Jumat, 23 Mei 2014

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Bupati Tegal Ki Enthus Susmono menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tegal menolak 5 Hari Belajar yang merupakan kebijakan Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Menurutnya, kebijakan ini akan mematikan pendidikan Madrasah dan Taman Pendidikan Quran (TPQ).

Padahal, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, tetapi yang lebih penting adalah pendidikan agama yang di dalamnya terdapat pendidikan akhlak.

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

"Perhitungan saya kalau sekolah 5 hari, anak sekolah pulang sore sekitar pukul 16.00. Lalu pendidikan Madrasah dan TPQ mau dikemanakan?” tegas Ki Enthus dengan nada bertanya saat acara peringatan Nuzulul Quran tingkat Kabupaten Tegal di Pendopo Rumah Dinas Bupati Tegal, Senin (12/6) malam.

Mantan Kasatkorcab Banser Tegal itu mengatakan, pendidikan formal memang penting, tetapi akhlak generasi bangsa itu jauh lebih penting.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya siap mendapatkan hukuman apapun kalau sikap ini dianggap salah dan menentang kebijakan itu, karena ini demi masa depan bangsa yang berakhlak," tandasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan itu, Ki Enthus yang mengenakan celana batik khas Tegalan dan jaket Banser langsung memerintahkan Kepala Dinas Dikbud, Salu Panggalo untuk menyurati Mendikbud.

"Pak Salu, besok pagi surati (Selasa.red) surati Mendikbud, apapun risikonya saya yang tanda tangan. Saya juga siap dipanggil oleh Menteri, bahkan saya juga siap bahtsul masail tentang itu," pungkasnya.

Acara ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Tegal KH Chambali Utsman, sejumlah ulama, anggota Forkompimda Kapolres Tegal, Dandim 0712, Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Tegal, para Kepala OPD, para ulama dan tokoh masyarakat Kabupaten Tegal serta ratusan anggota Banser. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 09 Mei 2014

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menggelar Finalisasi Draf PMA tentang Penilaian Buku Pendidikan Agama dan Keagamaan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi (Tadqiq al-Kutub).

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq

Kegiatan tersebut dijadwakan selama tiga hari, Ahad-Selasa, 27-29 Agustus 2017 di Hotel Harper Jl. Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. Acara dibuka resmi Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud, Ahad (27/8) malam.

Dalam pidato pengarahannya, Mas’ud menyatakan bergembira dan menyambut positif terkait rencana penerbitan PMA tadqiq atau penilaian buku. Karena sangat minim sekali aturan tentang kelitbangan. “Termasuk tentang tadqiq atau penilaian buku ini sangat akurat sekali,” kata dia.

   

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mas’ud menyebut kebetulan ide pembuatan draft sesuai dengan inovasi yang ia lakukan dalam proyek perubahan pada Diklat Pimpinan di Lembaga Administrasi Negara. “Saya melihat miskinnya regulasi terkait Litbang dan Diklat. Kalau tidak ada aturan yang mengikat ya kita nggak bisa melakukan apa-apa. Jadi, kita butuhkan regulasi yang kuat di antaranya berangkat dari PMA,” tandasnya.

Ia menambahkan, dalam proyek perubahan tersebut Mas’ud menggagas optimalisasi sistem penjaminan mutu dan inovasi pemanfaatan hasil kelitbangan. Selama ini belum maksimal. Dampaknya, banyak hasil penelitian yang belum bisa dimanfaatkan dengan baik. “Bahasa Jawa-nya muspro. Makanya ini suatu keharusan ada regulasi yang kuat di atas, dan kami lah yang menyiapkan,” tukasnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepala Puslitbang LKKMO Choirul Fuad Yusuf dalam laporannya mengatakan, kegiatan ini merupakan kerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga. Sebelumnya, lanjut Fuad, sejak 2016 Puslitbang Lektur telah membuat draft PMA tersebut. PMA ini bertujuan menyediakan dasar aturan (legal base) untuk memberikan penilaian terhadap buku teks dan pustaka pendidikan agama dan keagamaan.

Menurut adik kandung mantan Wakil Ketua Umum PBNU KH Slamet Effendi Yusuf (Alm.) ini, penilaian terhadap buku tersebut meliputi tiga hal. Pertama, menilai konsistensi dan validitas penulisan teks-teks keagamaan dalam buku teks dan pustaka di lingkungan pendidikan.

“Kedua, meminimalisasi terjadinya kesalahan, ikhtilaf atau perbedaan pendapat, dan ketidaksesuaian dalam penulisan teks-teks keagamaan, baik pada tataran praktis maupun substantif. Ketiga, menilai relevansi substansi buku dengan pemahaman keagamaan di Indonesia dalam kerangka NKRI,” paparnya.

Menurut Fuad, ada dua alasan lahirnya draft PMA tersebut. Pertama, alasan regulatif. Yakni UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Yang terbaru UU tahun 2017 yang menyebut perlunya menelaah buku ajar baik secara teks maupun nonteks,” ujarnya.

Kedua, lanjut dia, alasan empiris yang menunjukkan bahwa buku-buku yang sudah disahkan oleh BNSP hingga 2025 itu masih banyak bermasalah tentang penerjemahan Al-Qur’an dan proses transliterasi. “Satu lagi, ada Perpres tahun 2015 yang mengatur apapun terkait urusan agama menjadi tanggung jawab Kementerian Agama,” kata Fuad. 

Lokakarya yang diikuti 50 orang tersebut menghadirkan sejumlah pejabat dan akademisi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, antara lain Rektor Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Guru Besar Bidang Politik Islam Kontemporer Prof Noorhaidi Hasan PhD, serta para peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 25 April 2014

Kiai Marsudi: Muamalah Kenegaraan adalah Persoalan Ijtihadi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud menyampaikan, muamalah kenegaraan adalah persoalan ijtihadi sehingga tidak perlu menyalahkan atau menyamakan dengan negara lainnya.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara pada program dialog di salah satu stasiun televisi swasta, Selasa (5/12).

Kiai Marsudi: Muamalah Kenegaraan adalah Persoalan Ijtihadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Marsudi: Muamalah Kenegaraan adalah Persoalan Ijtihadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Marsudi: Muamalah Kenegaraan adalah Persoalan Ijtihadi

Kiai Marsudi mengawali pembicaraannya dengan mengungkapkan, bahwa para ulama di Malaysia, Maroko, dan Mesir menemukan bentuk negaranya masing-masing.

“Begitu pula para kiai-kiai, founding fathers Republik Indonesia ini ber-ijtihad ketemu bentuk negaranya adalah negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila,” tegasnya.

Menurutnya, bentuk kenegaraan yang telah melalui proses pemikiran para kiai dahulu sudah merupakan bentuk yang paling tepat dan sesuai bagi bangsa Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Model yang seperti kita ini (model kenegaraan) adalah model yang paling tepat dan sesuai untuk bangsa Indonesia. Inilah yang terpenting,” ujarnya. (Syakirnf/Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Aswaja, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 18 April 2014

NU Jawa Barat Layani Bimbingan Manasik Haji Gratis

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Menjelang keberangkatan calon jemaah haji tahun 1437 H/ 2016 M ini, Nahdlatul Ulama Jawa Barat melalui KBIH Safari Utama NU Jabar memberikan layanan mansik haji gratis bagi calon jamaah haji yang ada di Kota Bandung. Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Pengurus NU Jawa Barat, Kemenag, Dinkes, FKBIH Jawa Barat, MUI, dan akademisi.

Kegiatan ini berlangsung di kompleks PWNU Jawa Barat Jalan Terusan Galunggung No 09 Bandung mulai 18 Juni hingga 7 Agustus 2016 dengan 13 kali pertemuan.

NU Jawa Barat Layani Bimbingan Manasik Haji Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jawa Barat Layani Bimbingan Manasik Haji Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jawa Barat Layani Bimbingan Manasik Haji Gratis

Kegiatan bimbingan manasik haji gratis ini merupakan salah satu program pengabdian PWNU Jawa Barat terhadap umat sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab dalam upaya membantu pemerintah dalam suksesi penyelenggaaraan ibadah haji tahun 1437 H/ 2016 M.

“Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian NU terhadap umat, terutama bagi calon jemaah haji mandiri yang tidak tergabung dalam KBIH. Selain itu, program ini merupakan salah satu bentuk tanggung NU Jawa Barat dalam upaya membantu pemerintah agar penyelenggaraan ibadah haji berjalan maksimal,” tutur H Kurtubi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Materi yang disampaikan dalam manasik haji ini mencakup kebijakan pemerintah tentang haji, aqidah dan akhlak, fiqih ibadah perjalanan haji yang meliputi fiqih? thaharah dan shalat dalam perjalanan, fiqih ibadah haji dan umrah, fiqih wanita, kesehatan haji, pengenalan sejarah dan ziarah, dan psikologi haji serta hikmah ibadah haji. (Awis Saepuloh/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 13 Maret 2014

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial

Kendal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Remaja rawan ekonomi dan sosial, menjadi perhatian khusus bagi Pengurus Cabang Fatayat NU Kabupaten Tegal. Perhatian tersebut ditunjukannya dengan mengirimkan remaja-remaja rawan ekonomi dan sosial ke Panti Karya Wanita “Wanodyatama” Kendal untuk mendapatkan pelatihan produktif.

“Tiap semester, kami mengirim dan menjemput remaja-remaja putri dari Tegal ke sini,” tutur Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Tegal Dra. Hj Nurhasanah kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di sela penjemputan peserta pelatihan angkatan X yang telah selesai menempuh pelatihan, Jumat (25/6).

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial

Maksud penjemputan, lanjut Nurhasanah, untuk memberikan pelayanan kepada peserta dan pertanggungjawaban Pengurus Fatayat kepada orang tua peserta pelatihan. Selain itu, untuk melihat lebih dekat keberadaan Panti Karya Wanita “Wanodyatama” yang terletak di Jl. Gemuh Km.1 Cepiring Kendal itu. Termasuk melihat dengan seksama keberadaan fasilitas yang diberikan panti milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masih menurut Nurhasanah, pada angkatan X ini Fatayat NU Kab. Tegal mengirimkan 12 orang remaja putri. “Mereka, selama 6 bulan penuh mendapatkan pelatihan sesuai dengan bidang yang dia minati, antara lain menjahit dan merias” terangnya.

Dia lebih jauh menjelaskan, bahwa para peserta mendapatkan pelatihan secara gratis dan mendapatkan fasilitas berupa asrama dan akomodasi lainnya. Selain itu mendapatkan seperangkat Mesin Jahit bagi yang mengambil jurusan menjahit dan alat-alat salon kecantikan bagi yang mengambil jurusan tata rias.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah seorang peserta pelatihan, Ana mengaku senang berada di panti karena pembelajaran yang diberikan tidak hanya menjahit saja. Tetapi setiap hari diberi bimbingan baca tulis Al quran, wawasan ke bangsaan dari Kepolisian dan TNI, olah raga dan lainnya. “Saya senang, karena bisa menimba ilmu yang banyak,” tuturnya.

Sementara Eva, berjanji akan memanfaatkan ilmu yang telah didapatkannya selama enam bulan. “Insya Allah Saya akan langsung buka praktek salon, sepulang dari pelatihan ini,” tekadnya kuat.

Hingga angkatan X, remaja putri yang telah mendapatkan pelatihan di bawah bimbingan Fatayat NU Tegal sebanyak 167 orang. “Untuk angkatan XI, kami kembali mendapat alokasi sebanyak 15 orang,” lanjutnya.

Angkatan XI, tahap seleksi akan dilakukan pada 4 Juli mendatang di Gedung NU Jalan Raya Procot Slawi.

Menurut Kepala Panti Agus Dwi A., SH melalui Staf Rehabilitasi dan penyaluran M. Fachrudin, pada semester ini telah meluluskan 80 peserta diklat. “Alhamdulillah berjalan baik, hanya saja pada angkatan ini ada 6 orang yang tidak mengikuti sampai selesai karena alasan menikah,” tandasnya.

Ketua PC Fatayat di dampingi dua orang pengurus dan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, berjalan-jalan mengelilingi berbagai fasilitas yang tersedia. Nampak asyik Ketua Fatayat mengambil gambar untuk dijadikan koleksi organisasi. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, IMNU, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 01 Maret 2014

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi

Bintan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, melaksanakan kegiatan rutin majelis dzikir dan shalawat, Sabtu (18/10), di Masjid Alhijrah yang merupakan kawasan lokalisasi terbesar di Kabupaten Bintan.

Ketua PC GP Ansor Bintan Zainal mengatakan, kegiatan bulanan ini merupakan upaya mensyiarkan dakwah Ahlussunah wal Jamaah dan membumikan shalawat.

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi

Tokoh masyarakat, Abdulloh berharap ada pembinaan lebih intens di kawasan ini. “Alhamdulillah dengan pembinaan seperti ini dapat mengurangi jumlah pekerja seks di lokalisasi ini,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir dalam kesempatan ini, sekretaris PCNU Bintan, Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Bintan, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bintan, dan warga Nahdliyin setempat. Acara dzikir dipimpin oleh ustadz Abu Fazla dan tausiyah disampaikan oleh Kiai Syaroni. (Majid/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 20 Februari 2014

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sidang lanjutan kasus penggelapan aset tanah milik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan terdakwa Salim Muhammad (75) diisi dengan kesaksian oleh 2 orang saksi yang diajukan terdakwa. Salim mengajukan saksi yang meringankan dalam sidang yang dipimpin Heru Pramono SH di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu.

Saksi pertama, H. Luwandi, salah seorang guru, menjelaskan, sekolah di bawah Yayasan Waqfiyah yang dimiliki PBNU itu telah dipindah. Ia mengaku telah menerima uang sebesar Rp 2 Milyar untuk pendirian bangunan dan sewa tanah selama 30 tahun.



Salim Ajukan Saksi yang Meringankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Salim Ajukan Saksi yang Meringankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan

Dalam negosiasi awal, ia meminta dana sebesar Rp 9 Milyar untuk merenovasi bangunan dan pembelian tanah. Namun, akhirnya tercapai kesepakatan sebesar Rp 2 Milyar. Sebenarnya ia masih membutuhkan dana untuk membangun tiga kelas, namun permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh Salim.

Saksi kedua, Liacun menjelaskan bahwa ia telah menerima uang sebesar Rp 1.25 Milyar dari Salim untuk pembelian tanah yang dimilikinya.

Kesaksian-kesaksian tersebut menguatkan bukti yang memang sudah ada sebelumnya. Namun, perihal penarikan deposito sebesar Rp 10 Milyar, pembelian rumah di Jalan KS Tubun senilai lebih dari Rp 1.2 M, pembelian rumah di Jalan MT Haryono dan Kedoya yang semuanya tidak ada kaitannya dengan kepentingan Yayasan Waqfiyah NU tidak dijelaskan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kasus ini bermula dari surat dari Pemerintah DKI Jakarta agar Yayasan Waqfiyah NU yang berlokasi di Kuningan Selatan meminta agar lembaga pendidikan ini dipindah karena lokasi tersebut ditetapkan bukan untuk daerah pendidikan. Dalam prosesnya, terdapat dana yang digunakan tidak sesuai dengan ketentuan yang ada, sehingga PBNU, selaku pemilik yayasan mengajukan tuntutan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Ubudiyah, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah