Rabu, 08 Februari 2017

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo

Tulisannya sering muncul di kolom berbagai surat kabar. Temanya begitu menyejukkan, tentang Islam Rahmatan lil Alamin, tentang keadilan. Para pembaca menjadi ikut tercerahkan dan membuat orang menjadi tertarik akan konsep Islam yang damai.

Pada Rabu sore (19/6), wartawan NU Online, Ajie Najmuddin, berkunjung ke rumahnya, di Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Kartasura Sukoharjo. Saat ditemui, Pak Dian, begitu dia biasa dipanggil, baru selesai mengatur kursi yang akan digunakan untuk acara akhirussanah RA Al-Muayyad Windan, esoknya. Ditemani suguhan lotis dan segelas teh hangat, mereka memulai pembicaraan.

Tulisan anda di media massa, banyak yang bertemakan gagasan Islam yang damai, apa tujuannya?

Saya hanya ingin menggambarkan sedikit tentang nilai-nilai yang saya dapatkan di pesantren. Tentang nilai kebenaran, keluhuran, persaudaraan dan sebagainya. Semuanya saya dapatkan dari para guru saya di pesantren.

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo

Mengenai nilai-nilai di pesantren, bisa sedikit anda jabarkan?

Tentang kebenaran. Kebenaran ini bisa diartikan, yakni kesesuaian dengan 6 hal ini; norma, hukum, ilmu, fakta, realita, dan perikatan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kesesuaian perikatan, maksudnya?

Sebagai orang indonesia, kita semestinya juga menyesuaikan diri dengan menerima Pancasila dan UUD, karena itu merupakan sebuah perjanjian atau ikatan dari para pendiri bangsa.

Selain nilai-nilai di pesantren yang anda sebutkan, anda juga menyebut sekilas tentang guru. Siapa guru yang paling menginspirasi anda?

Alm. Kiai Umar Abdul Mannan (Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Solo, wafat tahun 1980,-red). Beliau adalah sosok yang menginspirasi. Saya ceritakan salah satu kisah beliau, pernah suatu ketika beliau mendapat kiriman surat bertinta hitam. Diperlihatkannya surat tersebut kepada saya, isinya begitu keras dan kasar bahasanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Beliau bertanya, “Saya harus bagaimana?”.

Akhirnya beliau justru sowan ke sang pengirim surat. Meminta klarifikasi atas surat tersebut. dan tidak ada lagi konflik setelahnya. Inilah salah satu teladan keluhuran dari beliau.

Saat ini anda juga dikenal sebagai pemilik sebuah radio, apa motivasi anda mendirikannya?

Saya bukan pemilik, hanya mengelola. Tujuannya untuk mengembangkan sapaan kepada publik Solo Raya. Juga untuk memperkuat warga Nahdliyyin melalui media massa.

Selain itu, saya selalu memegang 3 hal ini, pun dalam mendirikan radio ini. Tiga hal yakni, untuk meraih prestasi vertikal (dapat juga dimaknai mendekat ke Tuhan), kita harus bertindak baik pula ke horizontal (sesama makhluk).

Kedua, bertindaklah inklusif jangan eksklusif. Radio ini bisa berkembang dengan bagus, karena kita merangkul semua. Bahkan pendengar kita mayoritas anak muda. Tapi di sisi lain, kita sisipi dengan siraman rohani.

Ketiga, apabila terjadi konflik senior-yunior, maka senior mesti melakukan afirmasi kepada yunior. Juga dalam setiap hal, mesti ada sinergitas dan kolaborasi antara keduanya.

 

*

M. Dian Nafi’ lahir di Sragen pada 4 April 1964. Ia adalah anak ketiga dari delapanbersaudara. Ayahnya, Kiai Haji Ahmad Djisam Abdul Mannan, merintis Pesantren An-Najah, Gondang, Sragen, Jawa Tengah, yang kini diasuh kakak iparnya. Sementara kakeknya, Kiai Haji Abdul Mannan, adalah pendiri Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, salah satu pesantren Al-Quran yang terkenal di Solo.

Pertemuannya dengan beberapa tokoh rekonsiliasi kemudian membawanya bergabung dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara, dan lembaga-lembaga lainnya seperti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjahmada, Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Yogyakarta, Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP) Jakarta, Crisis Centre Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Common Ground Indonesia, dansebagainya. Pertemuan dan pendidikan yang diikuti di luar negeri adalah Disaster Management Training di Africa University Zimbabwe, Education in Religion for Communitiy Consultation di Agia Napa, Siprus (2001), Asia Africa People Forum di Kolombo (2003), Indonesia Pesantren Program di Amherst, Massachusetts, USA (2003), dan Summer Peace Building Institute di Harrisonburg, Virginia, USA (2005).

Saat ini, ia mengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Sukoharjo, yang merupakan pengembangan dari Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Nahdlatul, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Saat kelas dua madrasah aliyah A Hisyam Karim (39) secara tidak sengaja membaca buku Filsafat Eksistensialisme. Rupanya buku filsafat itu membuatnya tertarik untuk mempelajari filsafat lebih lanjut.

"Sejak saat itu saya berpikir filsafat itu menarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi," kata Hisyam di Subang. Jumat (20/5).

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Setelah lulus aliyah pada tahun 1995, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Dakwah Fakultas Ushuludin Universitas Islam Bandung (Unisba). Dua tahun kemudian, keinginan untuk mempelajari filsafat membuat Hisyam pindah kuliah ke Jurusan Aqidah Filsafat IAIN Jakarta.

"Saat mondok hanya disajikan satu kebenaran saja, tapi pas kuliah di filsafat ternyata kebenaran itu banyak. Makanya dulu teman saya ada yang pakai salib, tidak sholat dan lain-lain karena punya landasan berpikir tersendiri," tambah pendiri Forum Studi M@kar (Manbaul Afkar) Ciputat itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah lama berkecimpung dalam dunia filsafat, muncul kegelisahan dalam batinnya karena diakuinya filsafat untuk konsumsi akal. Sementara hati yang menjadi tempat aneka rasa tidak terisi sehingga batinnya menjadi hampa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hisyam melanjutkan, setelah lulus kuliah pada tahun 2004 Hisyam sering sowan kepada Kiai Nawawi yang merupakan sahabat bapaknya. Kemudian pada tahun 2009, Hisyam memberanikan diri untuk bercerita kepada Kiai Nawawi tentang kegelisahan batinnya.

"Saat itu dengan sikap tawadlu Kiai Nawawi mengantar saya ketemu kakaknya, Kiai Sayuti," ungkapnya.

Hisyam menceritakan, Kiai Sayuti adalah seorang mursyid Tarekat Syattariyah dan Kiai Nawawi adalah khalifahnya. Saat bertemu dengan Kiai Sayuti, Hisyam langsung dibaiat menjadi murid Tarekat Syattariyah.

"Setelah dibaiat, sambil salaman. Alhamdulillah, usai salaman dengan Kiai Sayuti kegelisahan batin yang mengendap dalam diri saya langsung hilang saat itu juga, langsung plong," jelas alumni Pascasarjana STAINU Jakarta yang menulis tesis tentang Peran Kiai Sayuti dalam Menyebarkan Tarekat Syattariyah Itu.

Hisyam mengakui, filsafat memang penting untuk dipelajari karena berdasarkan pengalamannya, dengan mempelajari filsafat manusia bisa berpikir terbuka namun tetap kritis sehingga dalam menerima pemikiran tidak menelan mentah-mentah.

"Selain itu juga dengan belajar filsafat kita bisa berusaha untuk bersikap adil. Kita juga bisa menemukan solusi aneka masalah dengan menggunakan teori-teori filsafat, dan masih banyak lagi tentunya," jelas Hisyam yang saat ini menjabat Ketua NU Caracas itu.

Namun demikian, menurut Hisyam, dalam mempelajari filsafat sebaiknya dibarengi juga dengan mengamalkan ajaran tasawuf seperti masuk salah satu tarekat mutabarah. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akal dan kebutuhan hati.

"Sekali lagi saya tegaskan, ini subjektif pengalaman pribadi saya, tentu yang lain juga punya pengalaman sendiri," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 Februari 2017

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU berencana akan mengumpulkan para pengasuh pesantren se-Jawa. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat peran pesantren di tengah masyarakat.

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Draf acuan kegiatan (ToR) yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah menyebutkan, pertemuan para kiai ini akan diwujudkan dalam bentuk halaqah bertema “Penguatan Peran Pesantren sebagai Pusat Peradaban” di Jakarta, 29-30 Desember 2012.

Rencananya, 40 pengasuh pesantren yang menjadi peserta akan memetakan potensi pesantren, terutama dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya; merumuskan strategi penguatan kelembagaan dan kerja sama lintas sektor; serta merumuskan aksi bagi upaya penguatan pesantren sebagai pusat peradaban.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bersama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, RMI bertekad akan mengembalikan fungsi pesantren sebagai agen perubahan sebagaimana yang dilakukan generasi pendahulu.

“Pesantren tidak hanya  menjadi lembaga agama, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang mengemban fungsi-fungsi kemasyarakatan bagi komunitas di sekitarnya,” demikian bunyi ToR acara halaqah pengasuh pesantren ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 02 Februari 2017

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) 105/2013 dan 106/2013 yang mengatur memberikan fasilitas berobat gratis kepada pejabat negara hingga ke luar negeri.

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

“Memberikan fasilitas keuangan negara kepada pejabat negara secara berlebihan di tengah kemiskinan ekonomi rakyat serta derita karena bencana alam, adalah sebuah kezaliman,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Ahad (29/12).

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengatakan, Perpres tersebut menyakiti nurani rakyat yang pada umumnya masih miskin dan dikhawatirkan menjadi pemicu perlawanan rakyat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Oleh karenanya, Perpres 105 dan 106 tahun 2013 tertanggal 13 Desember 2013 yang memberikan fasilitas berobat gratis sampai ke luar negeri segera dicabut,” terang Kiai Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini juga menyarankan para penyelenggara negara dan pejabat publik yang masih punya rasa tanggungjawab kepada rakyat, hendaknya menolak fasilitas berlebihan tersebut.

“Sekalipun yang mau menolak pasti jumlahnya sangat minoritas. Seandanya pejabat negara meninggal karena sakit, biarlah meninggal di tanah air bersama rakyat yang mengantarkan mereka menjadi pejabat,” katanya.

Keluarnya Perpres menjalang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pejabat Negara.

“Hendaknya diingat saat ini menjelang pileg dan pilpres, maka perpres 105/106 akan menambah rasa kejengkelan kepada mereka yang akan menjadi penyelenggara Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden 105/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu. Juga, Perpres 106/2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga Negara.

Dalam laman Sekretaris Kabinet, kedua produk aturan itu dikeluarkan Presiden terkait mulai dilaksanakannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014.

Dengan Perpres itu, para menteri, pejabat eselon I, dan pimpinan lembaga negara dimudahkan untuk berobat ke luar negeri. Seluruh biaya itu nantinya akan ditanggung oleh negara, baik APBN maupun APBD.

Presiden mempertimbangkan risiko dan beban tugas menteri dan pejabat tertentu, serta ketua, wakil ketua dan anggota lembaga negara sehingga pemerintah memutuskan membuat perlindungan kesehatan khusus bagi pejabat negara. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jadwal Kajian, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 31 Januari 2017

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kiprah tokoh perempuan NU almarhumah Mahsusoh Ujiati begitu membekas di benak Guru Besar Universitas Ibnu Thufail Maroko Prof Dr Mariam Ait Ahmed. Prestasi salah seorang pendiri IPPNU ini dinilai patut diapresiasi.

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU

“Mari kita bacakan surat al-Fatihah kepada beliau. Al-Fatihah…” pinta Porf Mariam di sela kuliah umum yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Jakarta di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (12/11) malam.

Menurut dia, Mahsusoh adalah pedamping Dubes RI untuk Maroko Tosari Wijaya yang baik. “Subhanallah, ketika dibangun hubungan Indonesia dan Maroko dikirimlah wanita yang sangat mulia mendampingi seorang duta besar,” katanya sambil menahan air mata.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mahsusoh dianggap berjasa dalam menghubungkan Indonesia dan Maroko. Salah seorang pimpinan Muslimat NU ini termasuk ibu yang selalu mengayomi, terutama bagi para mahasiswa yang ada di Maroko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Beliau mempunyai hati yang mulia, sehingga kedatangannya ke Maroko membawa bendera cinta. Beliau memberikan cinta kepada para mahasiswa,” sanjung Ketua Organisasi Persaudaraan Maroko-Indonesia ini .

Dalam acara Pekan Budaya di Maroko September lalu, Mahsusoh yang wafat pada 21 Desember 2011 itu mendapat anugerah penghargaan sebagai pejuang muslimah hubungan Indonesia-Maroko dari Jamiyyah Sidi Thalhah, bersamaan dengan acara mengenang al-Wali Sidi Thalhah, tokoh kemerdekaan Maroko.

 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Pahlawan, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 29 Januari 2017

Ngaji Pasaran di Pesantren Daarussalam Cirebon

Cirebon, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Daarussalam adalah salah satu asrama di Buntet Pesantren Cirebon yang seperti bulan-bulan Ramadhan sebelumnya membuka pengajian pasaran untuk umum. Di kawasan salah satu pesantren terpandang di Jawa Barat ini, pengajian pasaran ini dibagi menjadi dua kelas.

Ngaji Pasaran di Pesantren Daarussalam Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Pasaran di Pesantren Daarussalam Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Pasaran di Pesantren Daarussalam Cirebon

Pengajian pasaran tahun ini, santri junior masuk dalam kelompok pengajian kelas 1, adapun kitab yang dikaji adalah “Hadits Arbain” dan “Lubabul Hadits”. Sementara kitab “Riyadlus Shalihin” dan “Nailurroja” dikaji untuk kelas 2 yang di dalamnya terdapat santri lintas pesantren, alumni, dan masyarakat umum yang terdiri dari remaja, pemuda, hingga bapak-bapak.

Setiap bada sahur, kelas 1 dan kelas 2 tersebut bergabung menjadi satu kelas dalam pengajian kitab “Almauidzatul Ushfuriyyah”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk masyarakat umum, khususnya bagi mereka yang datang jauh dari luar Kota Cirebon, diperbolehkan menginap bareng para santri. Namun sebelumnya mereka sangat dianjurkan sowan dan izin terlebih dahulu kepada pengasuh Pesantren Daarussalam, KH Tb Ahmad Rifqi.

Santri dan masyarakat yang ada di lingkungan Buntet Pesantren Cirebon biasanya langsung mengikuti jadwal pengajian karena di Buntet sendiri membebaskan santrinya mengikuti jadwal ngaji pasaran di asrama lain dengan catatan tidak meninggalkan jadwal pengajian di asrama yang dia tempati.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada tahun-tahun sebelumnya ngaji pasaran di pesantren Daarussalam ini biasanya ditutup paling cepat sampai tanggal 20 Ramadhan. Tapi untuk tahun ini, pengajiannya ditargetkan hanya sampai tanggal 15 Ramadhan. Alasannya adalah karena sudah menginjak libur sekolah.

Sementara itu, KH. Tb. Ahmad Rifqi yang mempunyai jadwal mengkaji dan menerangkan kitab “Riyadlus Shalihin” memastikan bahwa kitab Riyadlus Shalihin sama sekali tidak memuat hadits dhaif apalagi hadits palsu. Sebaliknya kitab karya Imam Nawawi itu memuat hadits-hadits Shahih dan Hasan.

"Kalau ada yang bilang kitab ‘Riyadlus Shalihin’ banyak memuat hadits dhaif, orang itu bakal diketawain sama ulama-ulama ahli hadits, ibaratnya kaya kidang nyeruduk watu, batu kan kuat, dianggap sama dia batu itu jelek dan lemah terus diadu ya tanduknya patah," kata kiai yang akrab disapa Kang Tus itu dalam pengajian, Ahad (21/6).

Kitab “Riyadlus Shalihin” dikaji di Pesantren Daarussalam dalam dua sesi, yakni pertama selepas Ashar sampai menjelang waktu Maghrib tiba; kemudian kedua, dilaksanakan pada malam hari tepatnya bada shalat isya’ dan tarawih hingga sekitar pukul 01.00 dini hari dengan potongan waktu istirahat sekitar setengah jam. Sementara waktu mengaji kitab Nailurroja adalah sekitar pukul 13.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB

Daarussalam ini bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan pesantren bagi para santri, alumni pesantren, dan masyarakat umum yang hendak mengisi kegiatan di bulan suci Ramadhan untuk mencari ilmu agama dan ngalap barokah dari kiai atau pesantren. Jika tahun ini tidak memungkinkan, tentu saja bisa diagendakan pada tahun-tahun berikutnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 23 Januari 2017

PMII Pacitan Adakan Mapaba

Pacitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan melaksanakan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). Kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan terhadap PMII sekaligus perekrutan anggota baru. Bagi mahasiswa yang ikut Mapaba telah dinyatakan sebagai anggota PMII akan dikader ke jenjang berikutnya.

Ketua Panitia Mapaba, Amrudin, Ahad (2/12/12) mengatakan, acara tersebut dipusatkan di Balai Desa Purworejo Pacitan. Kegiatan dilaksanakan dari tanggal 30 November  hingga 2 Desember 2012.

PMII Pacitan Adakan Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pacitan Adakan Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pacitan Adakan Mapaba

Dikatakannya, Mapaba bertujuan membentuk kader militan yang Kritis Transformatif serta memiliki akhlakul karimah yang bernafaskan Islam sesuai dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaa’ah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diharapkan kegiatan ini dapat memberi motivasi karena merupakan awal pengenalan terhadap PMII sehingga organisasi berbasis mahasiswa melahirkan keintelektualan, berwawasan luas dan berperan sebagai sosial kontrol bagi pemerintahan kabupaten Pacitan khususnya dan umumnya pada bangsa Indonesia ini.

“Semoga kegiatan ini menjadikan kader yang terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab mengamalkan ilmunya,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam Pembukaan Mapaba yang  bertemakan “Implementasi Potensi Intelektual Kader Dalam Mencetak Generasi Yang Kritis Transformatif” itu di buka oleh Wakhuri, salah satu Majelis Pembina Cabang PMII Pacitan. 

Dalam sambutanya ia menekankan kepada peserta Mapaba pada nantinya benar-benar menjadi keder militan yang multi talenta serta mau dan mampu memperjangkan nilai-nilai Ahlusunah Wal Jamaa’ah sebagai Manhaj (landasan) untuk berdzikir, berfikir dan beramal sholeh.

Mantan Aktifis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sekarang juga menjadi Kepala Seksi Pekapontren di Kementrian Agama Kabupaten Pacitan itu juga menegaskan bahwa PMII adalah organisasi yang berbasis kaderisasi yang mampu melahirkan Tokoh-tokoh yang besar. Setiap kader yang sudah siap secara Intelektual, Emosional, dan Spiritual harus kembali kepada masyarakatnya dan mengimplementasikan apa yang sudah dimiliki, karena hal itu adalah bentuk dari aktualisasi Nilai Dasar Pergerakan (NDP).

Acara pembukaan Mapaba ini juga dihadiri Ketua Lembaga Kajian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Cabang Pacitan, Muhammad Munaji, Direktur Komunitas Insan Peduli Anak Sekolah (Kipas) Muhammad Zafri Wicaksana, dan sejumlah Majelis Pembina Cabang PMII Pacitan diantaranya Dodik Prasetyo, yang juga Direktur Prasetya Institute.

Materi yang disampaikan dalam Mapaba sesuai dengan  kurikulum kaderisasi yang dirumuskan PB PMII yang garis besarnya tentang Mahasiswa, Islam Indonesia (Aswaja), dan Ke Indonesiaan. Sedangkan pemateri dari Pengurus Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan, Pengurus Cabang PMII Pacitan, dan Alumni PMII dari berbagai kota yang berdomisili di Pacitan.

Kegiatan diikuti oleh puluhan peserta itu berasal dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Pacitan, diantaranya STAI NU Pacitan, STKIP PGRI Pacitan, dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Pacitan berakhir dengan pembacaan Sumpah Mahasiswa Indonesia yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan Sapto Pitoyo dan dilanjutkan pengukuhan (pembaiatan) yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII Cabang Pacitan Agus Salim. Acara pembaiatan berjalan dengan lancar dan penuh khidmat.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Zaenal Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah