Minggu, 13 November 2016

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

Lombok Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Di perbatasan wilayah dua negara, akan didapati aneka cerita inspiratif tentang perjuangan dan dedikasi warga Nahdliyin. Seperti dikisahkan Katib Syuriah PCNU Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Irham Anwar kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di sela-sela perhelatan Pra-Muktamar di Lombok, Kamis-Jumat (9-10/4).

Irham mengatakan, Malaka merupakan pemekaran dari Kabupaten Belu yang masuk wilayah Provinsi NTT. Untuk menuju kabupaten yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste ini bisa ditempuh perjalanan darat selama empat jam perjalanan dari Kota Atambua.

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

“Kami kalau mau keluar negeri dekat sekali. Sebab, dari tempat kami ke Timor Leste cuma dua jam perjalanan mobil. Kalau ke Australia memang harus langgar (menyeberang-red) laut,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dia, persoalan penduduk asli di sana yang banyak muallaf itu terkait kesejahteraan. Jika dilihat, masalah mereka hanya soal ekonomi. Meski demikian, di tiap-tiap paguyuban atau kelompok ada kegiatan tahlilan, pengajian, dan lain sebagainya. “Itulah kenapa saya semangat mendirikan NU di sana,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melihat geliat warga Nahdliyin di Malaka, Irham bersama beberapa temannya kemudian memproses pendirian kepengurusan cabang. “Prosesnya masih terus berlangsung, ini baru kami bentuk,” ujarnya.

Beberapa pekan setelah berdiri kabupaten baru, Irham langsung bergerak cepat ke desa-desa setempat. “Kami merasa sangat dihargai karena baru membentuk Tim 9 setelah itu langsung dapat SK. Meski SK sudah turun, tapi kami belum dilantik. Sepulang dari sini nanti kami akan bekerja keras untuk mengadakan pelantikan,” tuturnya.

Irham mengaku datang ke pra-muktamar ini melalui proses cukup panjang. Bersama Ketua Tanfidziyah PCNU Malaka Zaenal Muttaqin, ia merasa bahagia bisa turut serta bertemu para alim ulama. Pria asal Kabupaten Bima, NTB ini mengaku telah mengenal NU sejak lahir. Di tempat kelahirannya, Pulau Sumbawa, memang banyak warga NU.

Ditanya soal tantangan kaum muslimin khususnya warga Nahdliyin di daerahnya, Irham mengaku tidak ada masalah berarti soal hubungan antaragama.

“Alhamdulillah baik-baik saja. Meski di sana mayoritas Kristen, tapi mereka menerima kami. Tak ada persoalan mayoritas dan minoritas. Justru yang minor dilindungi yang mayor. Saat Idul Fitri kami dikawal saat pawai takbir keliling. Nah, ini bagusnya di sana,” ungkapnya.

Di Malaka, lanjut Irham, terdapat ormas Islam lainnya. Namun, NU yang paling menonjol. “Setelah kami blusukan, ternyata justru NU yang tampak. Ini terlihat dari kegiatan mereka. Selain tahlilan, kegiatan seperti Muslimat juga ada. Mungkin belum dapat SK dari pusat, tapi sudah dibentuk. Karena ibu-ibu itu punya kegiatan paten seperti arisan, pengajian mingguan, dan bulanan,” ujarnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 11 November 2016

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil

Judul Buku : Tahlil dan Kenduri; Tradisi Santri dan Kiai

Penulis : H.M. Madchan Anies

Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan : I, Februari 2009

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil

Tebal : xii + 180 halaman

Peresensi : Abdul Halim Fathani Yahya*)


Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Umat Islam di Indonesia khususnya warga NU (Nahdliyin) telah mentradisikan tahlil dalam berbagai hajatan, seperti yang biasa dilaksanakan 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari dari kematian keluarga/tetangganya. Di kalangan pesantren, santri dan keluarga ndalem biasanya menyelenggarakan acara haul untuk melakukan “kiriman doa” kepada kiainya yang telah meninggal dunia. Tentang tahlil, sebagian masyarakat kita masih terkotak pada dua kelompok pro dan kontra. Ada yang menganggap bahwa tahlil merupakan tradisi baru, yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW, mereka menganggap tradisi tahlil sebagai bid’ah, sehingga tidak selayaknya sebagai seorang muslim untuk mengamalkannya. Sementara, di pihak lain (baca: kaum Nahdliyyin), meski sebagian dari mereka belum tahu persis landasan hukumnya, namun hal ini tidak mengurangi semangatnya untuk mengamalkan tahlil.

Tradisi tahlilan merupakan salah satu hasil akulturasi antara nilai-nilai masyarakat setempat dengan nilai-nilai Islam, di mana tradisi ini tumbuh subur di kalangan Nahdliyyin. Sementara ormas-ormas lainnya cenderung memusuhi bahkan berusaha mengikisnya habis-habisan. Seakan-akan tradisi tahlilan menjelma sebagai tanda pembeda apakah dia warga NU, Muhammadiyah, Persis, atau yang lainnya. Terjadinya polemik tentang tahlil tersebut, tentu bisa berdampak pada rusaknya ikatan kekeluargaan antar muslim, seperti saling menuduh dan menyesatkan kelompok lainnya, timbulnya rasa curiga yang berlebihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memang, -harus dipahami- tahlil sampai saat ini masih menjadi masalah khilafiyah yang harus diterima dengan lapang dada. Ritual tahlil memang tidak dituntunkan oleh Rasulullah SAW, sehingga bukan merupakan bentuk ibadah mahdhah, bukan ibadah khusus. Ritual tahlil ini sekedar amalan baik yang memiliki keutamaan dan faedah. Bila faedah dari amalan tahlil ini dapat menghantarkan umat untuk tergerak menjalankan syariat-syariat yang wajib, bahkan lalu menjadi sarana utama dan pertama juga agar warga tergerak; maka tradisi tahlil tentu dapat menjadi sarana strategi dakwah umat Islam.

Tetapi, ada beberapa hal yang menjadi koreksi bagi penganut tradisi tahlil. Adalah mayoritas jamaah yang pro-tahlil ini hanya sedikit yang mengerti pijakan hukum tentang tradisi tahlil. Oleh karenanya, diharapkan dengan terbitnya buku ini dapat menambah referensi tentang tahlil. Sehingga dapat menambah keyakinan dan kemantapan hati dalam setiap mengamalkan tahlil. Karena, jika kita mengamalkan sesuatu yang disertai dengan pemahaman landasan hukum yang kuat dan benar tentu akan dapat membuat hati lebih mantap dan yakin.

Melalui buku ini, penulis mengupas secara gamblang terkait tahlil. Bagian awal, diberikan penjelasan beberapa istilah seputar tahlil, yakni zikir, selamatan, kenduri, dan berkat. Istilah tersebut dijelaskan secara detail mulai dari asal katanya hingga landasan hukumnya. Di bagian kedua, penulis memberikan wawasan kepada pembaca terkait dengan amal saleh, meliputi shalat, puasa, sedekah, berdoa, membaca al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi, dan zikir. Untuk mengantarkan pembaca dalam rangka memahami tahlil dan seluk-beluknya, di bagian tiga diuraikan tentang hadiah pahala yang membahas bagaimana menerima pahala amal sendiri, menerima manfaat dari amal orang lain, memeroleh manfaat dari syafaat, menghadiahkan pahala amal, ahli kubur selalu menunggu “kiriman”, dan berziarah kubur dan manfaatnya. 

Adapun kerangka atau rangkaian dasar bacaan tahlil dan urut-urutannya dapat dibaca pada bagian empat. Madchan Anies memaparkan ada sembilan bagian pokok dalam tahlil, yaitu 1) tentang hadrah dan al-Fatihah; 2) surat al-Ikhlas, al-Mu’awwidzatain, dan al-Fatihah; 3) tentang permulaan surat al-Baqarah; 4) tentang surat al-Baqarah 163 dan ayat kursi; 5) tentang ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah; 6) tentang bacaan tarhim dan tabarruk dengan surat Hud 73 dan al-Ahzab 33; 7) tentang shalawat, hasbalah, dan hauqolah; 8) tentang bacaan istighfar, tahlil, dan tasbih; dan 9) tentang doa  penutup tahlil. Penulis melengkapi pada bagian empat ini dengan menjabarkan keutamaan kalimat-kalimat suci tersebut dalam setiap bagian tahlil. Sementara di bagian akhir, penulis menambahkan hal-hal yang terkait dengan tahlil, meliputi kenduri (ambengan), membaca surat Yasin, Fidyah, dan Fida’ atau Ataqah.

Kiranya, buku ini perlu juga dibaca bagi pembaca yang “merasa” kontra terhadap tradisi tahlil. Setidaknya agar mereka membuktikan sendiri bahwa tradisi yang dipraktikkan oleh saudara mereka (baca: warga Nahdliyyin) juga memiliki pijakan dalil syar’i yang kuat. Walhasil, dengan memahami tahlil berikut landasannya, diharapkan akan tercipta sikap saling pengertian demi terwujudnya penguatan persaudaraan antar sesama. Semoga!

*) Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Saat ini aktif di Lingkar Cendekia Kemasyarakatan (LACAK) Malang
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Quote, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah . Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Mranggen Demak turun ke basis-basis (turba) pelajar NU untuk melakukan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). 

Turba mereka pada Ahad (1/3) ke Makesta yang diadakan Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Kebonbatur di MA Miftahul Ulum Tlogorejo Karangawen Demak. Kegiatan tersebut diikuti 80 pelajar.

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa

Setelah mengikuti Makesta, pelajar dibaiat atau disahakan menjadi anggota IPNU-IPNNU oleh Ketua PAC IPNU Mranggen Ahmad Syaifuddin. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada sambutannya, Ahmad berharap para pelajar yang tergabung di IPNU dan IPPNU tersebut makin mantap berorganisasi, setia di bawah panji IPNU-IPPNU yang berlandaskan Ahlussunah wal Jama’ah dan setia pada NKRI. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terpisah, Ketua Pimpinan Cabang IPPNU Demak Istiqomah menegaskan, semangat “belajar, berjuang, dan bertaqwa” harus senantiasa kita tanamkan keapada pelajar NU agar segala langkah IPNU dan IPPNU mendapat dukungan semua pihak.

Pada kegiatan tersebut, hadir Ketua PC IPNU Demak Abdul Halim bersama pengurus lain, serta perwakilan Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Tengah Shohibul Anam, Pembina IPNU M Said Athoillah, dan lain-lain. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 03 November 2016

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wewenang Kementerian Agama sebagai regulator sekaligus operator penyelenggaran haji seperti diatur dalam Undang-Undang nomor 13 tahun 2008, perlu dibatasi. Rangkap tugas semacam ini tidak relevan di era tata kelola pemerintahan yang kini dituntut profesional, akuntabel, dan transparan kepada publik.

“Monopoli kewenangan dan kebijakan yang begitu besar terhadap sebuah institusi rentan disalahgunakan dan dapat menyuburkan praktik korupsi,” kata Ketua Umum Komnas Haji Mustolih Siradj kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah per telepon, Selasa (27/5) siang.

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji

Menurutnya, tugas Kemenag saat ini sangat banyak meliputi penerimaan dana setoran calon jamaah, penyediaan transportasi baik darat maupun udara, pengadaan akomodasi, pemondokan, konsumsi, pembinaan, pengelolaan Dana Abadi Umat, sekaligus regulator.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Terlalu besarnya beban kerja, penyelenggaran haji selama ini dikeluhkan masyarakat karena masih jauh dari transparansi dan profesionalitas utamanya terkait dana calon jamaah yang ? saat ini sudah mencapai Rp 64 triliun,” jelas Mustolih.

Sebagai jalan keluar karut-marut ini, Kemenag di masa mendatang harus diposisikan sebagai regulator dan pengawas saja. Aparatur pemerintahan jangan lagi menjalankan peran-peran operator. Solusi jangka panjangnya, perlu dibentuk badan khusus yang bertugas menyelenggarakan haji.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Mustolih, pembatasan fungsi hal ini sangat mungkin untuk dilakukan. ? Ia menunjuk pada kasus pengelolaan zakat dan wakaf. Dulu Kemenag juga mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) dari masyarakat.

Kemudian kewenangan itu dipangkas dengan lahirnya UU nomor 38 tahun 1999 ? yang digantikan oleh UU nomor 23 tahun 2011 terkait pengelolaan zakat. Urusan zakat selanjutnya diserahkan kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Begitu pula dengan kasus wakaf. Setelah lahir UU nomor 41 tahun 2004 pengelolaan wakaf dilimpahkan kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Kedua lembaga ini berada di bawah Presiden. Progres kedua lembaga itu terbilang baik dibanding ketika masih dijalankan Kemenag. “Semestinya pelimpahan wewenang ini bisa dilakukan untuk urusan haji dan umroh,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini.

Tapi gagasan seperti ini, lanjut Mustolih, tentu saja akan ditolak Kemenag. Karena, upaya seperti akan memangkas kewenangan dan hilangnya proyek triliun rupiah yang sudah berjalan bertahun-tahun.

“Saat ini Kemenag ngotot menggolkan RUU Pengelolaan Keuangan Haji agar bisa lebih leluasa menggunakan dana setoran calon jamaah. Tapi ironisnya, RUU itu tidak menyinggung sama sekali hak-hak calon jamaah haji,” pungkas Mustolih. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 02 November 2016

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Magelang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sinar Mentari pagi yang cerah menyambut ribuan guru yang mulai berdatangan ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Magelang, Sabtu 19 September 2015. Mereka menggunakan kaos putih berlengan hijau bertuliskan "Saatnya Maarifku bangkit" ini hendak mengikuti jalan sehat yang digelar pengurus Cabang LP Maarif NU Kabupaten Magelang dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-56 Lembaga Maarif NU.?

Kegiatan dengan melibatkan ribuan pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan NU tersebut, diharapkan bisa menumbuhkan sikap perjuangan dan pengorbanan untuk Nahdlatul Ulama, menyehatkan badan juga ? mengingatkan masyarakat tentang hari lahir Lembaga Maarif yang notabene mengurusi bidang pendidikan Nahdlatul Ulama.

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Bambang Ardiansyah, ketua Maarif NU Magelang mengatakan kegiatan ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Lembaga Maarif siap menerima amanah membantu mencerdaskan anak bangsa dalam bingkai Islam Ahlusunnah wal Jamaah sehingga ? diharapkan warga NU menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah maupun madrasah di bawah naungan Lembaga Maarif agar terhindar dari doktrinasi paham dan aliran sesat yang dalam beberapa tahun ini meluas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin mengajak para guru bersemangat mengajar agar mendapat kepercayaan masyarakat.

Ribuan guru ? sejak pukul 07.00 WIB sudah mulai berdatangan, dan memenuhi parkiran kantor PCNU dan sekitarnya. Acara sendiri dimulai jam 08.00 WIB dengan start dan finish di halaman kantor tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jalan sehat yang dilepas oleh Wakil Bupati Magelang tersebut mengambil rute mengelilingi desa Bojong kecamatan Mungkid kurang lebih sejauh 3 km. Diakhir acara panitia membagikan ratusan doorprize dan sebagai hadiah utama berupa TV LED, sepeda, kompor gas dan ratusan hadiah hiburan lainnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Olahraga, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 10 Oktober 2016

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi

Cirebon, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, konflik yang berkecamuk di beberapa negara merupakan akibat dari sikap intoleran. Radikalisme yang dikembangkan segelentir umat beragama di beberapa negara telah menimbulkan perpecahan dan kekisruhan di antara mereka.

“Padahal jika ajaran agama dipahami dan diamalkan secara benar, tidak akan menimbulkan kebencian terhadap siapapun, justru yang timbul adalah sikap toleran dan solidaritas,” jelasnya saat bertausiah pada haflah akhirissanah Madrasah Al Hikamus Salafiyah (MHS) Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (30/5).

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi

Di hadapan ribuan hadirin, Kiai asal Cirebon ini bersyukur peristiwa tersebut relatif tidak ada di Tanah Air. Menurutnya, umat beragama di Indonesia mayoritas bersikap moderat dan hal itu merupakan jasa dari kiprah pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Alhamdulillah kalau di Indonesia, kita punya warisan sistem pendidikan keagamaan yang mampu mencetak generasi muslim yang moderat, menanamkan karakter bangsa yang luhur, serta mengedepankan akhlakul karimah. Sistem pendidikan tersebut adalah pondok pesantren,” lanjut Kang Said, sapaan akrabnya.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, mudir Madrasah Al Hikamus Salafiyah KH Azka Hammam Syaerozi dalam sambutannya menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya berorientasi pada pendidikan karakter berbasis pesantren, sehingga mereka diharapkan mampu menjadi figur khoiru ummah (teladan masyarakat), “Madrasah Al Hikamus Salafiyah merupakan lembaga yang memiliki kurikulum independen, mengacu pada pendalaman kitab kuning, mulai dari tingkat ibtida’iyah, tsanawiyah, aliyah dan ma’had aly”.  

Bersama para kiai babakan, Kang Said Aqil juga diberi kehormatan untuk mewisuda siswa MHS dari seluruh tingkatan. Prosesi wisuda ini dipimpin langsung oleh KH Makhtum Hannan, sesepuh pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

Acara puncak haflah akhirussanah yang berlangsung di halaman utama Madrasah Al Hikamus Salafiyah itu, sebelumnya diawali dengan atraksi sepak bola api dan mandi petasan di lapangan bola Desa Babakan, Ciwaringin. Hal ini merupakan tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun, dilakukan oleh para siswa kelas I Aliyah Madrasah Al Hkamus Salafiyah. Masyarakat sekitar pun menyambutnya dengan sangat antusias. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 04 Oktober 2016

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Pusat Pemerintahan Provinsi Perbatasan Thailand Selatan (SBPAC-Southern Border Provinces Administrative Center of The Kingdom of Thailand) berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (27/5) petang.

”Kami datang ke sini adalah dalam rangka silaturahim dan menjalin kerja sama di antara Indonesia, khususnya Nadlatul Ulama, dan Thailand Selatan,” kata Ketua Dewan Penasehat SBPAC Abdul Azis bin Hawan.

Azis datang bersama belasan pimpinan SBAC lainnya dan diterima KetuaUmum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jendral PBNU H Marsudi Syuhud, Bendahara Umum H Bina Suhendra, Ketua PBNU H Iqbal Sulam, dan sejumlah pengurus lainnya.

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU

Menurut Azis, secara kebudayaan Thailand memiliki banyak kemiripan dengan Indonesia. ”Kami berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi saham untuk kerja sama meningkatkan bidang pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan,” ujarnya.

Forum pertemuan berlangsung dialogis. Kang Said, sapaan KH Said Aqil Siroj, menjelaskan bahwa karakter Islam yang diusung NU adalah moderat, toleran, berwawasan kebangsaan, dan menjunjung tinggi asas kemanusiaan. Sebanyak 21 ribu pesantren NU mengembangkan ajaran ini dan mampu bersinergi dan menjadi perekat bagi keanekaragaman budaya di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pihak SBPAC juga mengenalkan, Thailand Selatan memiliki 468 pesantren, dan dari jumlah tersebut 286 di antaranya telah menjadi sekolah agama. ”Mengenai ajaran, saya rasa hampir sama. Kami juga mengenal adanya Kitab Kuning,” kata Persatuan Alumni Indonesia di Thailand Selatan Abdul Hafiz Hiley yang ikut bersama rombongan.

Sementara itu, Iqbal menambahkan, NU pernah memberi masukan kepada pemerintahan Thailand pada periode kepengurusan lalu terkait krisis di negara ini. NU pada waktu itu berkunjung dan mengusulkan agar pemerintah tidak mengedepankan pendekatan militer dan menginternasionalisasi isu konflik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di hadapan forum, Kang Said tak lupa juga mengucapkan selamat hari Waisak kepada peserta rombongan yang beragama Budha. Mayoritas dari mereka adalah muslim yang memiliki perhatian terhadap proses perdamaian di negaranya.

”Semoga ini bukan pertemuan terakhir. Kami berharap ada pertemuan-pertemuan lanjutan. Kami mengundang NU dapat datang ke negara kami untuk memberi pengenalan Islam di sana,” kata Azis.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya, Hikmah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah