Selasa, 29 Maret 2016

Advokat Ini Ungkap 4 Lembaga Zakat Besar Tapi Ilegal

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Advokat Syariah Mustolih Siradj turut menjadi pembicara pada acara Ngobrol Filantropi (Ngopi) yang diadakan oleh Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) di Blue Sky Hotel Jakarta Pusat, Rabu (29/12).

Menurutnya, hari ini kalau berbicara tentang uang, ada 3 aspek yang bisa mendapatkan uang segar dan cash, mendatangkan kran uang besar. Pertama, lembaga zakat, infaq, dan shodaqoh; kedua, Corporate Social Responsibility (CSR); dan ketiga, dana bencana.

Advokat Ini Ungkap 4 Lembaga Zakat Besar Tapi Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Advokat Ini Ungkap 4 Lembaga Zakat Besar Tapi Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Advokat Ini Ungkap 4 Lembaga Zakat Besar Tapi Ilegal

Mustolih mengingatkan kepada masyarakat bahwa hari ini masih banyak lembaga amil zakat yg tidak memiliki izin atau ilegal.?

“Sedikitnya ada 4 lembaga besar yang tercatat dan masuk dalam kategori sebagai lembaga pengelola zakat ilegal,” ujarnya tanpa menyebutkan secara jelas 4 lembaga tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pentingnya mempunyai izin karena terdapat ancaman bagi pengelola zakat yang ilegal. “Barang siapa yang mengelola zakat tanpa ada izin. Maka bisa terkena pidana 1 tahun,” tegasnya

“Kalau LAZISNU sih sudah punya izin,” katanya diikuti tepuk tangan peserta.

Hadir pada acara yang bertemakan Penguatan Filantropi Islam Nusantara berjumlah 38 peserta sebagai perwakilan dari lembaga-lembaga dan banom-banom Nahdlatul Ulama. (Husni Sahal/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 25 Maret 2016

Pelajar NU Sumedang Dikader Jadi Regu Penyelamat

Sumedang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mengadakan pendidikan dan pelatihan pertama (Diklatama) untuk anggota Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) di tingkat komisariat atau sekolah setingkat SMA, 16-17 November 2013, di wahana wisata Cipadayungan Cimalaka, Sumedang.

Pelajar NU Sumedang Dikader Jadi Regu Penyelamat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sumedang Dikader Jadi Regu Penyelamat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sumedang Dikader Jadi Regu Penyelamat

Sebanyak 40 peserta yang merupaklan utusan dari lima sekolah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, antara lain, dididik untuk terlibat aktif dalam usaha penyelamatan dan pertolongan korban bencana atau kecelakaan.

Mereka mendapatkan materi SAR (search and rescue) dan P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) dari Kepala Seksi Pendidikan dan Latihan Palang Merah Indonesia (PMI) H Lili Sumedang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, pelajar NU ini juga dikenalkan seputar ke-NU-an oleh Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dullah), latihan dasar bela diri (Ketua Pencak Silat Pagar Nusa Sumpena Saripudin), peraturan baris berbaris (Tentara Yonif 301), navigasi darat (DKC CBP Sumedang), dan perihal IPNU-IPPNU.

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Sumedang Salman Al-Farishi saat membuka acara menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas komitmen peserta untuk menghadiri Diklatama selama dua hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kegiatan ini sengaja dilaksanakan untuk melatih serta mendidik kedisiplinan, penguatan ideologi Aswaja, dan mengasah intelektual para pelajar yang siap dan mampu untuk berjuang dan membela tanah air Indonesia,” ujarnya.

Diklatama ini  ditutup Ahad dan dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Barat Acep K Hidayat Susanto, dan Komandan DKW CBP Jawa Barat Asyrikin. “Alhamdulillah, IPNU-IPPNU Sumedang hari ini benar-benar konsentrasi pada kaderisasi, dan DIKLATAMA ini adalah salah satu kegiatan pengkaderan IPNU-IPPNU bagi pelajar yang memang senang dengan kegiatan outdoor,” kata Asep Irfan Mujahid dari Pimpinan Pusat IPNU saat menutup acara. (Salman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 07 Maret 2016

Sukses di Bidang Agama, NU Jangan Abaikan Ekonomi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Gerakan NU yang dimulai pada tahun 1926 telah berhasil mengembangkan dakwah dalam bidang keagamaan, mendirikan berbagai pesantren yang telah menyebar ke seluruh Indonesia. NU juga pernah menjadi partai politik dan mendirikan partai politik, namun NU masih harus berjuang dalam mengembangkan ekonomi ummat.

“Nahdlatut Tujjar yang merupakan bagian cari cikal bakal berdirinya NU merupakan gerakan ekonomi. Karena itu, NU harus kembali ke semangat awalnya ini,” tandas sekretaris Lakepesdam Yahya Maksum (6/6).

Basis NU sebagian besar terdiri dari petani dan nelayan yang hidup di pedesaan Jawa Timur dan Jawa Tengah dan daerah pantai pesisir utara, Cirebon dan lainnya. Jika mereka tidak berdayakan NU akan tetap terpinggirkan.

Yahya berpendapat dalam hal ini, lembaga-lembaga NU yang membidaninya seperti Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LP2NU), Lembaga Perekonomian NU dan lembaga terkait lainnya yang harus proaktif. “Mereka dapat membangun jaringan dan melakukan advokasi kepada masyarakat, membangun koperasi dan lainnya,” tandasnya.

Untuk saat ini yang melakukan hal tersebut LSM-LSM yang banyak dikelola oleh anak muda NU sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat sipil.

Saat ini wacana pengembangan ekonomi selalu mengemuka dalam berbagai acara NU. Namun implementasinya masih belum banyak berhasil. Yahya mengungkapkan bahwa memang hal tersebut tak cukup sekedar wacana, tetapi juga harus menjadi ideologi dan dioperasionalkan sehingga dapat menjadi gerakan besar di NU.(mkf)

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Syariah, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sukses di Bidang Agama, NU Jangan Abaikan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukses di Bidang Agama, NU Jangan Abaikan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukses di Bidang Agama, NU Jangan Abaikan Ekonomi

Selasa, 16 Februari 2016

Pengurus MWCNU Pajarakan Dilantik

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sedikitnya 65 orang pengurus MWCNU Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo masa khidmat 2016-2021 resmi dilantik oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin, Sabtu (17/12) pagi.

Pengurus MWCNU Pajarakan Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus MWCNU Pajarakan Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus MWCNU Pajarakan Dilantik

Pelantikan ini digelar di sela peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta pemberian santunan kepada anak yatim. Santunan ini diberikan kepada 100 orang anak yatim dari semua ranting se-Kecamatan Pajarakan.

Pelantikan ini dihadiri oleh Rais PCNU Kota Kraksaan KH. Munir Kholili, Ketua PCNU Kota Kraksaan KH. Ahmad Sujai Syafii beserta Sekretaris PCNU H. Fauzan Hafidzi dan Camat Pajarakan Sukarno beserta Forkopimka Pajarakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sambutannya Hasan Aminuddin mengatakan bahwa mukjizat Al-Quran sangat terbukti di negara kita. Inilah kehebatan Al-Quran, dari itulah kitab suci Al-Qur’an harus dijadikan sebagai pedoman untuk pedoman kehidupan.

“Kegiatan NU yang disangka bidah itu sudah tidak ada lagi karena yang diputusnya gerakan dan sikap beragama tidak diputuskan oleh ulama siapapun kecuali pengurus NU melalui koordinasi dan keputusan rapat organisasi. Terlebih lagi kebijakan Pemkab Probolinggo selalu bersinergi dengan NU,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Hasan Aminuddin, pengurus ranting harus ada getaran di lingkungannya. Yakni dengan usulan program takziyah (dana) yang diberikan oleh shohibul musibah.

“Yang harus dilakukan sebagai umat Islam diwajibkan untuk menghadiri dan membantu untuk meringankan penderitaan di setiap salah satu warga yang berduka di lingkungannya. Budayakan secara istiqomah melaksanakan tahlil selama 7 hari tanpa dikorupsi disertai dengan tanpa konsumsi di rumah yang berduka,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 07 Februari 2016

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Peran mahasiswa semakin luas di tengah masyarakat. Selama melaksanakan tugas kuliah kerja nyata (KKN), hal terpenting adalah mahasiswa berkewajiban menjadi motor pemberdayaan dan terlibat penuh dalam membangun masyarakat di desa. Mahasiswa juga harus menjaga sikap dan prilaku yang sesuai dengan nilai-nilai pesantren. 

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren

Demikian disampaikan KH Abdul Ghaffar Rozin, Rektor Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati (IPMAFA) saat menerjunkan 198 mahasiswa KKN di Pendopo Kabupaten Pati, Jawa Tengah (1/7).

"KKN IPMAFA selama ini selalu meninggalkan prestasi yang baik dalam pemberdayaan masyarakat. Diharapkan mahasiswa ketika KKN tidak membawa cat atau papan nama tetapi membawa metodologi dan terobosan yang memajukan kondisi masyarakat sekitar," jelas Ketua RMI PBNU ini. 

Penerjunan diterima langsung oleh Bupati Pati Hariyanto yang sekaligus mendelegasikan kepada para Kepala Desa tempat berlangsungnya KKN untuk menfasilitasi dan mengarahkan mahasiswa dalam membantu program pemberdayaan desa. KKN yang berlokasi di dua Kecamatan Tlogowungu dan Gembong dan tersebar di 26 desa ini dihadiri Bapeda Pati, Camat dan para Kepala Desa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Bupati Pati Haryanto menegaskan bahwa tugas mahasiswa KKN bukan pada pembangunan fisik, tapi hal-hal yang terkait dengan pemberdayaan. "Kalaupun ada program fisik, hanya bersifat menunjang. Yang terpenting dari KKN ini adalah memaksimalkan apa yang ada di desa, untuk desa dan dikembalikan lagi kepada desa," tuturnya.

Program KKN mengangkat tema "Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Melalui KKN yang Berkelanjutan" dan berlangsung selama sebulan lebih dari 1 Agustus 2016-17 September 2016 mendatang. Fokus KKN IPMAFA terdiri dari 4 pilar utama meliputi pendidikan, ekonomi, lingkungan dan kesehatan yang berbasis nilai-nilai pesantren.

Sebelum melaksanakan KKN, mahasiswa melakukan observasi selama sebulan untuk menggali data dan informasi terkait masalah dan potensi desa, kemudian mereka melakukan FGD dengan masyarakat. Dari FGD tersebut ditarik menjadi program kerja masing-masing kelompok sehingga program KKN yang dijalankan sesuai dengan masalah dan potensi yang ada di desa. KKN IPMAFA didesain cukup matang supaya proses KKN dapat berjalan lancar dan efektif sesuai misi utamanya yaitu pemberdayaan masyarakat. (Isyrokh Fuaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 05 Februari 2016

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Malang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang menggelar sidang senat terbuka dalam rangka penganugerahan doktor Honoris Causa (HC) kepada Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb, Rabu (24/2). Gelar kehormatan ini diberikan UIN sebagai apresiasi atas jasa Grand Syekh dalam pengembangan pendidikan Islam, khususnya di Al-Azhar.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap metode pendidikan dakwah di Universitas Al-Azhar yang moderat dan toleran bisa dikembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Harapan itu disuarakan Menag saat memberikan sambutan di hadapan 500 civitas akademika UIN Maliki Malang dan tamu undangan pada acara penganugerahan doktor kehormatan kepada Syekh Ahmad ath-Tayyeb di UIN Malang, Rabu (24/02) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Menag menilai, Grand Syekh Al-Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama al-Muslimin adalah sosok ulama par-excellence dan intelektual Muslim dunia penebar kedamaian. Sikap demikian itu ditunjukkan selama masa transisi politik di Mesir, di mana Syekh Ahmad ath-Tayyeb mengedepankan ishlah dan berusaha memediasi pihak-pihak yang berkonflik agar bersatu kembali demi kejayaan Mesir dan Islam. Hal ini dikatakan Menag, sesuai pernyataan Grand Syeikh pada saat terjadi konflik di Mesir. Ia mengatakan, “Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan dan saya himbau agar anda semua membuka pintu untuk perdamaian demi persatuan bangsa Mesir!”

“Sosok Syekh Ahmad ath-Thayyib boleh jadi tidak membutuhkan penganugerahan Dr HC, karena reputasinya sudah diakui dunia internasional. Kita justru yang berkepentingan menganugerahkan gelar kehormatan,” tambahnya. 

Selain itu, metode pendidikan dakwah Al-Azhar yang moderat dan toleran juga relevan dengan konteks Indonesia sebagai negara yang majemuk dan plural. Apalagi. Al-Azhar merupakan ikon institusi keislaman dunia dan namanya harum di kalangan Muslim Indonesia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Studi di Al-Azhar asy-Syarif ibarat ‘menimba air’ dari sumber aslinya,” papar Menag.

“Al-Azhar secara konsisten mengembangkan faham sunni dan mengamalkannya dalam tindakan keberagamaan. Syekh Ahmad al-Tayyeb sebagai ulama moderat dan selalu menyerukan pentingnya ukhuwwah dan perdamaian,” tambahnya.

Menag berharap, kehadiran Grand Syekh Al-Azhar ke Indonesia selain memperkuat hubungan bilateral antara dua negara, juga menjadi simbol kedekatan masyarakat Muslim Mesir dan Indonesia, serta bisa memperkuat kajian Islam di Indonesia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Menag,  awal kemunculan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia pada tahun 1960-an juga mengacu pada model kajian Islam Al-Azhar. Saat sejumlah IAIN bertransformasi menjadi UIN (Universitas Islam Negeri), gagasan integrasi ilmu yang dikembangkan sedikit banyak juga diinspirasi oleh modernisasi pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar. 

Selain itu, hubungan Mesir dan Indonesia juga memiliki sejarah yang panjang. Para ulama dari kedua negara pernah terjalin jaringan intelektual yang intensif dalam hubungan guru-murid sejak abad ke-19. Bahkan, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1945, di saat negara-negara Eropa mengingkari kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. 

Surat Keputusan Rektor tentang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Bidang Pendidikan Islam kepada Grand Syeikh Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb dibacakan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Maliki Malang Muhammad Zainuddin. Sementara itu, Rektor UIN  Malang Mudjia Raharja dalam sambutannya menyampaikan bahwa Grand Syeikh Al-Azhar merupakan sosok yang menginspirasi dalam tugas mengembangkan dan merawat cendekiawan muslim. Selain itu, Syekh Ath-Tahyeb juga merupakan ulama besar yang disegani, intelektual Muslim yang diakui dunia, serta tokoh yang selalu menyerukan kebenaran dan menebarkan kedamaian dunia. 

“Al-Azhar menjadi rujukan kami dalam mengembangkan UIN Malang, suatu saat nanti UIN Malang akan menjadi seperti Universitas Al-Azhar, yang mengembangkan ajaran Islam Rahmatan lil Alamin,” tutup Mudjia Raharja. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 03 Februari 2016

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman

Pariaman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh ikut menyaksikan puncak perayaan Tabuik masyarakat Pariaman, Ahad (25/11) kemarin di pendopo Walikota Pariaman.

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman

Mahmoud Farazandeh  menyaksikan tradisi Tabuik bersama Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, dan Kabag Humas Pemko Pariaman  Gusniyeti Zaunit, Wakil Gubernur   Sumbar Muslim Kasim yang juga Ketua Umum Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Sumbar, pejabat Propinsi Sumatera Barat, pejabat di lingkungan Kota Pariaman, dan ribuan masyarakat yang memadati pusat perayaan Tabuik di Pasar Pariaman hingga ke pantai Gandoriah.  

Ia mengakatan, tanggal 1-10 Muharram saat berlangsungnya Tabuik sama dengan tanggal peristiwa yang menimpa keluarga Imam Husain di Karbala 10. Peristiwa di tahun 61 H ini menjadi semangat bagi masyarakat Iran dalam momen penting kehidupannya. Sehingga kehidupan Husain juga menjadi simbol  bagi orang Iran.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Mahmoud, selama 10 hari (1 hingga 10 Muharram) cucu Nabi Muhammad Saw, Imam Husain mengalami kegetiran di Padang Karbala. Mereka tidak diperkenan mengambil air  dari sumber air. Hingga akhirnya rombongan yang menyertai kurang lebih 70 orang, satu per satu dihabisi oleh pasukan Yazid Muawiyah. 

“Puncaknya, Husain saat hendak melakukan shalat zuhur dihujani anak panah tentara Yazid . Sahabat setia Husain berusaha menghalangi serangan anak panah,” kata.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesan yang hendak disampaikan oleh Husain adalah tekadnya menegakkan kebenaran dan ajaran Islam yang dibawa oleh kakek beliau, Nabi Muhammad saw.  “Bagi masyarakat Iran, pada hari ini (Asyura) menggunakan pakaian berwarna hitam, tidak ada pesta perkawinan dan kegiatan yang berbau kegembiraan. Hari ini disebut juga hari kesedihan, “ kata Mahmoud.

Dikatakan, perlakuan terhadap Imam Husain oleh tentara Yazid  memberikan simbol perlawanan terhadap kezaliman, kesyahidan untuk kemenangan. Dalam kondisi apa pun, Husain tetap memegang teguh pendirian menolak membaiat Yazid sebagai khalifah yang dinilai melenceng dari ajaran Islam. 

Terkait dengan Tabuik Pariaman, menurut Mahmoud, salah satu bentuk mengenang peristiwa bagaimana keteguhan Imam Husain menghadapi kezaliman tentara Yazid. Tentu saja akulturasi budaya dari berbagai masyarakat mengalami perbedaan.  Seperti Tabuik ini, diselenggarakan sesuai dengan budaya yang tumbuh dan berkembang di Pariaman. 

“Di Iran sendiri tidak ada Tabuik yang disimbolkan seperti di Pariaman. Hanya peti saja yang diarak. Peti itu melambangkan jenazah Husain yang tercerai berai oleh pasukan Yazid. Pada hari Asyura masyarakat Iran mengenai peristiwa bersejarah yang dialami cucu Nabi Muhammad Saw tersebut,” kata Mahmoud.  

Menjawab pertanyaan wartawan, Mahmoud menjelaskan, bouraq yang terdapat dalam perayaan Tabuik sebenarnya simbol pada peringatan Asyura. Di mana kuda yang ditinggalkan oleh Imam Husain, merupakan kuda dari Nabi Muhammad SAW. Kudo itu simbol kesetian. Karena kuda tersebut tidak pernah ditungganggi oleh yang lain setelah Husain tewas di tangan tentara Yazid. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Armaidi Tanjung

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Kajian Islam, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah