Senin, 23 Januari 2017

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar

Waykanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda Ansor, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan sejumlah ustadz di kabupaten Waykanan bersiap memasuki sekolah guna mengaji bersama pelajar setempat. Mereka telah melakukan pertemuan dengan sejumlah sekolah di Waykanan.

"Kami menjajaki kemungkinan tersebut, berbincang dengan sejumlah guru, kepala sekolah juga ustadz dan mendapat respon positif bahwa mengaji di sekolah ialah suatu yang mungkin," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Ahad (13/9).

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar

Mengaji, demikian penggiat Gusdurian Lampung itu menambahkan, bukan persoalan tempatnya, apalagi konsumsinya, namun bagaimana ketersampaiannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pengajian di sekolah-sekolah akan kami sambangi melibatkan pelajar untuk ikut tampil, membaca kitab suci Al-Quran, puisi hingga menyanyi sesuai tema diangkat. Hal itu bertujuan agar pelajar mendapat ruang berkreativitas," ujar pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu menjelaskan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengajian akan digelar di sejumlah sekolah tersebut maksimal berdurasi 90 menit dan di luar atau selepas jam pelajaran. Tema diangkat sesuai dengan keyakinan NU, seperti NKRI harga mati, Pancasila Jaya hingga kewirausahaan. Nama program ini, kata Gatot yang merupakan alumni Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) III Yayasan Satunama Yogyakarta itu menambahkan, ialah Maslahat (Mengaji Bersama Pelajar Indonesia Hebat).

"Kami akan menyambangi SMA sederajat terlebih dahulu, sudah ada dua sekolah yang siap untuk bekerja sama pada September ini. Tema-tema kebangsaan, kemanusiaan dan kewirausahaan akan kami usung sembari mengampanyekan peningkatan pendidikan, menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri melalui Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau BPUN Yayasan Mata Air," papar Gatot lagi.

Perihal pemilihan nama Maslahat untuk program itu, Gatot menyatakan NU memang harus bergerak memberi manfaat bagi hidup dan kehidupan.

"Kita harus memotivasi diri, jika kita, bangsa Indonesia, memiliki pelajar-pelajar hebat, mempunyai generasi bangsa yang tangguh. Inilah tugas kemanusiaan, tugas kebangsaan NU," ujar alumni Pendidikan Kader Penggerak NU itu pula.

Adapun modal untuk merealisasikan program itu, Gatot mengatakan ada puluhan miliar. "Saya mengamini pemikiran Bob Sadino. Satu dengkul tidak mungkin dilepas dengan harga Rp500 juta, karena itu, dengan dua dengkul setiap aktivis atau warga NU telah memiliki modal Rp1 miliar. Warga NU harus menggerakkan dengkulnya mewujudkan harapan kemanusiaan dan kebangsaan para pendiri NU dan Indonesia, cita-cita itu hanya akan tercapai dengan bergerak, bukan berwacana," demikian Gatot Arifianto. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Amalan, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 19 Januari 2017

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Oleh: Ferhadz Ammar Muhammad*

Wahai para pemuda putera bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom. Badan usaha ini secara khusus untuk kaum ulama dan bagi lainnya yang masuk kaum terpelajar. Dari badan usaha ini didirikan suatu darun nadwah (balai pertemuan) sebagaimana yang dilakukan para sahabat. (Kutipan paragraf “Piagam Nahdlatut Tujjar” dalam Mun’im DZ, ed., Piagam Perjuangan Kebangsaan; 2011, 28).

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Empat hari yang lalu, 22 Oktober 2017, negeri ini kembali menemukan fungsinya. Bukan dari gelaran forum para profesor dan peneliti luar negeri, melainkan gerombolan para santri dari bilik-bilik bumi pertiwi. Peringatan itu membawa memori seluruh warga Indonesia pada kejadian 72 tahun silam, Resolusi Jihad oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari namanya. Bukan berupa teks mempertahankan negeri semata, melainkan menjadi ruh ad-da’wah bagi pengisian kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Sebagai seorang yang beragama, setiap peristiwa pasti membawa hikmah, sebab Qur’an pun mengajak para manusia agar mengambil pelajaran dibalik setiap kejadian. Demikian juga dalam upacara peringatan “Hari Santri 2017” itu. Banyak sekali spirit yang bisa diteruskan pada generasi kini dan nanti. Sebagai bagian dari santri, penulis akan mencoba merefleksikan acara tersebutdengan mengambil fokus pada kemandirian ekonomi sebagai upaya agar pesan dan spirit Hari Santri 2017 ini tetap abadi.

Gerakan Pedagang

Gagasan ekonomi diHari Santri 2017 lahir dari catatan dan wacana serta diskusi panjang oleh tokoh-tokoh NU sekarang. Akan tetapi jauh sebelum itu, dibalik segala ide yang pernah hadir di kalangan Nahdlatul Ulama, tentu fakta sejarah Nahdlatul Tujjar adalah dasar dari segala rancangan ekonomi jam’iyyah terbesar itu.Nahdlatul Tujjar ini erat kaitannya dengan kemasyhuran Surabaya sebagai kota dagang dan industri sekitar awal abad ke-20,serta daerah dengan puncak arus perdagangan yang penting di kancah nasional maupun internasional. Hampir semua komponen masyarakat, tidak terkecuali para kyai, memiliki relasi perdagangan di kota ini. Ketatnya persaingan antar pedagang pun tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, para kyai yang terlibat dalam persinggungan dengan kelompok pedagang lain berupaya untuk membangun basis ekonomi bersama demi melindungi kegiatan ekonomi yang digunakan untuk tujuan pengembangan dakwah dan kemandirian pesantren. Maka di tahun 1918, saat para pedagang saling mendirikan perkumpulan-semacam gank dagang-, para kyai yang dimotori oleh Hadhratusyaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah bersepakat untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama Gerakan Pedagang (Nahdlatul Tujjar).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lewat Badan Usaha Al-Inan yang dimilikinya, Nahdlatul Tujjar mulai merangsak naik menjadi organisasi saudagar

yang diperhitungkan. Berkat kemandirian itu, para kyai pesantren semakin lantang menyuarakan kebenaran sesuai dengan keyakinan mereka tanpa takut jikalau ekonomi pesantrennya digencet oleh pihak luar. Bahkan saat kyai pesantren didiskriminasi oleh kalangan luar kaitannya dengan pendelegasian untuk Kongres Islam, mereka berani berangkat secara mandiri untuk tetap mengikuti Kongres Islam di Arab Saudi, sebab menyangkut aqidah yang tidak bisa ditawar lagi. Para kyai pesantren tentu telah mengkalkulasi semuanya, mulai dari persiapan argumen rasional dan biaya. Khusus yang terakhir, yakni biaya, syukur alhamdulillah para kyai yang dikenal dengan sebutan Komite Hijazitu terbiayai dengan adanya Badan Usaha Al-Inan milik Nahdlatul Tujjar, sehingga usaha untuk menyelamatkan makam nabi dari arogansi Wahabi, dan kebebasan bermadzhab di Haramain bisa terlaksana (Mun’im DZ, ed.; 2011, 25).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah Nahdlatul Ulama berdiri pada tahun 1926, otomatis segala kegiatan dan spirit perjuangan Nahdlatul Tujjar pun ikut melebur ke dalamnya. Bahkan di tahun awal NU berjalan, para anggota Tanfidziyah justru banyak dihuni oleh para saudagar, pengusaha kecil, dan pemilik tanah. Format yang demikian itu mengindikasikan bahwa ekonomi merupakan syarat penting bagi progresivitas organisasi. Sinyal ini cepat ditangkap oleh warga NU terutama di kota-kota besar. Hingga di tahun 1929 di Surabaya, beberapa tokoh NU mendirikan koperasi kaum muslimin yang berfungsi untuk mengorganisir barter atau penjualan barang dari para petani dan pengusaha kecil tradisionalis, seperti gula, kacang, minyak goreng, sayur-mayur, dan lain sebagainya. Spirit ini pun menginspirasi generasi di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1937, lahirlah Syirkah Mu’awanah, sebuah koperasi yang jaringannya sudah meluas bahkan sampai ke dunia internasional, dengan pokok kegiatan yakni memperdagangkan hasil pertanian, batik, hasil laut, rokok, dan sabun  (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama; 2003, 42).

Dan sekarang, spirit Nahdlatul Tujjar kembali bergelora. Mengambil momentum peringatan (bukan hanya perayaan) “Resolusi Jihad”, semua warga Nahdliyyin berbondong-bondong hadir di pusat peringatan dengan meneriakkan “Santri Mandiri NKRI Hebat”. Jargon itu sungguh menyuntikkan semangat baru. Diskusi mengenai pesan yang dibawa oleh PBNU turut menghiasi perkumpulan para santri. Dari diskusi itu lahir ide dan gagasan menarik yang perlu ditindaklanjuti (follow up), missal pemantapan LAZISNU, sosialisasi ekonomi hijau di desa-desa, dan lain sebagainya.

Ekonomi Inspiratif

Sekarang ini umat Islam dihadapkan pada fakta merebaknya lebelisasi berupa “ekonomi syar’i”, seakan-akan yang diluar konsep itu dianggap tidak Islami. Justru mengkultuskan dan mengarahkan interpretasi ekonominya pada model atau lebel “ekonomi syar’i” membuat Islam terlihat tertutup, dan cenderung bersifat imajinatif-simbolis. Meski demikian, umat juga tidak lantas musti berdiri di barisan para penganut system ekonomi kapitalis kini. Lantas bagaimana jalan yang paling realistis untuk ditempuh? Jawabnya tentulah mengupayakan pertautan esensi atau spirit di antara keduanya. Dalam hal ini, beberapa batas-batas prinsipil musti dipahami dalam praktik pengimplementasian ekonomi, agar tidak keluar dari maqashid fiqh iqtishadi. KH. Said Aqil Siradj (2006; 369-371) telah jauh membahas hal ini dengan menekankan enam prinsip dasar: 1) keadilan dalam distribusi kekayaan (al-‘adalah al-ijtima’iyah), 2) Jaminan atas hak-hak dasar kemanusiaan (al-kulliyah al-khams), 3) Kesejahteraan indvidu dan masyarakat (ar-rafahiyah al-fardiyah wa-l-ijtima’iyah), 4) Persamaan derajat (al-musawah), 5) kebebasan (al-hurriyyah), dan 6) Moderasi (at-tawassuth).

Jika kegiatan ekonomi yang dijalankan didasari dengan enam prinsip di atas, maka “kebijaksanaan ekonomi” bukanlah hal yang utopis. Ia (sistem ekonomi tersebut) lebih mengedepankan isi atau substansi Islam daripada terpaku untuk menampakkan simbol, yang bisa menciptakan eksklusifitas sendiri dihadapan kelompok sosial yang lain. Ia juga tidak berarti mengikuti segala doktrin dan model ekonomi modern (masyarakat industrial) yang justru akan menyebabkan absennya kesejahteraan sosial secara merata. Statement yang terakhir secara tidak langsung menjawab keraguan John Wesley-sebagaimana dikutip Max Weber (2006; 186-187)-saat membahas tentang masuknya doktrin agama di sektor ekonomi. Wesley sempat menulis:

“Saya takut, ketika kekayaan meningkat, esensi agama juga merosot pada proporsi yang sama… sebab agama secara pasti menghasilkan industry dan juga sikap hemat, dan keduanya tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali kekayaan. Akan tetapi ketika orang-orang kaya meningkat maka kesombongan, kemarahan, dan cinta terhadap dunia di dalam segala cabangnya juga akan meningkat…”

Meski Wesley memberi solusi atas fenomena demikian dengan cara “siapa saja yang dapat mencapai segalanya yang bisa mereka dapatkan dan menyimpan semua yang bisa mereka simpan, mereka juga harus memberikan semua yang bisa mereka berikan,…”, tetapi tetap saja belum memberi jawaban konkrit atas timbulnya kekhawatiran dalam bentuk arogansi kekayaan, karena-menurut Weber- corak ekonomi yang lahir di zaman modern sudah dianggap tidak ada hubungannya dengan panggilan spiritual. Tentunya ini berbeda dengan keyakinan KH. Saiq Aqil, bahwa “…ikatan-ikatan agama tidak bisa dilepaskan dalam praktik ekonomi.” Meski konteks keduanya berbeda--KH. Said Aqil berbicara mengenai ekonomi dalam ajaran Islam, sedang Weber tentang kapitalisme dalam etika protestan--tetapi keduanya bisa melahirkan dialektika mengenai peran agama dalam dinamika ekonomi dunia. Dalam hal inilah gagasan alternative yang dibawa KH. Saiq Aqil memberi solusi realistis. Pada sektor pemenuhan kesejahteraan, para ahli agama dituntut untuk menggalakkan ghirrah perekonomian lewat upaya yang kreatif dan prospektif. Namun, agar tidak keluar dari tujuan kehidupan, yakni kepentingan sosial, maka pada sektor pemerataan, tokoh agama perlu mendorong negara lewat instrumen sosialnya agar membuat regulasi guna mengatur perputaran roda ekonomi.

Follow-up

Saat turut serta menghadiri peringatan Hari Santri, penulis sendiri justru langsung teringat dengan ajakan Hadhratussyaikh dalam Mukaddimah Qanun Asasi. Jika diperhatikan secara saksama di kalimat ajakan itu, Hadhratussyaikh menempatkan para kelompok berdasar klasifikasi ekonomi-sosial diurutan awal. Lebih lengkapnya:

“Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondonglah masuk jam’iyah yang diberi nama “Jam’iyah Nahdlatul Ulama.”

Akhirnya, bukan tanpa alasan Hadhratussyaikh membuat urutan yang demikian. Terlepas dari interpretasi itu, yang terpenting adalah para warga Nahdliyin semua telah menunjukkan konsistensi menjaga NKRI, terutama lewat sokongan ekonomi, dan ini harus ditindaklanjuti, sebab apa yang terlaksana di Hari Santri 2017 tidak mungkin berhenti. Acara memang sudah berakhir, tetapi cita-cita, ide, dan gagasan akan senantiasa mengalir.

(Penulis adalah aktivis PMII DI Yogyakarta, Nahdliyin Cabang Lasem, dan santri Pesantren Tahfidz Nurul Aziz Sarang)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 18 Januari 2017

Teknologi Berperan Penting agar Manusia Tidak Teralienasi

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Zaman sekarang merupakan era digital. Seseorang akan teralienasi (terasingkan) ketika tidak melek teknologi. Dengan tidak paham teknologi, manusia akan ketinggalan zaman. Apalagi zaman terus berubah dengan cepat.

Teknologi Berperan Penting agar Manusia Tidak Teralienasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Teknologi Berperan Penting agar Manusia Tidak Teralienasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Teknologi Berperan Penting agar Manusia Tidak Teralienasi

Hal tersebut dikatakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) H Nizar saat didaulat membuka resmi Rapat Koordinasi Nasional pematangan draft Peraturan Menteri Agama tentang Sistem Informasi Manajemen Kediklatan (Simdiklat).

"Pengalaman soal teknologi sudah saya terapkan ketika saya dilantik sebagai Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2010 silam. Saat itu belum ada gadget canggih seperti sekarang. Adanya baru Blackberry," kata Nizar di hadapan peserta rakornas, Kamis (21/4) malam.

Nizar punya ide yang kemudian ia sampaikan ke rektor. "Begini Pak, demi efisiensi, kita gunakan teknologi untuk virtual meeting. Jadi nggak perlu lagi rapat tatap muka. Belum konsumsinya, tenaganya. Belum lagi koordinasi waktu. Pokoknya melelahkan," tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jika memakai virtual meeting, lanjut Nizar, sambil tiduran pun tetap bisa memberikan masukan dalam forum rapat. "Lalu kami membuat konsep untuk naskah akademiknya untuk pengadaan Blackberry dan tablet Samsung. Lalu, sejak itu tiap habis subuh dibuka rapat. Tiap hari itu," ungkap pria asal Jepara ini.

Sementara ada beberapa pimpinan yang gagap teknologi. "Mencet tombol aja nggak bisa. Karena sudah terbiasa dengan staf. Mau saya paksa. Ada trik atau briefing sehari untuk penggunaan Blackberry. Akhirnya, semua lancar," ujarnya bangga.

Menurut guru besar yang juga Wakil Rais Syuriah PWNU DIY ini, jika tidak selesai di level virtual, baru dilakukan rapat face to face. Apalagi sekarang sejak media sosial berkembang luar biasa, maka tidak ada alasan diklat juga harus menyesuaikan dengan kondisi kekinian.

"Sekarang, registrasi online sebenarnya sudah terlambat. Pendaftaran SMA di Yogya aja sudah online sejak 2010. Nah, kok Diklat masih manual. Apalagi dari Pusdiklat Ciputat sampai sekarang kalau minta peserta masih manual. Waduh, ini saya yang susah karena disposisi ya jadi lambat juga," selorohnya disambut tawa hadirin.

Tapi jika memakai IT, lanjut Nizar, maka real time langsung bisa. "Makanya kemudian, saya di Kanwil itu paperless (minim kertas). Jadi, saya ke mana-mana bisa mendisposisi. Kan sekarang ada electronic office," tukasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Turbulensi birokrasi

Dari tipikal seorang akademisi yang terbiasa gerak cepat ke birokrasi yang "rutinitas", Nizar melihat dunianya yang baru seperti layaknya pesawat yang mengalami turbulensi. "Tapi saya paksakan. Kalau tidak, ke depan bakal makin ketinggalan. Memang, problemnya itu di sarprasnya," ujar Kakanwil.

Apalagi setelah diaudit, ternyata bandwitch internetnya dan server tidak memenuhi syarat. "Data center juga tidak punya. Bagaimana bisa cepat kalau kayak gini. Lalu ada bantuan dari Pinmas yang hanya 2 GB. Itu pun hanya untuk personalia SDM Kepegawaian. Nggak cukup. Kalau bareng-bareng bisa lemot. Makanya, Diklat juga harus memperhatikan aneka kebutuhan tersebut," tegasnya.

Hadir dalam upacara pembukaan rakornas, Kepala Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi Sekretariat Hj Sunarini, dan Kepala Bagian Ortala dan Kepegawaian Sekretariat H Bahari, Kasubag Hukum dan Perundang-undangan Asroi, dan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Jakarta Aden Daenuri.

Rakornas yang diinisasi Badan Litbang dan Diklat Kemenag ini digelar di Hotel Ros-In Jalan Lingkar Selatan No 110 Bangunharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan diagendakan selama tiga hari, Kamis-Sabtu, 21-23 April 2016. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 15 Januari 2017

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda Ansor Cabang Brebes meneguhkan tekad untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes. Pasalnya, Ansoriyin (sebutan anggota ansor) merupakan bagian dari warga masyarakat yang memiliki komitmen membangun daerah, bangsa dan negaranya.

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab

Tekad itu disampaikan Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Brebes Agus Mudrik Khaelani Al Khafidz saat melakukan audiensi di Pendopo Bupati Rabu malam (10/4).

Kegiatan Ansor yang meliputi bidang kepemudaan, kesehatan, ekonomi, pendidikan, ketrampilan, UMKM dan sebagainya membutuhkan sinergisitas dengan pemerintah, khususnya Pemkab. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Yang menjadi garapan Ansor, tentu sejalan dengan pemerintah kabupaten untuk itu perlu disinerjikan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diungkapkan oleh Mudrik, Ansor bukanlah organisasi politik dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Untuk itu, dalam perkara pemilu gubernur dan wakil gubernur misalnya menjadi hak perorangan bukan bukan hak organisasi. 

“Termasuk sahabat Jabir Al Faruqi yang akan mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Tengah, bukan karena dorongan partai politik tertentu,” terangya.

Gus Mudrik juga menyampaikan program-program untuk tahun kedepan dan melaporkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh Ansor Cabang maupun PAC dan Ranting.

Sementara Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ansor Jateng Jabir Al Faruqi yang turut serta dalam audiensi itu menuturkan pentingnya peran pemuda Ansor dan Banser dalam pembangunan di daerah. Di Jawa Tengah para pemuda Ansor banyak memegang peranan penting, namun juga tidak sedikit yang masih perlu diberdayakan. Termasuk di Kabupaten Brebes, potensi pemuda Ansor sangat bagus dan perlu mendapatkan sentuhan yang lebih nyata dari pemerintah setempat.

“Kalau sepuluh persen saja pemuda Ansor masuk dalam ranah pemerintahan, maka akan terjadi dinamika yang bagus,” kata Jabir.  

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyambut baik audiensi yang dilakukan Ansor dan Banser. Pasalnya, silaturahmi ini bisa mengetahui keadaan pemuda sebagai motor penggerak pembangunan dan sekaligus sebagao obyek dan subyek pembangunan daerah.

Rombongan diterima langsung Bupati Brebes Idza yang didampingi Suaminya Kompol Warsidin, Plt Sekda Brebes H Emasthoni Ezam.

Acara diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan dan kemajuan brebes serta kesejahteraan umat. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Doa, PonPes Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 13 Januari 2017

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Pekalongan melakukan soft opening Kantor Cabang PT Sorban Nusantara Tourism. Acara bertempat di Gedung Sentral Bisnis Ansor (SBA) Jalan Raya Karangdowo nomor 10, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan Minggu, kemarin (12/2).

Peresmian kantor cabang perusahaan travel umroh dan haji plus resmi milik GP Ansor tersebut ditandai dengan pemotongan pita dan tumpeng yang dilakukan oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, M. Azmi Fahmi.

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh

Acara peresmian berlangsung cukup meriah dengan dihadiri oleh Manajemen Sorban Nusantara Kabupaten Pekalongan, PCNU Kabupaten Pekalongan, PW GP Ansor Jawa Tengah, PC GP Ansor, Dewan Penasihat PC GP Ansor, pengurus MWCNU, PAC GP Ansor se-Kabupaten Pekalongan, segenap marketing Sorban Nusantara serta sejumlah calon jamaah umroh.

Mewakili Manajemen PT Sorban Nusantara, H.M. Sholahudin Zuhdi menjelaskan bahwa PT Sorban Nusantara Tourism yang secara resmi beroperasi secara nasional sejak Oktober 2016 hingga Februari 2017 ini telah memberangkatkan jamaah umroh sebanyak 11 kloter dengan jumlah lebih dari 1000 jamaah dengan mengutamakan pelayanan prima dan sepenuhnya dikelola oleh kader-kader Ansor baik ketika pengurusan jamaah di tanah air sampai dengan pelaksanaan umroh di Arab Saudi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut, Gus Sholah memaparkan bahwa PT Sorban Nusantara Tourims Cabang Kabupaten Pekalongan menawarkan program umroh reguler selama 12 hari dengan biaya Rp25 jutaan. PT Sorban Nusantara juga menawarkan program Haji Plus 1 tahun berangkat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu juga menjalin kerja sama dengan KSPPS Ankasa dengan membuka tabungan umroh dengan setoran ringan hanya Rp 550.000,- per bulan selama 36 kali/ 3 tahun dan akan diberangkatkan pada tahun 2019 sekaligus umroh bersama Pengurus PC GP Ansor.

Sementara itu dalam sambutannya, ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, M. Azmi Fahmi menyampaikan bahwa peresmian PT Sorban Nusantara Tourims merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi GP Ansor yakni pemberdayaan potensi kader dan mewujudkan kemandirian ekonomi kader dan organisasi.

"Untuk mewujudkan kemandirian ekonomi, PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan telah membentuk pusat bisnis Ansor yang mewadahi tiga kegiatan sekaligus yakni KSPPS Ankasa, Sentral Bisnis Ansor sebagai media promosi dan transaksi produk-produk kader Ansor serta Sorban Nusantara Tourism yang hari ini secara resmi kita launching," terang Azmi.

Pada kesempatan peresmian tersebut juga dibuka pendaftaran tabungan umroh yang mendapat sambutan antusias dari calon jamaah. Hanya dalam waktu kurang dari 1 jam telah resmi mendaftar 40 orang calon peserta tabungan umroh. Suasana peresmian bertambah semarak dengan adanya pengundian Doorprize berupa berbagai macam hadiah hiburan dan hadiah utama berupa "Umroh Gratis" untuk calon jamaah yang telah mendaftar. (Alim Mustofa/Mahbib]Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Doa, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 05 Januari 2017

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bertanggung jawab dan menyiapkan pemimpin berikutnya, manfaatnya antara lain agar transisi kekuasaan berjalan dengan baik sehingga tidak terjadi pengambilan keputusan yang salah oleh pemimpin berikutnya, ujar Yoga Aji Saputra, alumni Diklatsar IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser) PC GP Ansor Way Kanan Lampung.

"Upaya GP Ansor Way Kanan melalui Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau BPUN adalah upaya mempersiapkan pemimpin berikutnya, baik bagi organisasi atau bangsa," kata Yoga di Blambangan Umpu, Senin (17/4).

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN

Yoga yang mengikuti Diklatsar Banser di Pesantren As Safiiah di Kampung Serdang Kuring Kecamatan Bahuga pada 2014 itu menegaskan, pemimpin masa depan haruslah memiliki pendidikan yang baik, minimal mengenyam pedidikan di perguruan tinggi.

"GP Ansor melalui BPUN menjadi gerbang bagi siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Tentu ini merupakan inisiatif yang baik dari GP Ansor untuk mempersiapkan kadernya atau generasi Way Kanan dan Indonesia untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang," kata pelajar SMK Kesehatan Persada Nusantara Kecamatan Bumi Agung itu pula.

Yoga yang pada tahun 2015 meraih Juara I Tingkat Provinsi Lampung pada Bidang Fisika Terapan Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) sehingga dipercaya mewakili Lampung dalam ajang tingkat nasional menambahkan, jika individu sedari muda dibekali dengan ilmu-ilmu yang menunjang untuk bisa jadi pemimpin yang baik dan diberikan amanah yang menjadikan individu memiliki rasa tanggung jawab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

BPUN Way Kanan 2016 akan digelar di Pondok Pesantren Assidiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Gunung Labuhan mulai 23 April hingga 25 Mei 2016. PC GP Ansor Way Kanan merupakan satu-satunya pimpinan cabang yang menggelar program utama Yayasan Mata Air tahun ini di wilayah Sumatera.

Kontribusi peserta mengikuti bimbingan intensif satu bulan di pondok pesantren Rp200 ribu, digunakan untuk pembelian beras 20 kg. Peserta akan mendapatkan try out SBMPTN satu minggu sekali, modul terpadu berkualitas, tentor selektif, gratis biaya bimbingan belajar, konsultasi akademik, motivation training, capacity building, bimbingan rohani istiqomah, pendidikan kepemimpinan dasar, out bond, advokasi beasiswa dan kecakapan hidup.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada pelaksanaan tahun 2015 diikuti 14 pelajar, penyelenggaraan BPUN di Way Kanan meloloskan 6 pelajar memasuki PTN, 5 melalui jalur SBMPTN dan 1 melalui jalur mandiri. Dicky Afrizal dari SMAN2 Gunung Labuhan, diterima di jurusan Biologi Murni, Unila. Lalu Iwan Supriadi, SMAN1 Baradatu, masuk jurusan Agro Teknologi Universitas Jambi.

Selanjutnya Frastika Maulia, SMAN1 Blambangan Umpu, masuk di jurusan Sosiologi Universitas Sriwijaya. Lastri Dwi Saputri, SMAN1 Baradatu, diterima di jurusan Biologi Murni Universitas Bangka Belitung. Keempatnya terdaftar sebagai peserta Bidik Misi.

Lalu Suryaningsih, SMAN1 Blambangan Umpu diterima di jurusan Teknik Pertanian Unila. Dan Romadhoni, SMAN1 Baradatu masuk di Universitas Sriwijaya. Keduanya tidak terdaftar sebagai penerima Bidik Misi. (Disisi Saidi Fatah/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Kiai, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 04 Januari 2017

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Santri tingkat akhir tingkat SMA dan SMP pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen mengunjungi makam KH Ibrahim Brumbung yang diyakini sebagai seorang wali. Ziarah ini merupakan bagian dari persiapan batin para santri menghadapi UN selain minta doa para kiai, puasa Senin-Kamis, mujahadah, dan sholat malam.

Kegiatan seperti ini sudah menjadi tradisi santri kelas akhir pesantren Futuhiyyah Mranggen. Tujuannya selain mendoakan para ulama, juga mencari berkah agar dimudahkan ketika mengerjakan soal-soal UN.

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali

“Ziarah ke makam Mbah Ibrahim ini bertujuan agar hati kita mantap dan yakin serta memiliki rasa percaya diri untuk menghadapi UN,” kata siswi MA Futuhiyyah 2 Mranggen Devi Nur Kholifatul Unfa di halaman makam, Selasa (1/4).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KH Ibrahim Brumbung dipercaya masyarakat Mranggen mempunyai karomah tertentu. Ia pengembang Thariqah Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah di Mranggen. Ia tidak lain guru KH Abdurrahman Qoshidil Haq dan KH Muslih Abdurrahman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kecuali berziarah, mereka juga meminta doa para kiai. Antara lain KH Muhammad Hanif Muslih, KH Said Lafif Hakim, KH Ali Makhsun, KH Ashif Makhdum, KH Muhibbin Muhsin, dan juga Umi Hj Sa’adah Muslih.

Mereka berharap doa para kiai akan menenteramkan batin mereka dalam mengerjakan soal UN disamping mengharapkan keberkahan dan ilmu bermanfaat. (Abdus Shomad, Ahmad Dliya’uddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Tokoh, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah