Rabu, 19 Maret 2008

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Agama, Lukman Saifuddin, mengatakan, bagaimanapun perbedaan paham bekas anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dengan mayoritas, mereka tetaplah saudara dalam kemanusiaan sehingga tidak dibenarkan melakukan anarkisme kepada mereka.

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar

"Sebesar, sekeras, setajam apapun perbedaan di antara kita, termasuk perbedaaan paham keagamaan, agar jangan lalu tersulut melakukan tindakan kekerasan apalagi sampai membakar rumah tinggal sesama saudara kita. Anggota-anggota Gafatar ini juga saudara kita," kata dia, di kantornya, Jakarta, Jumat.

Sebelumnya, terjadi aksi massa yang mengusir bekas anggota Gafatar di Kalimantan Barat. Aksi ini terbilang anarkis karena pengusiran itu disertai intimidasi, pembakaran tempat tinggal dan pengerahan massa besar-besaran.

Agar aksi serupa tidak meluas ke sejumlah daerah, dia berharap masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia untuk dapat menahan diri tidak melakukan tindakan kekerasan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Meski beda paham keagamaan, sebaiknya cara menyikapi mereka adalah merangkul mereka, membina mereka, dialog dengan mereka sehingga menuju kesamaan cara pandang. Tidak justru melakukan perusakan. Agama apapun tidak mentolerir kekerasan seperti itu dan itu bukan cara kita menyelesaikan masalah," katanya.

Kementerian Agama, kata Saifuddin, hingga saat ini masih menunggu fatwa Majelis Ulama Indonesia soal fatwa Gafatar. MUI sendiri rencananya akan mengeluarkan fatwa Gafatar pada awal Februari.

"MUI masih mendalami, mencermati soal paham keagamannya. Kementerian Agama atau pemerintah akan mengikuti fatwa MUI terkait paham Gafatar," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Ubudiyah, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Februari 2008

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Oleh Nadirsyah Hosen

Allahu Akbar sekarang menjadi guyonan. Takbir sering diplesetkan jadi take beer. Ucapan Takbir sering dianggap sebagai ciri Islam garis keras, yang sedikit-sedikit teriak Takbir disela orasinya. Bahkan di masyarakat Barat istilah Takbir dikenal akibat para teroris meneriakkannya sebelum menjalankan aksi terornya.

Tiba-tiba kita hidup di jaman dimana ucapan Takbir menjadi begitu disalahmemgerti dan dikelirutafsirkan, baik oleh umat Islam maupun oleh non-Muslim. Dan harus diakui pihak Muslim berkontribusi besar atas kesalahpahaman ini. Takbir menjadi sesuatu yang menakutkan atau malah menjadi bahan plesetan. Mari kita kembalikan makna Takbir yang sesungguhnya.

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Takbir itu adalah membesarkan Allah. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Maha Besar dari apa? dari alam semesta ini, dari segalanya, termasuk dari berbagai problem yang kita hadapi, dari segala ucapan yang menghina, dari segala pembangkangan makhluk.

Saat kita memulai shalat dan mengucapkan Allahu Akbar, maka itulah garis pemutus anrara kita dan dunia. Kita miraj ke hadapan Allah lewat ucapan takbir. Kita tinggalkan semua urusan dunia, tak kita pikirkan urusan hutang piutang, beban berat kerjaan, bahkan jomblo pun tak lagi hirau nasib ngenesnya saat Allahu Akbar diucapkan memulai shalat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kita besarkan Allah, kita kecilkan diri kita. Siapa yang bertakbir maka dia tidak akan punya sifat kibir alias takabur. Dia paham sesungguhnya bahwa dirinya tidak berarti apa-apa di depan kemahabesaran Allah. Keangkuhan diri musnah seketika bersama Takbir.

Yang terjadi sekarang sebaliknya, ucapan Takbir dipakai untuk membesarkan diri kita, dan mengecilkan pihak lain. Takbir maknanya bergeser seolah menjadi "lihatlah betapa kami mayoritas, kami berkuasa penuh, dan kami bisa bertindak apapun atas kalian".

?

Takbir sekarang lebih ditujukan kepada mereka yang kita anggap sebagai musuh Allah ketimbang kita tujukan untuk muhasabah diri kita sendiri. Alih-alih membesarkan Allah, saat ini ucapan Takbir justru dipakai untuk menakbirkan diri kita sendiri. Naudzubillah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tiba-tiba ucapan Takbir menjadi menakutkan. Dipakai untuk melibas yang berbeda, digunakan untuk membenarkan tindakan apapun termasuk membully atau memfitnah pihak lain. Takbir seolah mewakili kemurkaan Allah, padahal Allah gak ada urusannya dengan kemarahan dan ketersinggungan kalian. Kata Gus Mus, "disangkanya kalau kalian marah, terus Allah yang al-Rahman dan al-Rahim itu juga pasti marah?"

Allah Maha Besar itu tidak menakutkan. Allah Maha Besar itu mengayomi semuanya di dalam kemahabesaranNya. Allah Maha Besar itu memberi hak hidup dan rejeki bahkan kepada mereka yang menentangNya. Allah Maha Besar itu tidak terhina sedikitpun jikalau semua penduduk dunia melecehkanNya. Tidak berkurang kadar keagunganNya sedikitpun kalau tak satupun mau menyembahNya.

Maka sesiapa yang mengucap Takbir, sejatinya dia akan merunduk dan merendahkan diriNya di depan kemahabesaran Allah. Yang mengucapkan Takbir dia akan merangkul semua makhluk ciptaan Allah. Yang ber-takbir akan mengakui bukan kita yang menentukan nasib sesama tapi hanya Allah!

Mari kita kembalikan makna Takbir ke makna yang hakiki, agar ucapan Takbir tidak dianggap simbol kekerasan umat dan menjadi guyonan belaka. Ucapan Takbir harus diletakkan secara proporsional agar kita dan semuanya sama-sama mengerti makna yang sebenarnya.***

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 19 Januari 2008

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pemerintah akan melaksanakan sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1434 Hijriyah pada 7 Agustus 2013 sesaat setelah diadakan rukyatul hilal di berbagai dareah. 

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Pada saat itu posisi hilal sudah memungkinkan untuk dirukyat (imakur rukyat), dan berdasarkan pengalaman  maka hilal dimungkinkan bisa disaksikan.

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam laman Kementerian Agama di Jakarta, Rabu, berharap hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan secara bersama oleh semua umat Muslim di Tanah Air.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sidang itsbat akan dilaksanakan 7 Agustus, semua ormas Islam kita undang," kata Wamenag kepada wartawan pada acara buka puasa bersama di kediamannya, Jalan Ampera I No. 10, Jakarta Selatan, Selasa sore.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir Duta Besar Arab Saudi Mustafa bin Ibrahim Al Mubarak, para pejabat eselon I, II, dan III Kementerian Agama, serta beberapa direktur BUMN.

Wamenag mengatakan, jika didasarkan pada perhitungan hisab, pada hari pelaksanaan rukyatul hilal atau hari Rabu senja tanggal 7 Agustus 2013, posisi hilal berada di atas dua derajat.

Sesuai pengalaman tahun-tahun yang lalu, apabila hilal di atas dua derajat, maka hilal atau bulan baru dimungkinkan akan bisa disaksikan atau imkanur rukyat.

"Kecuali jika pada hari itu seluruh lokasi pemantauan hilal di Tanah Air terhalang mendung," ujarnya.

Namun Wamenag berharap, hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat muslim Indonesia. “Kita berharap lebaran bareng, sehingga lebih menguatkan ukhuwah Islamiyah," ujarnya.

Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil menambahkan, pada sidang itsbat penentuan awal syawal nanti terlebih dahulu dilaksanakan sebuah seminar membahas tentang masalah hisab-rukyat.

"Jika sebelumnya kegiatan sidang dilaksanakan sore hari, itsbat nanti akan dimulai dari siang hari, sekitar pukul 13.30 dengan sebuah seminar membahas permasalahan hisab rukyat, termasuk juga mengenai penetapan yang dilakukan oleh kelompok An Nazir dan Naqshabandi," kata Djamil.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Oktober 2007

Batu, Kota Berhawa Sejuk itu "Memanas"

Malang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Kota Batu, Jawa Timur yang berhawa sejuk itu tiba-tiba "memanas", setelah pada Rabu (9/11) petang, beberapa kali ledakan bom dan senjata menggema dari kawasan Perumahan Flamboyan Indah Blok A/1, di kota berpenduduk 166.882 jiwa tersebut.

Ledakan yang diperkirakan mencapai 11 kali itu berawal ketika aparat dari jajaran Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Terorisme Mabes Polri, berusaha menyergap lokasi yang ditengarai sebagai tempat persembunyian tokoh asal Malaysia yang paling dicari terkait dengan terorisme di Tanah Air, Dr Azahari dan Noordin M Top.

Menurut saksi mata, penyergapan yang diwarnai baku tembak serta dua kali ledakan keras yang terdengar hingga radius beberapa kilometer dan beberapa kali --sembilan-- di antaranya ledakan-ledakan kecil, dilaporkan menelan empat korban jiwa di pihak tersangka teroris dan seorang anggota polisi luka-luka.

Korban meninggal yang hingga kini belum diketahui identitasnya dan masih berada di TKP, belum dievakuasi itu, diduga merupakan penghuni Villa Nova Perumahan Flamboyan yang menjadi target penyergapan aparat, sedangkan satu korban luka-luka diketahui dari aparat kepolisian bernama Brigadir Khairuddin, anggota Tim Anti Teror Densus 88 Mabes Polri.

Penyergapan kawanan teroris tersebut, sempat menyita perhatian masyarakat setempat. Masyarakat tampak memadati sekitar lokasi penyergapan. Meskipun demikian, lokasi penyergapan kini dijaga ketat aparat keamanan dan telah dipasang garis pembatas polisi (police line).

Bahkan warga sekitar TKP, beberapa di antaranya harus mengungsi ke rumah tetangga atau kerabat terdekat, karena was-was. Sementara aliran listrik sekitar kejadian malam itu padam. Hanya rumah Darsa yang dimanfaatkan Kapolri dan Pangdam V Brawijaya serta Walikota Batu untuk menjadi tempat pertemuan --koordinasi-- dilengkapi generator listrik menyala.

Ratusan wartawan yang ingin meliput aksi penyergapan juga tertahan pada jarak sekitar 200 meter dari, sedangkan masyarakat yang terlihat menyemut, tampak menumpuk pada jarak sekitar 500 meter dari lokasi penyergapan.

Kapolda Jatim, Mayjen Pol Edy Sunarno, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Samsul Mappareppa dan Kapolri Jenderal Sutanto, segera meluncur ke lokasi penyergapan yang berjarak sekitar 102 kilometer selatan Surabaya, atau 18 kilometer barat daya Kota Malang.

"Hiruk-pikuknya" Kota Batu yang dikenal sebagai kawasan produsen apel itu, memang cukup mengagetkan masyarakat setempat. Sebab, "Kota Apel" Batu, selama ini dikenal sebagai kota tujuan wisata andalan di Jawa Timur yang tenang dan berhawa sejuk.

Penyergapan yang sempat "memanaskan" situasi Kota Batu itu, mendapatkan tanggapan beragam dari masyarakat luas. Tetapi, dari tanggapan tersebut tampaknya banyak yang memberikan penilaian positif atas kerja aparat dalam memburu para teroris.

Peristirahatan

Kota Batu yang memiliki luas 202.800 km persegi, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Dau dan Kecamatan Wagir, sebelah barat dengan Kecamatan Pujon, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Karang Ploso dan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, sedangkan sebelah utara dengan Kabupaten Mojokerto dan Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Wilayah kota Batu --Dati II termuda/bungsu ke-38 di Jatim--, terdiri dari tiga kecamatan dan 23 desa/kelurahan. Ketiga kecamatan itu adalah Kecamatan Batu, Kecamatan Bumiaji dan Kecamatan Junrejo.

Menurut sejarah, sejak abad ke sepuluh, wilayah Batu dan sekitarnya dikenal sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan Singosari, karena wilayah tersebut merupakan daerah pegunungan berhawa sejuk, nyaman dan didukung panorama alam pegunungan menawan.

Pada masa pemerintahan Raja Mpu Sendok, seorang petinggi kerajaan bernama Mpu Supo, diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di pegunungan yang di dekatnya terdapat mata air. Lokasi tersebut kini dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti, yang letaknya berdekatan dengan kawasan Perumahan Flamboyan.

Kota Batu terletak di dataran tinggi di kaki Gunung Panderman dengan ketinggian berkisar 700 hingga 1.100 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, nama Batu yang hingga kini belum diketahui kapan digunakan. Tetapi, berdasarkan penuturan pemuka masyarakat setempat, sebutan Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu.

Diduga karena kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersDari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Batu, Kota Berhawa Sejuk itu Memanas (Sumber Gambar : Nu Online)
Batu, Kota Berhawa Sejuk itu Memanas (Sumber Gambar : Nu Online)

Batu, Kota Berhawa Sejuk itu "Memanas"

Jumat, 14 September 2007

Sepuluh Faedah Menziarahi Makam Rasulullah SAW

Islam mengajurkan umatnya berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah. Kalau menziarahi makam orang tua dan makam orang saleh dianjurkan, maka makam Rasul SAW lebih layak lagi untuk diziarahi. Kecuali mengingat kematian, ziarah kubur di makam ulama dan para wali terlebih lagi makam Nabi Muhammad SAW, berdaya guna untuk meraih berkah.

Rasulullah Saw sendiri menganjurkan umatnya untuk menziarahi makamnya di banyak hadits. Anjuran ini perlu untuk diamalkan mengingat beliau Saw tentunya lebih mengerti betapa tingginya kedudukan ziarah ke makam rasul.

Sepuluh Faedah Menziarahi Makam Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Faedah Menziarahi Makam Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Faedah Menziarahi Makam Rasulullah SAW

Syekh Sayid Bakri bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam I‘anatut Tholibin mengatakan,

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ?. ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang menziarahi makam Rasulullah SAW berhak menerima 10 kehormatan dari Allah SWT. Pertama, akan diberikan derajat tertinggi di sisi Allah. Kedua, akan disampaikan pada cita-cita tertinggi. Ketiga, akan dipenuhi kebutuhannya. Keempat, akan diberikan banyak anugerah-Nya. Kelima, akan diselamatkan dari bencana. Keenam, akan dilindungi dari aib. Ketujuh, akan dimudahkan dalam kesulitan. Kedelapan, akan diringankan bebanmya dalam musibah. Kesembilan, dapat merasakan apa yang akan terjadi. Kesepuluh, akan mendapat limpahan rahmat Allah SWT.

Orang yang mampu menempuh perjalanan ke Madinah, selayaknya tidak melewatkan kesempatan untuk menziarahi makam Rasulullah Saw. Sayang sekali kalau melewatkan kesempatan emas tersebut mengingat banyak sekali keutamaan yang Allah sediakan untuk mereka yang menziarahi makam Rasul Saw.

Di samping itu, ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw sudah menjadi hak beliau SAW terhadap umatnya bahkan segenap makhluq Allah. Dalam mengungkapkan betapa besarnya hak Rasulullah, seseorang yang berjalan melalui kepalanya menuju makam Rasul SAW dari tempat terjauh sekalipun, tetap tidak bisa membayar hak Rasulullah Saw. Allahumma sholli wa sallim wa barik ala Sayyidina Muhammadin shollallahu alaihi wa sallam. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Berita, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 26 Agustus 2007

PMII Majalengka Tekankan Keadaban Kader dalam PKD

Majalengka, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Majalengka mengadakan pelatihan kader dasar (PKD) tingkat Kabupaten Majalengka dengan tema membentuk kesadaran kader yang berkeadaban, beradab, dan menyejarah yang berlangsung dari Jumat-Senin, (16-19/9) bertempat di aula PCNU Majalengka.

PMII Majalengka Tekankan Keadaban Kader dalam PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Majalengka Tekankan Keadaban Kader dalam PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Majalengka Tekankan Keadaban Kader dalam PKD

Ketua panitia Wanding Ahmad Nurdin kegiatan ini untuk menggalang kembali para kader PMII pemula. dari tiap kader PMII diharuskan untuk mensinergikan program dari gerakan membaca ke analisis.

“Sebenarnya kegiatan mahasiswa yaitu membaca dan melihat (analisis, red) karena mahasiswa bagian struktur yang tertinggi dalam pengetahuan. Selain itu, kegiatan ini untuk melahirnya peradaban manusia maju dan menyejarah,” ujar guru Penjas itu.

Lanjut Wanding, selain itu, mahasiswa merupakan struktur tertinggi dalam bagian ilmu pengetahuan begitu juga PMII salah satu pergerakan maka inilah minatur lahirnya peradaban manusia maju dan menyejarah,” kata Alumi PMII ini

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Selain itu, gerakan mahasiswa dan segala merupakan struktur tertinggi dalam bagian ilmu pengetahuan begitu juga PMII salah satu pergerakan maka inilah minatur lahirnya peradaban manusia maju dan menyejarah,” kata laki-laki berkacamata ini. (Tata Irawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 06 Agustus 2007

Masjid Tiban, Masjid Tertua di Karanganyar

Karanganyar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jika kaki menginjakkan pelataran Masjid Tiban, niscaya sepasang mata akan menemukan sudut-sudut bangunan yang unik. Masjid yang memiliki nama resmi Masjid Darul Muttaqin ini terletak kurang lebih 9 KM di sebelah utara Kota Karanganyar, tepatnya di Dukuh Pulosari Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Masjid Tiban, Masjid Tertua di Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Tiban, Masjid Tertua di Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Tiban, Masjid Tertua di Karanganyar

Salah satu tokoh masyarakat, Joko Purnomo? menuturkan bahwa Masjid Tiban adalah peninggalan Waliyullah Eyang Abdullah Fattah atau biasa panggil Mbah Dullah. Nama “Masjid Tiban” adalah sebutan populer masyarakat sekitar.

Masjid ini, tambah Joko, mungkin tertua di Kabupaten Karanganyar, sebab nenek moyang dulu atau masyarakat Pulosari dan sekitarnya saja tidak mengetahui kapan berdirinya masjid tersebut. Yang jelas sejak adanya Dukuh Pulosari, masjid ini sudah berdiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kemungkinan (masjid) ini usianya sejajar dengan Masjid Agung Demak. Sebab Jika dilihat dari bentuk mahkota, mimbar serta tiang tengah yang ada di dalamnya,? menyerupai sekali dengan Masjid Agung Demak, tapi sebagian mahkotanya sudah rusak karena termakan usia,” ujar Joko, Selasa (30/6).

Pada bagian belakang masjid Tiban, terdapat beberapa makam tua, salah satunya adalah makam Eyang Abdullah Fattah. “Khususnya tiap malam Jumat Legi dan malam Jumat kliwon, masjid tersebut banyak sekali pengunjungnya (untuk ziarah, red),” tuturnya. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah