Senin, 27 Oktober 2014

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tiris Barat (Tiba), Selasa (8/12) memberikan sosialisasikan program Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Tiba ke Ranting NU Pesawahan dan Ranugedang Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo.

Sosialisasi program kerja LKNU MWCNU Tiba ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Tiba Imron Hamzah, Ketua LKNU MWCNU Tiba H Sutisro, Kepala Puskesmas Ranugedang Mujoko dan sejumlah pengurus MWCNU Tiba.

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU

Ketua Tanfidziyah MWCNU Tiba Imron Hamzah mengungkapkan sosialisasi ini bertujuan supaya Nahdliyin mengetahui beberarapa program kerja yang akan dilaksanakan oleh LKNU MWCNU Tiba pada tahun 2016 mendatang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Semua program ini dibuat supaya NU tidak hanya dikesankan berdakwah hanya dibidang agama saja. Setidaknya warga NU merasa diurusi oleh NU dibidang kesehatan sehingga memiliki kesehatan yang berkah,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Ketua LKNU MWCNU Tiba H Sutisro menyampaikan beberapa program kerja yang akan dilakukan pada tahun 2016 mendatang. Salah satunya adalah memperkuat pelayanan kesehatan terhadap warga NU dan mengadakan kerja sama lebih dalam dengan Puskesmas Ranugedang.

“Selain itu juga akan dilakukan sosialisasi antisipasi penyakit HIV/AIDS dan mengadakan kajian kesehatan 1 bulan 1 kali dalam 1 bulan bagi pengurus LKNU MWCNU dan Ranting NU,” katanya.

Program lain yang akan dilakukan diantaranya adalah turun ke bawah (turba) kesehatan tim LKNU beserta tim Puskesmas Ranugedang. Serta mengupayakan pemberdayaan Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) agar mendapatkan keringanan pembiayaan bagi pemilik Kartanu ketika berobat ke Puskesmas Ranugedang.

“Kami juga akan mengadakan pengobatan massal dan operasi bibir sumbing bekerja sama dengan Puskesmas Ranugedang. Kegiatan ini akan diberikan kepada masyarakat yang ada di wilayah kerja MWCNU Tiba,” pungkasnya.

Sedangkan Kepala Puskesmas Ranugedang Mujoko menyambut baik yang dilakukan oleh LKNU MWCNU Tiba ini. Pihaknya akan selalu memfasilitasi sepanjang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 25 Oktober 2014

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj siang ini, Senin (7/4) mengajak para pimpinan partai politik peserta Pemilu 2014 melaksanakan Istighotsah. Acara yang digelar di pesantren Luhur Al-Tsaqafah jalan M Kahfi I nomor 22 Cipedak-Ciganjur kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan ini akan dihadiri semua ketum parpol.

Ketika dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah via telepon, staf Ketua Umum PBNU Muhammad Nabil Harun mengatakan, para pimpinan parpol menyatakan siap datang memenuhi undangan. Yang sudah konfirmasi antara lain Ketua Umum Gerindra Suhardi, Ketua Umum PAN M Hatta Radjasa.

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah (Sumber Gambar : Nu Online)
H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah (Sumber Gambar : Nu Online)

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah

“Pak Jokowi juga dijadwalkan memberi sambutan selaku Gubernur DKI Jakarta. Yang membuka acara tentu Kang Said,” ujar Nabil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hingga berita ini ditulis, suasana di sepanjang jalan raya M Kahfi I hingga menuju pesantren Luhur Al-Tsaqafah asuhan KH Said Aqil Siroj terpantau ramai lancar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Beberapa pengguna jalan baik yang berkendaraan roda empat maupun roda dua tampak sesekali melirik spanduk bergambar Kang Said bersama para pemimpin parpol. Bahkan ada juga yang berhenti sembari membaca informasi Istighotsah yang sebentar lagi digelar. (Ali Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Anti Hoax, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 Oktober 2014

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo tiap hari Jum’at malam rutin menggelar kegiatan istighotsah. 

Kegiatan yang sudah berlangsung secara istiqomah selama 10 tahun ini diikuti oleh seluruh pengurus ranting NU, lembaga, lajnah dan badan otonom.

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Kraksaan Moch. Siddiq Hasan kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (10/2) mengatakan selain merupakan instruksi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), istighotsah ini juga bertujuan untuk mengamalkan ajaran tradisi NU Ahlussunnah wal Jamaah dan mendoakan masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dalam istighotsah ini kami berdoa bersama-sama dan memohon kepada Allah agar Kabupaten Probolinggo, khususnya Kraksaan menjadi daerah yang aman dan kondusif baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Selain itu diberikan kemudahan dalam segala hal sehingga dapat berkomunikasi dan koordinasi dengan baik kepada ranting dalam melaksanakan program kerja,” ungkapnya.

Menurut Hasan, biasanya setelah istighotsah dilanjutkan dengan diskusi dengan seluruh pengurus ranting untuk membahas program kerja yang akan dijalankan baik di MWC maupun ranting NU. Usulan-usulan tersebut kemudian ditampung untuk diambil sebuah keputusan membuat usulan prioritas yang selanjutnya akan dijadikan sebagai program kerja.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dalam kesempatan tersebut kami juga menyerap aspirasi warga nahdliyin dari masing-masing ranting. Kesulitan-kesulitan yang disampaikan warga nahdliyin selanjutnya kami bicarakan bersama untuk dicarikan solusi dan jalan keluarnya. Seperti pada saat adanya aliran sehat yang sangat meresahkan warga Nahdliyin karena ajaran yang disampaikan menyimpang dari akidah ahlussunnah wal jamaah,” jelasnya.

Dikatakan Hasan, melalui kegiatan istighotsah tersebut akhirnya tercipta sebuah ikatan silaturahim yang sangat kuat diantara sesama pengurus NU. Apalagi istighotsah ini merupakan salah satu tradisi ulama NU yang harus terus dilestarikan.

“Istighosah ini merupakan salah satu tradisi NU. Oleh karena itu saya berpesan kepada segenap masyarakat agar tidak meninggalkan tradisi-tradisi yang ada serta tetap berpedoman pada hal-hal yang telah dirumuskan oleh para ulama-ulama NU,” pintanya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Pendidikan, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 02 Oktober 2014

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB

Lombok Tengah,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menghadiri Sarasehan Alim Ulama se-Nusa Tenggara Barat di Pondok Pesantren NU Al-Mansuriyah Ta’limushibyan Bonder, Lombok Tengah, pada Jumat sore (24/2).

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB

Ia hadir bersama Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi dan Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi. Pada kesempatan tersebut, setelah berceramah tentang tugas-tugas dan peran ulama, Rais ‘Aam mendengarkan pendapat dan pertanyaan dari para ulama.

Di antara pertanyaan yang diajukan para ulama tersebut adalah bagaimana menghadapi orang menistakan Al-Qur’an, agama, dan ulama; bagaimana menyelesaikan masalah ekonomi umat; pedoman berorganisasi, toleransi mayoritas dan minoritas, kekhasan NU, dan Islam Nusantara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Bagaimana menghadapi penistaan, saya kira, kita sudah jelas. Kebetulan saya sebagai Ketua Majelis Ulama, misalnya kasus Ahok, sudah jelas ia menghina ulama. Kalau di dalam masalah unjuk rasa, NU memang tidak menyuruh, tidak melarang, tidak boleh menggunakan atribut NU. Alasannya apa? Pemerintah saja tidak melarang, masa kita melarang. Urusannya bukan agama, tapi konstitusi, moderat saja,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Soal istinbatul ahkam masail jadidah atau keputusan hukum masalah-masalah yang baru, menurut dia, kalau sudah diputuskan di muktamar atau munas, warga NU harus mengikutinya. Kalau belum diputuskan, boleh berbeda. ?

Ia juga menjawab tentang pertanyaan kenapa muncul istilah Islam Nusantara dari rahim Nahdlatul Ulama. “Sepakat tidak sepakat itu sudah menjadi keputusan muktamar. Islam Nusantara itu ya Ahlussunah wal-Jamaah itu. Huwa, huwa, Islam Nusantara itu kemasan saja. Isinya ya Ahlussunah wal-Jamaah. Tidak ada Islam yang lain. Ini bukan konsumsi umat kita, tapi global, dunia, dari gambar NU itu,” terangnya.

Terkait mendengar pendapat para alim ulama di daerah tersebut, menurut Rais ‘Aam, PBNU selepas Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur pada 2015, memprogramkan silaturahim dengan para Syuriyah NU dan kiai-kiai yang bukan pungurus.

“Sebab ada kesan kiai yang bukan pengurus itu tidak punya tanggung jawab kepada NU. Padahal pengurus itu hanya sopir, menjalankan, yang punya NU itu ulama. Oleh karena itu, para ulama punya tanggung jawab terhadap NU. Kalau pengurus terlalu kencang, diperingatkan. Kalau kendor, didorong.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Nusantara, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 27 September 2014

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gul-e-Khandana, 44, seorang guru sekolah di wilayah barat laut Pakistan, telah menjadi ikon pendidikan yang menentang Taliban berkuasa selama puncak pemberontakan di tahun 2007 hingga 2009.

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban

Hidup di lembah Swat, ia terus mengajar gadis-gadis lokal hingga peluncuran operasi militer yang memaksa penduduk setempat untuk mengevakuasi. Sebagai hasil dari operasi, yang berlangsung selama hampir dua bulan, tentara Pakistan mengusir militan keluar dari Swat dan orang-orang kembali ke rumah mereka. Setelah kembali ke rumah, dia tidak hanya menjalankan SD putri, tetapi juga mengawasi Organisasi Non-Pemerintah (NGO) yang bekerja untuk hak-hak perempuan miskin di daerah setempat, sebagaimana dilaporkan oleh al arabiya.

Selama periode kekerasan, Taliban menghancurkan lebih dari 400 sekolah di Lembah Swat, tanah air Malala Yousafzai, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian termuda. Sementara Malala telah memainkan peran besar dalam bekerja untuk pendidikan untuk anak perempuan di lembah Swat, sejarah juga harus ingat wanita seperti Khandana, yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi lembaga-lembaga pendidikan di wilayah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini adalah waktu yang sangat sulit dalam hidup kita," kata Khandana. Selalu ada ketakutan ledakan dan serangan bunuh diri, dengan hujan mortir turun dari lokasi yang tidak diketahui, dan jika anak-anak terluka, itu sulit untuk membawa mereka ke rumah sakit karena jalan diblokir, katanya. "Ketika Taliban melarang pendidikan untuk anak perempuan itu benar-benar mengejutkan bagi saya," kata Khandana. "Siapa yang pernah mencoba untuk menentang perintah mereka secara brutal dihukum. Mereka menentang pendidikan."

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini adalah periode yang mengerikan dan menyakitkan bagi wanita yang dibatasi. Dengan kehancuran sekolah-sekolah putri, mereka hampir kehilangan harapan mereka untuk mendapatkan pendidikan," kata Khandana.

"Bukan hanya para militan tetapi bahkan beberapa orang lokal juga tidak menunjukkan rasa hormat dan memberi label kita sebagai kafir," katanya.

"Di malam hari aku mendengar sebuah ledakan. Kemudian kami menemukan bahwa sekolah menengah seorang gadis di sekitarnya saya hancur," kata Khandana.

"Pagi hari saya pergi ke sekolah saya. Aku melihat puluhan militan, bersenjata dengan senapan Kalashnikov dan roket granat turun dari truk mereka. Mereka berbicara tentang membakar sekolah ... aku keluar dan menantang mereka bahwa tidak ada yang dapat membahayakan sekolah bahkan jika aku harus mengorbankan hidup saya untuk perlindungan."

"Aku berdebat dengan mereka selama berjam-jam dan akhirnya membuat mereka pergi. Tapi sebelum meninggalkan mereka memperingatkan bahwa mereka akan kembali dan tidak hanya akan menghancurkan sekolah tetapi juga akan menggorok leher saya. "

"Saya memiliki keyakinan bahwa setiap orang akan mati satu hari dan hanya Allah dapat mengambil kehidupan seseorang bukan manusia ... salah satu tidak boleh takut pada keyakinan ini," kata Khandana.

"Mereka membantai banyak orang. Jika kita mempelajari agama kita, tidak ada menyebutkan perintah membantai orang atau melancarkan terorisme," katanya. "Mereka benar-benar menyebarkan agenda mereka kekerasan dibungkus dalam sampul Syariah [hukum Islam]."

Pada awal tahun 2009, terjadi pertempuran sengit antara militan dan tentara Pakistan. Peluru menembus melalui tubuh warga sipil tak berdosa. Semua alat komunikasi diblokir. Militan mengambil alih desa Khandana, dan membawanya bersama dengan orang lain sebagai tahanan.

"Sebagai balas dendam atas apa yang telah saya lakukan pada mereka untuk menyelamatkan sekolah, mereka memerintahkan saya memasak makanan... mereka terlalu banyak dalam jumlah dan saya memasak kari dan membuat roti (roti tradisional) siang dan malam. Ini adalah saat paling kelam dalam hidupku. Tidak ada rasa hormat. Tidak ada kehormatan. Tidak ada harapan," kenangnya.

"Mereka adalah monster yang menganggap diri mereka sebagai raja dan bagi kita tidak ada pilihan lain selain mematuhi perintah mereka," katanya.

"Para militan duduk di luar rumah kita dan sibuk mempersiapkan diri untuk meluncurkan serangan terhadap tentara. Mereka terlalu banyak dan di mana-mana-rumah, ladang, kebun dan pegunungan," katanya.

"Ada ketakutan dan kepanikan di seluruh lembah seperti itu. Militan, dan bukan pemerintah Pakistan, yang memutuskan nasib masyarakat setempat," kata Khandana.

Segera pertempuran memasuki fase menentukan dan penduduk setempat diberitahu untuk mengosongkan rumah mereka. Alih-alih mengambil pakaian dari anak-anaknya, Khandana pergi ke sekolah dan dikantonginya semua catatan siswa.

"Catatan yang jauh lebih penting dari apapun. Itu masa depan anak-anak perempuan di daerah itu dan itu sebabnya aku terus dengan diri saya sendiri," kata Khandana.

Haroor ur Rasheed, suami Khandana, yang disebut istrinya "seorang wanita yang sangat berani. Lebih berani dari saya."

"Semua orang di keluarga kami berbeda dengan dia dan menegur dia untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi dia tidak mendengarkan siapa pun karena dia memiliki gairah untuk layanan kemanusiaan," katanya.

"Saya dengan dia, dan misi kami adalah untuk membantu orang-orang berani tanpa rasa takut. Kadang-kadang selama sesi pelatihan, beberapa gadis akan berkata: ‘Anda adalah orang tua kami’ Komentar dan sentimen tersebut selalu membuat pipi saya basah dengan air mata syukur dan kebahagiaan bergulir turun dari mata saya dan meresap ke dalam jenggot saya," kata Rasheed.

Berbicara tentang pemberontakan Taliban, Iffit Nasir, seorang pejabat pendidikan senior Swat mengatakan: "Militan pertama kali mulai menargetkan sekolah seorang gadis, tapi kemudian dalam rangka menciptakan kepanikan dan mengintensifkan dampak; mereka mulai meledakkan sekolah anak laki-laki juga. Para militan mengancam kami, memperingatkan kita untuk tidak datang ke sekolah karena mereka menggunakan bahan peledak untuk meledakkan bangunan."

"Hal yang baik yang saya catat adalah bahwa ada setidaknya kenaikan 29 persen dalam pendaftaran anak perempuan di sekolah Swat setelah mereka kembali ke lembah dari pengungsian di mana mereka dipaksa untuk hidup sementara operasi militer terjadi," tambah Nasir.

"Daerah kami menghadapi kemiskinan dan ketidaktahuan meningkat di wilayah tersebut. Saudara kita duduk diam di rumah. Itu sebabnya saya berpikir untuk mengorbankan hidup saya untuk saudara saya, untuk memperbaiki kehidupan mereka," kata Khandana.

Terlepas dari pekerjaan guru sekolah, Khandana juga menjalankan LSM Kesejahteraan & Pengembangan Perempuan. Sejauh ini dia telah memberdayakan dan memberi ketrampilan lebih dari 20.000 wanita yang sekarang menjalankan keluarga mereka.

Khandana ingat hari ketika seorang janda dan ibu dari empat datang kepadanya dan meminta bantuan.

"Saya membeli mesin jahit dan mengajarinya teknik menjahit dan keterampilan yang diberdayakannya. Dia sekarang memberikan anak-anaknya pendidikan dan hidup bahagia," kata Khandana.

"Selama pemberontakan, orang-orang yang bekerja untuk LSM dinyatakan sebagai kafir dan itulah mengapa saya ingin memberitahu orang-orang lokal bahwa tidak pekerjaan yang buruk dan itu adalah untuk kesejahteraan manusia."

Guli Khandana memuji Malala atas kerja keras dan pengorbanannya dalam pendidikan perempuan. "Dia adalah seorang gadis pemberani. Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional bahwa mereka mendukung Malala, karena dia banyak menderita di wilayah ini. Malala telah mengangkat suaranya dalam mendukung pendidikan gadis. Dia telah melakukan pekerjaan yang besar," katanya.

Mengingat masa lalu, Khandana mengatakan, "Ini adalah waktu yang mengerikan dari kehidupan kita. Itu adalah zaman kegelapan. Kami meminta Tuhan untuk tidak menghitung periode dalam hidup kita."

Namun sampai sekarang, ia masih menerima surat ancaman dan panggilan telepon, kata Khandana.

"Terima kasih Tuhan sekarang situasi damai di Swat, tapi masih ada ketakutan pemberontakan mungkin kembali ke wilayah itu," katanya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 16 September 2014

LPBI NU Serahkan Ratusan Sembako untuk Korban Banjir di Bekasi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Kamis (21/4) malam, membuat sejumlah warga di Desa Buni Bakti Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi harus berkutat membendung air yang masuk ke dalam rumah mereka. Berdasarkan pantauan Tim Tanggap Darurat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim NU di lapangan, hampir seluruh wilayah ini terendam dengan ketinggian air diperkirakan mencapai 30-100 cm.

“Warga di sini sudah terbiasa seperti ini kalau pas hujan. Hujan sedang saja banjir, apalagi hujan deras. Sudah pasti kelelep (tenggelam) ini kampung,” kata Ahmad (32), warga RW 8 Desa Buni Bakti, Jumat (22/4).

LPBI NU Serahkan Ratusan Sembako untuk Korban Banjir di Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Serahkan Ratusan Sembako untuk Korban Banjir di Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Serahkan Ratusan Sembako untuk Korban Banjir di Bekasi

Pihak LPBI NU pada Sabtu dan Ahad (23-24/4) menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir di Desa Buni Bakti. Bantuan yang diberikan berupa paket sembako untuk 203 KK. Berdasarkan pantauan Tim Tanggap Darurat PP LPBI NU, saat ini kebutuhan utama masyarakat terdampak banjir di antaranya adalah makanan.

Menurut Koordinator Tim Tanggap Darurat PP LPBI NU Yulistianto, berdasarkan informasi dari masyarakat, musibah banjir di daerah Babelan terjadi hampir setiap tahun. Banjir disebabkan oleh besarnya volume air yang ada di Kali Bekasi kiriman dari dearah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, pada saat yang sama air laut sedang pasang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua LPBI NU Muhamad Ali Yusuf mengajak semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat di sekitar lokasi banjir untuk melakukan kajian risiko bencana banjir agar didapatkan gambaran menyeluruh dan terukur tentang ancaman, dampak, risiko dan juga kapasitas yang dimiliki oleh para pihak di daerah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hasil kajian risiko bencana ini jika nantinya terdesiminasi dengan baik, maka para pihak terutama masyarakat dapat aktif melakukan kegiatan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Sementara pihak pemerintah dapat menentukan perencanaan dan kebijakan untuk penanggulangannya yang didukung oleh lembaga usaha untuk memaksimalkan upaya pengurangan risiko bencana.

Ali Yusuf berharap semua pihak di daerah sekitar dapat berkonsolidasi dan segera merumuskan rencana dan tindakan konkret untuk melakukan penanggulangan bencana banjir agar kejadian yang sangat merugikan dan terjadi setiap tahun ini tidak terulang lagi ke depannya.

Menyambut bantuan dari LPBI NU, pengurus MWCNU Babelan KH Misbah yang mewakili penerima bantuan mengatakan, bantuan yang diberikan oleh PP LPBI NU ini sangat diperlukan dan sangat membantu masyarakat yang terdampak banjir. Bantuan ini mudah-mudahan dapat mengurangi penderitaan masyarakat yang hampir setiap tahun terdampak banjir. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 09 September 2014

Rambut Rontok Saat Haid

Assalamu’alaikum wr wb. Pak ustadz, ketika istri saya sedang haid ia tidak berani membuang rambut yang rontok, atau menghilangkan potongan kukunya sendiri. Dia beralasan kalau sebelum disucikan, rambut-rambut maupun kuku-kuku itu akan menuntutnya di hari kiamat.

Yang saya mau tanyakan apakah hal itu memang benar? Kemudian apakah  kalau  mandi ketika suci, rambut-rambut atau potongan kuku tersebut wajib dibasuh? atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. (Nur Rohman Brebes)

Wa’alaikum salam  wa rahmatullah wa barakatuh.

Saudara Nur Rahman yang terhormat.

Rambut Rontok Saat Haid (Sumber Gambar : Nu Online)
Rambut Rontok Saat Haid (Sumber Gambar : Nu Online)

Rambut Rontok Saat Haid

Seorang wanita yang sedang menstruasi memang memiliki spesialisasi (kekhususan) yang tidak sama dengan kondisi normal (tidak haid). Diantara hukum yang khusus baginya adalah diberi keringanan untuk tidak melakukan aktifitas maupun ibadah  wajib maupun  sunnat  ketika sedang tidak haid seperti sholat, thawaf, membaca al-Qur’an dan lain sebagainya. Bahkan apabila ia masih tetap menajalankan ibadah-ibadah tersebut, maka hukumnya adalah  haram.

Pertanyaan yang saudara sampaikan juga sering kami jumpai di tengah-tengah masyarakat. Tanggapan diantara mereka pun beraneka ragam, ada yang berkomentar bahwa pendapat yang mengatakan bahwa rambut, kuku atau potongan tubuh ketika sedang haid  apabila belum disucikan akan menuntut di hari kiamat  adalah mitos belaka dan ada pula yang mengikuti pendapat tersebut dengan alasan kehatia-hatian dalam beribadah.

Dalam kitab al-Iqna’ karya Muhammad bin Ahmad al-Khatib asy-Syarbini (w.977 H), kami menemukan sebuah rujukan seperti berikut ini:    

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: Sebuah faidah; imam al-Ghazali berkata dalam kitab Ihya’ Ulumiddin: “Tidak sepantasnya bagi orang yang sedang junub (berhadas besar) untuk mencukur, memotong anggota tubuh, berhias, serta mengeluarkan darah dengan sengaja, karena anggota-anggota tubuh tersebut akan kembali nanti di akhirat dalam keadaan masih junub.

Saudara Nur Rahman yang dimuliakan Allah

Jika melihat referensi diatas, maka anggapan yang mengatakan bahwa anggota-anggota tubuh akan menuntut kita di akhirat apabila belum disucikan dapat dibenarkan. Hal ini sebenarnya berlaku bagi orang yang sedang junub secara umum, bukan hanya wanita yang sedang mengalami haid saja. Mungkin karena durasi yang cukup lama, sehingga kaum wanita terasa lebih berat untuk menjaga potongan-potongan anggota tubuh (kuku, rambut dsb) yang lepas dari tubuh mereka.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 Selanjutnya menanggapi pertanyaan saudara mengenai wajib tidaknya membasuh potongan-potongan anggota tubuh yang lepas tersebut,- dengan mengacu penjelasan di atas-, maka secara otomatis potongan-potongan anggota tubuh yang lepas ketika sedang junub wajib dibasuh atau disucikan saat mandi wajib. Apabila hal ini dilakukan, maka keragu-raguan yang muncul dengan masalah terkait akan kian menghilang.

Mudah-mudahan Allah menjadikan dan menganugerahi kita  semua termasuk orang-orang yakin, teliti serta hati-hati dalam peribadatan yang kita lakukan, dengan tidak dihinggapi rasa was-was.

Amin. Wallahu al-Muwaffiq ila aqwam at-Thariq.

Wassalamu’alakum wr. wb.

Maftukhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah