Jumat, 27 Juni 2014

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Warga Amerika Serikat menempatkan posisi Gus Dur sekelas dengan pemimpin gerakan perubahan di AS Martin Luther King. Mereka mengapresiasi pemikiran dan gerakan Gus Dur dalam memperjuangkan nasib kelompok minoritas.

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King

Demikian disampaikan Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake dalam lawatan kerjanya di pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (11/12) pagi.

“Di Amerika Serikat, Sosok Gus Dur disamakan dengan Martin Luther King,” kata Blake.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara King sendiri, Blake menyatakan, aktivis HAM dan pemimpin gerakan hak sipil Afrika-Amerika. Sedangkan ajaran dan kepemimpinan Gus Dur memiliki peran penting dalam membentuk demokrasi yang beragam, toleran dan aktif seperti yang terlihat saat ini di Indonesia.

“Saya sangat senang dengan gagasan Gus Dur. Demokrasi, HAM, pluralisme dan anti-kekerasan tetap bertahan dan diaplikasikan oleh generasi muda Indonesia,” Blake menambahkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masyarakat AS sudah semakin memahami Islam sehingga tidak merasa takut berlebih dengan kehadiran Islam di Amerika. “Bahkan agama Islam sekarang di AS berkembang pesat. Di beberapa negara bagian, Islam merupakan agama kedua terbanyak yang dianut masyarakat,” kata Blake dalam bahasa Inggris.

Pengasuh pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid menyatakan dirinya akan melakukan pertemuan lanjutan dengan Blake untuk memaparkan pemikirna Gus Dur secara detil. Ia juga sempat menawarkan pendidikan pemikiran Gus Dur bagi siswa dan mahasiswa AS untuk tinggal beberapa bulan di pesantren Tebuireng. (Abror/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Tokoh, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 12 Juni 2014

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dewan juri Kompetisi Film Pendek Dokumenter Muktamar ke-33 NU menetapkan 15 nominasi film sebagai nominasi juara. Keputusan tersebut ditetapkan setelah pertemuan dewan juri di gedung PBNU sehari sebelum Lebaran atau Kamis (16/7) lalu.

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU

Berikut adalah ringkasan isi ke-15 film tersebut:

Inoeng Silat berdurasi 13 menit 23 detik (2014) dengan sutradara Miftha Yuslukhalbi & Nadia Susera. Film ini bercerita tentang perempuan belajar beladiri yang dianggap tabu di Aceh masa kini. Padahal jaman dahulu perempuan Aceh mahir beladiri untuk menjaga diri dari segala marabahaya. Dalam Kenangan berdurasi 5 menit 12 detik (2014) sutradara Canggih Setyawan. Film ini bererita tentang Heri Susetyo, seorang Tionghoa yang memutuskan masuk Islam dan mendirikan sebuah masjid. Bagaimana dia memandang seorang Gus Dur? Al Ghorib: Sebuah Kisah tentang Kemungkinan yang Asing berdurasi 29 menit 10 detik (2015) dengan sutradara Vedy Santoso. Film ini mengisahkan Dr. Katrin Bandel, mualaf asal Jerman yang memilih dan menjalani kehidupan nyantri di Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Suluk Batik-Kitab berdurasi 16 menit 24 detik (2015) dengan sutradara Abdul Syukur & Dwi Rahmanto. Film ini mengisahkan perjalanan diri membangun seni lingkungan bermediakan batik sebagai acuan dan pacuan pemahaman kedepan. Batik sebagai bagian seni rupa tradisional tak lepas dari pijakan kesatuan antrara nilai jasmani dan rohani. Selokan Mataram berdurasi 30 menit (2015) dengan sutradara Setiyo Junaedi. Selokan Mataram merupakan kanal yang membelah Yogyakarta. Dibangun dengan darah dan air mata. Sebuah langkah penting untuk jalur pengairan utama kehidupan pertanian masyarakat Yogyakarta. Tata Cara Tante Cora berdurasi 12 menit 48 detik (2013) sutradara Muh. Alif Rasman. Film ini tentang tante Cora. Ini tentang betapa kayanya Allah yang menjadikan manusia beraneka ragam, bagaimana mengedepankan kebebasan dalam memilih jalan hidup, dan berlapang dada dalam menghargai perbedaan. Kisah Nglurah: Potret Toleransi Umat Islam & Hindu Jawa. Film berdurasi 6 menit 30 detik diproduksi tahun 2015 oleh sutradara Nugroho Adi Saputro. Seperti kebanyakan desa di pulau Jawa, desa Nglurah mayoritas berpenduduk muslim. Bagaimana bentuk interaksi antara warga desa Nglurah dengan pemeluk agama Hindu yang beribadah di candi Menggung yang terletak di wilayah desa tersebut? Film Teungku Rangkang berdurasi 16 menit 30 detik (2014) dengan sutradara Muhammad Akbar Rafsanjani & Muhajir. Film ini bercerita tentang metode Iqra dalam membaca & belajar Al Quran semakin menggeser metode Qaidah Baghdadiyah (Aleh-Ba) di penjuru Aceh. Teungku Hanifuddin dari Gampong Blang Asan, Sigli, berusaha terus melestarikan qaidah tersebut agar tak punah ditelan waktu. Indah Itu Pesantren berdurasi 7 menit (2015) dengan sutradara Prajanata Bagiananda Mulia. Masa depan seorang anak pada akhirnya bergantung pada cara ia dididik dalam memperoleh ilmu. Benarkah menuntut ilmu di pesantren itu membosankan dan mengerikan? Bagaimana pula dengan masa depan lulusan pesantren? Di Bumi Tuhan, film berdurasi 22 menit 41 detik (2015) besutan sutradara Taufan Latief Alimudin Akbar. Film ini tentang kerukunan, pemuda, hubungan antarmanusia yang hidup bersama di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama, bersama-sama di bumi Tuhan. Pustaka di Lembah Gunung Slamet berdurasi 15 menit (2015) buah karya sutradara Zandy Ivanda. Film ini merekam Ridwan Sufuri yang prihatin dengan minimnya pengetahuan warga sekitar rumahnya. Ia berinisiatif membuat perpustakaan keliling. Sejauh mana usahanya itu menggapai manfaat? Film Dalae berdurasi 20 menit (2014) oleh sutradara Arziqi Mahlil & Munzir. Film ini menceritakan pemuda di desa berusaha melestarikan Dalail. Sebaliknya dengan pemuda kota. Apa penyebab pemuda kita tidak begitu peduli kepada budaya Dalail? Mableun, film berdurasi 20 menit karya sutradara Faisal Ilyas & Samsul pada 2013. Film ini mengangkat peran seorang nenek yang membantu masyarakat dalam proses persalinan ditengah ketidakhadiran bidan Puskesmas di Pulo Aceh, Aceh Besar. Pelangi di Tepian Samudera buah karya sutradara Mukhlas Syah Walad & Fuad Ridzqidari, film berdurasi 20 menit diproduksi tahun 2014. Film ini mengungkap perjuangan seorang Mukim di tengah pergulatan ekonomi. Ia meyakini Kenduri Laut menjadi simbol pemersatu masyarakat dalam sebuah kearifan lokal. Bulan Sabit di Kampung Naga, film berdurasi 19 menit 52 detik ini diproduksi tahun 2015 karya sutradara M. Iskandar Tri Gunawan. Film ini mengungkap Islam membawa misi ‘rahmatan lil ‘alamin’, bukan ‘rahmatan lil muslimin’, apalagi ‘rahmatan lil nahdliyin’. Semangat menjadi rahmat bagi semesta alam ini bisa mewujud di lingkungan Pondok Pesantren Kauman yang terletak di Pecinan kota Lasem-Rembang. Interaksi multikultur yang berlangsung lama ini telah membangun kesadaran akan pentingnya dialog antarpihak.? Kompetisi yang dibuka 20 Juni hingga 10 Juli 2015 ini diikuti 69 film. Menurut salah seorang anggota tim kreatif Muktamar ke-33 NU, Hamzah Sahal, bahwa jumlah peserta melebihi target. “Kami menargetkan 30 judul film yang masuk. Tapi ternyata ada 69 judul film. Sebetulnya, kata Hamzah, ada 73 judul film, tapi yang 4 judul masuk setelah batas akhir penerimaan. Jadi, batal dengan sendirinya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ke-69 judul film tersebut melibatkan tidak kurang 75 sutradara muda yang berasal dari 13 provinsi. Jawa Tengah, Tawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Daerah Istimewa Jogjakarta paling banyak mengirimkan karya.

Dewan juri yang terdiri dari Nurman Hakim, Bebi Hasibuan, Bowo Leksono, Aman Sugandi, Dimas Jayasrana akan menentukan pemenang pertama, kedua, dan ketiga, dengan hadiah total 45 juta. Pemenang akan diumumkan di Pondok Pesantren Attauhidiyyah pada 1 Agustus 2015. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

(Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Mei 2014

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Bupati Tegal Ki Enthus Susmono menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tegal menolak 5 Hari Belajar yang merupakan kebijakan Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Menurutnya, kebijakan ini akan mematikan pendidikan Madrasah dan Taman Pendidikan Quran (TPQ).

Padahal, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, tetapi yang lebih penting adalah pendidikan agama yang di dalamnya terdapat pendidikan akhlak.

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

"Perhitungan saya kalau sekolah 5 hari, anak sekolah pulang sore sekitar pukul 16.00. Lalu pendidikan Madrasah dan TPQ mau dikemanakan?” tegas Ki Enthus dengan nada bertanya saat acara peringatan Nuzulul Quran tingkat Kabupaten Tegal di Pendopo Rumah Dinas Bupati Tegal, Senin (12/6) malam.

Mantan Kasatkorcab Banser Tegal itu mengatakan, pendidikan formal memang penting, tetapi akhlak generasi bangsa itu jauh lebih penting.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya siap mendapatkan hukuman apapun kalau sikap ini dianggap salah dan menentang kebijakan itu, karena ini demi masa depan bangsa yang berakhlak," tandasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan itu, Ki Enthus yang mengenakan celana batik khas Tegalan dan jaket Banser langsung memerintahkan Kepala Dinas Dikbud, Salu Panggalo untuk menyurati Mendikbud.

"Pak Salu, besok pagi surati (Selasa.red) surati Mendikbud, apapun risikonya saya yang tanda tangan. Saya juga siap dipanggil oleh Menteri, bahkan saya juga siap bahtsul masail tentang itu," pungkasnya.

Acara ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Tegal KH Chambali Utsman, sejumlah ulama, anggota Forkompimda Kapolres Tegal, Dandim 0712, Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Tegal, para Kepala OPD, para ulama dan tokoh masyarakat Kabupaten Tegal serta ratusan anggota Banser. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 09 Mei 2014

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menggelar Finalisasi Draf PMA tentang Penilaian Buku Pendidikan Agama dan Keagamaan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi (Tadqiq al-Kutub).

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq

Kegiatan tersebut dijadwakan selama tiga hari, Ahad-Selasa, 27-29 Agustus 2017 di Hotel Harper Jl. Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. Acara dibuka resmi Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud, Ahad (27/8) malam.

Dalam pidato pengarahannya, Mas’ud menyatakan bergembira dan menyambut positif terkait rencana penerbitan PMA tadqiq atau penilaian buku. Karena sangat minim sekali aturan tentang kelitbangan. “Termasuk tentang tadqiq atau penilaian buku ini sangat akurat sekali,” kata dia.

   

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mas’ud menyebut kebetulan ide pembuatan draft sesuai dengan inovasi yang ia lakukan dalam proyek perubahan pada Diklat Pimpinan di Lembaga Administrasi Negara. “Saya melihat miskinnya regulasi terkait Litbang dan Diklat. Kalau tidak ada aturan yang mengikat ya kita nggak bisa melakukan apa-apa. Jadi, kita butuhkan regulasi yang kuat di antaranya berangkat dari PMA,” tandasnya.

Ia menambahkan, dalam proyek perubahan tersebut Mas’ud menggagas optimalisasi sistem penjaminan mutu dan inovasi pemanfaatan hasil kelitbangan. Selama ini belum maksimal. Dampaknya, banyak hasil penelitian yang belum bisa dimanfaatkan dengan baik. “Bahasa Jawa-nya muspro. Makanya ini suatu keharusan ada regulasi yang kuat di atas, dan kami lah yang menyiapkan,” tukasnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepala Puslitbang LKKMO Choirul Fuad Yusuf dalam laporannya mengatakan, kegiatan ini merupakan kerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga. Sebelumnya, lanjut Fuad, sejak 2016 Puslitbang Lektur telah membuat draft PMA tersebut. PMA ini bertujuan menyediakan dasar aturan (legal base) untuk memberikan penilaian terhadap buku teks dan pustaka pendidikan agama dan keagamaan.

Menurut adik kandung mantan Wakil Ketua Umum PBNU KH Slamet Effendi Yusuf (Alm.) ini, penilaian terhadap buku tersebut meliputi tiga hal. Pertama, menilai konsistensi dan validitas penulisan teks-teks keagamaan dalam buku teks dan pustaka di lingkungan pendidikan.

“Kedua, meminimalisasi terjadinya kesalahan, ikhtilaf atau perbedaan pendapat, dan ketidaksesuaian dalam penulisan teks-teks keagamaan, baik pada tataran praktis maupun substantif. Ketiga, menilai relevansi substansi buku dengan pemahaman keagamaan di Indonesia dalam kerangka NKRI,” paparnya.

Menurut Fuad, ada dua alasan lahirnya draft PMA tersebut. Pertama, alasan regulatif. Yakni UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Yang terbaru UU tahun 2017 yang menyebut perlunya menelaah buku ajar baik secara teks maupun nonteks,” ujarnya.

Kedua, lanjut dia, alasan empiris yang menunjukkan bahwa buku-buku yang sudah disahkan oleh BNSP hingga 2025 itu masih banyak bermasalah tentang penerjemahan Al-Qur’an dan proses transliterasi. “Satu lagi, ada Perpres tahun 2015 yang mengatur apapun terkait urusan agama menjadi tanggung jawab Kementerian Agama,” kata Fuad. 

Lokakarya yang diikuti 50 orang tersebut menghadirkan sejumlah pejabat dan akademisi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, antara lain Rektor Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Guru Besar Bidang Politik Islam Kontemporer Prof Noorhaidi Hasan PhD, serta para peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 25 April 2014

Kiai Marsudi: Muamalah Kenegaraan adalah Persoalan Ijtihadi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud menyampaikan, muamalah kenegaraan adalah persoalan ijtihadi sehingga tidak perlu menyalahkan atau menyamakan dengan negara lainnya.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara pada program dialog di salah satu stasiun televisi swasta, Selasa (5/12).

Kiai Marsudi: Muamalah Kenegaraan adalah Persoalan Ijtihadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Marsudi: Muamalah Kenegaraan adalah Persoalan Ijtihadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Marsudi: Muamalah Kenegaraan adalah Persoalan Ijtihadi

Kiai Marsudi mengawali pembicaraannya dengan mengungkapkan, bahwa para ulama di Malaysia, Maroko, dan Mesir menemukan bentuk negaranya masing-masing.

“Begitu pula para kiai-kiai, founding fathers Republik Indonesia ini ber-ijtihad ketemu bentuk negaranya adalah negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila,” tegasnya.

Menurutnya, bentuk kenegaraan yang telah melalui proses pemikiran para kiai dahulu sudah merupakan bentuk yang paling tepat dan sesuai bagi bangsa Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Model yang seperti kita ini (model kenegaraan) adalah model yang paling tepat dan sesuai untuk bangsa Indonesia. Inilah yang terpenting,” ujarnya. (Syakirnf/Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Aswaja, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 18 April 2014

NU Jawa Barat Layani Bimbingan Manasik Haji Gratis

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Menjelang keberangkatan calon jemaah haji tahun 1437 H/ 2016 M ini, Nahdlatul Ulama Jawa Barat melalui KBIH Safari Utama NU Jabar memberikan layanan mansik haji gratis bagi calon jamaah haji yang ada di Kota Bandung. Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Pengurus NU Jawa Barat, Kemenag, Dinkes, FKBIH Jawa Barat, MUI, dan akademisi.

Kegiatan ini berlangsung di kompleks PWNU Jawa Barat Jalan Terusan Galunggung No 09 Bandung mulai 18 Juni hingga 7 Agustus 2016 dengan 13 kali pertemuan.

NU Jawa Barat Layani Bimbingan Manasik Haji Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jawa Barat Layani Bimbingan Manasik Haji Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jawa Barat Layani Bimbingan Manasik Haji Gratis

Kegiatan bimbingan manasik haji gratis ini merupakan salah satu program pengabdian PWNU Jawa Barat terhadap umat sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab dalam upaya membantu pemerintah dalam suksesi penyelenggaaraan ibadah haji tahun 1437 H/ 2016 M.

“Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian NU terhadap umat, terutama bagi calon jemaah haji mandiri yang tidak tergabung dalam KBIH. Selain itu, program ini merupakan salah satu bentuk tanggung NU Jawa Barat dalam upaya membantu pemerintah agar penyelenggaraan ibadah haji berjalan maksimal,” tutur H Kurtubi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Materi yang disampaikan dalam manasik haji ini mencakup kebijakan pemerintah tentang haji, aqidah dan akhlak, fiqih ibadah perjalanan haji yang meliputi fiqih? thaharah dan shalat dalam perjalanan, fiqih ibadah haji dan umrah, fiqih wanita, kesehatan haji, pengenalan sejarah dan ziarah, dan psikologi haji serta hikmah ibadah haji. (Awis Saepuloh/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 13 Maret 2014

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial

Kendal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Remaja rawan ekonomi dan sosial, menjadi perhatian khusus bagi Pengurus Cabang Fatayat NU Kabupaten Tegal. Perhatian tersebut ditunjukannya dengan mengirimkan remaja-remaja rawan ekonomi dan sosial ke Panti Karya Wanita “Wanodyatama” Kendal untuk mendapatkan pelatihan produktif.

“Tiap semester, kami mengirim dan menjemput remaja-remaja putri dari Tegal ke sini,” tutur Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Tegal Dra. Hj Nurhasanah kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di sela penjemputan peserta pelatihan angkatan X yang telah selesai menempuh pelatihan, Jumat (25/6).

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial

Maksud penjemputan, lanjut Nurhasanah, untuk memberikan pelayanan kepada peserta dan pertanggungjawaban Pengurus Fatayat kepada orang tua peserta pelatihan. Selain itu, untuk melihat lebih dekat keberadaan Panti Karya Wanita “Wanodyatama” yang terletak di Jl. Gemuh Km.1 Cepiring Kendal itu. Termasuk melihat dengan seksama keberadaan fasilitas yang diberikan panti milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masih menurut Nurhasanah, pada angkatan X ini Fatayat NU Kab. Tegal mengirimkan 12 orang remaja putri. “Mereka, selama 6 bulan penuh mendapatkan pelatihan sesuai dengan bidang yang dia minati, antara lain menjahit dan merias” terangnya.

Dia lebih jauh menjelaskan, bahwa para peserta mendapatkan pelatihan secara gratis dan mendapatkan fasilitas berupa asrama dan akomodasi lainnya. Selain itu mendapatkan seperangkat Mesin Jahit bagi yang mengambil jurusan menjahit dan alat-alat salon kecantikan bagi yang mengambil jurusan tata rias.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah seorang peserta pelatihan, Ana mengaku senang berada di panti karena pembelajaran yang diberikan tidak hanya menjahit saja. Tetapi setiap hari diberi bimbingan baca tulis Al quran, wawasan ke bangsaan dari Kepolisian dan TNI, olah raga dan lainnya. “Saya senang, karena bisa menimba ilmu yang banyak,” tuturnya.

Sementara Eva, berjanji akan memanfaatkan ilmu yang telah didapatkannya selama enam bulan. “Insya Allah Saya akan langsung buka praktek salon, sepulang dari pelatihan ini,” tekadnya kuat.

Hingga angkatan X, remaja putri yang telah mendapatkan pelatihan di bawah bimbingan Fatayat NU Tegal sebanyak 167 orang. “Untuk angkatan XI, kami kembali mendapat alokasi sebanyak 15 orang,” lanjutnya.

Angkatan XI, tahap seleksi akan dilakukan pada 4 Juli mendatang di Gedung NU Jalan Raya Procot Slawi.

Menurut Kepala Panti Agus Dwi A., SH melalui Staf Rehabilitasi dan penyaluran M. Fachrudin, pada semester ini telah meluluskan 80 peserta diklat. “Alhamdulillah berjalan baik, hanya saja pada angkatan ini ada 6 orang yang tidak mengikuti sampai selesai karena alasan menikah,” tandasnya.

Ketua PC Fatayat di dampingi dua orang pengurus dan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, berjalan-jalan mengelilingi berbagai fasilitas yang tersedia. Nampak asyik Ketua Fatayat mengambil gambar untuk dijadikan koleksi organisasi. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, IMNU, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah