Minggu, 30 Juli 2017

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Rabat,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Program Mahasiswa Kelas Internasional mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAINU) Jakarta di Universitas Ibnu Tufail Kenitra berakhir. Setelah 11 bulan menimba ilmu di kampus itu, mereka harus kembali ke tanah air.  

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Perpisahan program tersebut digelar di Griya Mahasiswa Kenitra pada Kamis malam 11 Desember 2014. Pada kesempatan itu, hadir Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyub, H. Husnul Amal Mas’ud dan Prabowo Wiratmoko Jati mewakili Dewan Mustasyar PCINU. Hadir pula perwakilan KBRI, anggota PPI Maroko serta beberapa warga Maroko.

Kia Mujib yang juga Ketua Badan Pengawas Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa Maroko merupakan salah satu pusat keilmuan Islam. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya literatur- keislaman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di negara Maroko pula, tambah dia, tempat lahirnya para cendekiawan islam yang menyebarkan Islam hingga ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. “Di Indonesia ada beberapa kuburan yang tidak diketahui identitas jelasnya. Tetapi di nama-nama, di batu nisannya bertuliskan maghribi yang berarti berasal dari Maroko”.

Ia berpandangan, tidak menutup kemungkinan, corak keislaman Indonesia memang sebagian dibawa oleh ulama Maroko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua rombongan mahasiswa STAINU Ooz Fauzi menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah turut membantu dan melancarkan kegiatan tersebut.

Ia mengutip adagium yang sudah masyhur di Maroko “idza kunta fil maghrib fala tastaghrib”. Apabila kamu berada di maghrib (Maroko) maka janganlah kamu terheran-heran (dengan apa yang terjadi di sini). “Seyogyanya kita (kawan-kawan STAINU) agar mengambil segala hal yang baik dari Maroko dan membuang hal-hal yang tidak baik dari sini,” ujarnya.

Sementara Abdul Karim Jariri, ustadz di Maroko, menutup doa perpishan itu. Ia mengaku senang berinteraksi dengan para mahasiswa yang belajar di Maroko. (Fairuz Ainun Naim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 28 Juli 2017

10 Tahun NU Online

Kebudayaan adalah ‘makhluk’ besar setelah manusia. Ia melekat pada diri manusia, berupa ‘bentuk’ dan ‘isi’ sekaligus. Kebudayaanlah yang menilai seorang anak manusia dinilai indah atau buruk, dinilai berbudaya atau tidak berbudaya.?

Dan bukan mungkin, kebudayaan merupakan ‘wahyu’ terbesar karena diberikan kepada semua jenis manusia, bukan hanya kepada para rasul dan nabi.

10 Tahun NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Tahun NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Tahun NU Online

Sampai di sini, mari kita meloncat, menelusuri Nahdlatul Ulama dan menjelajahi pesantren. Dan mari kita meloncat juga pada kesimpulan-kesimpulan tentang pesantren dan kebudayaan yang menggerakkan dan mengitarinya.?

Paling tidak, ada tiga planggeran yang dijadikan pijakan kebudayaan pesantren: nilai-nilai keagamaan atau ketuhanan, penghargaan pada tradisi atau masa lalu, dan keterbukaan kepada yang baru. Dan dengan kesadaran penuh, ketiga hal itu membuat pesantren meniscayakan kebhinekaan anak cucu Adam dan segenap kebudayaannya dan keyakinannya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tiga planggeran tersebut mengejewantah dalam praktik, sikap, dan tindakan keagamaan, mewujud dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi visi dan cita-cita untuk melindungi, melangsungkan, mengembangkan peradaban manusia.

Tiga planggeran itulah yang menjadi sandaran almagfurlah KH Ahmad Shiddiq dalam menyusun ‘Khittah Nahdlatul Ulama’ atau akrab dengan sebutan ‘Khittah Nahdliyah’. Sebelumnya telah tercantum, lebih dahulu dalam Qonun Asasi oleh Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1926) serta risalah Mabadi Khorio Ummah yang dihasilkan muktamar NU di Magelang 1939.

Secuil catatan di atas menjadi latar belakang Pondok Pesantren Attauhidiyyah media resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk melakukan ikhtiar-ikhtiar kebudayaan yang sudah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Rangkaian sepuluh tahun Pondok Pesantren Attauhidiyyah (2003-2013) dibagi dalam empat sesi, yang diadakan selama empat bulan berturut-turut, Maret, April, Mei, dan Juni.?

Sesi pertama mengetengahkan gerak kebudayaan yang berlangsung di pesantren dan komunitas-komunitas NU. Sejak awal bulan ini, kami mengabarkan gerak-gerak kesenian dan kebudayaan yang ada di pelbagai daerah, di Subang ada genjring, di Solo kelompok shalawat, di Jepara kelompok ketoprak, ada pergerakan pemikiran, hingga humor beraroma kebudayaan muncul di bulan ini.?

Sesi pertama ini akan ditutup dengn pidato kebudayaan dan Asrul Sani Award yang akan digelar di PBNU, Kamis malam, 28 Maret 2013.

Sesi kedua atau bulan April, Pondok Pesantren Attauhidiyyah mengusung tema teknologi. Ada peluncuran karya-karya teknologi modern dari Pondok Pesantren Attauhidiyyah ataupun dari komunitas NU yang tak terikat secara struktural dengan NU, tapi mereka adalah jamaah setia NU yang memiliki intensitas dengan teknologi.?

Sesi ketiga atau bulan Mei, menggerakkan literasi pesantren. Pada sesi ini ada pameran kitab-kitab pesantren berbahasa daerah, seminar-seminar, dan festival-festival kepenulisan bertema pesantren.?

Sesi keempat ikhtitam. Dalam sesi ini, kami memiliki azam menampilkan Rais Aam PBNU KH. A. Sahal Mahfudz untuk memperikan taushiyah dan doa.?

Dari semua itu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah hanya berharap satu hal saja, yakni ada yang baru dalam melanjutkan hubungan berjama’ah dan menggerakkan jam’iyah: Nahdlatul Ulama.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 23 Juli 2017

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur, meluncurkan buku baru, Kamis (17/8). Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said tersebut berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah pengasuh dan ratusan guru dari lembaga pendidikan formal yang ada di pesantren setempat. Acara diawali dengan istighatsah dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke-72 RI.

"Peluncuran buku ini memang bersamaan dengan hari kemerdekaan," kata Ainur Rofiq al-Amin usai kegiatan.

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku

Menurut dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut, memang kahadiran buku ini adalah sebagai semangat perjuangan yakni membangun negeri dan membangun umat muslim yang moderat, lanjutnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Buku setebal 500 halaman tersebut berjudul “Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah” dan ditulis oleh dzurriyah atau keluarga pesantren. "Mereka berjumlah 8 orang yakni Heru Najib, Syifa Malik, Nidaus Saadah, Basyiratul Hidayah, Abdul Jabbar Hubbi, Wafiyul Ahdi, Khalid Masud dan saya sendiri," kata Gus Rofik, sapaan akrabnya.

Sebagai gambaran, Gus Rofik mengemukakan bahwa buku itu berisi seputar biografi, sejarah sepak terjang perjuangan, sejumlah kisah, dan beragam sisi dari sosok para ulama dan kiai di Pesantren Tambakberas. "Tentu saja dengan tokoh pentingnya adalah KH Abdul Wahab Chasbullah," terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kelebihan buku ini ditulis dengan acuan dari puluhan saksi sejarah, dan referensi utama yang berbicara tentang NU dan buku kuno lainnya. "Karena itu penulisnya adalah dzurriyah Tambakberas yang memiliki latarbelakang sebagai kiai, akademisi, hingga peneliti," kata salah seorang penulis, Heru Najib.

Sebenarnya, peluncuran buku tersebut sebagai percobaan untuk mengetahui tanggapan pasar. "Alhamdulillah hari ini bisa terjual hingga seribu eksemplar," kata Gus Heru, sapaan akrabnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 21 Juli 2017

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) angkatan XVI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Nusantara (Uninus) dihadiri salah seorang pendiri PMII, KH Nuril Huda.

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII

Mapaba bertema Gerakan Ideologisasi versus Deregenerasi dan globalisasi tersebut, digelar di kantor PWNU Jawa Barat, di Bandung, Jumat (19/10) hingga Ahad (21/10).

Pada kesempatan itu, KH Nuril Huda yang datang pada Sabtu, (20/10) bercerita sejarah pendirian PMII pada tahun 1960. Saat itu, ada empat partai terkuat, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Setiap partai mempunyai kader di kalangan mahasiswa, PNI punya GMNI, Masyumi punya HMI, PKI punya CGMI, partai NU belum punya,” katanya.

Kemudian ia 13 orang mahasiswa NU menghadap kepada Ketua Umum PBNU waktu, KH Idham Chalid, untuk menanyakan perlun tidaknya dibentuk organisasi mahasiswa NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Perlu!” jawab Kiai Idham Chalid yang memipin NU selama 25 tahun. Jawaban dia, diamini salah seorang Syuriyah PBNU waktu itu, KH Anwar Musaddad.

Dengan demikian, sambung KH Nuril, PMII adalah anak sah NU. Meski kemudian PMII secara struktural pisah, tapi hakikatnya masih anak NU, “Itu hanyalah strategi saja. Benang merahnya masih ada, masih anak NU.”

Sebagai anak muda NU, maka PMII adalah organisasi intelektual berhaluan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Karena itulah ia menjelaskan perbedaan aliran keagamaan dalam Islam yang tumbuh di berbagai organisasi di Indonesia.

Mapaba tersebut diikuti 80 orang mahasiswa dan mahasiswi. Selain Uninus, ikut pula beberapa peserta dari kampus sekitar Bandung.

Redaktur:  A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali

Banyumas, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Warga Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen Banyumas, Jawa Tengah khususnya warga jamiyah Nahdlatul Ulama kembali tengah berencana kembali membangun Masjid Jami At Taqwa yang akhir Januari 2014 lalu, roboh diterpa gempa bumi.

Desain dan anggaran untuk pembangunan Masjid Jami At Taqwa Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen hingga kemarin pertengahan April 2014 ini masih terus dibahas. Pasalnya pembangunan masjid ini  perlu perencanaan desain konstruksi yang matang. Selain itu, anggaran pembangunan masjid juga masih terus dikumpulkan dari berbagai sumber.

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali

Dalam musyawarah panitia pembangunan Masjid Jami At Taqwa Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen, Kamis (17/4) malam terungkap selain menghimpun swadaya dari masyarakat dan donatur lainya, panitia juga tengah menunggu kepastian bantuan penanganan gempa yang dijanjikan Pemkab Banyumas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Yul Khoerudin mengatakan usai gempat terjadi  hingga pertengahan April 2014 ini telah terkumpul uang bantuan sebanyak 107 juta. Selain itu juga ada sekitar 425 sak semen, 315 dus keramik dan berbagai material bangunan lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami harap berbagai bantuan yang terkumpul bisa menjadi modal awal pembangunan. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami," kata Yul Khoerudin.

Tokoh ulama setempat, Habib Muhammad Al Habsyi yang juga takmir masjid mengatakan, panitia pembangunan terus bermusyawarah secara rutin tiap minggu untuk membahas langkah lanjutan untuk pembangunan masjid ini.

Komunikasi dan koordinasi panitia dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak lain juga terus diintensifkan untuk memperlancar proses pembangunan kembali masjid warga ini.

"Kami dari warga juga tidak akan berpangku tangan terkait penanganan pasca musibah gempa yang membuat ambruk masjid kami. Makanya kami dari panitia bersama pemerintah akan duduk bersama untuk membahas secara matang konsep detail dan anggaran pembangunan masjid ini. Semoga secepatnya pembangunan ini terealisasi," jelasnya.

Petugas Posko Bencana Gempa Masjid Jami At Taqwa, Muhammad Tohar Fauzi mengatakan bagi siapa saja yang terketuk hatinya untuk membantu pembangunan masjid dapat langsung menghubungi petugas posko bencana di nomor ponsel 081391131030 (Muhammad Tohar Fauzi) atau dating langsung ke Desa Kranggan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.

Selain itu, panitia pembangunan masjid juga menerima bantuan melalui rekening BRI Syariah KCP Ajibarang 1015829687.

Seperti diketahui, akibat gempa bumi yang berpusat di wilayah barat daya Kebumen akhir Januari 2014 lalu, membawa dampak bagi rusaknya ratusan rumah di Desa Karangklesem Kecamatan Pekuncen. Efek terdahsyat dari gempa juga mengakibatkan Masjid Jami At Taqwa di Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen ambruk. Pasca ambruk, warga bersama pemerintah daerah dibantu berbagai pihak lain mengadakan perataan lokasi masjid dan merencanakan pembangunan kembali.(susanto/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Kajian Islam, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 17 Juli 2017

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Puti Hasni mendukung gerakan ekonomi IPPNU Garut dalam pengembangan industri kuliner kreatif untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dirintis dan dikembangkan rekanita IPPNU Garut. Kepekaan dalam melihat peluang memang terlihat dari upaya konkret dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada," kata Puti kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Rabu (10/2).

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Ia menegaskan bahwa IPPNU akan terus mendorong para kadernya menciptakan kreasi-kreasi, inovasi, dan jeli melihat potensi serta peluang pasar dalam memanfaatkan bonus demografi sebagai jawaban menghadapi MEA.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Upaya ke depan, pelatihan-pelatihan berbasis kewirausahaan akan makin ditingkatkan dan ditindaklanjuti secara serius oleh IPPNU," ujarnya.

Puti berharap IPPNU di semua lini baik wilayah, cabang, anak cabang maupun ranting di daerah lain harus dapat termotivasi dan tidak boleh kalah dengan IPPNU Garut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing daerah yang tentunya beragam, saya berharap kader-kader IPPNU dapat mewujudkan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan selera pasar di era MEA, pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Budaya, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 15 Juli 2017

Hukum Gerakan Hampir Berbarengan Makmum dan Imam

Ada sebagian makmum yang mengikuti shalat berjamaah shalat kurang memperhatikan gerakan dan bacaan imam secara detail sehingga menjadikan mereka melakukan gerakan dan bacaan bersamaan persis dengan imam. Hal ini hukumnya makruh.

Akibatnya makmum bisa kehilangan fadhilah (keutamaan) jamaah khusus pada rukun (filiy/qauliy) yang ia kerjakan bersama persis dengan imam tersebut. Artinya bukan berarti jika satu gerakan saja makmum melakukan bersama imam kemudian kehilangan semua fadhilah jamaah secara total.

Hukum Gerakan Hampir Berbarengan Makmum dan Imam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Gerakan Hampir Berbarengan Makmum dan Imam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Gerakan Hampir Berbarengan Makmum dan Imam

Andai saja makmum melakukan gerakan bersama persis dengan imam pada saat ruku‘, maka ruku‘ yang dilakukan bersama imam itulah ia tidak mendapatkan fadhilah 27 derajatnya ruku‘. Selain ruku‘ tersebut ia tetap mendapat fadhilah jamaah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Sayyid Bakri Syatha.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya, “Fadhilah jamaah menjadi hilang, maksudnya pada bagian yang makruh melakukannya secara bersama-sama saja. Jika kemakruhan tadi dilakukan bersamaan saat ruku maka nilai 27 kali ruku‘lah yang menjadi hilang,” (I‘anatut Thalibin, juz II, halaman 39).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemakruhan di atas apabila makmum melakukan dengan sengaja baik gerakan atau bacaan walaupun pada shalat sirriyah (pelan) bersama persis dengan imam. Jika kebersamaan hanya kebetulan yang tidak disengaja atau makmum memang tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah makruh, maka hukumnya tidak makruh.

Yang tidak makruh lagi adalah ketika makmum sengaja bersama-sama dengan imam pada saat imam membaca Al-Fatihah karena makmum khawatir jika tidak bersama, ia akan tertinggal ruku‘nya imam.

Seperti makmum pada shalat tarawih, misalnya. Makmum boleh membaca Al-Fatihah di waktu imam sedang membaca Al-Fatihah jika memang makmum khawatir apabila Al-Fatihah dibaca tidak secara bersama imam, ia akan tertinggal ruku‘nya.

?]: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Faidah) dimakruhkan bersamaan dengan imam dalam berbagai gerakan shalat. Begitu pula ucapan-ucapannya (aqwalus shalah) menurut pendapat muktamad. Fadhilah jamaah hilang pada rukun yang tepat ia jalankan dengan membarengi imam meskipun pada shalat yang dengan bacaan pelan (sirriyyah) selama makmum tidak mengetahui jika ia mengakhirkan sampai imam selesai membaca Al-Fatihah justru akan menjadikan makmum tertinggal ruku‘. Begitulah? yang dikatakan Ali Syibramalisi. Ar-Rasyidi berpendapat bahwa yang menjadikan hilang fadhilah hanya terbatas pada rukun qauliy. Adapun kemakruhan bersama persis itu jika memang disengaja, tidak berlaku apabila terjadi secara kebetulan atau makmum tidak mengetahui bahwa hal itu merupakan sesuatu yang makruh sebagaimana pendapat Imam Syaubari, (Lihat Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr, halaman 119).

Oleh karena itu, sebaiknya imam mengetahui enam waktu sunah untuk diam sejenak dalam shalat yang meliputi antara takbiratul ihram dan iftitah, iftitah dan ta‘awudz, ta‘awudz dan Al-Fatihah, Al-Fatihah dan "amin", "amin" dan surat, dan antara surat dan ruku‘, (Lihat Safinatun Naja, Darul Minhaj, halaman 42).

Praktiknya, imam membaca Al-Fatihah, makmum mendengarkan. Setelah membaca "amin" bersama-sama, imam diam sejenak sekadar cukup bagi makmum untuk membaca Al-Fatihah. Di saat inilah makmum membaca Al-Fatihah. Setelah sekira selesai, imam kemudian membaca surat. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Amalan, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah