Minggu, 15 Januari 2017

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda Ansor Cabang Brebes meneguhkan tekad untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes. Pasalnya, Ansoriyin (sebutan anggota ansor) merupakan bagian dari warga masyarakat yang memiliki komitmen membangun daerah, bangsa dan negaranya.

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab

Tekad itu disampaikan Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Brebes Agus Mudrik Khaelani Al Khafidz saat melakukan audiensi di Pendopo Bupati Rabu malam (10/4).

Kegiatan Ansor yang meliputi bidang kepemudaan, kesehatan, ekonomi, pendidikan, ketrampilan, UMKM dan sebagainya membutuhkan sinergisitas dengan pemerintah, khususnya Pemkab. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Yang menjadi garapan Ansor, tentu sejalan dengan pemerintah kabupaten untuk itu perlu disinerjikan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diungkapkan oleh Mudrik, Ansor bukanlah organisasi politik dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Untuk itu, dalam perkara pemilu gubernur dan wakil gubernur misalnya menjadi hak perorangan bukan bukan hak organisasi. 

“Termasuk sahabat Jabir Al Faruqi yang akan mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Tengah, bukan karena dorongan partai politik tertentu,” terangya.

Gus Mudrik juga menyampaikan program-program untuk tahun kedepan dan melaporkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh Ansor Cabang maupun PAC dan Ranting.

Sementara Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ansor Jateng Jabir Al Faruqi yang turut serta dalam audiensi itu menuturkan pentingnya peran pemuda Ansor dan Banser dalam pembangunan di daerah. Di Jawa Tengah para pemuda Ansor banyak memegang peranan penting, namun juga tidak sedikit yang masih perlu diberdayakan. Termasuk di Kabupaten Brebes, potensi pemuda Ansor sangat bagus dan perlu mendapatkan sentuhan yang lebih nyata dari pemerintah setempat.

“Kalau sepuluh persen saja pemuda Ansor masuk dalam ranah pemerintahan, maka akan terjadi dinamika yang bagus,” kata Jabir.  

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyambut baik audiensi yang dilakukan Ansor dan Banser. Pasalnya, silaturahmi ini bisa mengetahui keadaan pemuda sebagai motor penggerak pembangunan dan sekaligus sebagao obyek dan subyek pembangunan daerah.

Rombongan diterima langsung Bupati Brebes Idza yang didampingi Suaminya Kompol Warsidin, Plt Sekda Brebes H Emasthoni Ezam.

Acara diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan dan kemajuan brebes serta kesejahteraan umat. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Doa, PonPes Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 13 Januari 2017

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Pekalongan melakukan soft opening Kantor Cabang PT Sorban Nusantara Tourism. Acara bertempat di Gedung Sentral Bisnis Ansor (SBA) Jalan Raya Karangdowo nomor 10, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan Minggu, kemarin (12/2).

Peresmian kantor cabang perusahaan travel umroh dan haji plus resmi milik GP Ansor tersebut ditandai dengan pemotongan pita dan tumpeng yang dilakukan oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, M. Azmi Fahmi.

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh

Acara peresmian berlangsung cukup meriah dengan dihadiri oleh Manajemen Sorban Nusantara Kabupaten Pekalongan, PCNU Kabupaten Pekalongan, PW GP Ansor Jawa Tengah, PC GP Ansor, Dewan Penasihat PC GP Ansor, pengurus MWCNU, PAC GP Ansor se-Kabupaten Pekalongan, segenap marketing Sorban Nusantara serta sejumlah calon jamaah umroh.

Mewakili Manajemen PT Sorban Nusantara, H.M. Sholahudin Zuhdi menjelaskan bahwa PT Sorban Nusantara Tourism yang secara resmi beroperasi secara nasional sejak Oktober 2016 hingga Februari 2017 ini telah memberangkatkan jamaah umroh sebanyak 11 kloter dengan jumlah lebih dari 1000 jamaah dengan mengutamakan pelayanan prima dan sepenuhnya dikelola oleh kader-kader Ansor baik ketika pengurusan jamaah di tanah air sampai dengan pelaksanaan umroh di Arab Saudi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut, Gus Sholah memaparkan bahwa PT Sorban Nusantara Tourims Cabang Kabupaten Pekalongan menawarkan program umroh reguler selama 12 hari dengan biaya Rp25 jutaan. PT Sorban Nusantara juga menawarkan program Haji Plus 1 tahun berangkat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu juga menjalin kerja sama dengan KSPPS Ankasa dengan membuka tabungan umroh dengan setoran ringan hanya Rp 550.000,- per bulan selama 36 kali/ 3 tahun dan akan diberangkatkan pada tahun 2019 sekaligus umroh bersama Pengurus PC GP Ansor.

Sementara itu dalam sambutannya, ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, M. Azmi Fahmi menyampaikan bahwa peresmian PT Sorban Nusantara Tourims merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi GP Ansor yakni pemberdayaan potensi kader dan mewujudkan kemandirian ekonomi kader dan organisasi.

"Untuk mewujudkan kemandirian ekonomi, PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan telah membentuk pusat bisnis Ansor yang mewadahi tiga kegiatan sekaligus yakni KSPPS Ankasa, Sentral Bisnis Ansor sebagai media promosi dan transaksi produk-produk kader Ansor serta Sorban Nusantara Tourism yang hari ini secara resmi kita launching," terang Azmi.

Pada kesempatan peresmian tersebut juga dibuka pendaftaran tabungan umroh yang mendapat sambutan antusias dari calon jamaah. Hanya dalam waktu kurang dari 1 jam telah resmi mendaftar 40 orang calon peserta tabungan umroh. Suasana peresmian bertambah semarak dengan adanya pengundian Doorprize berupa berbagai macam hadiah hiburan dan hadiah utama berupa "Umroh Gratis" untuk calon jamaah yang telah mendaftar. (Alim Mustofa/Mahbib]Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Doa, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 05 Januari 2017

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bertanggung jawab dan menyiapkan pemimpin berikutnya, manfaatnya antara lain agar transisi kekuasaan berjalan dengan baik sehingga tidak terjadi pengambilan keputusan yang salah oleh pemimpin berikutnya, ujar Yoga Aji Saputra, alumni Diklatsar IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser) PC GP Ansor Way Kanan Lampung.

"Upaya GP Ansor Way Kanan melalui Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau BPUN adalah upaya mempersiapkan pemimpin berikutnya, baik bagi organisasi atau bangsa," kata Yoga di Blambangan Umpu, Senin (17/4).

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN

Yoga yang mengikuti Diklatsar Banser di Pesantren As Safiiah di Kampung Serdang Kuring Kecamatan Bahuga pada 2014 itu menegaskan, pemimpin masa depan haruslah memiliki pendidikan yang baik, minimal mengenyam pedidikan di perguruan tinggi.

"GP Ansor melalui BPUN menjadi gerbang bagi siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Tentu ini merupakan inisiatif yang baik dari GP Ansor untuk mempersiapkan kadernya atau generasi Way Kanan dan Indonesia untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang," kata pelajar SMK Kesehatan Persada Nusantara Kecamatan Bumi Agung itu pula.

Yoga yang pada tahun 2015 meraih Juara I Tingkat Provinsi Lampung pada Bidang Fisika Terapan Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) sehingga dipercaya mewakili Lampung dalam ajang tingkat nasional menambahkan, jika individu sedari muda dibekali dengan ilmu-ilmu yang menunjang untuk bisa jadi pemimpin yang baik dan diberikan amanah yang menjadikan individu memiliki rasa tanggung jawab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

BPUN Way Kanan 2016 akan digelar di Pondok Pesantren Assidiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Gunung Labuhan mulai 23 April hingga 25 Mei 2016. PC GP Ansor Way Kanan merupakan satu-satunya pimpinan cabang yang menggelar program utama Yayasan Mata Air tahun ini di wilayah Sumatera.

Kontribusi peserta mengikuti bimbingan intensif satu bulan di pondok pesantren Rp200 ribu, digunakan untuk pembelian beras 20 kg. Peserta akan mendapatkan try out SBMPTN satu minggu sekali, modul terpadu berkualitas, tentor selektif, gratis biaya bimbingan belajar, konsultasi akademik, motivation training, capacity building, bimbingan rohani istiqomah, pendidikan kepemimpinan dasar, out bond, advokasi beasiswa dan kecakapan hidup.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada pelaksanaan tahun 2015 diikuti 14 pelajar, penyelenggaraan BPUN di Way Kanan meloloskan 6 pelajar memasuki PTN, 5 melalui jalur SBMPTN dan 1 melalui jalur mandiri. Dicky Afrizal dari SMAN2 Gunung Labuhan, diterima di jurusan Biologi Murni, Unila. Lalu Iwan Supriadi, SMAN1 Baradatu, masuk jurusan Agro Teknologi Universitas Jambi.

Selanjutnya Frastika Maulia, SMAN1 Blambangan Umpu, masuk di jurusan Sosiologi Universitas Sriwijaya. Lastri Dwi Saputri, SMAN1 Baradatu, diterima di jurusan Biologi Murni Universitas Bangka Belitung. Keempatnya terdaftar sebagai peserta Bidik Misi.

Lalu Suryaningsih, SMAN1 Blambangan Umpu diterima di jurusan Teknik Pertanian Unila. Dan Romadhoni, SMAN1 Baradatu masuk di Universitas Sriwijaya. Keduanya tidak terdaftar sebagai penerima Bidik Misi. (Disisi Saidi Fatah/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Kiai, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 04 Januari 2017

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Santri tingkat akhir tingkat SMA dan SMP pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen mengunjungi makam KH Ibrahim Brumbung yang diyakini sebagai seorang wali. Ziarah ini merupakan bagian dari persiapan batin para santri menghadapi UN selain minta doa para kiai, puasa Senin-Kamis, mujahadah, dan sholat malam.

Kegiatan seperti ini sudah menjadi tradisi santri kelas akhir pesantren Futuhiyyah Mranggen. Tujuannya selain mendoakan para ulama, juga mencari berkah agar dimudahkan ketika mengerjakan soal-soal UN.

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali

“Ziarah ke makam Mbah Ibrahim ini bertujuan agar hati kita mantap dan yakin serta memiliki rasa percaya diri untuk menghadapi UN,” kata siswi MA Futuhiyyah 2 Mranggen Devi Nur Kholifatul Unfa di halaman makam, Selasa (1/4).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KH Ibrahim Brumbung dipercaya masyarakat Mranggen mempunyai karomah tertentu. Ia pengembang Thariqah Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah di Mranggen. Ia tidak lain guru KH Abdurrahman Qoshidil Haq dan KH Muslih Abdurrahman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kecuali berziarah, mereka juga meminta doa para kiai. Antara lain KH Muhammad Hanif Muslih, KH Said Lafif Hakim, KH Ali Makhsun, KH Ashif Makhdum, KH Muhibbin Muhsin, dan juga Umi Hj Sa’adah Muslih.

Mereka berharap doa para kiai akan menenteramkan batin mereka dalam mengerjakan soal UN disamping mengharapkan keberkahan dan ilmu bermanfaat. (Abdus Shomad, Ahmad Dliya’uddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Tokoh, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam

Judul Buku : Fiqih Imam Syafi’i

(Mengupas Masalah Fiqhiyah Berdasar Al-Qur’an dan Hadits)

Penulis : Prof. Dr. Wahbah Zuhaili

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam

Penerbit : Almahira, Jakarta

Cetakan : I, Februari 2010

Tebal : 716 hal.

Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib*

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Fiqih merupakan cabang ilmu keislaman yang mengkaji hukum syariat yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan? hubungan antar sesama manusia (hablum minannas). Kata “fiqih” sendiri secara bahasa berarti “paham”, seperti dikutip dalam hadits di atas, awal mulanya fiqih pengertian yang luas, yaitu pemahaman yang mendalam terhadap islam secara utuh. Definisi ini berlaku pada masa generasi sahabat dan tabi’in. Selanjutnya pada masa muta’akhirin (abad IV-XII H), fiqih mengalami penyempitan makna, menjadi “pengetahuan hukum syara’ yang bersifat alamiyah bersumber dari dalil-dalil yang spesifik”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada periode Mutaakhirin ini, pula terjadi pelembagaan fiqih dalam beberapa madzhab. Ketika itu ada empat madzhab besar berkembang dan mampu bertahan hingga saat ini, yaitu Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hambali. Empat madzhab tersebut tersebar ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan sejarah masuknya Islam ke Nusantara, Madzhab Syafi’i lah yang pertama kali di anut penduduk Nusantara. Dan saat ini mayoritas kaum muslimin indonesia bermadzhab Syafi’i.

Madzhab Syafi’i yang digagas oleh Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H) mendapat apresiasi yang luar biasa dari umat Islam dunia. Madzhab ini dianut oleh kurang lebih 28 persen populasi muslim dunia, atau sekitar 439,6 juta jiwa dari 1,57 miliyar penduduk? dunia.? Penganut Madzhab Syafi’i tersebar di Mesir, Arab Saudi, Suriah, Indonesia, Malasyia, Brunai Darussalam, Pantai Koromandel, Malabar, Hadramaut, dan Bahrain.

Tidak heran jika pengaruhnya sangat luar biasa dalam yurispundensi Islam sebab Imam Syafi’i memang dikaruniai kecerdasan istimewa, kemampuan nalar dan gaya bahasa yang luar biasa. Pada usia 20 tahun ia sudah hafal kitab “al-Muwaththa’” karya monumental Imam Malik. Imam Malik mengagumi Imam Syafi’i sembari berkata “wahai Muhammad (Syafi’i)” sesungguhnya Allah telah memancarkan cahaya hatimu, maka jangan engkau sia-siakan cahaya itu dengan maksiat. Esok akan banyak orang yang berdatangan untuk belajar kepadamu. Pujian Imam Malik benar menjadi kenyataan. Syafi’i kemudian Imam madzhab panutan umat diberbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Madzhab Syafi’i, satu dari sekian banyak madzhab fiqih saat ini masih mendapat apresiasi luar biasa mayoritas kaum muslim dunia. Keunggulan utama madzhab Syafi’i terletak pada sifatnya yang moderat. Di awal pertumbuhannya, pendiri madzhab ini, Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H), mengakomodasi dua aliran hukum Islam yang berkembang saat itu, yaitu aliran tektualis (madrasatul hadits) dan aliaran rasionalis (madrasatur ra’y). Hasil kolaborasi keduanya dapat dilihat dari produk hukum Imam Syafi’i yang selalu mengacu pada subtansi nash (Al-Qur’an dan as-Sunnah), kemudian dalam kasus tertentu dipadukan dengan dalil analogi (qiyas).

Sebagai Bapak Ushul Fiqh, Imam syafi’i mewariskan seperangkat metode istimbath hukum yang berfungsi untuk menganalisasi beragam kasus hukum baru yang terjadi dikemudian hari. Dari tangan Imam Syafi’i lahir ribuan ulama yang konsen menafsirkan, menjabarkan, dan mengembangkan pemikiran beliau dalam ribuan halaman karya dibidang hukum Islam. Tidak heran jika dinamika perkembangan Madzhab ini melampaui Madzhab lainnya.

Buku yang terdiri tiga jilid yang ditulis Prof. Dr. Wahbah Zuhaili ini, memuat ribuan kasus yang terjadi masyarakat, yang dibidik dengan aturan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan yang bersumber dari al-qur’an, as-sunnah, ijma’ ulama dan qiyas serta hasil ijtihad Imam Syafi’i dan murid-murid beliau.

Secara garis besar, Masterpiece Prof. Dr. Wahdah as Zuhaili ini disusun dalam lima bab. Sebagai pendahuluan, pembaca akan diajak menelusuri biografi dan pemikiran hukum Imam Syafi’i. Selanjutnya secara sistematis, Prof. Wahbah mengurai secara detail hukum thaharah dan ibadah, pada bab satu. Bab dua menyajikan hukum muamalah konferensional dan syari’ah berikut transaksinya. Bab ketiga memaparkan hukum keluaga Islam. Kemudian pada bab empat berisi hukum Hadd, Jinayah, dan Jihad, terakhir. Bab lima, mengulas aspek peradilan Islam.

Dalam buku fiqih Imam Syafi’i ini diperkaya dengan penjelasan hikmah dibalik penetapan sebuah aturan syariat, penjelasan terperinci atas setiap topik bahasan, dan pemberian contoh-contoh lengkap dengan dalilnya. Penulisan buku ini berpatokan sepenuhnya pendapat Imam Syafi’i yang lebih valid yang terdapat didalam Majmu’dan minhajnya, dan tidak merujuk pada kitab al-raudhah dan sebagainya. Tujuan agar madzhab ini dapat menjadi jelas bagi kalangan awam. Apalagi, penyajian Fiqih perbandingan yang dilakukan terlalu dini tampaknya lebih sering hanya akan memunculkan kebingungan serta menhancurkan keselarasan hukum syaiat.

Jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainya, fiqih merupakan ilmu yang paling lurus dan matang. Dengan fiqih, syariat Islam telah menjadi salah satu sumber penetapan syariat yang sekaligus dapat diterima disetiap waktu dan tempat. Karena itu, fiqihlah yang telah menghimpun antara ajaran pokok dengan hal-hal yang menjaman serta menghimpun antara upaya untuk menjaga berbagai macam sumber syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis dengan berbagai macam pekembangan dan perubahan yang terjadi, yang tujuannya adalah untuk mengindentifikasi hukum halal-haram dan demi menggapai kemaslahatan bagi umat manusia dan kebutuahan mereka disepanjang zaman. Karena fiqih memang terlahir dari dasar-dasar dan berbagai sumber yang kokoh demi tujuan syariat yang universal.

Dengan demikian, buku yang sangat mengagumkan ini patut menjadi rujukan umat Islam, baik untuk dijadikan leterasi dalam dunia akademik maupun sebagai pandangan hidup dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Sehingga, mampu membedakan dari hal-hal yang diperbolehkan dengan yang tidak diperbolehkan oleh agama. Wallahu a’lam bis-showab.



* Peresensi adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, aktif Pada Pondok Budaya Ikon Surabaya
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 01 Januari 2017

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelatihan Kader Penggerak Aswaja yang Berwawasan Kebangsaan yang dihelat Pimpinan Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta, Senin dan Selasa, 14-15 Agustus 2017 ? di Hotel Bintang, Jakarta Pusat berlangsung sukses. Sedikitnya 150 orang mengikuti kegiatan tersebut.

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta

Mereka adalah perwakilan PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, PW Muslimat NU Lampung, PC Muslimat NU se-DKI Jakarta, IPNU, IPPNU, Fatayat, dan GP Ansor.

Maghfiroh, aktivis Muslimat NU dari Kecamatan Matraman Jakarta Timur, mengungkapkan ada pengalaman-pengalaman baru yang ia dapatkan dari kegiatan tersebut.

“Paling menarik tentang keaswajaan, itu sangat penting bagaimana kita sebagai aktivis Muslimat NU mengenalkan keaswajaan kepada anak-anak muda,” katanya.

Menurutnya anak-anak muda sekarang banyak yang jauh dari pengenalan keaswajaan ala NU karena lebih terpukau dengan penampilan yang mereka lihat dari kelompok di luar NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita sebagai orang NU harus memberikan contoh sebagai anutan. Kalau kita contohkan yang baik tentu mereka akan suka,” katanya saat ditanya bagaimana mengenalkan keaswajaan yang ia dapatkan dari pelatihan.

Peserta lainnya, Kholifah, aktivis Muslimat NU Jakarta Barat, mengungkapkan materi dalam pelatihan semakin memantapkan dan menambahkan wawasan.

“Terutama pengetahuan bahaya terorisme dan adanya paham-paham radikal. Penting kita ketahui dan kenalkan kepada masyarakat agar waspada,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan menghadirkan KH Musthofa Aqil Siroj dari Syuriyah PBNU, perwakilan BNPT, Kemenag, dan Pemda DKI Jakarta. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Nahdlatul Ulama, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU dan Penentuan Awal Bulan Kamariah

Oleh Moh. Salapudin



Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengikhbarkan bahwa tanggal 1 Muharram 1438 H jatuh pada hari Senin, 3 Oktober 2016, atau persisnya dimulai sejak Ahad (1/10) malam nanti. PBNU mengistikmalkan bilangan bulan Dzulhijjah 1437 H menjadi 30 hari karena tidak ada yang berhasil mengamati hilal pada pelaksanaan rukyatul hilal pada Sabtu (1/10) kemarin. (Pondok Pesantren Attauhidiyyah, 2/10).

NU dan Penentuan Awal Bulan Kamariah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Penentuan Awal Bulan Kamariah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Penentuan Awal Bulan Kamariah

Ketika berita di atas di-share di group WhatsApp Keluarga Besar Mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, terjadi diskusi panjang. Pasalnya, banyak yang sudah merayakan ritual tahun baru hijriah pada Sabtu (1/10) malam kemarin. Alasannya adalah karena keadaan hilal pada pelaksanaan rukyatul hilal kemarin sudah memenuhi kriteria imkan rukyat yang dipedomani pemerintah (imkan rukyat kriteria MABIMS), yakni tinggi hilal minimal 2 derajat, jarak sudut matahari-bulan (elongasi) 3 derajat, dan umur bulan dari saat ijtimak 8 jam.

Tinggi hilal saat pelaksanaan rukyatul hilal pada Sabtu (1/10), kemarin, sebagaimana dipublikasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berkisar antara 2,90 derajat di Merauke, Papua, sampai dengan 4,33 derajat di Banda Aceh, Aceh. Dengan elongasi 3,7 sampai 4,9 derajat, dan umur bulan lebih dari 8 jam. Jika mengunakan hisab imkan rukyat kriteria MABIMS, maka keadaan hilal tersebut dapat dijadikan alasan masuknya awal bulan baru sehingga awal bulan Muharram 1438 H jatuh pada Sabtu (1/10) atau persisnya dimulai pada Sabtu malam kemarin. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masalahnya, meskipun keadaan hilal sudah memenuhi kriteria MABIMS, ternyata pada pelaksanaan rukyatul hilal tidak ada yang berhasil melihat hilal. Dalam kasus semacam ini, NU akan mengistikmalkan bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari, sehingga awal Muharram 1438 H, sebagaimana diikhbarkan PBNU, jatuh pada Senin (3/10) atau persisnya dimulai sejak Ahad malam nanti. Kasus ini sebenarnya bukanlah yang pertama kali. Pada penetapan awa bulan Rabiul Akhir 1437 H lalu, keadaan hilal juga sudah memenuhi krieria imkan rukyat MABIMS, namun karena tidak ada yang berhasil melihat hilal pada pelaksanaan rukyat hilal, maka NU mengistikmalkan bulan Jumadil Akhir 1437 H.

Sebagai jam’iyah diniyah (organisasi sosial kegamaan Islam) yang berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah, NU menjunjung tinggi dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW serta tuntunan para sahabat Rasulullah SAW dan ijtihad para ulama mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali). NU juga berkewajiban untuk senantiasa mengamalkan, mengembangkan dan menjaga kemurnian ajaran agama Islam yang diyakininya, termasuk dalam hal penetapan waktu/tatacara ibadah yang dianggap sah dan utama. Menurut keyakinan NU, metode yang mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan), dalam hal penentuan awal bulan kamariah, terlebih pada bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, adalah rukyatul hilal.

Dasar hukum dipilihnya rukyat oleh NU, selain hadits-hadits Nabi tentang hisab rukyat, tentu saja pendapat para ulama. Para ulama yang diikuti pendapatnya, sebagaimana terdapat dalam “Buku Pedoman Rukyat dan Hisab Nahdlatul Ulama” adalah: Imam Mazhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali), Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam ar-Ramli, Imam Bakhit al-Mu’thi, Imam Ba’lawi, dan ulama lainnya. Adapun kitab-kitab karya ulama klasik yang dirujuk NU adalah Fiqh ala al-Mazahibi al-Arba’ah, Majmu’, Tuhfah al-Muhtaj, Nihayah al-Muhtaj, Irsyadu Ahli al-Millah, I’anatut Thalibin, Bughyah al-Mustarsyidin, Syarah Ihya’ Ulumuddin, Fathul Bari, Bidayatul Mujtahid, al-Isyadatul Saniyah, Fatawa ar-Ramli, al-Alamul Mansyur fi Isbathi Syuhur, al-Fatawa asy-Syar’iyah, dan al-Mahalli.



Semua ulama tersebut berpendapat bahwa awal bulan kamariah, khususnya awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, ditentukan berdasarkan rukyatul hilal, dan jika rukyat tidak berhasil maka dilakukan istikmal. Bahkan, term rukyat dalam hadits-hadits hisab rukyat bersifat ta’abbudi ghair al-ma’qul al-ma’na (tidak dapat dirasionalisasi). Itulah alasan mengapa hingga sekarang NU masish memegang teguh rukyatul hilal.

Adapun terhadap kriteria imkan rukyat sebagaimana yang digunakan oleh pemerintah saat ini, PBNU tidak menolaknya secara mutlak. PBNU menggunakan hisab krieria imkan rukyat untuk menerima/menolak laporan rukyatul hilal. Artinya, jika keadaan hilal sudah memenuhi imkan rukyat dan ada kesaksian rukyatul hilal, maka kesaksian tersebut akan diterima. Sebaliknya, jika keadaan hilal masih di bawah kriteria imkan rukyat, dan ada yang mengaku melihat hilal, maka kesaksian tersebut akan ditolak.

Kasus tersebut pernah terjadi misalnya pada saat awal Syawal 1418 H dan Ramadhan 1427 H. Pada saat itu ada yang mengaku dapat melihat hilal, namun karena keadaan hilal tidak memenuhi kriteria imkan rukyat, maka PBNU menolak kesaksian itu. Pada kedua kasus tersebut, memang terdapat dinamika di internal NU, yakni keputusan PWNU yang menerima kesaksian hilal pada saat itu.

Penulis pernah belajar ilmu falak di UIN Walisongo SemarangDari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya, Olahraga, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah