Kamis, 04 Januari 2018

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Anti Hoax, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dua ratus pendekar Ikatan Pencak Silat (IPS) Nahdlatul Ulama atau Pagar Nusa siap mengamankan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, 14-17 September mendatang. 

Pernyataan itu disampaikan Ketua PP Pagar Nusa Aizzuddin Abdurahman di kantor Pagar Nusa, gedung PBNU, Jakarta, Selasa (11/9).

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan (Sumber Gambar : Nu Online)
200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan (Sumber Gambar : Nu Online)

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan

“Kami akan menurunkan 200 pendekar. Mereka adalah pasukan inti yang akan mengamankan Munas dan Konbes,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Ketua Pagar Nusa yang biasa disapa Gus Aiz ini, pasukan inti berasal dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah Jawa Barat, ditambah Ansor dan Banser. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dan bisa dipastikan ada pasukan yang suka rela datang. Jadi, jumlahnya bisa lebih 200,” tambahnya. 

Sebenarnya, sambung Gus Aiz, 200 orang, tidak cukup untuk mengamankan acara sebesar Munas dan Konbes. “Tapi, saya mengharapkan, semoga berjalan lancar,” pungkasnya.  

 

Redaktur: Hamzah Sahal

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hamil Muda, Calon Jamah Haji Gagal Berangkat

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Calon Jamaah Haji asal Kota santri Jombang, Jawa Timur, Eni Latifah (49) gagal menunaikan ibadah haji tahun 2015 ini. Perempuan asal Dukuh Klopo, Peterongan, Jombang ini harus menunda keberangakatannya ke Tanah Suci Makkah lantaran diketahui positif hamil 4 minggu saat pemeriksaan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

Hamil Muda, Calon Jamah Haji Gagal Berangkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hamil Muda, Calon Jamah Haji Gagal Berangkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hamil Muda, Calon Jamah Haji Gagal Berangkat

"Yang bersangkutan diketahui hamil saat pemeriksaan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Sehingga dia tidak jadi terbang dan harus kembali pulang ke Jombang," tutur Nur Habib, Kepala Seksi Haji Kantor Kemenag Jombang, Jumat (28/8) kemarin.

Tidak hanya Eny yang batal terbang ke tanah Suci Makkah, namun suaminya juga terpaksa membatalkan keberangkatannya untuk menjadi tamu Allah. Eny dan suaminya masuk dalam Kelompok Terbang (Kloter) 15 Jombang yang berangkat pada Kamis (27/8) dari Jombang menuju Asrama Haji Sukolilo dan rencananya terbang ke Tanah Suci, Jumat (28/8) malam hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nur Habib menjelaskan, sebelum berangkat CJH Eni saat di Jombang? sudah menjalani pemeriksaan dan hasilnya negatif. Namun dalam pemeriksaan sebelum berangkat, Eni dinyatakan positif hamil. Sehingga dia gagal berangkat ke tanah suci dan harus kembali pulang," bebernya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Calon Jamaah haji asal Jombang tahun ini sebanyak 1.045 orang, mereka terbagi? menjadi tiga kloter, yakni 14, 15, dan 16. Dan berangkat dari pendapa Pemkab Jombang, Kamis (27/8). Dengan berkurangnya dua CJH, berarti sudah ada 5 CJH yang gagal berangkat. Karena sebelumnya juga ada tiga orang yang mundur karena sakit. "Awalnya jumlah total dari Jombang sebanyak 1.045 CJH. Namun karena ada 5 yang mundur, jumlah itu tinggal 1.040 CJH," pungkas Nurhabib.

Sementara itu, dari pantauan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, beberapa CJH Kloter 14 -15 yang berangkat? pukul 12.00 WIB dan pukul 14.00 WIB,? tampak beberapa calon jamaah haji yang sudah menggunakan kursi roda. Tidak kurang sebanyak 5 calon jamaah haji didorong di atas kursi roda. Meski harus didorong, raut wajah mereka yang rata rata sudah kakek dan nenek terlihat bergembira. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Foto: Calon jamaah haji menggunakan kursi roda

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 03 Januari 2018

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Kesepuluh anak yang tengah mengantre itu segera bergerak begitu panitia menyilakan pemegang kartu bernomor 1-10 memasuki ruangan. Di dalam ruangan yang rupanya telah disulap menyerupai swalayan, kesepuluh anak itu mengambil satu pak alat tulis, roti dan biskuit, beras, dan pakaian. Khusus untuk pakaian, mereka bisa memilih sesuai ukuran, jenis kelamin, dan warna kesukaan. Selesai mengambil benda-benda itu mereka diarahkan keluar melalui pintu khusus. Di pintu keluar, mereka menerima uang tunai. Binar bahagia terlihat dari wajah mereka.

Suasana itulah yang belangsung di SD Harapan Ibu, Jalan H Banan, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (30/3). Kesepuluh siswa itu ada bersama 550 siswa penerima santunan anak yatim dan dluafa.

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu

SD Harapan Ibu menjadikan pemberian santunan kepada anak yatim dan dluafa sebagai agenda tahunan. Acara santunan dapat atas kerjasama pihak sekolah dan donator lainnya.

“Sekolah kami menghimpun infak siswa seminggu sekali. Untuk kegiatan ini kami menganggarkan sekitar 20 juta dari infak tersebut,” kata Kepala SD Harapan Ibu, Baharudin.

Dalam kegiatan tersebut, NU Care LAZISNU juga turut berpartisipasi dengan memberikan sumbangan berupa beras sebanyak 500 kilogram. Direktur NU Care LAZISNU, Samsul Huda mengungkapkan keterlibatan NU Care merupakan bagian program NU Care menjelang Ramadlan dalam bentuk kepedulian kepada yatim piatu dan dluafa.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kebetulan SD Harapan Ibu melakukan kegiatan santunan ini, sehingga dapat bersinergi dengan NU Care. Ini juga sebagai sosialisasi NU Care kepada masyarakat Jakarta Selatan dan sekitarnya,” ujar Samsul.

Samsul menambahkan dalam waktu ke depan ia berharap ada sinergi yang berlekanjutan antara NU Care dan SD Harapan Ibu. Pengumpulan dan penyaluran donasi dikelola SD Harapan Ibu. Adapun NU Care berfungsi memayungi pengumpulan dan penyaluran donasi tersebut sebagai bagian LAZNAS.

Lurah Pondok Pinang Hendi Novriandi yang turut hadir, mengungkapkan pemberian santunan sebagai bentuk saling mengasihi kepada warga di lingkungan sekitar. Ia memandang hal itu sebagai hal positif.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya berharap siswa-siswa yang hadir di sini untuk menciptakan inovasi dan prestasi yang akan menjadi bekal di masa depan,” pesannya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Hadits, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 02 Januari 2018

Tujuh Substansi RUU Perlindungan Pekerja MIigran Indonesia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rapat Paripurna DPR RI, Rabu (25/10) yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan  menyetujui Rancangan Undang-undang (RUU) Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI) untuk disahkan menjadi Undang-undang.

Sahhh, Sidang Paripurna DPR Sahkan RUU PPMI Menjadi UU

Tujuh Substansi RUU Perlindungan Pekerja MIigran Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Substansi RUU Perlindungan Pekerja MIigran Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Substansi RUU Perlindungan Pekerja MIigran Indonesia

Menaker Hanif mengungkapkan RUU PPMI terdiri dari XIII BAB dan 91 Pasal. RUU ini menempatkan pekerja migran Indonesia sebagai subyek yang diselenggarakan secara terintegrasi dan bersinergi dengan para pemangku kepentingan.

“Upaya tersebut dimulai dari pemberian dan peningkatan kompetensi calon pekerja migran Indonesia sampai dengan pemberdayaan ekonomi dan sosial setelah bekerja bagi Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya,” imbuh Menaker.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menaker Hanif menjelaskan ada tujuh substansi penting dalam RUU yang disepakati antara pemerintah dan DPR. Ketujuh substansi tersebut adalah; Pertama, pembedaan secara tegas antara Pekerja Migran Indonesia dengan warga negara Indonesia yang melakukan kegiatan di luar negeri yang tidak termasuk sebagai Pekerja Migran Indonesia.

Kedua, jaminan sosial bagi Pekerja Migran Indonesia sebagai bentuk pelindungan sosial untuk menjamin Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Ketiga, pembagian tugas yang jelas antara pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan dalam penyelenggaraan perlindungan pekerja migran Indonesia mulai dari sebelum bekerja, selama bekerja, dan setelah bekerja.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keempat, lanjut Menaker adalah pembagian tugas dan tanggung jawab secara tegas antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam memberikan perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia dan keluarganya secara terintegrasi dan terkoordinasi.

Kelima, pelaksana penempatan pekerja migran Indonesia ke luar negeri tugas dan tanggung jawabnya dibatasi dengan tidak mengurangi tanggung jawab Pemerintah dalam memberikan Pelindungan kepada pekerja migran Indonesia.

Keenam, pelayanan penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara terkoordinasi dan terintegrasi melalui Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA).

"Melalui LTSA ini untuk efisiensi dan transparansi dalam pengurusan dokumen penempatan dan Pelindungan Calon Pekerja Migran Indonesia dan/atau Pekerja Migran Indonesia; mewujudkan efektivitas penyelenggaraan pelayanan penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia; dan mempercepat peningkatan kualitas pelayanan Pekerja Migran Indonesia," katanya.

Ketujuh, adalah pengaturan sanksi yang diberikan kepada orang perseorangan, Pekerja Migran Indonesia, korporasi, dan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai penyelenggara pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia lebih berat dan lebih tegas dibandingkan sanksi yang diatur dalam ketentuan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2004. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 01 Januari 2018

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi (PMII) cabang kota Semarang menggelar pelatihan penulisan artikel. Bertempat di aula masjid Al-Jauhari tampak ? puluhan kader dari Universitas Islam Walisongo, Universitas Diponegoro, dan Universitas Negeri Semarang dan Universitas Wahid Hasyim, Ahad (17/5).?

Acara dibuka langsung oleh KH Ahmad selaku sesepuh pergerakan Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan Semarang.?

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel

KH Ahmad yang pernah menjadi wakil gubernur Jawa Tengah menanggapi positif diselenggarakannya pelatihan ini.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pembelaan dari segi pers dan jurnalis harus kita tingkatkan," tambah sesepuh asli Magelang ini. Tulisan di media bisa mengarahkan kebenaran dan keburukan yang terjadi di masyarakat. Sudut pandang dan cara penulisan jurnalis menjadi salah satu cara untuk mengontruksi kebenaran tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia juga bercerita mengenai seorang muslimah berkewarganegaraan Jerman yang menyelamatkan seorang wanita yang diperkosa di sebuah kafe. Namun, muslimah tersebut terbunuh oleh geng pemerkosa. Kebanyakan media tidak menonjolkan bahwa wanita tersebut muslimah. Kiai Ahmad yang pernah menjadi ketua tanfidziyyah menambahkan banyak pemberitaan yang menyudutkan Islam.?

Selain itu, hadir M. Rikza Chamami M.Si dosen UIN Walisongo Semarang yang sering mengirimkan artikelnya ke media massa memberikan motivasi kepada kader yang hadir. Selain itu, Ida Nur Laila redaktur Harian Jawa Pos Radar Semarang memberikan materi teknik dan cara penulisan artikel dan trik menembus media massa.?

Pelatihan penulisan sehari ini memberikan suntikan semangat sendiri bagi kader-kader agar mulai memandang pentingnya dunia penulisan dalam dunia pergerakan.?

"Peningkatan kualitas penulisan dan pemahaman kader dalam dunia jurnalistik ke depan harus lebih baik," ungkap Abdur Rahman selaku ketua cabang. Media massa yang ada di Semarang bisa menjadi alternatif bagi kader-kader untuk menyalurkan ide dan gagasan dalam dunia tulis-menulis. Berbagai macam rubrik bisa menjadi tujuan dari kader PMII kota Semarang.?

Dengan lahirnya kader baru pergerakan dalam dunia tulis menulis harapannya PMII tidak hanya berkoar di jalan menyuarakan aspirasi rakyat namun, melalui pembentukan opini di media massa. Selain itu dunia tulis-menulis juga bisa menjadi lahan belajar bagi kader pergerakan dalam memahami dunia jurnalistik. (m zulfa/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Doa, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nahdlatun Nisa’ (Korp “PMII” Putri)

Oleh  Rif’atuz Zuhro 



Perbaikan kaderisasi di tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sedikit dan banyaknya telah dirasakan oleh kader-kader PMII se-Indonesia, entah penerimaan di setiap kader daerah merasa semakin maju atau malah sebaliknya, tentu mereka mempunyai takaran yang berbeda dalam sisi menentukan berkembang dan tidaknya. Sebagai organisasi kaderisasi, jelas PMII tidak luput dari upaya-upaya upgrading baik dalam segi materi, konten, silabus, atau bahkan akan dicetuskannya kurikulum dalam ber-PMII. Termasuk memberikan ruang terbuka untuk kader-kader Korp PMII putri (Kopri) untuk memperbaiki dan menyerukan perubahan dalam ranah publik.

Tiga tahun terakhir, PB PMII memperkenalkan istilah baru yang sebelumnya belum digunakan dalam kaderisasi formal PMII dalam membungkus istilah pergerakan kaum perempuan, yakni Nahdlatun Nisa’ atau kebangkitan perempuan. Bisa jadi dua kemungkinan, pertama untuk membuat hubungan PMII dan NU semakin terlihat harmonis (setelah keputusan Muktamar ke-33  NU di Jombang yang memutuskan PMII sebagai banom kemahasiswaan NU), istilah yang biasanya nampak liberal seperti gender dan feminisme lantas dibungkus dengan istilah Nahdlatun Nisa’. Kedua, memang ada niatan baik untuk memberikan ruang bahkan mendorong kader Kopri untuk bangkit dengan membawa perubahan dalam masyarakat di berbagai sektor, seperti sosial, politik, pendidikan, budaya, dan ekonomi.

Nahdlatun Nisa’ (Korp “PMII” Putri) (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdlatun Nisa’ (Korp “PMII” Putri) (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdlatun Nisa’ (Korp “PMII” Putri)

Dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) sendiri terdapat IPPNU, Fatayat NU, dan Muslimat NU sebagai wadah perjuangan perempuan Nahdliyin. Bahkan ada salah satu tokoh Muslimat NU favorit penulis yakni mantan ketua umum PP Muslimat NU yakni Asmah Sjachruni yang terkenal dengan sebutan singa podium. Ada kalimatnya yang terangkai rapi yang dapat menyulut api semangat perempuan Nahdliyin.  

“Jangan meminta jatah atau keistimewaan karena kodrat perempuan kita. Tapi kita harus menuntutnya jika memang layak untuk kita. Jadi, ada perjuangan. Kalau perlu kita rebut posisi itu dengan argumentasi yang tepat. Itu namanya berjuang. Jangan sekali-kali berharap diberi. Tak bakalan wanita akan diberi hak-hak yang lebih tinggi oleh kaum pria.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Asmah Sjacruni, ia adalah salah satu tokoh perubahan yang lahir dari rahim Muslimat NU, karakter cerdas, kuat, tegas akan nampak apabila pembaca mau mengenal lebih dalam lagi sosok perempuan baja tersebut. Selain itu, banyak tokoh-tokoh perempuan NU lintas generasi yang patut diteladani, seperti Ny Khoiriyah Hasyim, Ny Mahmudah Mawardi, dll. Terbaru, Menteri Sosial RI Hj Khofifah Indar Parawansah, ketua umum PP Muslimat NU periode 2017-2022 yang  juga merupakan alumnus PMII yang lahir dari rahim Kopri. Mungkin, (opini penulis) inilah yang menjadi harapan besar untuk membawa pergerakan kader puteri PMII untuk mengerucut sebagai basis kaderisasi dari Muslimat NU, karena sudah terbukti, kader PMII mampu melahirkan kader mumpuni yang mampu menyokong dan membawa organisasi banom NU dengan apik. Namun, jelas pilihan tetap ada pada jati diri dan kemauan kader untuk menyalurkan hasrat berjuang dalam ranah dan wadah yang mana.

Mau tidak mau, kader Kopri memang harus bangkit, bangkit dari debat kusir dan mematangkan strategi untuk mengaplikasikan tujuan besar Kopri yakni, terbentuknya pribadi muslimah Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. 

Kopri merupakan bagian dari instrument membumikan ideologi Aswaja, oleh karena itu, kader Kopri harus cerdas mengurai secara sistematis tentang Aswaja serta posisi dan pembacaannya terhadap konteks kebutuhan terkini untuk sebuah misi pembebasan dari ketidakadilan. Kekerasan, marginalisasi, stereotype, subordinasi, dan beban ganda masih sangat akrab dengan perempuan Indonesia.

Apabila pergerakan kader Kopri masih stagnan dan setia berjalan di tempat, jangankan berkontribusi untuk membawa perubahan, dikenal masyarakatpun tidak. Karenanya, perempuan harus kuat dan progresif dalam mengamalkan ilmunya, proaktif melepaskan belenggu yang mengikat kaki dan tangannya, tidak hanya dirinya namun juga saudara sesama manusianya yang disebut perempuan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidaklah mungkin, perjuangan tanpa ideologi yang jelas, dunia tanpa ideologi akan hancur dan berantakan, begitupun juga dengan Kopri, garis perjuangan politik atau jihad sistematis yang berlandaskan Aswaja harus tertata dan dijiwai dengan tepat. Pembacaan teks dan konteks keadaan harus dibaca dengan cermat dan tegas oleh perempuan. Nilai tawar, penyaluran kader, jelas mesti di perkuat di berbagai sektor. Tentu tidak hanya dalam ranah politik, namun penyaluran kader mesti harus sesuai dengan minat dan bakat kader itu sendiri.

Berdasarkan kurikulum PB Kopri PMII, terdapat tiga pilar yang harus diperjuangkan oleh kader putri. Pertama, Al-Khuriyah atau pembebasan (kemerdekaan), kader putri harus mempunyai dasar dan mental yang kuat untuk membebaskan dirinya sendiri terlebih dahulu, bebas dari kebodohan, kejumudan, dan taqlid terhadap teks-teks yang mengurung untuk berdzikir, berfikir, dan beramal shaleh lebih luas lagi. Setelah itu, kader putri harus memberikan dampak positif untuk menyumbangkan pikiran dan jiwanya lebih luas lagi, yaitu mengamalkan ilmu dan pengetahuannya untuk terbentuknya tatanan sosial yang adil makmur.

Kedua, Al-Adalah atau keadilan, adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan. Itulah representasi dari Aswaja yang tidak hanya dimaknai sebagai manhaj al fikr, namun juga alharakah maupun assiyasah. Ketiga, AlMusawwamah atau kesetaraan, yang dimaksud di sini adalah kesetaraan kesamaan hak untuk mendapatkan ruang dan akses publik untuk mengamalkan ilmu dan pengetahuan seluas-luasnya.

Aswaja Kopri hadir bukan hanya hadir berdimensi dengan nuansa spiritual, akan tetapi harus mampu tampil sebagai narasi yang bisa memberikan solusi untuk bangsa. Seperti, penyadaran budaya patriarki, kapitalisme pasar, imperialisme atau penjajahan gaya baru, dan fasisme religius atau pemasungan hak-hak perempuan dengan dalil agama, sehingga muncul tafsir misogenis.

Tidak kalah penting, untuk terwujudnya misi Nahdlatun Nisa’, kader Kopri juga harus melek dan cakap dalam dunia literasi sebab kita tidak dapat membendung perubahan monopoli zaman yang kerap disalahgunakan. Kader Kopri harus turut mengambil peran membendung isu-isu yang menggelembungkan ketidakharmonisan Islam dan Indonesia, karena asas dari Kopri adalah Pancasila, serta berkontribusi untuk menyampaikan pesan dan gagasan perubahan dengan matang melalui media massa maupun media sosial. Oleh karena itu cakap dalam orasi, literasi, dan aksi adalah rumus untuk mewujudkan Nahdlatun Nisa’ dapat lahir dari rahim Kopri.

Penulis adalah Sekretaris I PC PMII Jombang periode 2016-2017

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah