Rabu, 28 Februari 2018

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyak kalangan yang menilai, panggilan habib dan kiai seharusnya layak disandang Prof HM. Quraish Shihab. Secara silsilah dan keilmuan, tidak ada yang meragukan Penulis Tafsir Al-Misbah ini. Namun secara pribadi, Mufassir yang dikenal luas ini tidak mau dipanggil habib dan kiai. Kenapa?

Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab terbitan Lentera Hati yang ditulis oleh Mauluddin Anwar dan kawan-kawan, dijelaskan soal urusan habib dan kiai tersebut. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) ini hanya mau dipanggil habib oleh cucunya saja, karena lebih cocok berdasarkan artinya.?

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Di kalangan Arab-Indonesia, habib menjadi gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad SAW (Bani Hasyim). Khususnya dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Sayyidatina Fatimah Az-Zahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Panggilan habib juga penanda Arab-Indonesia yang memiliki Moyang yang berasal dari Negeri Yaman, khususnya Hadhramaut. Kakek Prof Quraish Shihab, Habib Ali bin Abdurrahman Shihab berasal dari Hadhramaut.

Dalam Bahasa Arab, habib berakar dari kata cinta. Jadi habib berarti “yang mencintai” atau bisa juga “yang dicintai”. Tetapi kemudian maknanya berkembang menjadi suatu istilah, habib adalah orang teladan, orang baik yang berpengetahuan, dan seseorang yang mempunyai hubungan dengan Rasulullah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alasan kedua itulah yang membuat Quraish menolak dipanggil habib. Padahal, sebagai orang yang menghabiskan usia bergelut dengan ilmu pengetahuan, Quraish layak mendapat gelar itu. Quraish adalah profesor doktor bidang Ilmu Tafsir, hafal al-Quran, pernah jadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mantan Menteri Agama. Tapi ia berkukuh tetap menolak. Semata-mata karena, “itu mengandung unsur pujian.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Baginya, gelar habib tidak perlu diberikan kepada sembarang orang. Sebangun dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil habib,” kata Quraish merendah.?

Apalagi, ada ajaran ayahnya, Habib Abdurrahman, agar tidak menonjolkan garis keturunan. Beliau enggan menggunakan gelar “Sayyid”, “Haji”, atau “Kiai”. Bahkan tidak juga gelar akademis.

Ada sajak yang acap didendangkan Habib Abdurrahman dan ditulis dalam buku tersebut:?

Kami, kendati memiliki garis keturunan terhormat

Tidak sekalipun mengandalkan garis keturunan?

Kami membangun sebagaimana leluhur kami membangun

Dan berbuat serupa dengan apa yang mereka perbuat.

Tidak hanya Prof Quraish, keluarga Shihab yang lain, seperti Umar Shihab dan Alwi Shihab pun sependapat. Alwi lebih keras, menyebut ada “inflasi habib”, karena pemakaian yang tidak pada tempatnya. Bahkan sudah sampai pada tahap berkonotasi buruk, seperti didengar Quraish dari sopir taksi, saat ia terjebak macet akibat adanya pengajian yang menutup badan jalan.

Maka mereka pun bersepakat, memakai gelar habib hanya sekadar sebutan untuk kakek. “Karena kakek itu sangat mencintai cucunya, terkadang lebih dari cinta kepada anaknya. Cucu juga kadang-kadang lebih mencintai kakeknya daripada bapaknya,” kata Quraish.?

Pesan lain dari penolakan itu untuk memberikan contoh keteladanan, siapa yang wajar diberi gelar kehormatan.

Tak hanya sapaan habib, Prof Quraish juga emoh dipanggil “kiai”. Lagi-lagi alasan serupa, gelar itu jabatan yang sangat tinggi. Baginya, kiai berkonotasi ulama besar yang tulus. Tapi, diksi ‘besar’ itu bisa mengandung pujian. Sesuatu yang selalu ia hindari. Belum lagi, sebutan kiai juga mengalami inflasi, karena dipakai banyak orang yang berpotensi menurunkan makna sebenarnya.?

Ia mencontohkan seseorang bergelar kiai atau ki, yang sedang dirundung masalah karena penipuan pengobatan alternatif.?

“Jadi udah deh nggak usah repot-repot pangil saya habib atau kiai. Panggil saya ustadz saja,” katanya tergelak. Ia tak menolak, karena ustadz berarti guru, dan ia sejak belia sudah menjadi pengajar, dengan raihan tertinggi menjabat Rektor IAIN. (Detik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Pahlawan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 Februari 2018

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Bulungan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sultan Kasimuddin Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mengadakan refleksi dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71,

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Acara yang bertempat di gedung Fatayat NU Kabupaten Bulungan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), BEM Universitas Kaltara (Unikal), BEM STT Al Ansor, ketua IPNU dan IPPNU,? Kabupaten Bulungan, ketua Fatayat NU, dan ketua Gerakan Pemuda Ansor setempat. Selain itu hadir pula Komisioner KPU Kaltara Colirulliza, Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara, M. Achadi dari Jurnas, serta perwakilan dari Kemenag Bulungan.

Ketua Pengurus Cabang PMII Tarakan Rico Adriansyah mengatakan bahwa forum yang mengusung tema “Mewujudkan Indonesia Merdeka 100%” ini cukup berat dan menjadi tugas para aktivis dan mahasiswa terutama di Kalimantan Utara untuk merealisasikannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pada pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia’. Oleh karena itu untuk mewujudkan Indonesia merdeka seratus persen perlu terus diadakan diskusi yang sifatnya membangun serta mempererat persatuan," lanjut Rico, Selasa (16/8) malam itu.

Sementara itu Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara mengatakan, Kaltara sebagai provinsi baru sekaligus yang berbatasan dengan Malaysia memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, nasionalisme warga Kaltara sedang diuji karena sebagian dari keluarga kita ada di sana.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kalau merdeka secara de facto dan de jure kita sudah merdeka. Namun tantangan kita saat ini adalah menjaga nasionalisme, serta meningkatkan kemerdekaan ekonomi dan kemenrdekaan sosial," lanjutnya.

Ia menegaskan, Kaltara sebagai provinsi baru yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia menjadi kunci penting dalam peranan menjaga ketahanan nasional.

Di akhir acara PMII Komisariat Kasimuddin Bulungan berharap peringatan kemerdekaan 17 Agustus di Provinsi Kaltara akan menjadi momentum bagi mahasiswa sebagai garda terdepan dalam memajukan Indonesia dari pinggiran sesuai dengan nawacita Joko Widodo pada butir ke-3. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 25 Februari 2018

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

Taipe, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kiai muda MN Harisudin mendorong pekerja migran Indonesia di Taiwan untuk gemar bersedekah, baik sedekah wajib maupun sunah. Dalam penyaluran, ia menekankan harus diberikan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan, mengingat ada banyak dana sedekah yang disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme atas nama Islam. 

Demikian disampaikannya dalam pengajian On Air Majelis Talim Darus Syafa’ah, Kamis (28/12) malam waktu setempat.

Utusan Pondok Pesantren Kota Alif Lam Mim Surabaya itu menguraikan sedekah terbagi menjadi dua. Pertama, sedekah wajib yang juga disebut dengan zakat, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Kedua, sedekah yang tidak wajib; yakni sedekah biasa dan sedekah jariyah (wakaf).

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

“Saya yakin, Bapak dan Ibu pekerja migran Indonesia di sini sudah banyak membayar zakat, juga bersedekah. Saya sudah sering mendengar kalau LAZISNU PCINU Taiwan sudah banyak membantu saudara-saudara kita di tanah air. Kemarin membantu korban banjir di Pacitan. Sebelumnya, sedekah dan zakat PCI NU Taiwan disebar mulai Sabang (Aceh) sampai dengan Merauke,” tukas kiai yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember. 

Namun, Kiai MN Harisudin menggarisbawahi bahwa sedekah dan zakat pekerja migran Indonesia agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak, nuwun sewu (mohon maaf), saya minta agar sedekahnya disalurkan di tempat yang jelas, transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Demikian ini agar sedekah tidak disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme. Ini penting. Agar sedekahnya tidak dipakai untuk ngebom di Indonesia,” ujar Wakil Ketua LTN PWNU Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dosen pascasarjana IAIN Jember tersebut ketepatan tempat atau sasaran sedekah dan zakat, pertama adalah sanak famili di Indonesia, dan kedua LAZISNU PCINU Taiwan.

“Insyaallah, dua tempat ini merupakan tempat yang jelas dan tepat sasaran. Dan insyaallah juga berkah,” ujar Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates, Jember tersebut.

Majelis Talim Darus Syafa’ah merupakan salah satu majelis talim yang ada di Taiwan, dan merupakan satu diantara kurang lebih 30 lebih majelis talim yang berada di bawah koordinasi PCINU Taiwan. Anggota majelis adalah para pekerja migran Indonesia  yang menyempatkan diri mengaji setiap hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka tidak bertemu fisik, tapi secara on air karena keterbatasan waktu dan tempat. Pengajian diisi dengan khataman Al-Qur’an, yasinan, tahlil, shalawat nariyah, dan mauidlah hasanah oleh para ustadz dan kiai dari Indonesia. (Sohibul Ulum/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 24 Februari 2018

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah meresmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan di Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (9/8) siang. Peresmian ini ditandai dengan pelepasan balon dan penandatanganan prasasti peresmian.

Peresmian ini dihadiri oleh ? Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo H Timbul Prihanjoko didampingi oleh Wakapolres Probolinggo Kompol Hendy Kurniawan, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Santoso serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Kegiatan peresmian ini diikuti oleh kurang lebih 2.000 undangan. Mereka terdiri dari segenap pengurus jajaran Syuriah dan Tanfidziah beserta seluruh pengurus lembaga dan badan otonom (banom) dari tingkat cabang hingga ranting juga santri dan masyarakat.?

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i mengutarakan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah membantu proses kelancaran pembangunan kantor dua lantai milik PCNU Kota Kraksaan ini. Dari yang awalnya hanya direncanakan di rehab saja sampai akhirnya diputuskan untuk dibangun kembali dari awal pondasi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kantor ini adalah wujud dari kekompakan dan kebersamaan yang baik antara ulama dan umaro. Insya Allah adanya kantor ini akan menambah semangat kami untuk meningkatkan kualitas kegiatan-kegiatan ke-NU-an kami untuk Kabupaten Probolinggo khususnya Kota Kraksaan,” katanya.

Sementara Ketua PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan pengurus Tanfidziah dalam tubuh organisasi PCNU Kota Kraksaan mempunyai fungsi vital sebagai pelaksana fungsi pokok manajemen meliputi fungsi perencanaan, ? pengorganisasian, ? pengarahan dan pengendalian untuk jajaran dibawahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Untuk menjalankan semua pokok fungsi manajemen tersebut dengan baik dan optimal maka PCNU Kota Kraksaan membutuhkan kantor yang representatif dan memadai seperti ini,” katanya.

Menurut Kiai Mutawakkil, dengan adanya kantor yang lebih nyaman dan luas ini sedapatnya mampu meningkatkan ghiroh Nahdliyah, khususnya di lingkup internal kepengurusan.?

“Hikmah lainnya adalah sebagai penyemangat dalam melanjutkan perjuangan para ulama NU dan memastikan ajaran aqidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an nahdliyyah terus membumi di bumi pertiwi khususnya Kota Kraksaan,” tegasnya.?

Sedangkan Wabul Probolinggo H Timbul Prihanjoko menegaskan atas solidnya NU dalam memerangi segala pengaruh-pengaruh negatif yang selalu berusaha memecah belah umat dan membuat keruwetan yang mana hal itu juga akan menghambat pembangunan.?

“Yang sudah kondusif ini mari kita pertahankan. Ke depan perbanyaklah kegiatan keagamaan seperti pengajian dan sholawatan,” jelas salah satu mantan pengurus lembaga milik NU ini,” ungkapnya.?

Menurut Wabup Probolinggo, menjawab tantangan zaman yang tiap saat selalu berubah. Sehingga dihimbau agar NU supaya lebih peka dengan kompleksnya segala perkembangan di era millenium ini.?

“Hal ini merupakan PR bagi kita semua bagaimana kita bisa lebih luwes dalam melakukan pendekatan kepada generasi muda melalui temen yang sedang diminati untuk kita arahkan ke hal-hal positif dan Islami,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Santri, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Proyek perluasan kilang Balikpapan (Refinery Unit V) yang dikelola PT. Pertamina, diperkirakan membutuhkan 20.000 tenaga terampil. Pemenuhan tenaga terampil tersebut sebagian akan diprioritaskan dari pekerja lokal, yakni dari daerah Kalimantan Timur.

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)
Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Terkait dengan rencana pemenuhan tenaga kerja, beberapa petinggi PT Pertamina melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, Senin (20/11) kemarin.

"Kami sowan (silaturahim) ke Pak Menteri untuk menawarkan kerjasama pelatihan untuk  tenaga kerja lokal. Kebutuhan tenaga kerja terlatih sampai 20.000 orang, tapi sebagian akan dilatih dari tenaga kerja lokal sekitar 5000-7000 orang," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina, Ardhy N. Mokobombang.

Turut serta dalam rombongan audiensi adalah Vice President Refining Project Pertamina Ignatius Tallulembang, serta beberapa pejabat lainnya.

Dijelaskannya, proyek perluasan kilang Balikpapan merupakan bagian dari program strategis meningkatkan kemandirian dan ketahanan energy nasional, baik peningkatan produksi BBM atau non BBM.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kualitas produksi yang semula Euro 2 menjadi Euro 5. Proyek berdurasi 43 bulan ini akan menyerap tenaga kerja sedikitnya  20.000 orang. Saat kilang dioperasikan akan menyerap sekitar 2.500 orang pekerja.  

Rencananya, ground breaking mega proyek dengan investasi US$ 5 miliar ini akan  dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Desember atau Januari nanti.

Terkait dengan rencana kerjasama menyiapkan pelatihan tenaga kerja terampil, saat ini pihak sedang menyusun silabi pelatihan yang akan diterapkan pada lima Balai Latihan Kerja (BLK) di Kalimantan Timur. Atau di BLK lainnya sesuai kebutuhan pelatihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan tersebut, Menaker M Hanif Dhakiri menyatakan sangat mendukung adanya penyerapan tenaga kerja lokal dalam proyek tersebut.

“Selain mendukung kemandirian energi dan dunia industri, proyek ini akan menyerap ribuan pekerja lokal.  Pemerintah dan Pertamina akan menyiapkan pelatihan bagi tenaga kerjanya,” kata Menaker.   

Menaker berjanji, untuk keperluan pemenuhan tenaga kerja lokal tersebut, pihaknya akan segera membuat tim khusus (pertamina dan Kemnaker) untuk menyusun silabus, instruktur, dan peralatan yang dibutuhkan dalam proyek tersebut.  (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Serba-serbi dari NU Karbitan

Oleh Saiful Hakam



Di kantor tua, sebuah kantor jawatan penyelidikan ilmu-ilmu budaya dan sosial, saya sering berbincang ringan dengan rekan sejawat tentang nasib sebagai santri, berwajah santri, dan bertabiat santri: tukang doa

Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Serba-serbi dari NU Karbitan

Dua kata di atas sering keluar dari mulut saya. Rekan saya itu tidak pernah menukas sama sekali.  Dilema. Saya bilang ke kawan saya bahwa saya ini bukan santri sejati. Mengapa?

Karena, saya tidak pernah mondok sama sekali. Tidak bisa baca kitab kuning sama sekali. Bahkan, lebih parah lagi, tidak bisa bahasa Arab klasik sama sekali. Jadi, saya tidak absah disebut santri apalagi disebut santri NU. Sangat tidak absah. 

Namun, kawan saya itu memberikan petunjuk yang bikin senang. “Meskipun, Sampean tidak pernah mondok, tidak bisa baca kitab kuning, dan tidak bisa bahasa Arab klasik tapi wajah Sampean mutlak wajah santri,” begitu katanya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya tidak tahu maksud dari frasa “wajah santri”. Tapi itu tidak bisa digugat. Kalimat ini bikin saya merenung. 

Dan, memang, saya lahir dan tumbuh di lingkungan NU. Bisa dibilang NU 26 karat. Hampir semua kerabat dari kakek, paman, bibi, sampai bapak pernah jadi pengurus NU. Kakek saya dari pihak bapak konon katanya pernah jadi pengurus syuriah NU di sebuah kota kecil berawalan huruf B di Jawa Timur, tempat jenazah Bung Karno dikebumikan. 

Bapak saya sendiri, kalau dirunut riwayat hidup karirnya betul-betul dimulai dari NU dan jati dirinya dibentuk oleh NU. Mula-mula jadi anggota IPNU. Dan konon, karena tidak ada dokumen foto dan dokumen kertas tertulis, pernah jadi ketua IPNU Kota B. 

Di waktu senggang bapak saya itu, dengan bangga bercerita pengalaman pertama naik mobil sedan. Yakni, dijemput panitia Kongres IPNU di Stasiun Pekalongan. Di sana di dalam konggres itulah ia berkenalan dengan KH Hasyim Muzadi. Sama-sama jadi kader IPNU pertama. Yang aneh, ia selalu ingat mobil sedan dan kursi empuk yang dikaguminya itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu, ia dengan penuh semangat menyebut nama-nama Mahbub Djunaidi dan Saiffuddin Zuhri.  Dan, ia punya obsesi yang penuh menyala-nyala pada jas dan dasi. Koleksinya banyak. Ketika saya tanyakan mengapa suka banget pada jas, jawabnya mencontoh KH Abdul Wahid Hasyim, bapaknya Gus Dur itu. 

Karirnya bertahap di organisasi NU. Dari IPNU, ia pindah ke Pengurus Ansor. Lalu dari Ansor, naik menjadi pengurus cabang NU dengan jabatan wakil sekretaris. Dan, ketika jadi pengurus cabang ini ia juga merangkap menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan. 

Entah berapa latihan kader yang ia ikuti. Ia sering menjadi utusan Kota B dalam memenuhi undangan pengurus wilayah NU Jawa Timur di Surabaya. Karena begitu seringnya, sampai-sampai ada kelakar dari rekannya untuk bapak saya, “Jangan-jangan rapat Muslimat akan Sampean wakili?”

Susah memang memikirkan jati diri NU saya. Kebanyakan yang muncul adalah cerita-cerita dan pengalaman bapak mengurus NU. Atau, kesibukan bibi, adik bungsu bapak, yang hampir seluruh hidupnya dicurahkan sebagai pengurus Muslimat NU bagian konsumsi. Bibi saya ini meskipun sakit akan lekas sehat ketika mendapat undangan kegiatan-kegiatan Muslimat NU. Dan, kami, anak-anak, hafal betul bahwa ia selalu mengurus urusan konsumsi dalam pengajian-pengajian Muslimat NU. Urusan masak memasak, mulai dari menanak nasi, lauk pauk, dan minuman. 

Kabar terakhir, ia merelakan kediamannya dijadikan sebagai pilot project PAUD muslimat NU kota B. Ini tentu saja membuat sibuk saudara sepupu saya karena harus menambah kamar dan merehab rumah. Tapi, mereka semua riang gembira. 

Di tengah-tengah kebimbangan itu, saya kemudian sadar bahwa NU bukan sekedar identitas. Dilema ini muncul karena saya hijrah ke ibu kota, jadi kaum muhajirin di ibu kota, dan berhadapan dengan berbagai macam aroma kehidupan. Terutama, aroma kehidupan Islam yang penuh aneka warna. 

Bapak saya menjalankan tradisi-tradisi NU dengan tekun. Terutama amalan wiridan dan sowan kiai. Semua anaknya ketika menghadapi ritus peralihan dari ulangan umum, dua istilah istilah zaman dulu: Ebtanas daUMPTN, dan menikah pasti diajak ikut berdoa dan diajak ikut sowan kiai memohon bantuan doa. 

Sembahyang lima waktu dijalankan secara berjamaah. Dan, tentu saja dengan wiridan yang panjang. Wiridan yang bagi kami sangat panjang, hampir setengah jam, adalah wiridan sesudah sembahyang subuh. 

Kami diajak bersama-sama membaca asmaul husna dan selawat nabi. Ketika kami akan pergi naik kereta api, naik kendaraan umum, dan naik sepeda motor, kami dinasihati untuk membaca selawat nabi dengan serius. Mengheningkan cipta untuk berselawat. 

Artinya, rasa dan nuansa saya menjadi santri terus terang tidak seketika. Ada tahapan dan ada proses. Di sekolah dasar, saya paling cemas, takut, dan grogi ketika disuruh hafalan surat-surat pendek pada pelajaran agama Islam. Takutnya bukan main. Dan, hafalan itu membutuhkan kerja keras. Saya masih ingat betapa beratnya menghafal surat Al-Balad. Kalau tidak hafal, dan kurang hafalan. Dihukum. Berdiri depan kelas. Menanggung malu dua beban. 

Anak pengurus NU kok tidak hafal surat pendek. Lalu, menjelang kelas enam SD, saya berjuang keras menghafal surat adl-Dluha dan asy-Syams. Itu pun penuh perjuangan karena baru bisa hafal penuh pada kelas dua SMA. 

Sementara itu surat Yasin, belajar menghafal sejak kelas enam SD dan baru hafal lulus program S-2 di universitas di Kabupaten Sleman. Yang masih belum hafal, adalah bacaan dan amalan tahlil, sampai hari ini masih berjuang, berjuang dalam proses membaca, dan menghafal. Memang betul-betul NU karbitan. 

Lalu, suatu ketika, saya ingin mengamalkan amalan surat al-Waqiah. Ini ikut-ikut teman yang lama mondok di Kediri. Dan, alhamdulilah lumayan bisa lancar membaca, itu pun berkat bantuan huruf latin. 

Bikin sedih memang. Cerita semacam ini sebenarnya tidak layak diceritakan apalagi dituliskan mengingat bagi santri, ritus peralihan dan ritus-ritus semacam ini bukan sesuatu dan hal yang keren apalagi mengesankan. Kaum santri sejati punya tradisi intelektual yang kuat terutama dalam bahasa Arab klasik, syair, kitab-kitab klasik, dan debat dalam majelis bahstul masail. Kalau santri sejati bercakap-cakap bahasa Arab, wah, seketika saya akan minder setengah mati. 

Meski demikian, semangat untuk berproses menjadi NU tidak berhenti. Rekan saya, seorang intelektual dari Tasikmalaya dan fasih ilmu sejarah dan ilmu filsafat, dan dari dulu berjibaku membeli buku dengan siap hidup bersahaja, memperkenalkan saya pada buku-buku tentang NU. Terutama terbitan LKIS. LKiS adalah sebuah lembaga intelektual dan penerbitan yang masyhur di Jogja. Perkenalan buku ini seperti sebuah kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan apalagi dipahat dalam prasasti batu. 

Nuansa NU saya, dibentuk mula-mula oleh kisah-kisah dari bapak, ibu, paman, yang kadang hilir mudik sibuk jadi panitia rapat-rapat NU,pidato-pidato kiai, dan juga dari buku-buku tua milik ibu. Ibu punya buku biografi KH Abdul Wahid Hasyim. Saya membacanya sewaktu duduk di bangku SMU. Dan, buku itu rusak dan hilang kerna saya tak pandai merawatnya. Buku yang tebal, tua, berdebu. Saya suka melihat foto Gus Dur muda sedang duduk di kursi sambil baca buku. 

Lalu, majalah Aulaterbitan PWNU Jawa Timur. Majalah Aula betul-betul sebuah hiburan yang bikin senang dan senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya. Parahnya, Bapak sering lupa bayar tagihan. Dari majalah aula, kesadaran tentang NU tumbuh. Ke-NU-an menjadi hadir dan bernyawa. 

Ah, tiba-tiba saya ingat catatan harian ibu. Adik bungsu hampir saja diberi nama muktamar, karena lahir pada tahun 1984 dan bersamaan dengan penyelenggaraan Muktamar NU 1984. Bapak tentu saja hadir, tapi lekas pulang ke Kota B kerena dimaki-maki rekan-rekannya disuruh pulang menemani istri dan menunggu lahir anak. 

Dan, di atas itu semua, penanda yang tidak bisa dilupakan adalah potret di rumah kakek, yang dipajang dengan sangat berwibawa, di balai rumah, Potret KH Muhammad Hasyim Asyari. Lama terpasang di balai rumah Kakek Buyut. Setiap tamu dan orang yang datang ke rumah kakek, pasti, akan disambut oleh potret Hadratussyekh. 

Penulis adalah Peneliti LIPI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Februari 2018

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Gowa, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Sekretaris Lembaga Takmir Masjid Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan H Misbahuddin mengingatkan bahwa sejarah kejayaan Islam ada di tangan pemuda. Karena pada saat itu, katanya, pemuda mengisi segala lini kehidupan termasuk mengisi masjid. 

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Demikian disampaikan Misbahuddin Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pesantren Bahrul Ulum Kabupaten Gowa, Jumat (8/12).

Menurutnya, kalau hari ini pemuda tidak bergerak, pemuda tidak berpikir tentang masjid dengan baik, maka boleh jadi masjid tidak berfungsi secara baik karena masjid menjadi kekuatan dan fondasi agama, masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 

"Pemuda harus dekat dengan masjid, mengawasi masjid, mengisi masjid dengan kegiatan di antaranya dengan pengajian yang muatannya untuk menjadi NKRI," terangnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan yang mengusung tema Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI ini terlaksana atas kerja sama LTM PBNU dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). 

Hadir pada hari terakhir roadshow Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pulau Sulawesi Selatan ini Sekretaris LTM PBNU H Ibnu Hazein, Wakil Sekretaris LTM PBNU Syarif Hidayat, Sekretaris LTM PBNU H Sarmidi Husna, Ketua PCNU Kabupaten Gowa Abdul Jabbar Hijaz, Wakil Ketua PWNU Sulawesi Selatan H Muammar Bakri. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah