Minggu, 09 April 2017

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM

Makasar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Numang melepas gerak jalan santai Universitas Islam Makassar dalam rangka Harlah Ke-50 di Halaman Taman Makam Pahlawan Panaikang, Jumat (3/6). Gerak jalan santai ini dimulai dari Taman Makam Pahlawan dan berakhir di Universitas Islam Makassar.

Gerak jalan ini diikuti seluruh civitas akademika UIM, lembaga, sejumlah badan otonom NU, IKA PMII, dan beberapa sekolah di bawah naungan Maarif NU.

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM

Agus Arifin Numang mengapresiasi keberadaan lembaga pendidikan Islam di bawah naungan NU yang telah menginjak usia 50 tahun. UIM telah banyak memberikan kontribusi besar bagi kecerdasan masyarakat Sulawesi Selatan.

"Tak hanya itu, UIM sebagai perguruan tinggi swasta milik NU, ke depannya harus menjadi pilar utama perubahan akhlakul karimah bagi masyarakat Sulsel. Apalagi dengan konsep kampus Qurani yang dikembangkan UIM saat ini," kata Agus yang juga Mustasyar NU Sulsel ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rektor UIM Dr Majdah M Zain Agus AN mengatakan, "Selaku rektor, kami mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pendiri, pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, pengurus NU Sulsel, dan seluruh civitas akademika UIM yang telah banyak mengabdikan sebagian umurnya untuk memajukan UIM. Semoga UIM ke depan lebih baik," ujarnya.

Majdah mengajak seluruh peserta gerak jalan santai untuk membacakan Al-Fatihah dan meniatkan pahalanya untuk almarhum Prof Dr H Abd Rahman Idrus yang telah berpulang ke rahmatullah pada 31 Mei 2016. “Semoga jasa-jasanya menjadi amal jariyah," ujar Majdah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tampak hadir Mantan Rektor UIM Prof Zainuddin Thaha, Wakil Rektor I Prof Arfin Hamid, Wakil Rektor II Dr Saripuddin Muddin, Wakil Rektor III Dr Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Rektor IV Dr Muammar Bakry, Kepala Biro Drs H Muhammad Said, Ketua IKA PMII Dr Abd Kadir Ahmad, dan pengurus FKCA Sulsel. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 07 April 2017

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat

Dua tahun sebelum muktamar NU ke-33, jurnal Tashwirul Afkar mewawancarai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Haji Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh. Tanggal 25 Januari 2014, di tengah menjalankan tugas sebagai Rais Aam untuk ketiga kalinya, Kiai Sahal wafat.

Namun, isi wawancara yang dilakukan Ahmad Fawaid Sjadzili dan Hamzah Sahal dinilai amat relevan untuk diterbitkan lagi. Dalam wawancara ini, Allahu yarham Kiai Sahal seperti berwasiat tentang anakmuda, Nahdlatul Ulama, Aswaja, tak ketinggalan Indonesia.

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sahal: Konsep Aswaja itu Merakyat

Dengan beberapa pemotongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah menerbitkan kembali wawancara ini, di tengah peringatan 40 hari wafatnya, yang banyak diselenggarakan masyarakat di banyak tempat.

Kiai Sahal, Anda masyhur dengan konsep fiqih sosial. Apa yang melatarbelakangi gagasan tentang fiqih sosial?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya melihat ulama itu kalau sudah bahtsul masail, dan membahas fiqih itu terlalu sakral. Saya tidak tahan dengan sikap-sikap seperti itu. Karena fiqih itu adalah hasil dari pemikiran manusia, berdasarkan ijtihad yang dilakukan manusia, bukan dogmatis. Jadi tidak sakral. Untuk menghilangkan itu, saya menggunakan istilah fiqih sosial, bagaimana fiqih itu menjadi hal yang memasyarakat, bukan hal yang sakral.

Kongkretnya bagaimana?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kongkretnya karena kehidupan sehari-hari tidak bisa lepas dari kode etik. Sekarang saja saya tidak bisa lepas dari kode etik. Saya harus melayani Anda sebagai tamu dengan ramah; Anda bertanya dan saya menjawab pertanyaan Anda. Fiqih itu luas. Anda jauh lebih muda dari saya, tapi saya suguhi minuman sebagai penghormatan. Jadi meskipun Anda masih muda, saya tidak pantang untuk melayani Anda, karena Anda tamu. Apalagi ada maksud baik, yaitu mau wawancara. Ini fiqih.

Apa yang paling prinsif dari fiqih sosial?

Fiqih sosial itu begini, masalah-masalah sosial yang ada kaitannya dengan hukum. Dan saya pikir semua masalah sehari-hari ini ada kaitannya dengan hukun dan juga fiqih.

Bagaimana agar fiqih tetap relevan?

Fiqih itu kan hidup dengan ijtihad. Ijtihad itu disesuaikan dengan kebutuhan. Ijtihad itu kan berusaha untuk mencapai kebutuhan.

Ijtihad jadi kata kunci dalam fiqih?

Ya. Ijtihad jadi kata kunci.

Bagaimana dengan anggapan pintu ijtihad telah tertutup?

Ijtihad bermacam-macam, ada ijtihad mutlaq dan ijtihad muqayyad, ijtihad yang bebas dan terbatas. Ijtihad itu ada yang ijtihad madzhab dan ijtihad qaul. Ijtihad itu tidak punya pintu, sehingga tidak ada istilah tertutup atau terbuka. Tidak mampu melakukan ijtihad, saya kira iya. Tapi jangan disamakan antara tidak mampu ijtihad dengan ijtihad ditutup.

Persoalannya, siapa yang memapu menjadi Imam Syafi’i sekarang? Apakah ada yang berani mengaku seperti Imam Syafi’i? kan imam mujtahid mutlaq seperti imam yang empat?

Sekarang bagaimana? Ada yang tahu hadits dan Al-Qur’an cuma sepotong-potong; ada yang hafal tapi tidak mengerti; ada juga yang mengerti tapi tidak hafal. Kekuarang selalu banyak. Berbedaan dengan ulama terdahulu yang hafal Al-Qur’an sekaligus menguasai tafsir. Kemampuan saya dibanding ayah saya sangat jauh. Bahkan bisa dikatakan, saya tidak mampu menandingi ayah sama sekali. Ayah saya hafal Al-Qur’an, menguasai kitab dan pengetahuan kemasyarakatan. Tapi saya tidak mampu seperti itu.

Kiai, bagaimana perkembangan kajian keislaman saat ini?

Masih relatif bisa diharapkan, meskipun berkurang. Masih banyak pesantren yang memiliki prinsip mengajarkan dirosat islamiyah (kajian keislaman), terutama di bidang fiqih.

Keputusan bahtsul masail di Muktamar Boyolali dan Munas Surabaya dinilai tidak progresif dibandingkan dengan Munas Lampung. Bagaiamana menurut Kiai?

Tidak progresif?

Misalnya hermeunetika diharamkan di Muktamar Boyolali?

Kalau orang memutuskan haram itu karena situasi. Jangan dianggap menurun dong. Boleh dong kalau ada pertanyaan ‘kok dihalalkan terus?’ Harus obyektiflah. Orang yang berbicara begitu belum tentu tahu fiqih. Jadi harus melihatnya secara obyektif.

Berbicara tentang pesantren sebagai lumbung kader NU. Bagaimana situasi pesantren saat ini?

Keadaan pesantren sekarang lain dengan pesantren yang dulu. Kalau pesantren yang dulu itu terkonsentrasi. Para santri dan para kiai pengasuh pesantren terkonsentrasi pada ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga melahirkan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang susah dipisahkan dan susah dibuang begitu rupa. Tradisi itu melekat, inhern pada kehidupan sehari-hari mereka. Itu yang pertama.

Yang kedua, pada sistem pesantren itu sendiri. Sistem pesantren itu dulu lebih memfokuskan kepemimpinan pada pengasuh. Tapi itu dulu. Sekarang pesantren beda, karena terpengaruh dengan sistem demokrasi. Jadi sistem demokrasi itu masuk di pesantren telah mengubah sistem pesantren, sehingga kepemimpinan pengasuh itu tidak terjadi lagi. Mending kalau pengasuhnya kebetulan peduli dengan perkembangan ini, sehingga kiai itu bisa memberikan arahan-arahan. Kalau tidak, susah juga.

Bagaimana pengalaman Kiai di Kajen?

Kalau saya, saya ikuti. Santri saya beri kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi dengan arahan. Tidak lalu bebas mutlak. Dan arahan saya tidak monolog. Saya selalu memberi arahan melalui dialog. Karena mereka sadar bahwa tidak mungkin santri itu hidup sendiri dengan kemandirian penuh, masih ada ketergantungan pada pengasuhnya. Mereka sendiri yang mempunyai kesadaran seperti itu, bukan karena saya yang memengaruhi.

Apa faktor yang mengubah kondisi pesantren saat ini?

Faktor pemahaman demokrasi yang kurang begitu tepat. Orang gampang bicara demokratisasi. Semetara di mana menempatkan demokrasi itu tidak dipikirkan. Dan tentu tidak semua hal secara general harus disikapi dengan demokrasi. Ada aspek-aspek yang tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi.

Misalnya?

Aspek dogmatis misalnya. Itu tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi. Banyak h al lain yang berkaitan dengan pesantren yang tidak bisa diselesaikan dengan demokrasi. Bayangkan kalau aspek dogmatis diselesaikan dengan demokrasi.

Tentang politik praktis, Kiai. Apa tanggapan Anda tentang perbedaan politik praktis di NU dan pesantren?

Itu bukan perbedaan politik. Bagi saya, perbedaan sikap yang ada pengaruhnya. Sipa para pengurus pesantren yang belum bisa melepas politik akan berbeda ketika memimpin NU, karena akan selalu mempolitisir NU. Apabila pengurus NU-nya telah melepaskan politik praktis, tidak aka nada upaya mempolitisir NU. Salah satu contohnya adalah Pilkada.

Apa yang musti dilakukan pesantren?

Ya tergantung pengasuhnya. Kalau pengasuhnya cuek, ya sudah lepas semua. Tapi kalau pengasuhnya masih punya pengaruh dan punya idealisme, masih memberikan arahan-arahan pada santrinya, itu bisa terselamatkan. Jadi itu tergantung pada pengasuhnya. Sekarang banyak pengasuh-pengasuh muda yang sikapnya tidak lagi sesuai dengan motivasi munculnya pesantren waktu didirikan.

Nilai apa yang harus dipertahankan agar pesantren tetap pada relnya?

Ya Ahlussunnah wal Jama’ah. Apalagi?

Kenapa Ahlussunnah wal Jama’ah?

Ahlussunnah wal Jama’ah ini nilai yang bisa dinegosiasikan. Bagaimana juga kebiasaan-kebiasaan masyarakat dipertahankan. Cuma terkadang masyarakat terlalu formalistik, dan ini tidak diterima, menggunakan dalil ini dan dalil itu. Pendekatan-pendekatan budaya, lewat kultur dan tidak formalistik, itu harus dipertahankan.

Selain menjadi Rais Aam PBNU, Kiai juga menjadi Ketua Umum MUI. Apakah ada masalah?

Tidak ada.

Tidak ada konflik kepentingan?

Tidak ada. Yang penting ada komunikasi. Sikap-sikap NU terhadap MUI misalnya bisa saya netralisir di NU. Di MUI juga ada persoalan dengan NU, saya juga memberikan penjelasan di MUI. Dan sampai sekarang NU tidak pernah menanyakan bagaimana situasi di MUI. Saya selama menjadi ketua MUI, oleh siapapun di NU tidak menanyakan bagaimana situasi saya menjadi ketua.

Terkait dengan NU. Kita bisa bercerita bagaimana pengalamannya memangku Rais Aam PBNU sejak Muktamar Lirboyo tahun 1999?

Sejak saya memangku Rais Aam, kami sebenarnya ingin mengkongkretkan NU ke khittah 26, yang sampai saat ini sebenarnya masih tarik ulur dengan pengurus yang memiliki kepentingan politik. Itu yang saya rasakan suka dukanya memimpin NU. Di samping itu, bukan pekerjaan yang mudah menghilangkan atau menghapus syahwat politik yang demikian besar, baik di kalangan masyarakat NU sendiri maupun pengurus NU sendiri untuk kembali kepada NU sebagai jam’iyah maupun NU sebagai jama’ah yang memfokuskan diri kepada persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan, tidak lagi berusan dengan partai politik atau politik praktis.

Nah, untuk mencapai itu semua saya mendapatkan banyak kendala. Pertama,susahnya menghilangkan syahwat politik dari kalangan masyarakat NU sendiri. Kedua, generasi pengurus baru yang akan membawa NU kembali ke khittah 26 juga belum siap sepenuhnya. Ketiga, lingkungan masyarakat di Indonesia ini diliputi oleh gejolak politik yang tidak stabil, yang itu juga mendorong warga NU untuk tidak saja meninggalkan respon politis. Itu yang saya rasakan selama ini.

Kenapa jama’ah dan jam’iyah NU gagap, padahal khittah 26 sudah berjalan 24 tahun?

Karena begitu kuatnya atmosifir politik praktis di NU. Lebih-lebih NU punya sejarah gemilang sebagai partai politik, Partai NU pernah menjadi partai terbesar ketiga. Sehingga wajar bila warga NU begitu kuat syahwat politiknya, dan susah meninggalkan sama sekali urusan politik praktis, kecuali orang NU yang memiliki idealisme. Sementara warga NU tidak semuanya memiliki idealisme, bahkan seringkali apa yang dilakukan merupakan respon sesaat.

Apa solusi terhadap kenyataan tersebut, Kiai?

Harus ada regenerasi. Regenerasi atau kaderisasi membutuhkan proses yang sangat panjang. Sayangnya generasi yang sudah siap juga terkontaminasi oleh politik praktis yang tidak jelas arahnya.

Bagaimana upaya menuju regenerasi?

Itu tak bisa saya sendiri dong. Karena apa? Cabang punya kepentingan. Itu karena hak pilih seorang pimpinan itu adalah muktamar kalau di tingkat Pengurus Besar. Atau Konferwil di tingkan Pengurus Wilayah, dan Konfercab di tingkangkat Pengurus Cabang. Jadi sebenarnya yang punya otoritas adalah Pengurus Cabang. Ini tidak mudah karena, perlu pemikiran komperhensif dan waktu yang panjang. Kembali lagi bahwa sementara ini pimpinan-pimpinan cabang itu juga tidak idealis, banyak yang pragmatis dalam memimpin NU. Sudahlah, kalaupun ada konferensi reformasi, kalau di sana-sini rebutan, apa idealnya ia menjadi pemimpin NU.

Apa upaya strategis untuk mengembalikan idelisme pengurus-pengurus NU dari tingkatan yang paling bawah hingga Pengurus Besar?

Saya kembali lagi pada masalah kaderisasi, regenerasi. Katakanlah pengurus lama itu anggap sudah selesai. Saya tidak sanggup untuk membalikkan pikiran kader-kader lama. Sudah berkali-kali saya upayakan sejak menjadi Rais Aam. Saya mendatangi seluruh orang Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Tidak ada yang ketinggalan, mulai dari Banten hingga Banyuwangi tidak ketinggalan. Di luar Jawa saya datangi seluruh provinsi untuk memasarkan khittah NU. Tidak dengan ceramah monolog, tapi dialog. Saya tidak mau ceramah monolog, karena orang mungkin mantuk-mantuk tapi tidak mengerti. Saya ingin mengetahui komentar mereka. Nah, itu loh suara mereka di luar sana.

Selama Kiai menjadi Rais Aam, apa yang bisa diceritakan kepada generasi muda?

Sebenarnya banyak pengalaman saya. Saya merasakan demikian besar dan luasnya pola hidup dan pola pikir warga NU. Tampaknya waktu itu pola pikirnya satu, tapi setelah menjadi Rais Aam saya baru tahu ternyata beragam. Bahkan mungkin bisa diistilahkan ada polarisasi, tapi saya tidak mengatakan seperti itu.

Polarisasi?

Ada dua pengertian polarisasi. Polarisasi memperkaya dan bisa polarisasi ekstrim. Nah, saya khawatir dengan polarisasi ekstrim.

Di NU yang mana, Kiai?

Tidak ekstrim. Tapi tidak bisa dikatakan memperkaya. Saya tidak mengada-ngada. Saya ngomong yang riil. Kalau saya nggak mampu saya bilang nggak mampu, sebab ini bukan pekerjaan yang mudah.

Situasi seperti apa yang dialami selama menjadi Rais Aam, yang bisa dibagi-bagi dan kemudian bisa diteruskan oleh kader kita?

Bagi saya, sepanjang kita masih berpegang teguh kepada ajaran Aswaja. Itu saja. Kalau ini sudah tidak dipertahankan, itu sudah fatal. Itu yang saya anggap prinsip selama menjadi Rais Aam.

Bagaimana mengamalkan Aswaja?

Tentu melalui perbagai macam pendekatan, pendekatan dialog, pendekatan pendidikan, pendekatan perilaku dan sikap.

Banyak orang menilai NU di zaman reformasi ini seperti toserba?

Tergantung dari mana melihat. Apanya yang serba ada? Kalau melihat dari generasinya memang sudah campur baur tidak karuan.

Dari pemikiran akidah dan politiknya misalnya?

Pemikiran juga seperti itu. Kembali pada persoalan proses demokratisasi pemikiran tadi, itu sudah terkontaminasi.

Demokrasi itu menghambat ya?

Bukan menghambat sepanjang kita masih mampu. Kan bisa diarahkan.

Kiai, minta nasehat untuk generasi muda.

Ya itu tadi, ke depan pasti ada perubahan. Dan sudah pasti regenerasi dilakukan. Jadi, tolonglah generasi-generasi muda NU merspon betul perkembangan NU secara internal. Demikian juga perkembangan masyarakat secara eksternal dikaitkan dengan perkembangan NU ke depan. Hal-hal semacam ini harus didiskusikan di internal anak muda sajalah. Saya lebih senang anakmuda karena masa depan itu bukan milik saya. Ke depan Anda-anda yang akan berperan.

Diskusi-diskusi anak-anak muda NU sering dinilai rombongan liar, Kiai?

Sepanjang untuk perkembangan NU menurut saya bukan rombongan liar.

Apapun diskusinya?

Sepanjang kepentingan NU dan betul-betul untuk perkembangan NU. Jangan membahas NU yang sekarang. Yang penting bagaimana NU di masa mendatang. Terkadang orang-orang juga kelewatan. Mereka menyoroti pimpinan yang sekarang, siapa yang tidak tersinggung. Belum tahu permasalahan NU sudah menyoroti pimpinan NU. Akui saja itu, masih ada yang begitu. Sepanjang diskusi itu untuk kepentingan NU ke depan, ini memang milik mereka kok. Ke depan, perjalanan sejarah milik Anda. Begitu menurut saya.

Yang membedakan NU sepuluh tahun terakhir ini dibandingkan sebelumnya apa?

Tidak ada. Saya jujur saja. Apa yang harus saya banggakan? Tidak ada.

Perkembangan yang perlu dilanjutkan generasi muda?

Tidak ada, ya masih standar-standar saja. Saya akui saja, saya tidak neko-neko kok. Meskipun orang luar NU melihat perkembangan dibandangkan dengan zaman dulu, itu komentar pribadi saja.

Apa yang harus dilakukan agar NU konsisten dalam berjuang?

Ya, Aswaja. Konsep aswaja itu merakyat.

Soalnya terlalu banyak kelompok lain yang mengaku Aswaja?

Ya Aswaja kita, Aswaja NU. Biar dia mengaku Aswaja, silakan saja. Memang Aswaja itu bukan hanyak klaim NU. Ya kalau terpaksa, katakan saja Aswaja ala NU. Aswaja ala NU itu merupakan ajaran yang diwarisi dan sudah diasah terus menerus di pesantren. Jadi kelompok-kelompok yang anti NKRI dan semacamnya itu harus dilawan dengan itu. Mereka juga tidak berani dialog kok. Dialog itu jalur mentok. Kenyataannya, dialog bukan membuat mereka untuk sadar. Berkali-kali dilakukan dialog, tapi masih kembali lagi. Itu namanya orang ngotot. Orang seperti itu kalau dilayani terus bisa membuang-buang waktu. Saya malas melayani seperti itu.

NU salah satu elemen besar di Indonesia. Apa yang seharusnya NU berikan dalam konteks negara saat ini?

Konsep mempertahankan NKRI (secara Islam, red.) itu NU yang punya, yang lain belum. Dan NU sudah berjuang untuk itu, dan konsisten mempertahankannya sampai sekarang. Jadi perjuangan NU jangan dianggap remeh. NU merasa ikut berupaya, merasa ikut bersungguh-sungguh. Kiai sepuh-sepuh itu dulu bergerilya memperjuangkan kemerdekaan. Saya saja ikut bergerilya. Jadi seusia saya dulu ikut bergerilya. Bapak saya ditahan oleh Belanda sampai meninggal di penjara Ambarawa Semrang garagara memperjuangkan hak kemerdekaan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 05 April 2017

Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah

Adzan merupakan pertanda telah masuknya waktu sholat sekaligus panggilan untuk melaksanakan sholat berjama’ah bagi seluruh kaum muslimin yang mendengarkannya. Banyak sekali pahala yang dijanjikan oleh Allah terkait adzan, baik bagi yang melafalkannya ataupun yang mendengarkannya. Saat muadzin melafalkan adzan, yang mendengar disunnahkan untuk menjawab adzan.

Hal yang sangat disunnahkan terkait adzan dan iqamah lainnya ialah beberapa amalan dan doa sesudahnya, sebagaimana yang telah kami sarikan dari beberapa literatur klasik: 

Dalam kitab Asna al-Mathalib karya Imam Zakaria al-Anshary (Dar al-Kutub al-Islamy, 2000), juz II, hal. 456, setelah selesai adzan, disunnahkan bagi muadzin dan yang mendengar adzan, untukmembaca shalawat, yang paling utama ialah shalawat Ibrahimiyyah:

Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah

? ? ? ?  ? ? ? ?  ? ? ? ? ?  ? ? ? ?  ? ? ? ?  ? ? ? ?  ? ? ? ? ?  ? ?  ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ `âli sayyidinâ Muhammad kamâ shallaita ‘alâ sayyidinâ Ibrâhîm, wa ‘alâ `âli sayyidinâ Ibrâhim, wa bârik ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ `âli sayyidinâ Muhammad kamâ bârakta ‘alâ sayyidinâ Ibrâhim, wa ‘alâ `âli sayyidinâ Ibrâhîm, innaKa Hamîdun Majîdun

“Ya Allah, berilah rahmat pada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaiman Engkau merahmati Nabi Ibrahim dan keluarganya, serta berkatilah Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaiman Engkau berkatilah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dilanjutkan dengan berdoa dengan doa di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma Rabba hâdzihid-da‘wati at-tâmmati, wash-shalâtil-qâimati, âti sayyidanâ Muhammad al-washilah wal fadlîlah, wad-darajatar rafî’ah wab’atshu maqâman mahmûdan alladzî wa’adtah, innaka lâ tukhliful-mî‘âd

“Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, kurniailah Nabi Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan kelebihan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi dan tempatkanlah dia pada kependudukan yang terpuji yang telah Engkaujanjikan, sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji, wahai dzat yang paling Penyayang.”

Selanjutnya, disebutkan dalam kitab Jami’ul Ahadits, juz IV, hal. 250, disebutkan ada doa khusus setelah adzan maghrib, yakni:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allahumma hadza iqbâlu lailika wa idbâru nahârika wa ashwâtu du’âika faghfir lii

“Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya malam-Mu, dan perginya siang-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku”

Adapun setelah adzan shubuh, ada doa khusus sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Muin hal. 280, yakni:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allahumma hadza iqbâlu nahârika wa idbâru lailika wa ashwâtu du’âika faghfir lî

“Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya siang-Mu, dan perginya malam-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku”

Doa diantara Adzan dan Iqamah. 

? ? ? ? ? ? ?

Allahumma innî as-alukal-‘âfiyah fid-dunya wal-âkhirah

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat”

Disambung dengan Membaca ayat kursi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhu lâ Ilâha illa Huwal hayyul qayyumu. Lâ takhudzuhû sinatuw wa lâ naûm. laHû mâ fissamâwâti wa mâ fil ardhi. man dzal ladzii yasfau indahû illâ bi idznihi. yalamu mâ baina aidiihim wa mâ khalfahum. wa lâ yuhithûna bi syai-in min ilmihii illâ bi mâsyâ-a. wasia kursiyyuhussamâwâti wal ardha. wa lâ ya-udhû hifzhuhumâ wahuwal aliyyul azhiim.

“Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Terakhir, jika sesudah iqamah masih ada waktu, maka disunnahkan membaca doa setelah iqamah ialah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allahumma Rabba hadzihi ad-da’wati at-tâmmati, wa ash-shalâti al-qâimati, shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa âtihi su’lahu yaumal qiyâmah

“Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, rahmatilah Nabi Muhammad dan berikan padanya permintaannya di hari kiamat.”

Demikian rangkaian amalan dan doa sesuadah adzan dan iqamah ini, semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Wallahu a’lam bi-shawab





(Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Kyai, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 04 April 2017

Kiai Said: Mayoritas Ingin Hidup Damai, Radikal Ditunjukkan Kelompok Kecil

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Radikalisme yang makin marak seiring dengan perkembangan teknologi informasi menjadi pekerjaan bersama dalam menangkalnya. Komitmen bersama ini harus terus dihadirkan agar Islam ramah dan moderat tetap menjadi ruh beragama jutaan Muslim di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan, sudah seharusnya umat Islam terus mewarnai dunia dengan wajah Islam yang mengajak kepada kebaikan dan kesejukan dalam berperilaku.

Kiai Said: Mayoritas Ingin Hidup Damai, Radikal Ditunjukkan Kelompok Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Mayoritas Ingin Hidup Damai, Radikal Ditunjukkan Kelompok Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Mayoritas Ingin Hidup Damai, Radikal Ditunjukkan Kelompok Kecil

Selama ini, menurutnya, Islam yang dicitrakan sebagai agama yang keras dan menebar teror sebetulnya hanya dilakukan oleh kelompok kecil yang lewat berbagai propgandanya berhasil mencitrakan sebagai secara tidak baik.

“Radikal itu hanya ditunjukkan oleh kelompok kecil dan pasti dibenci masyarakat karena sikapnya itu. Lihatnya saja kelompok mayoritas seperti petani, nelayan, dan pedagang, mereka inginnya hidup damai dalam kebersamaan,” ujar Kiai Said saat menerima tamu Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi, Sabtu (11/3) di Gedung PBNU Jakarta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alasan ketidakadilan yang sering mereka kemukakan adalah hal yang dibuat-buat karena menurut kiai asal Kempek Cirebon ini, segala problem bangsa bisa dipecahkan bersama jika mempunyai tujuan bareng-bareng menjaga persatuan dan keutuhan bangsa dan negara.

“Kesejahteraan ekonomi harus merata. Persoalan ketimpangan itu terus didorong oleh NU agar kesejahteraan dan keadilan msyarakat bisa terwujud,” tutur Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Said juga menyarankan, jika seluruh umat Islam terus-terusan membicarakan masalah furu’iyah apalagi kalau sudah ditumpangi oleh kepentingan politik, maka gejolak di masyarakat akan terus terjadi.?

Sebab itu, menurutnya, bangsa Indonesia sudah seharusnya kembali ke persoalan substantif agar berbagai problem bangsa bisa terpecahkan untuk kepentingan rakyat banyak. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Nahdlatul Ulama, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 02 April 2017

Kembangkan Dakwah Model Walisongo

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi mengungkapkan bahwa kita harus mencontoh metode dakwah yang dikembangkan oleh walisongo yang telah berhasil mengembangkan Islam di Indonesia meskipun mereka sebelumnya telah menganut ajaran lain.

“Mereka berhasil bukan karena banyaknya referensi, tetapi karena kepribadian dan metodologi,” katanya dalam acara halal bi halal dan penandatanganan MoU pengembangan dai di daerah transmigrasi antara LDNU dan Depnakertrans di Jakarta, Selasa.

Namun sangat disayangkan jika saat ini semangat dalam berdakwah sekarang ini sudah digantikan dengan semangat melakukan propaganda dan berghibah melalui infotainment dan perilaku lainnya yang malah merusak masyarakat.

Kembangkan Dakwah Model Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Dakwah Model Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Dakwah Model Walisongo

Pesantrenkan Calon Dai

Untuk memaksimalkan pelaksanaan dakwah, mantan ketua PWNU Jatim tersebut mengusulkan untuk mendidik anak-anak dari daerah untuk belajar di pesantren guna menuntut ilmu dan setelah pandai mereka kembali ke daerahnya masing-masing.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ini biayanya lebih murah daripada mengirimkan dai dari daerah lain. Selain itu dakwahnya akan lebih berhasil karena mereka tahu kondisi daerahnya sendiri,” tandasnya.

Daerah-daerah yang diusulkan menjadi sasaran bagi para dai untuk dikader seperti Ambon, NTT dan Papua. Saat ini PBNU telah memiliki 60 santri binaan dari Ambon yang dititipkan di beberapa pesantren seperti Tambak Beras Jombang, At Tauhid Surabaya, Darul Ulum Peterongan dan di sebuah pesantren di Bondowoso.

Dijelaskannya bahwa pendidikan di pesantren akan membuat para dai memiliki ruhul mujahadah dan ruhul jihad daripada pendidikan di sekolah. “Lulusan pesantrenlah yang mampu dan mau berjuang dalam kondisi yang sulit yang orang lain tidak mau mendatanginya,” imbuhnya.

Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang tersebut juga meminta LDNU untuk meningkatkan jaringannya di bawah agar dakwah yang dilakukan semakin berhasil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pahami Kondisi Lokal

Sementara itu, Dirjen Bimas Islam Depag Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA mengungkapkan bahwa dai harus memahami kondisi lokal tempatnya berdakwah. Ia menceritakan pengalaman seorang dai yang baru seminggu sudah pulang karena tak kerasan ketika dikirimkan ke Papua. Ini terjadi karena sang dai tak memahami kondisi tempatnya berdakwah.

“Mereka tak bisa membayangkan harus tidur diatas kasur jerami dan mengolesi tubuhnya dengan minyak babi agar bisa terhindar dari malaria,” tandasnya.

Namun ia mendorong para dai berdakwah di daerah-daerah terpencil tersebut karena banyak pengalaman menarik yang akan didapat. “Ini seharusnya menjadi tantangan bagi anak-anak Ansor untuk berdakwah, ada penduduk yang rumahnya berada di atas pohon dan semakin tinggi kedudukan sosialnya, maka rumahnya semakin tinggi,” tandas Katib Aam PBNU tersebut menceritakan kembali salah satu pengalaman dari peserta 1000 dai sarjana ke daerah terpencil. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Internasional, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 01 April 2017

Kemana Arah Pergerakan Kita?

Oleh Iwan Adi Kusuma

Desa adalah awal mula sekaligus tujuan. Modal utama dalam membangun peradaban Indonesia. Desa mempunyai fungsi dan peranan yang sangat besar dan strategis bagi dasar pembangunan nasional Indonesia. Baik di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya maupun di bidang pertahanan dan keamanan nasional. Dengan demikian, daerah perdesaan tidak hanya merupakan sumber kekuatan ekonomi terutama pangan dan energi, melainkan juga merupakan dasar bagi ketahanan nasional bangsa dan negara.

Di sinilah eksistensi pesantren lahir dan berkembang sebagai sebuah institusi pendidikan yang khas nusantara. Menjaga dan melestarikan nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan dan keislaman. Tanpa menafikan kearifan lokal, bahkan berjalan beriringan saling memperkokoh.

Kemana Arah Pergerakan Kita? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemana Arah Pergerakan Kita? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemana Arah Pergerakan Kita?

Oleh karenanya, menjadi kewajiban bagi Nahdlatul Ulama untuk tetap menjaga nilai-nilai tersebut. Kultur intelektualitas pesantren itulah yang menjadi modal dasar bagi kader-kader PMII. Menjadi nilai-nilai dasar pergerakan dengan metodologi yang dinamis. Yakni penjagaan terhadap nilai-nilai lama yang baik, pararel dengan penemuan nilai-nilai baru yang lebih baik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bagi PMII hal itu seharusnya dibaca menjadi, penjagaan atas tradisi humaniora yang telah diwariskan oleh pesantren di lokalitas masing-masing, serta kemutlakan mengambil tradisi sains dan teknologi yang kini berkembang pesat.

Ada ungkapan lama yang mengatakan, ‘deso mowo coro, negoro mowo toto.’ Maknanya negara memiliki tatanan atau peraturan dan desa memiliki adat atau aturan tak tertulis. Tatanan negara dan adat desa tidak boleh bertentangan, tetapi keduanya harus saling mendukung karena memiliki tujuan yang sama, yaitu tatanan kehidupan yang damai dan menyejahterakan semuanya. Ungkapan itu sejatinya menjadi dogma bagi “negara-negara” di nusantara. Sementara eksistensi Indonesia merupakan pelanjut belaka dari sejarah panjang nusantara itu sendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kelanjutan menarik dari apa yang penulis dapatkan dalam forum diskusi bulanan di PBNU adalah, sejak dahulu di nusantara tidak mengenal kosa kata ‘miskin’ atau kata-kata sepadan lainnya. Semisal fakir, melarat, ngemis, pengemis, dan sebagainya. Kesemuanya merupakan kata-kata serapan dari bahasa asing (Arab). Sementara istilah ‘pengemis’ dalam kamus bahasa Indonesia tidak dikenal kata dasarnya, karena memang tumbuh dari akar sebuah peristiwa.

Bermula dari Paku Buwono X (Surakarta Hadiningrat) yang dikenal sangat welas asih dan dermawan. Ia suka membagi-bagikan sedekah untuk kaum tak berpunya. Tiap hari Kamis sang raja itu keluar dari istana untuk melihat-lihat kondisi rakyatnya. Kebiasaanya, berjalan kaki dari gerbang istana menuju Masjid Agung melalui alun-alun lor (alun-alun utara). Saat berjalan kaki dengan diiringi para pengawal kerajaan, Paku Buwono X senantiasa dielu-elukan oleh rakyatnya yang berjejer rapi di tepi kanan-kiri sepanjang jalur perjalanan.

Pada waktu itulah sang raja bersedekah dengan langsung memberikan uang kepada rakyatnya, tanpa ada satupun rakyat yang berjejer di sana terlewatkan. Rutinitas tersebut? terus berlangsung setiap hari Kamis (Kemis-bahasa Jawa). Sejak saat itu itulah dikenal istilah atau sebutan ‘ngemis’ bagi orang-orang yang ikut berkumpul di sepanjang jalan dari istana ke Masjid Agung, sambil mengharapkan barakah (sedekah) di hari Kamis. Dari istilah ‘ngemis’ ini selanjutnya dikenal pula istilah ‘pengemis’ bagi orang yang melakukan aktifitas ‘ngemis.’

Apa artinya? Bangsa-bangsa Nusantara, para pendahulu kita benar-benar merasa berkecukupan. Sadar dengan berlimpahnya kekayaan alam yang ada disekitarnya namun tidak pernah rakus mengeksploitasinya. Mereka selalu menjaga keseimbangan hubungan antarsesama dan juga terhadap alam. Bila keseimbangan itu timpang oleh keserakahan manusia maka alam akan marah. Dan muncullah berbagai malapetaka. Begitulah kepercayaan yang mereka yakini. Namun justru sistem kehidupan itulah yang membuat mereka selalu berkecukupan. Tidak pernah merasa kekurangan, yang bisa disebut dengan kata-kata ‘miskin’, ‘melarat’, ‘fakir’ dan sebagainya.

Kenyataan lain yang patut diperhatikan, para penentu kebijakan di dunia sangat sadar bahwa kini mereka tengah dihadapkan pada krisis energi dan pangan. Tidak terkecuali Indonesia yang sangat kaya sumber daya alamnya akibat keserakahan dan salah urus. Konfik yang terjadi di Irak, Iran, Libya, Kuwait, Mesir, Suriah, Yaman, Sudan dan Ukraina, semuanya sebagai negara penghasil energi. Kenyataan itu membawa pada kesimpulan konflik atau perang di dunia, mayoritas berlatar belakang energi.

Konflik di waktu mendatang dari aspek latar belakang dan lokasinya jelas akan mengalami perubahan. Hal ini dipicu karena energi fosil diprediksi pada 2043 akan habis. Dan hanya bisa digantikan dengan energi alternatif (energi baru terbarukan), yang bisa hidup sepanjang tahun hanya di wilayah Ekuator, yaitu Amerika Latin, Afrika Tengah dan Asia Tenggara termasuk di dalamnya Indonesia.

Energi adalah pijakan berbagai aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Ketersediaan energi juga salah satu tantangan besar bagi pengembangan tahapan-tahapan industrialisasi. Padahal krisis energi di Indonesia sudah mulai menunjukkan gejalanya. Kalau tidak ada penemuan cadangan baru, dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, dan pasokan yang terus menurun, maka sekitar 11-12 tahun lagi selesailah, Indonesia akan kehabisan minyak dan gas, menjadi net importir.

Saat ini kondisi ketahanan energi nasional telah berada dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Salah satu indikasinya adalah mengacu pada ketersediaan stok BBM nasional yang kini baru mencapai hingga kurun waktu 20-25 hari saja. Minimnya ketersediaan BBM di dalam negeri terjadi sebagai akibat dari ketergantungan impor minyak mentah maupun BBM yang tidak lagi sebanding dengan tingkat konsumsi nasional.

Hal itu mendorong pemerintah mulai berpikir ulang, jika sebelumnya ketahanan energi selalu erat kaitannya dengan SDA berbentuk minyak dan gas, belakangan terus berkembang ke seluruh sumber daya fosil lainnya seperti batubara. Bahkan, dalam satu dekade terakhir, geliat energi non fosil yang dikenal sebagai energi baru terbarukan (EBT) juga mendapat perhatian cukup serius. Seperti hidro power, panas bumi, hidrogen, biofuel, biodiesel, biomassa, matahari, uranium dan sebagainya. Kenyataannya berbagai bauran energi ini mayoritas sangat mudah di dapatkan di wilayah pinggiran.

Sementara pertambahan populasi penduduk dunia semakin cepat. Paska 2011 untuk menambah 1 milyar hanya butuh enam tahun. Padahal sebelumnya, diperlukan puluhan bahkan ratusan tahun. Kenyataan ini mengingatkan kita pada teori Maltus yang mengatakan pertambahan penduduk meningkat seperti deret ukur. Sedangkan ketersediaan pangan meningkat ibarat deret hitung. Apabila garis pertambahan penduduk dengan garis ketersediaan pangan bersinggungan di suatu titik, maka disitulah terjadinya titik kritis. Padahal populasi ideal penduduk dunia sekitar 3-4 milyar untuk dapat hidup dengan layak. Realitanya saat ini sekitar 15 juta bayi meninggal setiap tahunnya karena kemiskinan, kelaparan dan kesehatan buruk. Artinya penduduk dunia sudah sangat melebihi kapasitasnya. Maka bila populasi penduduk tidak bisa diimbangi dengan ketersediaan pangan, jelas akan memicu krisis. Apalagi pangan yang awalnya hanya untuk makan, ke depan akan dibagi dua, untuk makan dan energi.

Terlihat jelaslah bahwa wilayah perdesaan tetap menjadi tumpuan dan harapan bagi krisis yang akan dihadapi oleh negara ini. Dan menjadi jelas pula arah langkah pergerakan kita untuk mengantisipasi krisis di masa depan bukan?

Iwan Adi Kusuma, Mahasiswa Pasca Sarjana STAINU, Koordinator Forum Komunikasi PMII



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 31 Maret 2017

Ajarkan Sejarah dengan Lengkap, Jangan Ditutup-tutupi

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Chalwani Nawawi mengatakan, saat ini banyak sejarah tentang para pejuang yang tidak dijelaskan dengan lengkap khususnya di sekolah dan madrasah. Hal tersebut diungkapkannya melihat fakta bahwa banyak para pejuang dan pahlawan nasional adalah merupakan para santri dan memang harus diketahui oleh masyarakat.

“Salah satu Pahlawan yang merupakan seorang santri dan juga penganut thariqah adalah Abdul Hamid yang terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro,” ujar Kiai Chalwani, Ahad (10/4) malam di Pringsewu, Lampung

Ajarkan Sejarah dengan Lengkap, Jangan Ditutup-tutupi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajarkan Sejarah dengan Lengkap, Jangan Ditutup-tutupi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajarkan Sejarah dengan Lengkap, Jangan Ditutup-tutupi

Pangeran Diponegoro lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH Hasan Besari. Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kiai Taftazani Kertosuro. Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Bukti otentik jika Pangeran Diponegoro adalah seorang santri adalah peninggalan kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu yang di dalamnya ada 3 peningalan, Al-Quran, tasbih, dan Kitab Taqrib.

"Kenapa Al-Qur’an? Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro sorang ahli dzikir, dan bahkan penganut thariqah. Kenapa Kitab Taqrib matan Abu Syuja, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren? Karena beliau bermadzhab Syafii. Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafii. Maka, karena bermadhab Syafii, Diponegoro shalat Tarawih 20 rakaat, shalat Shubuh memakai doa Qunut, Jumatan adzan dua kali," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, ia mengingatkan agar sejarah harus di sampaikan apa adanya. Jangan ditutup-tutupi jika Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafii.

Lanjutnya tokoh pejuang lain yang merupakan santri dan keluarga besar tarikat diantaranya Ki Hajar Dewantara, Proklamator Muhammad Hatta dan RA Kartini. "Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah. Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh Allah SWT, " tegasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah