Minggu, 17 September 2017

Mengambil Upah dari Uang Derma

Lembaga filantropi terbilang semakin berkembang di Indonesia. Perkembangan ini menunjukan antusias warga untuk membantu sesama tanpa komando pemerintah sedikitpun. Selain berupa lembaga, juga banyak ditemukan komunitas ataupun personal yang secara sukarela bergerak menggalang dana untuk membantu fakir miskin, korban bencana alam, pembangunan masjid, pesantren, dan lain-lain.

Kehadiran para relawan ini patut disyukuri dan diapresiasi. Sebab bagaimanapun, tidak semua masalah di negara ini dapat diselesaikan oleh negara. Kehadiran mereka cukup banyak membantu dalam menyelesaikan problem kemanusiaan. Akan tetapi, tidak semua relawan berasal dari kalangan elite dan orang kaya. Di antara mereka juga ada yang hidup tidak berkecukupan, bahkan menjadikan hal itu sebagai profesinya. Artinya,  ia tidak memiliki pekerjaan selain menjadi relawan.

Mengambil Upah dari Uang Derma (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengambil Upah dari Uang Derma (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengambil Upah dari Uang Derma

Bagaimana hukumnya jika pada relawan tersebut mengambil sedikit bagian dari uang sumbangan yang telah dia kumpulkan?

Masalah ini pernah dibahas dalam muktamar  NU Ke-2 tahun 1927. Dalam muktamar tersebut diputuskan bahwa orang yang memungut derma untuk mendirikan masjid, madrasah, bantuan fakir miskin dan yatim, ataupun kegiatan sosial lainnya, diperbolehkan untuk mengambil sebagian dari uang itu dengan syarat tidak melebihi upah sepantasnya atau sekedar mencukupi kebutuhannya. Kebolehan ini dikhususkan untuk para relawan yang miskin saja dan tidak diperbolehkan bagi relawan yang kaya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keputusan ini merujuk kepada keterangan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ?

Disamakan dengan wali anak yatim, seperti yang telah dikemukakan, orang yang mengumpulkan harta, misalnya untuk membebaskan tawanan. Jika ia orang yang miskin maka ia diperbolehkan untuk makan dari harta tersebut atau ia boleh mengambil satu di antara dua hal yang paling sedikit, yaitu biaya nafkah atau mengambil ujratul mitsli (upah standar).

Menurut al-Syirwani yang demikian itu termasuk pula orang yang mengumpulkan harta untuk membantu menyelamatkan orang miskin yang terbelit hutang atau orang yang terzalimi yang dirampas hartanya. Pendapat tersebut adalah pendapat yang baik dan (memang) harus seperti itu, sebagai pendorong dan penyemangat dalam perbuatan mulia.

Membantu penggalangan dana untuk orang yang membutuhkan ialah perbuatan yang sangat mulia. Sebab itu, aktivitas ini harus senantiasa dibantu dengan memberikan upah kepada para relawan tersebut jika ia memang sangat membutuhkan.

Sebaliknya, jika ia berkecukupan dan kaya, seyogyanya ia tidak mengambil uang sumbangan itu. Lebih baik uangnya didermakan kepada orang yang lebih membutuhkan sesuai dengan niat awal pengumpulan dana. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 September 2017

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan Islam Rahmatan LilAlamin. Dalam dakwahnya, organisasi yang berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang agama, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain ini merangkul orang-orang terpinggirkan supaya masuk dan mendalami Islam tanpa memaksa. 

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa

Demikian disampaikan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi, pengasuh Pesantren Assiddiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung.

"Sebelum NU dilahirkan, terlebih dahulu ada Masyumi. Namun seiring berjalannya waktu, Masyumi pecah, ada modern dan tradisional," kata Kiai Imam, di Gunung Labuhan, Sabtu (30/4).

NU berdiri melalui proses. Pendirinya antara lain Hadlratussyaikh KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri. Setelah terbentuk, selanjutnya, KH Ridwan Abdullah mendapat amanah untuk membuat lambang NU.

"Antara lain bola dunia, tali 99 untaian dengan posisi melingkari bola dunia, bintang empat di sebelah kanan dan kiri serta satu bintang besar di atas. Masing-masing mempunyai filosofi berbeda," Kiai Imam menjelaskan kepada peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang digelar PC GP Ansor Way Kanan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bola dunia adalah tempat manusia berasal, menjalani hidup dan akan kembali. Lalu tali melingkar dalam posisi mengikat bermakna tali ukhuwah (persaudaraan) yang kokoh. Kemudian peta Indonesia menggambarkan NU didirikan di Indonesia dan berjuang untuk kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Untaian tali berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Empat bintang bermakna Khulafaur Rasyidin yang terdiri dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kemudian satu bintang besar terletak di tengah melambangkan Rasulullah SAW dan empat bintang lain melambangkan empat madzhab Ahlussunnah wal Jamaah yang terdiri dari Imam Hanafi, Hambali, Maliki dan Syafii," ujar Kiai Imam saat menerangkan mengenai NU.

NU berdiri memiliki tujuan, yakni membimbing umat dengan tawasuth dan itidal, tasamuh, tawazun dan amar maruf nahi munkar. "Tawasuth dan itidal merupakan prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah hidup bersama. Dengan prinsip tersebut, maka NU akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersifat membangun dan menghindari segala bentuk pendekatan bersifat tatharruf (ekstrim)," demikian Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

BPUN 2016 digelar PC GP Ansor Way Kanan di Pesantren Assiddiqiyah 11 mulai 25 April 2016. Selain memberikan motivasi dan bimbingan ruhani istiqomah, juga memberikan materi kecakapan hidup berupa ilmu jurnalistik dibimbing Manajer BPUN setempat Gatot Arifianto. (Uswatun Hasanah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 15 September 2017

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU

Pasuruan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menghadiri Haul Al-Arif Billah KH Abdul Hamid Pasuruan pada (21/12). Ia disambut PCNU Kota Pasuruan dengan mengadakan kegiatan bertajuk "Silaturahim PBNU dengan Pengurus NU se-Pasuruan Raya".

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU

Silaturahim yang berlangsung di aula PCNU Kota Pasuruan tersebut dimulai dengan pembacaan istighosah dipimpin Rais Syuriyah PCNU Kota Pasuruan KH Said Kholil. Kemudian dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dari ketua PCNU Kota Pasuruan KH Halim Masud.

Dalam taushiyahnya, KH Maruf Amin menyampaikan, prioritas kegiatan pokok pengurus NU. Pertama, adalah penguatan Aqidah Ahlusunnah wal-Jamaah An-Nahdliyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Islam Nusantara, kata dia, yang menjadi perbincangan ramai di masyarakat, sebenarnya adalah sebuah kemasan dengan isi Islam Ahlusunnah wal jamaah An Nahdliyah. “Jadi, bukan aliran baru seperti banyak dituduhkan oleh pihak yang tidak mau bertabayun,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan corak dakwahnya yang santun dan teduh, lanjut Kiai Ma’ruf, Islam Nusantara diharapkan menjadi solusi atas problematika bagi dunia Islam dewasa ini.

Kedua, adalah perbaikan dan pemberdayaan jam’iyah dengan prinsip aktif, dinamis, kreatif. Hal itu dilakukan secara berkelanjutan di semua bidang dengan menggalakkan pada sektor ekonomi dan pendidikan.

“Untuk mewujudkan tujuan NU maka diperlukan konsolidasi organisasi dan semangat ke-NU an,” pungkasnya.

Rais Aam menegaskan bahwa NU tidak boleh sekedar besar jumlahnya tetapi kecil perannya. NU harus besar jumlahnya dan besar pula perannya. Maka yang perlu ditingkatkan adalah semangat ke-U-an yang akan mengembalikan kejayaan NU sebagaimana di tangan para pendirinya. 

Acara ini dihadiri para pengurus PCNU Kota Pasuruan dan PCNU Kabupaten Pasuruan dengan dipandu cucu Almaghfurlah KH Abdul Hamid, Muchamad Nailur Rohman. (zulkarnaian mahmud/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Kiai, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 September 2017

Muslimat Sulsel: Bangun Daerah Harus Bebas Narkoba

Takalar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Majdah Agus Arifin Numang resmi melantik Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Takalar masa khidmah 2016-2021 bertempat di Gedung PCNU Takalar, Sabtu (19/11). Majdah mengingatkan peran penting pengurus dan anggota Muslimat NU Takalar terkait pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Adapun yang dilantik adalah Ketua Muslimat NU Takalar Dahlia S, Sekretaris Muslimat NU Takalar Suriati, Bendahara Muslimat NU Takalar Ramlah Amir. Kegiatan ini dirangkai dengan Deklarasi Laskar Anti-Narkoba yang diikuti seluruh kader Muslimat NU, kader IPNU Takalar, kader IPPNU, dan badan otonom NU lainnya.

Muslimat Sulsel: Bangun Daerah Harus Bebas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Sulsel: Bangun Daerah Harus Bebas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Sulsel: Bangun Daerah Harus Bebas Narkoba

Majdah menyerahkan secara simbolis Kartamus kepada Dahlia.

Ketua PCNU Takalar Hasid Hasan Palogai menyambut baik pelantikan Muslimat NU Takalar. Ia berharap pengurus Muslimat NU Takalar senantiasa memberikan sumbangsih kepada masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Selain itu, kegiatan yang dirangkaian dengan rapat kerja pengurus mampu merumuskan program kerja yang strategis berdasarkan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga NU." tambahnya.

Menurut Majdah, awal dari pegurus untuk memulai pekerjaan, pengabdian pada agama, nusa, dan bangsa adalah bersatu padu memberantas bahaya laten narkoba.

"Narkoba bukan lagi menjadi masalah nasional, tapi sudah menjadi masalah internasional. Karenanya Muslimat NU harus mengambil peran pemberantas narkoba, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas."

Menurutnya, narkoba merupakan salah satu sarana untuk menghancurkan sebuah bangsa dan negara, tidak lagi melalui senjata, tetapi menghancurkan generasinya. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 September 2017

Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo

Lampung Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Lampung Tengah melantik pimpinan komisariat sekecamatan Bangun Rejo di Gedung MWCNU setempat, Jumat-Ahad (26-28/2). Mereka mencoba menggerakkan organisasi pelajar NU di madrasah-madrasah dan pesantren.

Ketua panitia pelantikan dan Makesta Sulis Wahyuningsih mengatakan, kita sengaja mengadakan agenda kaderisasi IPNU dan IPPNU di Gedung MWCNU ini untuk menumbuhkan loyalitas. Kita ingin membangun kebanggaaan bahwa pelajar NU di wilayah kecamatan Bangun Rejo memakmurkan kegiatan ke-NU-an di gedung ini.

Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo

"Kita meminta sejumlah kader untuk mengisi materi terkait IPNU dan IPPNU," kata Sulis.

Ketua IPNU Lampung Tengah Edi Hermawaan mengaku sangat bangga. Ia memberikan apresiasi kepada PAC IPNU dan IPPNU Bangun Rejo atas istiqamah sekaligus kekompakan dalam mengadakan jenjang kaderisasi di tingkat pelajar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya berharap pengkaderan ini tidak hanya berhenti di Gedung MWCNU ini, tetap terus berjalan di tingkatan komisariat masing-masing. Saya berharap para kader terus mengibarkan panji-panji pelajar NU dan yang tak kalah penting merawat dan melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah," kata Edi. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi "Sulapa Eppa"

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gubernur Sulawesi Selatan H Syahrul Yasin Limpo menyampaikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM), di Auditorium KH Muhyiddin Zain, Makassar Sulawesi Selatan, Kamis (10/9). Kuliah tersebut dalam rangka penyambutan mahasiswa baru 2015.

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi Sulapa Eppa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi Sulapa Eppa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi "Sulapa Eppa"

Syahrul Yasin Limpo memberikan motivasi dan spirit kepada mahasiswa baru di salah satu kampus NU Sulsel tersebut, untuk tetap semangat dan tekun dalam menuntut ilmu.

Kemudian mengajak seluruh mahasiswa UIM untuk mengubah paradigma berpikir yang bermalas-malasan menjadi rajin. Siap menjadi intelektual yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perubahan mental menjadi lebih dewasa, lanjut dia, tak bisa ditawar-tawar lagi ditunjukkan dengan setiap tingkah laku bercirikan intelektual.

"Proklamasikanlah diri Anda bahwasanya Anda adalah mahasiswa hebat, bangga menjadi mahasiswa UIM sebagai perguruan tinggi terbaik,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jangan lupa sebagai mahasiswa baru dalam menjalani dunia akademik untuk senantiasa mengamalkan nilai-nilai filosofi hidup Bugis-Makassar yakni "Sulapa Eppa" yang berarti segi empat.

Adapun nilai-nilai itu lempu (jujur), macca (berpengetahuan), warani (memiliki keberanian moral), sugi/Malabo (pemurah)," ungkap SYL sapaan akrab Gubernur Sulsel ini. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, IMNU, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muslimat NU kabupaten Brebes melepas sebanyak 102 jamaah Calon Haji (Calhaj) binaannya. Keberangkatan jamaah ini mengikuti kelompok terbang 50 yang dilepas Bupati Brebes di Islamic Center Brebes, awal pekan lalu.

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)
KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj

“Alhamdulillah, KBIH Muslimat NU memberangkatkan 102 pada musim haji 1436 Hijriyah,” kata Ketua KBIH Muslimat NU Hj Nok Jumaro, usai rapat persiapan pelantikan pengurus baru Muslimat NU periode 2015-2020 di gedung Muslimat NU jalan Kiai Kholid Barat Pasarbatang Brebes, Kamis (10/9) sore.

Hj Nok menjelaskan, sebanyak 102 jamaah ini berasal dari Kantor Pusat KBIH di ketanggungan sebanyak 77 calhaj dan Kantor Perwakilan Jatibarang sebanyak 25 calhaj. “Pusat KBIH Muslimat NU Brebes berada di Ketanggungan,” ujar Nyai Nok.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka, lanjutnya, sudah diterbangkan melalui bandara Adi Sumarmo Solo pada 8 September lalu bersama jamaah calhaj lainnya dari Brebes dan Batang. “Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti bagi calhaj,” terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Nok, KBIH yang berdiri sejak 1998 ini selalu diminati warga Brebes terutama Nahdliyin. Tiap tahun mengalami perkembangan yang pesat, meskipun banyak sekali bermunculan KBIH. “Kami bersyukur KBIH Muslimat NU tetap bertahan membimbing para Calhaj yang hendak ziarah ke tanah suci, baik itu perjalanan Haji maupun Umrah,” tuturnya.

Dalam pengelolaannya, sambung Nok, pihak KBIH Muslimat Brebes ini menggunakan manajemen kekeluargaan. Sehingga pembimbing maupun calhaj saling melengkapi berbagai keperluan secara bergotong royong. “Dengan tenaga pembimbing yang sudah berpengalaman, para calhaj yang tergabung di KBIH Muslimat NU merasa nyaman,” ungkapnya.

Nok bertekad, pada kepengurusan Muslimat NU yang baru akan mengembangkan KBIH ini berada di berbagai tempat. Minimal ada di empat wilayah, sehingga bisa menjangkau warga Nahdliyin di 17 kecamtan sekabupaten Brebes. “Kami akan mengembangkan lagi di Brebes dan Bumiayu, sehingga ada empat perwakilan yang bisa menjangkau Nahdliyin di berbagai tempat,” tekadnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah