Senin, 03 Mei 2010

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Buleleng, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Dalam rangka mengantisipasi jatuhnya korban demam berdarah di Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, GP Ansor Gerokgak mencoba menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng pada Jumat (29/1). Mereka melayangkan surat ke Dinas Kesehatan Buleleng.

Dalam surat itu, mereka setidaknya mengajukan dua hal dalam rangka pencegahan demam berdarah. Mereka mengharapkan dinas kesehatan melalui petugas medis melakukan sosialisasi bahaya demam berdarah, mulai dari sebab, gejala, dan cara pencegahannya.

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Kedua, karena banyaknya genangan air dan tumpukan sampah plastik akibat intensitas hujan yang begitu tinggi, GP Ansor meminta dinas terkait mengadakan pengasapan pada wilayah-wilayah yang rawan penyakit demam berdarah.

Ketua GP Ansor gerokgak Abdul Karim Abraham mengatakan, selama tahun 2015, di kecamatan Gerokgak ada seratus lebih kasus demam berdarah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Banyaknya kasus pada tahun sebelumnya setidaknya menjadi peringatan bagi petugas kesehatan untuk dapat meminimalisasi kasus DBD dengan cara antisipasi sejak dini,” ujar Karim. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 20 Maret 2010

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Revolusi kemerdekaan Indonesia ditopang oleh perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri. Sayangnya, kisah perjuangan para kiai dan santri, tenggelam dalam narasi sejarah Indonesia. Salah satunya, Kiai Subchi Parakan, yang dikenal dengan "Kiai Bambu Runcing". Bagaimana kisah hidup dan perjuangan Kiai Subchi?

Kiai Subchi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Subchi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Subchi kecil bernama Muhammad Benjing, nama yang disandang ketika lahir. Setelah menikah, nama ini diganti menjadi Somowardojo, ? kemudian nama ini diganti ketika naik haji, menjadi Subchi.

Kakek Kiai Subchi, Kiai Abdul Wahab merupakan keturunan seorang Tumenggung Bupati ? Suroloyo Mlangi, Yogyakarta. Kiai Abdul Wahab inilah yang menjadi pengikut Pangeran Dipanegara, dalam periode Perang Jawa (1825-1830). Ketika laskar Dipanegara kalah, banyak pengikutnya yang menyembunyikan diri di kawasan pedesaan untuk mengajar santri. Jaringan laskar kiai kemudian bergerak dalam dakwah dan kaderisasi santri.

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Kiai Wahab kemudian mengundurkan diri untuk menghindar dari kejaran Belanda. Ia menyusuri Kali Progo menuju kawasan Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga singgah di kawasan Parakan. Kawasan Parakan merupakan titik penting arus transportasi kawasan Kedu, yakni sebagai persimpangan Banyumas, Kedu, Pekalongan dan Semarang. Keluarga Kiai Abdul Wahab kemudian menetap di Parakan, sebagai tempat bermukim untuk menggembleng santri dan menyiapkan perlawanan terhadap penjajah.

Pasukan Belanda henti-hentinya mengejar pengikut Dipanegara di berbagai pelosok Jawa, terutama Yogyakarata, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika Ibunda Kiai Subchi mengandung, Belanda masih sering mengejar keturunan Kiai Wahab, serta santri-santri yang diduga menjadi pengikut Dipanegara. Pada tahun 1885, Subchi kecil berada di gendongan ibundanya untuk mengungsi dari kejaran pasukan Belanda.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Subchi kecil dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayahanda Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari ngaji di pesantren inilah, Kiai Subchi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.

Parakan: Simpul Perjuangan Laskar Santri

Parakan merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Temanggung. Kota ini, memiliki arti penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada awal abad 20, Temanggung menjadi basis pergerakan Sarekat Islam (SI). Kaum santri yang tinggal di Parakan, menjadi tulang punggung kaderisasi SI. Bahkan, di Parakan juga pernah diselenggarakan Kongres Sarekat Islam, yang dihadiri oleh HOS Tjokroaminoto. Pada 1913, anggota Sarekat Islam di Parakan, berjumlah 3.769 orang. Cabang SI Temanggung dibuka pada 1915, dengan jumlah anggota 4.507 (Thamrin, 2008).

Di Parakan, Temanggung, masa sebelum kemerdekaan sangat memprihatinkan bagi rakyat. Hal ini, karena kondisi ekonomi sangat sulit dan politik pemerintah Hindia Belanda yang memeras rakyat dengan tanam paksa, maupun sistem kerja paksa. Ketika Jepang menduduki Jawa, warga Temanggung juga menanggung beban yang sulit. Kewajiban Romusha menjadi beban yang sangat berat bagi rakyat Parakan di Temanggung. Pemberlakukan romusha menjadikan warga terlantar, hidup sengsara, lahan pertanian terbengkalai, hingga sebagian warga menderita busung lapar karena sulitnya memperoleh makanan. Bahkan, kain karung goni sebagai penutup tubuh, menjadi pemandangan biasa pada masa itu (Darban, 1988). Warga Parakan, Temanggung juga banyak yang direkrut sebagai romusha. Mereka dikirim ke Banten, serta ke wilayah Malaysia dan Myanmar.

Pada masa kemerdekaan, Parakan Temanggung menjadi simpul pergerakan untuk melawan penjajah. Ketika Pemerintah Hindia Belanda berusaha menggunakan strategi pemisahan wilayah, berupa garis demarkasi Van Mook, warga Temanggung juga bergerak untuk melawan diskriminasi politik yang dilancarkan Hindia Belanda. Pada saat itu, dibentuklah Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Barisan ini dipelopori oleh kiai-santri, yang bertujuan untuk memobilisasi kekuatan rakyat melawan penjajah. BMT didirikan pada 30 Oktober 1945 di masjid Kauman Parakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum adanya BMT, warga Parakan Temanggung bergerak dalam jaringan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Warga Parakan yang tergabung dalam BKR sempat melakukan serangan terhadap sembilan bekas Tentara Jepang yang akan menuju Ngadirejo. Ketika melewati Parakan, pasukan Jepang diserbu oleh warga yang terkonsolidasi dalam BKR. Peristiwa penyerangan ini, dikenal sebagai Peristiwa Batuloyo (Gunardo, 1986).

Setelah adanya Barisan Muslimin Temanggung, operasi warga untuk melawan penjajah semakin gencar. Santri-santri yang tergabung dalam barisan ini, menjadi bertambah semangat dengan dukungan kiai, terutama Kiai Subchi Parakan. Beberapa kali, BMT berhasil menyerbu patroli militer Belanda yang lewat kawasan Parakan. Perjuangan heroik BMT dan dukungan Kiai Subchi, mengundang simpatik dari jaringan pejuang santri dan militer. Beberapa tokoh berkunjung ke Parakan, untuk bertemu Kiai Subchi dan pemuda BMT: Jendral Soedirman (1916-1950), Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Zaenal Arifin (Hizbullah), Kiai Masykur (Sabilillah), Kasman Singadimedja (Jaksa Agung), Mohammad Roem, Mr. Wangsanegara, Mr. Sujudi, Roeslan Abdul Gani dan beberapa tokoh lainnya.

Ketika pasukan Belanda menyerbu kembali Jawa pada Desember 1945, barisan santri dan kiai bergerak bersama warga untuk melawan. Pertempuran di Ambarawa pada Desember 1945 menjadi bukti nyata. Bahkan, Jendral Sudirman berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa berkah dan bantuan dari Kiai Subchi. Jendral Sudirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. Dari narasi ini, dapat diketahui bahwa Jenderal Sudirman merupakan santri Kiai Subchi. ?

Kiai Bambu Runcing, Kiai Penggerak

Kiai Subchi dikenal sebagai seorang yang murah hati, suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Jiwa bisnisnya tumbuh seiring dengan kesuburan tanah di lereng Sindoro – Sumbing. Pertanian menjadi andalan, dengan pelbagai macam tanaman yang menjadi ladang pencaharian warga. Saat ini, Parakan dikenal sebagai kawasan andalan dengan hasil tembakau terbaik di Jawa. Kiai Subchi, pada waktu itu, sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma kuat.

Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau menjadi Rais Syuriah NU Temanggung, didampingi Kiai Ali (Pesantren Zaidatul Maarif Parakan) dan Kiai Raden Sumomihardho, sebagai wakil dan sekretaris. Nama terakhir merupakan ayahanda Kiai Muhaiminan Gunardo, yang menjadi tokoh pesantren dan NU di kawasan Temanggung-Magelang. Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi. Pada 1941, Anshor Nahdlatul Oelama (ANO) mengadakan pengkaderan di Temanggung, yang langsung dipantau oleh Kiai Subchi.

Kiai Subchi dikenal sebagai kiai alim dan pejuang yang menggelorakan semangat pemuda untuk bertempur melawan penjajah. Kiai ini, dikenal sebagai "Kiai Bambu Runcing", karena pada masa revolusi meminta pemuda-pemuda untuk mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi asma dan doa khusus. Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda berani tampil di garda depan bertarung dengan musuh. Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan warga Indonesia untuk mengusir penjajah.

Dalam catatan Kiai Saifuddin Zuhri (1919-1986), Kiai Subchi menjadi rujukan askar-askar yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. "Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung pengantin Sindoro dan Sumbing. Di antaranya yang terkenal adalah Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur", Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, "Barisan Banteng" di bawah pimpinan dr. Muwardi, Laskar Rakyat di bawah pimpinan Ir. Sakiman, Laskar Perindo di bawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi. Sudah beberapa hari ini, baik TKR maupun badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju Parakan".

Kiai Subchi dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud dan sangat tawadhu. Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma, Kiai Subchi justru menangis tersedu. "KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, Kiai Subchi menangis karena banyak yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bamburuncing itu, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar", catat Kiai Saifuddin Zuhri dalam memoarnya "Berangkat dari Pesantren".

Kiai Subchi merupakan teladan dalam kedermawanan, pengetahuan dan perjuangan. Sosok Kiai Subchi menjadi panutan bangsa ini untuk mengawal negeri, mengawal NKRI. Selayaknya, negara mengakuinya sebagai Pahlawan Bangsa.

*Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, pengurus LTN PBNU (Twitter: @MunawirAziz)

?

Referensi:

Ahmad Adaby Darban, Sejarah Bambu Runcing, Laporan Penelitian: Fakultas Sastra UGM, 1988.

_________________________, Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia, Surabaya: JP Books, 2008.

Ahmad Baso, Islam Nusantara, Jakarta: Pustaka Afid, 2015.

Amran Habibi, Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode 1922-2000. Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009

Husni Thamrin,dkk, Geger Doorstoot: Perjuangan Rakyat Temanggung1945-1950, Temanggung: Dewan Harian Cabang, 2008.

Muhaiminan Gunardo, Bambu Runcing Parakan, Yogyakarta: Kota Kembang,1986.

Nur Laela, Perjuangan Rakyat Parakan-Temanggung dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1946), Skripsi UIN Yogyakarta, 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Pendidikan, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Maret 2010

Dandim Batam: Banser Prajurit Penjaga NKRI

Batam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dandim Kota Batam Kepulauan Riau Letkol Inf Andres Nanang Dwi Prastowo Marbun menyebut, Banser termasuk prajurit yang turut menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Saya Khatolik, tapi saya tidak asing dengan Banser karena om saya di Demak, Jawa Tengah juga Banser," ujar dia, di Batam, Ahad (28/11) malam.

Dandim Batam: Banser Prajurit Penjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandim Batam: Banser Prajurit Penjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandim Batam: Banser Prajurit Penjaga NKRI

Pandangan Banser dan TNI, lanjut dia, tidak berbeda, sama-sama NKRI. "Selain mempunyai tugas mengawal kiai, Banser dan TNI sama-sama menjaga NKRI," ujar pria kelahiran Solo, Jawa Tengah itu kepada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III.?

Ia lalu menceritakan sedikit masa kecilnya. Menurut Dandim Batam itu, saat shalat tarawih di bulan Ramadhan, dirinya mendapat bagian menjaga sandal, setelah itu mendapat tajilan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Tugas lebih Banser sebagai prajurit muslim juga untuk menjaga aqidah nasional, menjaga kehidupan toleransi beragama. Sama dengan saya, juga punya tanggung jawab untuk itu," paparnya.

Ia mengaku telah mendengar mengenai sejarah Banser dari pidato Jenderal TNI Gatot Nurmantyo tentang awal mula pemuda pembela tanah air atau (Peta) yang berasal dari santri dan Banser.

"Saya sangat menghormati apa yang dilakukan Banser. Bahwa agama merupakan hal pribadi. Berkaitan dengan adanya isu perpecahan yang mungkin karena kepentingan politik, kita bersama-sama tetap menjaga NKRI," pungkasnya saat bertatap muka dengan peserta Susbanpim III dan jajaran Satkornas Banser. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 16 Maret 2010

Semakin Berumur, Ibadah Harus Kian Meningkat

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setiap saat usia manusia di dunia pasti bertambah. Dengan demikian jatah berada di dunia kian berkurang. Karenanya, tidak ada pilihan lain kecuali semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.

Semakin Berumur, Ibadah Harus Kian Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Semakin Berumur, Ibadah Harus Kian Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Semakin Berumur, Ibadah Harus Kian Meningkat

"Karena usia kita terus bertambah, maka ibadah juga harus mengalami peningkatan," kata Ustadz Slamet Santoso. Penjelasan ini disampaikan Mbah Met, sapaan akrabnya saat memberikan mauidhah hasanah di Masjid Ulil Albab Tebuireng Cukir Jombang, Jumat (10/2) pagi.

Di hadapan para penerima santunan rutin dari Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT, Mbah Met kemudian menguraikan bahwa waktu tidak dapat diulang. "Masa muda kita tidak dapat diulang," pesannya. Apa yang dilakukan hari ini, akan berbeda dengan hari-hari sebelumnya, lanjutnya.

Lantaran demikian berharganya waktu, maka yang harus dilakukan adalah mengisi aktifitas keseharian dengan amal ibadah yang bermutu. "Baik ibadah yang ada hubungannya dengan Allah atau hablum ninallah, maupun hablum minannas yakni berkenaan dengan manusia," kata alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang tersebut.

"Yang juga tidak kalah diperhatikan adalah selalu menghadirkan Allah SWT dalam seluruh aktifitas harian," kata aktifis Serban atau Seribu Rebana di Jombang ini. Mbah Met mengingatkan bahwa mengingat Allah SWT tidak semata ketika berada di masjid dan mushalla. "Bahkan saat shalat saja kadang kita bisa lupa dengan-Nya," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Justru yang terus dilakukan dan dijadikan pegangan adalah bagaimana di seluruh aktifitas, kaum muslimin senantiasa diawasi "Karena itu kita dianjurkan mengawali seluruh kegiatan dengan bacaan basmalah," katanya. Hal ini juga sebagai bukti dan komitmen bahwa diri selalu ingat dan melandasi kegiatan dengan pengawasan Allah SWT, lanjutnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di akhir penjelasannya, Mbah Met mengajak para penerima santunan untuk menjadikan ibadah sebagai sarana untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya. "Ini penting agar sisa usia kita dihiasi dengan ibadah yang berkualitas," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, Pesantren, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 27 Februari 2010

Inskripsi Masjid Sunan Kudus, Pengantar Sanad Keilmuan Wali Songo

Ini adalah foto inskripsi Masjid Sunan Kudus (al-Aqsha) yang terdapat di kota Kudus, Jawa Tengah. Inskripsi tertulis di atas lempengan batu dengan menggunakan bahasa Arab dan jenis khat “tsulusi”. 

Inskripsi ini memuat informasi tentang sosok Sunan Kudus yang bernama asli Syaikh Ja’far Shadiq dan bergelar “Syaikhul Islam”, juga bergelar “al-Qâdhî”. Nama masjid yang dibangunnya tersebut bernama “Masjid al-Aqsha” dan selesai dibangun pada tanggal 28 Rajab 956 Hijri (bertepatan dengan 22 Agustus 1549 Masehi).

Inskripsi ini sekarang ditempel pada dinding masjid, tepat di atas mihram pengimaman. Dua sarjana Prancis, L. Kalus dan C. Gullot pernah melakukan penelitian terhadap inskripsi ini. Saya pun berhutang kepada hasil alih tulisan dan edisi teks yang dilakukan keduanya terhadap inskripsi tersebut.

Inskripsi Masjid Sunan Kudus, Pengantar Sanad Keilmuan Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Inskripsi Masjid Sunan Kudus, Pengantar Sanad Keilmuan Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Inskripsi Masjid Sunan Kudus, Pengantar Sanad Keilmuan Wali Songo

Berikut ini adalah hasil edisi teks dan alih tulisan serta terjemahan bahasa Indonesia dari inskripsi di Masjid Sunan Kudus tersebut:

(1) ? ? ? ? (.) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

(2) ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?) ? (.) ? ? ? ? ? ? ? ?

(3) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(4) ? ? ? ? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(5) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (.) ? ? ? ? ? ? ? ?

(1) Bismillâhirrahmânirrahîm. Telah membangun masjid al-Aqsha dan kota Kudus ini, seorang pemimpin zaman ini, yang ilmunya seumpama tinta dan telah sempurna

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

(2) Dengan berharap meminta ganjaran besok di surga yang kekal, sebagai pahala dan karunia dari Allah Yang Maha Rahman (?). Telah mendirikan masjid yang diberkahi ini yang dinamakan dengan Masjid al-Aqsha, seorang Khalifatullâh

(3) Di bumi pada zaman ini (?) Syaikhul Islam dan umat Muslim, hiasan sekalian ulama dan para mujtahidin, seorang yang alim, yang sempurna, yang memiliki keutamaan

(4) Yang mendapatkan pertolongan Sang Pencipta, al-Qâdhî Ja’far Shadiq. Membangun semata-mata hanya karena Allah(?) dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

(5) Adapun tanggal (pembangunannya) adalah delapan belas (18) bulan Rajab tahun Sembilan Ratus Lima Puluh Enam (956) Hijri. Semoga Allah melimpahkan do’a keselamatan kepada Nabi kita Muhammad, juga keluarganya dan semua sahabatnya.

Melihat titimangsa pembangunan masjid di atas (956 H/1549 M), dan melihat julukan Sunan Kudus yang bergelar “Syaikh al-Islam” dan “al-Qadhi”, saya jadi memiliki dugaan kuat jika sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Sunan Kudus bersambung kepada Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî (w. 974 H/ 1566 M), ulama sentral dunia Islam pada zamannya yang juga pengarang kitab “al-Manhaj al-Qawwîm”.

Jika benar tersambung, maka Sunan Kudus juga berjejaring dengan Syaikh Zainuddîn al-Fanânî al-Malîbârî (w. 991 H/ 1582 M), yang berjejuluk “Syaikhul Islam” dan “al-Qadhi” dari negeri Malibar, pesisir India Barat (dekat Gujarat), dan juga pengarang kitab Fath al-Mu’în. Syaikh Zainuddîn al-Malibârî adalah murid langsung dari Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî. 

Jika jejak sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Syaikh Zainuddîn al-Malibârî dengan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî ada banyak terlacak dalam sumber-sumber sejarah tertulis, maka tidak demikian halnya dengan sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Sunan Kudus dengan Syaikh Ibn Hajar tadi. 

Setidaknya, inskripsi yang terdapat di Masjid Sunan Kudus di atas dapat menjadi pengantar terhadap upaya pelacakan jejak sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Islam Nusantara masa Walisanga dengan Timur Tengah. 

Bandung, Oktober 2017 M/ Muharram 1439 H

A. Ginanjar Syaban

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Quote, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Januari 2010

PMII Rayon Tarbiyah UIN Bandung Ganti Kepengurusan

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Bandung berganit kepengurusan. Pergantian dilakukan pada hajatan RTAR 14 pada Ahad 27 April 2014. Dadan Sholihin, mengetuai kepengurusan masa khidmat 2014-2015.

Sebelumnya, dua anggota mencalonkan diri. Setelah memaparkan kesiapan, visi-misi dan menjawab pertanyaan peserta pada sidang pleno 4, dilakukan pemilihan umum untuk ketua baru? oleh semua pengurus dan anggota. Proses persidangan dan pemilihan berjalan dengan tertib, aman dan demokratis.

PMII Rayon Tarbiyah UIN Bandung Ganti Kepengurusan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Rayon Tarbiyah UIN Bandung Ganti Kepengurusan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Rayon Tarbiyah UIN Bandung Ganti Kepengurusan

“Setiap dinamika pasti ada hikmahnya. Yang terpenting bagaimana dinamika itu membuat sahabat-sahabat semakin merapatkan barisan, bukan malah meninggalkan rayon,” ujar Nina Fatimatussa’adah, Ketua OC.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Muhamad Rikjan selaku ketua demisioner pun berharap, periode kepengurusan selanjutnya akan lebih baik, dan kuat terhadap dinamika yang akan dihadapi.

Kepada ketua terpilih, Rikja meminta Dadan memimpin PMII dengan amanah, berbenah dan berkaca dari yang telah terjadi sebelumnya, dan harus mampu merangkul setiap orang yang ada di Rayon Tarbiyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia juga berpesan supaya tidak lupa mengajak silaturahmi kepada pengurus demisioner, senior, rayon-rayon lain, komisariat, serta PMII Cabang Kota Bandung sendiri.

“Pemimpin baru yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kehendak rayon. Pemimpin? yang terpilih diharapkan mampu membuat dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang akan membawa kemaslahatan,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional, Pemurnian Aqidah, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 17 Desember 2009

Rahasia Menjaga NU Agar Tetap Lestari

Situbondo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Agar dapat menjadi organisasi sosial keagamaan yang tetap relevan, NU perlu turun di berbagai gelanggang. Jangan apriori termasuk di ranah politik.

Rahasia Menjaga NU Agar Tetap Lestari (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia Menjaga NU Agar Tetap Lestari (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia Menjaga NU Agar Tetap Lestari

Penegasan ini disampaikan Masdar Hilmy ketika menjadi pembicara Seminar Nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU, Rabu (11/1). Kegiatan tersebut atas prakarsa Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, TV9 Nusantara dan PW LTN NU Jatim di aula Mahad Aly pesantren setempat.

Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menyampaikan agar keberadaan NU tetap lestari, maka ada sejumlah hal yang perlu ditekankan. "Pertama adalah, NU hendaknya jangan semata besar secara kuantitas, tetapi juga kualitas," jelasnya.

Besarnya jumlah warga NU, harusnya juga diimbangi dengan peran dan kiprah para kadernya di berbagai sektor. "Termasuk dalam politik," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, Masdar mengingatkan bahwa politik yang harus dikawal NU adalah kerakyatan, kenegaraan serta kemasyarakatan. "Tidak semata politik praktis," sergahnya.

"Sedangkan hal kedua yang harus diperjuangkan NU adalah bagaimana NU tetap relevan dan dibutuhkan bangsa ini dalam seluruh pergantian cuaca," ungkapnya.?

Di era digital seperti sekarang, kehadiran NU harus menjadi penawar atas kian merebaknya insan yang linglung. "Bagaimana NU memberikan jawaban yang memuaskan tidak hanya secara retoris, tapi juga argumentatif," terangnya.

Karenanya, jangan sampai NU dibutuhkan hanya saat mengurusi warganya yang meninggal. "Tapi bagaimana kehadiran Nahdliyin dibutuhkan sepanjang masa," jelasnya.

Karenanya, keberadaan Khittah NU harus terus direkonstruksi sehingga dapat dipahami secara terbuka oleh berbagai pihak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum Masdar Hilmy, tampil KH Afifuddin Muhajir yang memaparkan 14 hal yang harus dijaga NU hingga titik darah penghabisan. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Doa, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah