Kamis, 17 September 2009

Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan tinggi (Dikti), Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo melakukan kunjungan ilmiah ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, Ahad (20/8).

Kunjungan ke pesantren yang juga mengelola lembaga Dikti Universitas KH Wahab Chasbullah (Unwaha) ini diikuti oleh tiga pimpinan tiga perguruan tinggi yang berada di Pesantren Nurul Jadid, yakni Rektor IAI Nurul Jadid, Ketua STT Nurul Jadid dan Ketua STIKes Nurul Jadid Paiton.

Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren

Rombongan diterima oleh Dr. Fathullah Malik, selaku Wakil Rektor 1 Universitas KH. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang beserta segenap jajaran. Selanjutnya mereka melakukan dialog seputar perkembangan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang.?

“Kunjungan ini bertujuan untuk mengembangkan lembaga tinggi di Pesantren Nurul Jadid Paiton menjadi universitas yang berbasis pesantren,” kata Kepala Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Hamid Wahid.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Kiai Hamid, kedatangannya ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum tidak lain adalah untuk menimba ilmu terkait dengan merger perguruan tinggi yang ada di pesantren menjadi universitas di bawah naungan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dan Dikti) Republik Indonesia.?

“Kami tidak bisa menunggu lagi, karena perguruan tinggi pesaing juga sudah berkompetisi untuk meningkatkan mutu PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam). Mumpung ada peluang dari Kemenristek dan Dikti, maka kita mencoba ambil peluang menjadi universitas. Dengan model beberapa program studi di lembaga kami, Insya Allah kami bisa apabila disertasi kesungguhan, ikhtiar dan doa,” tegasnya.

Sementara Wakil Rektor 1 Unwaha Jombang Dr. Fathullah Malik menyampaikan bahwa antara Pesantren Nurul Jadid dan Pesantren Bahrul Ulum sekilas memiliki budaya yang sama. Yakni, lembaga pendidikan tinggi yang berada di pondok pesantren dan perguruan tinggi yang berasaskan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau berbasis Nahdliyin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Universitas yang kita miliki ini merupakan cita-cita dari KH. Wahab Chasbullah yang sangat visioner. Tentunya tidak mudah untuk mewujudkan universitas ini, diperlukan ? ketelatenan dan usaha keras untuk mewujudkan ini semua,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 16 September 2009

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a

Pada dasarnya mengangkat tangan ketika berdo’a dan dan mengusap wajah sesudahnya bukanlah sekedar tradisi yang tanpa dasa. Keduanya merupakan sunnah Rasulullah saw. sebagaimana termaktub dalam salah satu haditsnya yang diceritakan oleh Ibn Abbas:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? (? ? ?)

Apabila engkau memohon kepada Allah, maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu, dan jangan dengan bagian luarnya. Dan ketika kamu telah usai, maka usaplah mukamu dengan keduanya.

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a

Demikian pula keterangan para ulama dari beberapa kitab. Bahkan mereka menganjurkan ketika semakin penting permintaan agar semakin tinggi pula mengangkat tangan. Adapun ukuran mengangkat tangan adalah setinggi kedua belah bahu. Dalam I’anatut Thaibin Juz Dua diterangkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dan diwaktu berdoa disunnahkan mengangkat kedua tangannya yang suci setinggi kedua bahu, dan disunnahkan pula menyapu muka dengan keduanya setelah berdo’a.

Keterangan ini ditambahi oleh keterangan Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdy dalam Al-Hawasyil Madaniyyah  dengan sangat singkat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ?

Batas maksimal mengangkat tangan adalah setinggi kedua bahu, kecuali apabila keadaan sudah amat kritis, maka ketika itu bolehlah melewati tinggi kedua bahu.

 Akan tetapi, di masa sekarang ini banyak kelompok yang meragukan dan menyangsikan sunnah Rasulullah saw ini. mereka meanyakan kembali tentang keabsahannya. Sungguh hal ini bukanlah sesuatu yang baru karena dulu telah disinggung oleh pengarang kitab al-Futuhatur rabbaniyyah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sang pengarang telah berkata bahwa “telah ada hadits-hadits yang tak terbatas banyaknya mengenai mengangkat tangan ke langit ketika berdo’a, barang siapa menganggap itu tidak ada, maka ia telah keliru.

Red. Ulil H.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Sholawat, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 20 Juli 2009

Usai Rakernas, IPNU Bertekad Terdepan Kaderisasi di Tubuh NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Hotel Paragon Ahad (11/12) Pimpinan Pusat IPNU mensahkan sistem kaderisasi dalam memperkuat organisasi. Pengesahan tersebut setelah 24 Pimpinan Wilayah IPNU seluruh Indonesia turut menyepekati.

Usai Rakernas, IPNU Bertekad Terdepan Kaderisasi di Tubuh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Rakernas, IPNU Bertekad Terdepan Kaderisasi di Tubuh NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Rakernas, IPNU Bertekad Terdepan Kaderisasi di Tubuh NU

"?Pelaksanaan Rakernas sudah mencurahkan energi, berbagai langkah dan regulasi memperkuat organisasi," ujar Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid seusai Rakernas yang dilakukan sejak tanggal 8 sampai 11 Desamber 2016,.

Asep menuturkan, dalam Rakernas dilakukan pembahasan organisasi, kaderisasi, CBP, sampai dengan rekomendasi wilayah dan rekomendasi nasional. Dalam memutuskan peraturan organisasi ditambah dengan penguatan sistem keorganisian, serta penguatan tatanan ideologi organisasi IPNU ke depan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Seluruh kader IPNU? semakin memadukan gerak langkah sinergis dengan berbagai elemen, dengan menggerakan organisasi menjadi lebih baik," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia menambahkan, ?program IPNU ke depan dengan menjadikan kaderisasi garda terdepan NU, dengan dapat? menjawab atas krisis kader Nahdlatu Ulama. Disamping itu, hasil keputusan dapat dilaksanakan secepatnya di semua tingkatan organisasi.

"Dalam menatap usia satu abad NU, ada kegelisahan dengan minimnya kader kritis dalam tubuh Nahdlatul Ulama," katanya.

Lanjut dia, ?hilangnya peranan strategis di masyarakat harus diperkuat dengan ?berkomitmen keputusan bersama di Rakernas IPNU. Organisasi IPNU ke depan sudah dapat melihat perkembangan yang lebih baik untuk organisasi, agar memiliki kader IPNU yang memiliki militansi yang tinggi.

"Semua dapat melaksanakan hasil keputusan tersebut, terutama dalam memperkuat kaderisasi di semua tingkatan," lanjutnya.

Asmoez, Saapan akrabnya menambahkan, ?peran IPNU harus aktif dalam pengawalan isu strategis dan wacana kritis yang terjadi di sekeliling masyarakat, sehingga dapat direspons dengan secepatnya. Ditambah, dalam rakernas akan dilakukan gerakan sejuta kartu anggota, agar memiliki data base organisasi yang secara sistematis.

?"Ada sekitar 28 PW IPNU yang sudah sah, dan ada 6 PW IPNU yang sedang dipersiapkan," pungkasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Dr. Hilmy Muhammadiyah, M.Si mengatakan, Rakernas IPNU berlangsung dengan baik, dengan meningkatkan tata kelola organisasi yang profesional. Sesungguhnya pelaksanaan Rakernas semakin mengarahkan menjaga segmentasi NU, dengan generasi IPNU yang terdidik.

"Menyiapkan warga Nahdliyin yang terdidik, dan tata kelola organisasi yang baik," katanya.

Dia menambahkan, ?sebagai Banom NU sudah memiliki? tata kelola organisasi dengan baik, ?dengan memiliki manajemen yang profesional? dan organisasi modern. NU pada satu abad akan memiliki tantangan yang kompleks, sehingga ?IPNU yang masuk tetap eksis dengan kontribusi terhadap kemajuan bangsa.

"NU semakin harus tetap kontribusi terhadap kemajuan bangsa," ungkapnya.

Dia melanjutkan, ?pemikiran yang berkembang dengan penerapan akreditasi pada semua tingkatan organisasi IPNU, untuk melakukan penataan organisasi yang lebih baik. ?Dalam akreditasi organisasi harus memiliki ukuran yang jelas, agar kaderisasi dapat berlanjut untuk organisasi yang kuat.

"Dalam akreditasi harus memiliki ukuran yang jelas, sehingga dalam penguatan organisasi," pungkasnya. (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Mei 2009

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setiap daerah memiliki keunikan sendiri dalam menyambut lebaran, seperti di wilayah pantura kabupaten Subang terdapat tradisi tukar rantang atau biasa disebut dengan udun-udunan.

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

Menurut Reti salah satu warga desa Cilamayagirang tukar rantang adalah saling tukar makanan atau masakan yang disimpan di dalam rantang susun, “Tradisi tersebut sudah turun temurun dari nenek moyang daerah sini” jelasnya.

”Dalam tukar tantang ada perbedaan antara kerabat dan tetangga. Jika kerabat yang nasabnya lebih tua, tukar rantang berisi lengkap, seperti nasi, bakakak (ayam panggang), gula, kopi, udud (rokok) aneka macam buah-buahan,” ujar Siti Aisyah.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kalau untuk kerabat yang nasabnya lebih muda dan tetangga, tukar tantang isinya sederhana, yaitu nasi lengkap lauk pauknya, seperti telur atau ayam opor. 

“Kebiasaan orang yang diberi hantaran rantang akan membalas hantaran pada hari yang sama atau hari berikutnya. Tentu saja isinya sama, nasi lengkap dengan lauk-pauk,” jelas Aisyah pada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (6/8/2013).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Ustadz Sobri, Tradisi tukar rantang harus dilestarikan karena selain bersedekah makanan, tradisi tersebut untuk memperetat tali silaturrahim antar kerabat dan tentangga.

Uniknya, dalam tradisi tukar rantang ada juga angpau atau amplop yang berisi uang yang disisipkan. Uang tersebut diperuntukkan kepada si anak pengirim rantang. 

Untuk isi amplop beragam, mulai dari Rp5.000 sampai dengan  Rp50.000 atau pun Rp100.000, tergantung pada kemampuan si pemberi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Rosyidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 07 April 2009

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Krapyak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 40 santriwati Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum tingkat Madrasah Aliyah mengikuti Training and Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Lentera Foundation bersama Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) dan Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta (US Embassy).

Tema pelatihan ini ‘Journalism Training and Women Leadership Program for Female Students in Islamic Boarding School (pesantren)’. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari pada 14-15 September 2015 di gedung pengajian Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Dalam acara pembukaan, Indar, perwakilan dari Kedutaan Amerika menyampaikan sambutan dan rasa senang bisa mengadakaan pelatihan ini di pesantren. "Kami merasa senang, selain bisa mengunjungi pesantren, kami juga berharap potensi-potensi besar yang dimiliki santri khususnya santriwati bisa dikembangkan terutama bidang jurnalistik," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari pihak yayasan pondok pesantren yang diwakili oleh Ibu Ny Hj Maya Fitria sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. "Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak penyelenggara dan kami berharap para santriwati mendapat pemahaman dan pengalaman dalam pelatihan ini," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan ini sebelumnya juga dilaksanakan di PPMI Assalaam Solo. Kemudian usai dari pesantren Krapyak, kegiatan ini akan dilanjutkan ke Semesta Boarding School Semarang. (Muyas/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaSantri, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 23 Maret 2009

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga

Dari segi permainan, taktik pelatih, sejauh ini ada yang menarik tidak, ada yang mengejutkan penampilannya?



Justru kalau mengejutkan sih enggak, saya sering kaget melihat permainan tim-tim yang berasal dari daerah tertentu yang selama ini tidak anggap daerah bola, tapi di Liga Santri ternyata pemainnya bagus-bagus. 

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga (Sumber Gambar : Nu Online)
Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga (Sumber Gambar : Nu Online)

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga

Misalkan?

Misalkan DDI Kaballangan. Selama ini siapa yang kenal DDI Kaballangan, ternyata mainnya bagus. Kalau misalnya dari Bandung, dari Surabaya, wajarlah. Dari Sragen juga ada Persi Sragen, tapi tiba-tiba dari Kaballangan, ternyata bagus. Terus dari Muaro Jambi, orang kan enggak kenal, tapi timnya bagus. Paiton, orang tahunya Pembangkit Listrik Tenaga Uap, ternyata mainnya bagus. Nurul Jadid itu bagus. 

Saya kira seperti Kaballangan ini menyiapkan tim? 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tahun kemarin mereka sudah ikut, juara Seri Regional, tahun ini masuk lagi. Jadi, kelihatan tim yang selama ini konsisten mempersiapkan diri di eskul atau ada program sekolah bolanya, biasanya hasilnya kelihatan. Dari segi permainan pun mereka sedikit lebih baik. Ashidiqiyah itu di Jakarta kan punya lapangan sendiri, punya SSB sendiri. Kaballangan juga sama. Walisongo juga sama. 

Ada yang menarik nih, Nuris juara pertama 2015, Nur Iman juara pertama 2016. Mereka selalu tersingkir. Kenapa? 

Saya bilang tadi, standar kualitas tim ini masih naik turun. Nah, sekarang dengan adanya liga santri berkelanjutan, mulai ada tim-tim yang membentuk SSB, lapangan sendiri, nanti ada tim-tim yang ajeg dan tim naik turun. Yang ajeg itu akan ada. Seperti Walisongo, model Ashidiqiyah, itu akan ajeg prestasinya. Kalau ini terus dikondosikan dan dipertahankan di Liga Santri ini; kalau sekarang ini kan baru tiga tahun, orang masih menakar, ini bisa panjang atau enggak. 

Jadi, kadang-kadang tim ini tahun ini juara, tahun depan enggak, karena memang kita belum punya lapisan-lapisan pemain. Generasi tahun ini bagus, generasi di bawahnya belum tentu ada. Makanya tahun ini bisa juara, tahun depan ambruk. Nur Iman, juara tahun lalu, tahun ini ambruk karena pemainnya udah beda. Liga Santri masih sesuatu yang sekarang belum menjadi semacam program rutin. Mungkin sesudah tiga dan empat tahun ini, pesantren mempersiapkan itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk tahun ini ada yang sudah kelihatan menonjol seperti tahun kemarin yang membuktikan kualitas Rafli?

Belumlah kelihatan. Kita tidak bisa semuanya datangi pertandingan di region. Sulit. Ya yang saya bisa katakan dari region yang saya kunjungi  level permainnanya sekarang tidak terlalu jauh. Saya nonton di Trenggalek, di Cirebon, di Maluku, di Lampung, levelnya dekat-dekat. Makanya pertandingan hari ini tipis-tipis, 1-1, 2-2, ada yang menang 4-1 memang, ada yang menang 7-0, itu kan kasus khusus, tapi selebihnya berimbang. 

LSN ini proyeksinya bagaimana, misalnya 10 tahun ke depan? 

Kalau dari obrolan kami, saya kan kebetulan kan bukan pengurus RMINU,  kebetulan tenaga profesional untuk mengelola kompetisinya. Dari wacana yang kami diskusikan, harus ada badan hukum yang secara formal liga ini, sekaligus badan itu menjadi anggota PSSI supaya pemain-pemain, alumnus liga ini bisa menjadi bagian badan hukum anggota PSSI ini berkompetisi di liga yang level lebih tinggi, misalnya alumnus liga ini bisa mengikuti liga tiga, liga dua, kalau lebih bagus lagi, ke liga satu, atau di liga tiga tetap di situ, tapi pemainnya bisa kemana saja. 

Kalau saya sih menganggap liga santri ini pabrik penghasil pemain, tapi tetap kita harus punya iconnya di kompetisi, misalnya Santri FC ikut di liga tiga. Santri mana sajalah, mau di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, ikut liga tiga, pemain-pemain alumnus liga santri ikut kompetisi itu. Hasilnya, bahwa mereka diambil di liga dua atau satu. Jadi memanfaatkan hasil kompetisi ini, pemainnya yang berkembang di kompetisi lain dengan pemain yang lain. 

Kalau kita mau evaluasi, dengan kondisi sekarang, kira-kira berapa tahun Liga Santri ini bisa mapan?

Tiga atau empat tahun lagi. Semakin kita konssiten menyelenggarakan liga ini, konsistensi jadwalnya, regulasinya, standar pelaksanaanya, tata kelolanya, akan semakin serius pesantren menyiapkannya tahun depan. Jadi, awal-awalnya kan mereka, oh begini, tahun kedua lebih banyak. Tahun ketiga semakin banyak. Tahun depan, kalau ini lancar sampai final, sukses dari segi tata kelola dan penyelenggaraan, dan publikasi, tahun depan akan lebih hits. Ini kan masih dikemas publikasinya publikasinya, masih perlu dikemas imaginenya, pencitraannya tentang kompetisi ini, masih perlu dikemas cara membuat event ini lebih meriah, lebih menarik, bukan sekadar selesai, tapi juga membekas, berkesan untuk masyarakat Bandung. Oh, kemarin ada Liga Santri ini. 

Ada pemantau talent scouting, tahun ini ada Robby Darwis, ada Ade Abdullah bekas Persi, Bandung Raya, PSIM juga. Hari ini ke sini, Siliwangi. Ada Udin Rafiudin, bekas Bandung Raya, hari pertama Udin di Arcamanik. 

Tanggung jawab apa? 

Mereka mendata pemain-pemain berbakat, dari pelatihnya Persis Solo, masih melatih Persis Solo kita undang ke sini untuk melihat dan mendata pemain-pemain yang potensial. Pemain itu kelebihannya apa, kekurangannya apa. Nanti pemain-pemain itu yang akan kita bawa ke Tim Nasional. Ini kan kelompoknya dekat dengan timnya Indra Sjafri ya. Rafli kan prosesnya begitu. Muncul 18 pemain tahun lalu. Dipakai enggaknya urusan tim nasional. Tapi kalau tim nasional perlu data pemain, kita punya databasenya. Ada 22 ribu data pemain ini yang kta bisa jaring dari kompetisi ini. Nanti yang terbaiknya, seratus besarnya, yang kita jaring ini, kita bawa ke PSSI. Nih pemainnya. Tahun ini ada 22 ribu pemain dari 1046 tim. Pemainnya kan rata-rata 20 orang. Jadi 22 ribu lebih. 

Jadwal yang ketat bagaimana?

Karena memang kompetisi ini budgetnya, finansialnya masih kurang. Idealnya main, tiga hari lagi main. 

Biaya klub bagimana? 

Diserahkan kepada mereka, kita subsidi aja.   

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 12 Februari 2009

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji

Nganjuk, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kamis (20/9) pagi terjadi suasana berbeda di Lapas Kabupaten Nganjuk yang terletak di utara Masjid Agung Kabupaten Nganjuk. Pagi itu ratusan napi tampak rapi berbaju putih serta rombongan hafidz berdatangan di Lapas karena digelar gerakan Nusantara Mengaji.

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara yang digelar serentak secara nasional yang dilaksanakan di lapas-lapas se-Indonesia dalam rangka hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53. Kegiatan di lapas ini dimulai sejak jam 07.00 WIB dengan petanda dibuka oleh insiator gerakan Nusantara Mengaji HA. Muhaimin Iskandar dan Menteri Hukum dan HAM Yosanna H Laoly di Rutan kelas 1 Cipinang Jakarta Timur. Gerakan ngaji bersama di hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53 ini telah mendapat rekor Muri.

Di Lapas Nganjuk, kegiatan ini diawali dengan shalat dluha berjama’ah yang dipimpin Korda Nusantara Mengaji Nganjuk KH Moh. Syamsudin Al Aly Pengasuh Ponpes Al ? Fattah Pule. Selanjutnya prakata pembuka oleh Moh. Mansur kepala Lapas Nganjuk yang didampingi H Ulum Basthomi, wakil ketua DPRD Nganjuk dan selanjutnya langsung dimulai oleh mengaji oleh para hufadz dan napi secara serentak. Acara diakhiri jam 13.00WIB ditutup dengan doa oleh Korda Nganjuk dan shalat dhuhur berjam’ah .

Moh. Mansur kepala Lapas Nganjuk sangat berterima kasih kepada insiator Nusantara Mengaji serta Korda Nganjuk. Dengan kegiatan semacam ini diharapkan bisa memberikan ketenangan jiwa serta memotivasi para napi untuk menjadikan hidup mereka hidup yang bermakna.?

Senada dengan Pak Mansur, Rumidi salah satu napi menyatakan senang sekali dengan kegiatan ini, terasa menjadi penyejuk bagi kehidupan kami dan spirit untuk memperbaiki kehidupan kami. Red: Mukafi Niam

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Daerah, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah