adalah otoritas yang memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah, tidak hanya sebatas simbol-simbol yang tidak bisa dijelaskan secara kebenarannya, apalagi informasi-informasi yang berisi sampah hoaks, jelas tidak memiliki otoritas babar-blas.

Meminjam pernyataan Haidar Bagir dalam buku Islam Tuhan, Islam Manusia, menyatakan, otoritas bisa diterima dalam makna yang sesuai dengan makna-asli ajektif, yakni yang bersifat ilmiah. Semua itu diyakini karena al-Quran sebagai otoritas tertinggi dalam Islam, mengajarkan bahwa agama Islam adalah untuk orang-orang yang berakal, Nabinya pun dengan tegas mengatakan, “tak ada agama bagi orang yang tak berakal.”

Artinya, kita tidak diizinkan ‘serampangan’ dalam menentukan sebuah kebenaran, harus ada otroritas yang jelas, secara sumber, fakta, dan keabsahan sebuah berita/tulisan. Kebanyakan dari kita tidak fokus pada pencarian kebenaran, kita malas untuk menganalisis ulang. Apalagi komentar-komentar yang tercecer dalam Medsos, hanya menyisihkan permusuhan-permusuhan pendapat yang sama sekali (belum menjamin) kemungkinan benar, hanya kesombongan semata.

Minat share dan minat komentar, harus dibarengi dengan minat baca, dengan kata lain, membiasakan mencari sumber yang jelas dan harus dipelajari terlebih dahulu. Di sini kita membutuhkan sebuah perangkat ‘alat perang’, yaitu perang melawan hawa nafsu. Karena nafsu menjadi ingin ‘manfaat’ di zaman digital sekarang, belum tentu menyebarkan kemanfaatan mutlak secara universal. Apalagi dorongan menjadi manfaat tersebut, dibarengi dengan nafsu merasa benar. 

Di era digital sekarang, harus disadari banyak jebakan yang mengintai, tidak hanya kemanfaatan yang bisa menjadi salah, agama pun jika dikendalikan oleh ‘pendekar yang berwatak jahat’ bisa juga salah. Analoginya, tangan kita yang mempunyai fungsi untuk menulis, makan, minum, menggendong, dengan berbagai macam fungsi ‘baik’nya, akan menjadi salah jika difungsikan untuk memukul orang, menampar, membunuh, dan sebagainya. Maka dari itu, dalam sebuah riwayat disebutkan, kelak nanti, seluruh organ tubuh kita akan dimintai pertanggung jawaban, dan mulut akan membisu. 

Harus Anda sadari pula, berita hoaks dan tulisan yang bersumber ngawur, bukanlah sebuah argumen ilmiah dan bukan juga pendapat yang shoheh, melainkan hanya untuk menggiring opini kita supaya mengikuti alur si pembuat berita, dengan berbagai macam kemungkinan kepentingan.

Namun, jika sebuah tulisan dan berita itu bersumber jelas, harus Anda ‘amini’, bahwa itu adalah khazanah pengetahuan. Dan kita harus sebisa mungkin mempunyai prinsip, sebuah pendapat mempunyai dua kemungkinan, pendapat Anda mempunyai peluang salah dan benar, begitupun dengan pendapat saya. Tapi, lagi-lagi itu adalah hak seseorang untuk berpendapat, tidak bisa kita batasi. Dan si tukang komentar tidak usah bertengkar karena itu.

Kita harus meyakini, kebijaksanaan, kebaikan, hikmah, dan segala rupanya yang positif terdapat di mana-mana, bahkan dalam pendapat yang tidak kita sepakati sekalipun. Lalu, kewajiban kita sebagai seorang yang ingin menaikan taraf kualitas diri, harus ‘memungutnya’. Sekali lagi, bukan malah perang komentar. 

Semua itu bisa dilakukan, asalkan minat baca, minat menganalisis, dan minat mempelajari lebih diutamakan, daripada minat mengomentari dan minat share. Jangan, jangan dulu dibagikan, jangan dulu dikomentari, kalau Anda belum benar-benar paham tentang isinya. Karena bisa saja Anda terjebak dalam kemanfaatan semu, hanya gara-gara dibuai dengan kata-kata, “Jangan berhenti pada Anda, sebarkan kemanfaatan ini kepada teman-teman Anda.” (mungkin itu jebakan). Baca lagi, teliti lagi, dan pelajari lagi. Biasakan melakukan hal-hal tersebut. 

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah antologi puisi, In The Mecca, Gwendolyn Brooks (1917-2000 M) mengatakan: “One reason that cats are happier than people is that they have no newspapers—satu alasan kenapa kucing lebih bahagia dari manusia adalah, bahwa mereka tidak memiliki koran.” Apalagi Whatsapp, begitupun dengan grup WA dan Medsos.

Penulis adalah pengelola website www.tangga.id.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, RMI NU, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 24 Maret 2015

Indonesia Siap Jadi Juru Damai Arab Saudi-Iran

Konflik memanas yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran hari-hari ini yang, sebagaimana diberitakan banyak media, diawali dari eksekusi mati Sheikh Nirm al-Nimr, tokoh Syiah yang berdomisili di bagian timur Arab Saudi, sungguh sangat memprihatinkan.

Rakyat Iran marah. Mereka membakar kantor kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran, Ibukota Iran. Ujungnya, Arab Saudi secara resmi memberhentikan hubugan diplomatic kedua negara.

Indonesia Siap Jadi Juru Damai Arab Saudi-Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Siap Jadi Juru Damai Arab Saudi-Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Siap Jadi Juru Damai Arab Saudi-Iran

Keadaan itu langsung menyita reaksi publik, termasuk demonstrasi yang terjadi di negara-negara timur tengah: Iran, Irak, Pakistan, dan juga Lebanon.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran sangat tidak layak dipertontonkan dan sangat menghawatirkan. Kedua belah pihak sama-sama bersikukuh pada pandangan masing-masing. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi pertempuran yang lebih luas dan berbahaya bagi dunia.

Dalam pada itu, Arab Saudi dan Iran adalah representasi dunia Islam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dalam konteks konflik antara Arab Saudi dan Iran ini, Pertama, mendorong pemerintah untuk mengambil peran serta langkah-langkah diplomatic dalam rangka membantu menyelesaiakan konflik Arab Saudi dan Iran ini.

Kedua, dalam mengambil langkah diplomatik, Pemerintah Indonesia harus berhati-hati agar tidak terlibat dalam pemihakan (tidak melakukan blocking).

Ketiga, Indonesia sangat siap untuk menjadi juru damai konflik tersebut. Sebab Indonesia, sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar dan terbukti dalam menjaga toleransi dalam kemajemukan, memiliki modal diplomatik yang tinggi.

Keempat, PBNU mengimbau agar konflik tidak diperparah dengan isu-isu ideologi Wahabi-Syiah.

Kelima, mengmbau pada umat Islam agar tidak terprovokasi sehingga melakukan tindakan-tindakan yang merugikan.

Dalam pada itu, PBNU, dalam konteks konflik Arab Saudi dan Iran,? siap menjadi garda depan untuk selalu melaksanakan dan juga megembangkan paham Islam yang moderat “Islam Nusantara” yang selalu mengedepankan sikap moderat, seimbang, adil, dan juga toleran.

Jakarta, 06 Desember 2015

Ketua Umum? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah